Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Tidak Seharusnya
Langit pagi di kota K belum sepenuhnya terang. Cahaya matahari masih malu-malu menembus celah tirai tebal berwarna krem yang menggantung rapi di sebuah kamar hotel berbintang.
Udara di dalam ruangan terasa dingin, sisa dari pendingin ruangan yang menyala semalaman. Aroma lembut parfum bercampur dengan bau linen hotel yang bersih, menciptakan suasana asing yang entah kenapa terasa menyesakkan.
Di atas ranjang besar berlapis seprai putih bersih, seorang gadis muda terbaring diam. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menyebar di atas bantal. Selimut menutupi sebagian tubuhnya, sementara salah satu tangannya menggenggam ujung kain itu seolah mencari perlindungan.
Nayra Anastasya
Kelopak matanya bergerak pelan. Ada sedikit kerutan di dahinya, seakan tubuhnya lebih dulu sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres bahkan sebelum pikirannya benar-benar bangun.
Beberapa detik kemudian, matanya terbuka.
Kosong.
Pandangan Nayra menatap langit-langit kamar yang asing. Putih, bersih, dengan lampu gantung minimalis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia berkedip pelan, mencoba menyesuaikan fokusnya.
“...ini di mana?” gumamnya lirih, suaranya serak.
Ia tidak langsung bangkit. Tubuhnya terasa berat. Kepalanya sedikit pusing, seperti habis begadang atau… minum sesuatu yang terlalu kuat.
Perlahan, kesadarannya mulai naik satu per satu, seperti potongan puzzle yang tersusun lambat.
Ia bukan di kos. Bukan di rumah.
Dan jelas… ini bukan kamarnya.
Jantung Nayra mulai berdetak lebih cepat.
Tangannya bergerak pelan, menyentuh permukaan ranjang. Lembut. Terlalu lembut untuk ukuran tempat tidur biasa. Ia menarik napas, lalu mencoba bangun.
Namun saat ia sedikit mengangkat tubuhnya.
Nayra langsung membeku.
Tubuhnya… terasa aneh. Bukan sekadar lelah.
Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat napasnya tiba-tiba tercekat.
Perlahan, dengan gerakan kaku, Nayra menunduk.
Selimut yang menutupi tubuhnya bergeser sedikit. Dan di sanalah semuanya mulai terasa tidak nyata. Kulitnya terekspos lebih dari yang seharusnya. Pakaiannya… tidak utuh seperti yang ia kenakan semalam.
Detik itu juga, napasnya tercekat.
“Enggak…,” bisiknya, hampir tak terdengar.
Tangannya gemetar saat menarik selimut lebih rapat, seolah kain itu bisa menghapus kenyataan yang mulai menyerang kesadarannya.
Ia mencoba mengingat.
Apa yang terjadi semalam?
Potongan-potongan kecil mulai muncul.
Lampu. Musik. Suara tawa. Minuman.
Dan… seseorang.
Seseorang yang duduk di seberangnya.
Seorang pria.
Nayra menutup mata sejenak, mencoba menarik ingatan itu lebih jelas. Tapi yang muncul justru potongan-potongan samar yang tidak utuh. Wajah yang tidak benar-benar bisa ia lihat dengan jelas. Suara rendah yang terdengar asing, tapi entah kenapa terasa dekat saat itu.
Ia menelan ludah.
“Jangan bilang…” suaranya bergetar.
Dengan gerakan perlahan, Nayra menoleh ke samping.
Bagian ranjang di sebelahnya… kosong.
Seprai sedikit kusut, tanda jelas bahwa seseorang sempat berada di sana.
Tapi sekarang—
Tidak ada siapa-siapa.
Pria itu… sudah pergi.
Dan Nayra bahkan tidak tahu siapa dia.
Deg..
Jantungnya terasa jatuh ke dasar.
Panik mulai merayap, pelan tapi pasti. Tangannya mencengkeram selimut semakin kuat.
“Ini… ini mimpi, kan?” gumamnya, mencoba meyakinkan diri.
Tapi rasa dingin di kulitnya, sakit samar di tubuhnya, dan kenyataan di sekelilingnya terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Nayra langsung bangkit dari ranjang, meski tubuhnya sedikit limbung. Kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya sedikit tersentak.
Ia buru-buru meraih pakaian yang tergeletak di lantai—dress yang ia kenakan semalam. Kusut. Sedikit berantakan.
Semuanya terasa seperti bukti yang tidak bisa ia bantah.
Tangannya gemetar saat mengenakan kembali pakaiannya.
Pikirannya kacau.
Apa yang sebenarnya ia lakukan semalam?
Kenapa ia bisa sampai di sini?
Dan… siapa pria itu?
Nayra menggeleng cepat, seolah bisa mengusir pertanyaan-pertanyaan itu.
Ia tidak mau memikirkan kemungkinan terburuk.
Tidak mau.
Setelah pakaiannya kembali menempel di tubuh, Nayra berdiri diam beberapa detik. Napasnya masih tidak teratur.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
Kamar itu luas. Terlalu mewah untuk seseorang seperti dirinya. Ada sofa kecil di sudut ruangan, meja dengan beberapa gelas yang masih tersisa, dan tirai besar yang menutupi jendela tinggi.
Di atas meja, ada botol minuman yang setengah kosong.
Nayra menatapnya lama.
Ingatan tentang minuman semalam kembali muncul.
Ia ingat merasa hangat.
Terlalu hangat.
Dan setelah itu… semuanya seperti kabur.
Langkahnya pelan mendekati meja itu. Tangannya hampir menyentuh gelas, tapi berhenti di tengah jalan.
Entah kenapa, ada rasa takut yang tiba-tiba muncul.
Seolah benda itu menyimpan jawaban yang belum siap ia terima.
Nayra mundur selangkah.
Tidak.
Ia tidak mau tahu.
Belum.
Pandangan Nayra kemudian beralih ke pintu kamar. Tertutup rapat. Sunyi.
Seolah tidak pernah ada kejadian apa pun di tempat itu.
Ia menelan ludah, lalu berjalan menuju pintu dengan langkah pelan. Setiap langkah terasa berat, seakan kakinya menolak bergerak.
Tangannya terangkat, menyentuh gagang pintu.
Dingin.
Ia menarik napas dalam.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
Klik.
Pintu terbuka.
Koridor hotel yang sepi menyambutnya. Karpet tebal membentang panjang, lampu-lampu dinding menyala redup.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada tanda-tanda pria itu.
Nayra berdiri di ambang pintu, ragu untuk melangkah keluar. Tapi ia tahu, ia tidak bisa tetap di dalam.
Tempat ini… bukan miliknya.
Dengan langkah cepat, Nayra keluar dari kamar itu.
Pintu tertutup di belakangnya dengan suara pelan, tapi bagi Nayra, suara itu terasa seperti sesuatu yang mengakhiri satu bagian hidupnya—dan membuka sesuatu yang jauh lebih rumit.
*****
Sementara itu, di tempat lain di kota yang sama—
Seorang pria berdiri di depan jendela kaca besar di lantai atas sebuah gedung mewah. Pemandangan kota terbentang luas di hadapannya, dipenuhi gedung-gedung tinggi dan lalu lintas yang mulai ramai.
Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya tenang, tapi matanya terlihat jauh.
Arsen
Ia belum bergerak sejak beberapa menit yang lalu.Pikirannya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu.
Ada sesuatu yang mengganggunya.
Sesuatu yang… tidak biasa.
Malam tadi. Ia mengingatnya.
Tidak sepenuhnya jelas, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia melakukan sesuatu yang di luar kebiasaannya.
Arsen bukan tipe pria yang kehilangan kendali. Apalagi dengan wanita asing.
Namun semalam… berbeda.
Ia memejamkan mata sejenak.
Sebuah bayangan muncul. Seorang gadis.
Wajahnya samar.
Tapi ada satu hal yang ia ingat dengan jelas.
Matanya. Dan sebuah nama yang sempat ia dengar.
“Nayra…”
Arsen membuka matanya perlahan.
Nama itu terucap begitu saja dari bibirnya.
Ia tidak tahu kenapa.
Tapi satu hal yang pasti—
Malam itu… bukan sesuatu yang bisa ia abaikan begitu saja.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Arsen merasa ingin mencari seseorang yang bahkan tidak ia kenal.
*******
Di tempat lain, Nayra sudah berada di luar hotel. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari. Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak sekali pun.
Seolah jika ia melakukannya, semuanya akan kembali mengejarnya.
Angin pagi menyapu wajahnya, tapi tidak mampu menenangkan pikirannya yang kacau.
Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menahan gemetar yang sejak tadi tidak hilang.
Satu malam.
Hanya satu malam.
Tapi rasanya seperti sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Dan Nayra… belum siap menghadapi itu.
Belum sama sekali.
To be continued 🙂🙂
🪶 Terimakasih sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak. 😉