Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 — KAMU TIDAK AKAN PERNAH BEBAS
Gelap.
Suara tembakan masih menggema di belakang.
Bau mesiu memenuhi lorong sempit itu.
Dan satu-satunya hal yang bisa kurasakan sekarang—
adalah tangan Arkan yang menggenggamku erat.
“Jangan lepas.”
Suaranya rendah.
Cepat.
“Aku tidak buta.”
Balasku refleks.
Walau napasku sendiri sudah berantakan.
Dia hampir tertawa kecil.
Hampir.
Tapi situasinya terlalu kacau untuk itu.
Kami terus berlari di lorong bawah tanah.
Leon ada di depan membuka jalan.
Ayahku dan ayah Arkan tertinggal sedikit di belakang bersama ibunya Arkan.
“Ke mana kita pergi?!”
teriakku di tengah suara langkah.
“Ada jalur keluar dekat sungai!”
teriak Leon balik.
Sial.
Lorong ini seperti labirin.
Lampu darurat merah mulai menyala samar.
Membuat suasana terasa makin menyeramkan.
Dan entah kenapa—
kata-kata The Founder terus terngiang di kepalaku.
“Cepat atau lambat… kamu sendiri yang akan datang kepadaku.”
Brengsek.
Kenapa dia terdengar begitu yakin?
“Alena!”
Aku langsung tersadar saat Arkan menarikku.
Peluru menghantam dinding tepat di samping kepalaku.
DUAK!
“Fokus!”
“Aku fokus!”
teriakku kesal.
Tapi jujur—
kepalaku kacau.
Semua terlalu besar.
Terlalu cepat.
Ayahku hidup.
The Circle nyata.
Dan aku ternyata cuma… wadah berjalan untuk rahasia organisasi monster itu.
“Di depan!”
teriak Leon.
Kami akhirnya melihat pintu besi besar di ujung lorong.
Leon langsung mencoba membukanya.
“Terkunci!”
“Geser!”
Arkan langsung maju.
Dia menendang pintu itu keras.
Sekali.
Dua kali.
BRAK!
Pintu akhirnya terbuka.
Udara dingin langsung menerpa wajah kami.
Kami keluar ke area sungai kecil di belakang kawasan industri tua.
Gelap.
Sepi.
Hanya suara air dan hujan ringan.
“Masuk mobil!”
Leon menunjuk SUV hitam terparkir tak jauh dari sana.
Kami langsung berlari.
Tapi tepat sebelum kami sampai—
suara tembakan kembali pecah.
DUAK!
Kaca mobil pecah.
“TIARAP!”
Arkan langsung menarikku jatuh.
Tubuh kami menghantam tanah basah.
Aku mendengar suara langkah dari belakang.
Mereka berhasil mengejar.
“Brengsek…”
Leon langsung membalas tembakan.
Ayah Arkan terbatuk keras.
Tubuhnya memang terlalu lemah untuk semua ini.
“Ayah!”
Arkan langsung menoleh.
Dan di detik itulah—
seorang pria bersenjata muncul dari samping.
Mengarah tepat ke ayah Arkan.
Sial.
Semuanya terjadi terlalu cepat.
Aku bahkan tidak sempat berpikir.
Tubuhku bergerak sendiri.
“AWAS!”
DUAK!
Suara tembakan pecah.
Dan rasa panas langsung menghantam bahuku.
Aku jatuh keras ke tanah.
“ALENA!”
Suara Arkan terdengar jauh.
Sangat jauh.
Napas langsung tercekat.
Sakit.
Sial…
sakit sekali.
Tanganku refleks memegang bahu.
Basah.
Darah.
Pandangan mulai kabur.
Arkan langsung berlutut di sampingku.
Wajahnya pucat.
Benar-benar pucat.
“Lihat aku.”
Tangannya memegang wajahku pelan.
Tapi aku bisa merasakan tangannya gemetar.
“Arkan…”
Suaraku pelan.
“Jangan tutup mata.”
Aku mencoba tertawa kecil.
“Kamu panik ya?”
“Diam.”
Suaranya pecah.
Dan itu membuatku langsung sadar—
dia benar-benar takut.
Leon dan yang lain masih baku tembak di belakang.
Tapi semuanya terasa samar sekarang.
Yang kulihat cuma Arkan.
Mata pria itu merah.
Napasnya kacau.
Dan untuk pertama kalinya—
dia terlihat benar-benar kehilangan kendali.
“Aku tidak apa-apa…”
Bisikku pelan.
“Itu peluru, Alena!”
“Masih hidup kan…”
Aku mencoba tersenyum.
Tapi Arkan malah terlihat semakin marah.
“Kenapa kamu lindungin ayahku?!”
Aku diam beberapa detik.
Karena jujur saja…
aku juga tidak tahu.
Mungkin karena aku lelah kehilangan orang.
Atau mungkin…
karena melihat dia kehilangan ayahnya setelah semua yang terjadi terasa terlalu kejam.
“Karena aku capek lihat orang mati.”
Jawabku akhirnya.
Tatapan Arkan langsung berubah.
Lebih hancur.
Dan itu aneh.
Karena di tengah semua kekacauan ini—
aku malah ingin menenangkan dia.
“Bos!”
teriak Leon.
“Mereka makin banyak!”
Arkan langsung mengangkatku cepat.
Aku meringis pelan.
Sakitnya mulai terasa makin parah.
“Bertahan sedikit lagi.”
Bisiknya dekat telingaku.
Kami masuk ke mobil.
Leon langsung menginjak gas.
SUV melesat meninggalkan area sungai.
Suasana di dalam mobil kacau.
Ibunya Arkan menekan luka di bahuku dengan kain.
Ayahku terus melihat ke belakang memastikan kami tidak diikuti.
Sementara Arkan…
tidak melepaskan tanganku sama sekali.
“Aku tidak akan mati.”
Kataku pelan.
Dia tidak menjawab.
Hanya menggenggam tanganku lebih erat.
Dan sialnya—
di tengah rasa sakit ini…
dadaku malah terasa hangat.
Mobil melaju cepat melewati jalanan kosong kota.
“Kita ke mana?” tanya Leon.
“Safe house.”
Jawab ayahku cepat.
“Kita masih punya satu tempat.”
Aku menyandarkan kepala ke kursi.
Pandanganku mulai berat.
“Jangan tidur.”
Suara Arkan langsung terdengar lagi.
Aku mendesah pelan.
“Kamu cerewet banget.”
“Alena.”
Nada suaranya serius.
Hampir memohon.
Aku menatapnya pelan.
Dan di situlah aku sadar sesuatu.
Pria ini…
benar-benar mencintaiku.
Bukan permainan.
Bukan rasa bersalah.
Tapi cinta yang sesungguhnya.
Dan itu justru membuat semuanya lebih menakutkan.
Karena orang-orang seperti kami…
tidak pernah punya akhir bahagia.
Mobil akhirnya berhenti di depan gudang tua di pinggir kota.
Tempatnya sepi.
Gelap.
Tidak mencolok.
Kami masuk cepat.
Di dalam ternyata jauh lebih rapi daripada luar.
Ada ruangan bawah tanah kecil lengkap dengan peralatan medis sederhana.
“Ayah…”
Aku menatap pria itu lemah.
“Kamu siapin tempat beginian sejak kapan?”
Dia tersenyum pahit.
“Sejak aku sadar suatu hari semuanya akan meledak.”
Ibunya Arkan langsung mulai membersihkan lukaku.
Aku menggigit bibir menahan sakit.
“Pelurunya tembus.”
Katanya cepat.
“Untung tidak kena tulang.”
Arkan masih berdiri di dekatku.
Diam.
Tapi matanya tidak lepas sedikit pun.
Dan itu mulai membuatku gugup.
“Apa?”
Aku akhirnya bertanya.
Dia menggeleng pelan.
“Tidak ada.”
Bohong.
Tatapannya terlalu penuh sesuatu untuk disebut “tidak ada”.
Saat luka di bahuku selesai
dibalut—
akhirnya semua sedikit tenang.
Leon berjaga di atas.
Ayahku dan ayah Arkan mulai membahas langkah selanjutnya.
Sementara aku duduk sendirian di sofa tua.
Lelah.
Lalu—
Arkan datang.
Duduk di depanku.
Sunyi beberapa detik.
“Apa?”
Aku mengangkat alis.
Dia menatapku lama.
Sangat lama.
Lalu—
“Aku hampir kehilangan kamu tadi.”
Dadaku langsung terasa aneh lagi.
“Masih hidup tuh.”
Aku mencoba bercanda.
Tapi Arkan tidak tersenyum.
“Aku serius.”
Tatapannya terlalu dalam sekarang.
Terlalu jujur.
Dan sebelum aku sempat menghindar—
dia memegang wajahku pelan.
“Aku tidak peduli lagi soal masa lalu.”
Suaranya rendah.
“Aku tidak peduli soal perang ini.”
Jantungku mulai berdetak tidak karuan.
“Aku cuma tahu satu hal.”
Napasku tertahan.
“Aku tidak bisa kehilangan kamu lagi.”