Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. Lahirnya Pemburu Serigala Liar
Kembali ke Utara dimana Khiya dan Ube sedang berburu.
Aroma anyir darah beruang yang masih hangat merayap di udara, berubah menjadi lonceng makan malam bagi penghuni hutan lainnya. Dari balik bayang-bayang pohon pinus yang pekat, enam pasang mata kuning menyala muncul satu per satu. Tiga ekor serigala utara, dengan ukuran sebesar kuda poni, mulai mengepung area perkemahan. Geraman rendah mereka menggetarkan udara musim dingin.
Astrid tidak mencabut pedangnya. Ia justru mundur selangkah, memberi ruang bagi Khiya. "Ini waktumu, Khiya! Ube sudah menumpahkan darah pertama, sekarang giliranmu!" Seru Astrid.
Khiya merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya. Ia teringat pesan Astrid tentang ketenangan. Jarinya yang dibalut kulit pelindung mulai menarik tali busur, merasakan ketegangan yang familiar.
"Jangan panik!" bentak Astrid kecil, matanya tetap waspada pada pergerakan lawan. "Incar kepalanya, jangan badannya. Kulit mereka terlalu tebal untuk ditembus panah biasa. Mata atau celah di antara telinga—hanya itu satu-satunya jalan." Seru Astrid dan menjelaskan mana yang harus di bidik.
Khiya menarik napas dalam, membiarkan udara dingin memenuhi paru-parunya. Fokus. Hanya ada aku, busur, dan mereka, batinnya.
Serigala di sisi kiri kehilangan kesabaran. Ia melompat menerjang dengan taring terbuka. Dalam pandangan Khiya, dunia seolah melambat.
Ia melepaskan napas pelan bersamaan dengan dentingan tali busur yang dilepaskan. Wusss! Anak panah itu melesat akurat, menembus lubang mata sang serigala. Makhluk itu tumbang, menghantam salju sebelum cakarnya sempat menyentuh tanah.
Serigala kedua lebih licik. Ia berlari zig-zag di antara batang pohon untuk mengacaukan bidikan.
"Baca gerakannya!" teriak Astrid lagi. "Jangan bidik di mana dia berada, tapi bidik di mana dia akan muncul!"
Khiya menggeser haluan busurnya ke kanan, menunggu di sebuah celah sempit di antara dua pinus tua. Begitu kepala serigala itu muncul, Khiya melepaskan anak panah keduanya.
"Tack!" Panah itu bersarang tepat di dahi, membuat si pemangsa tersungkur dan berguling tak bernyawa di atas salju.
Namun, bahaya belum usai. Serigala terakhir mencoba memutar, menyerang dari titik buta di belakang Khiya. Ube refleks meraih kapaknya, namun tangan Astrid menahan bahunya.
"Biarkan dia, Ube. Dia tahu apa yang harus dilakukan." Seru Astrid yang menhentikan niat Ube. Khiya tidak menoleh. Ia mengandalkan telinganya, menangkap gesekan halus salju di belakangnya. Dalam satu gerakan putar yang eksplosif, ia berlutut dan melepaskan anak panah terakhirnya tanpa sempat membidik secara visual. Anak panah itu menembus rahang bawah hingga mencapai otak serigala yang sudah berada di udara, siap menerkam.
Keheningan kembali menguasai hutan. Tiga bangkai pemangsa kini tergeletak kaku. Khiya masih dalam posisi siaga, napasnya tersengal dan uap putih keluar dari mulutnya, namun tangannya tak lagi gemetar.
Ube menyeka sisa darah di wajahnya dengan punggung tangan, matanya berbinar bangga. "Keponakanku... Kurza akan terbelalak melihat ini. Kau bukan lagi bunga musim semi yang rapuh, Khiya. Kau adalah badai musim dingin." Gumam Ube.
Astrid mengangguk puas sambil menyarungkan kembali senjatanya. "Tiga anak panah, tiga nyawa. Pelajaran selesai. Sekarang cepat obati luka Ube dan habiskan jatah makan kita. Darah ini akan mengundang sesuatu yang jauh lebih besar jika kita berlama-lama." Seru Astrid lagi.
Ketika Khiya sibuk membantu pamanya membersihkan luka yang di dapat dari beruang kutub, dan para prajurit sedang menguliti kulit beruang kutub yang berhadil di kalahkan Ube. Alam punya rencana lain. Angin tiba-tiba menderu liar, membawa serpihan es tajam yang menusuk kulit. Pohon-pohon pinus mulai berderit hebat seolah akan patah. Ube mendongak ke langit yang kini sehitam jelaga.
"Badai Fimbul," gumam Ube, wajahnya berubah pucat. "Ini bukan sekadar salju. Badai besar akan segera datang." Gumam Ube. Ia segera berdiri dan berteriak pada para prajuritnya. "Hentikan! Ambil kulit punggungnya saja, tinggalkan sisanya! Kita harus pergi sekarang!" Teriak Ube yang tau betul ancaman akan segera datang.
"Tapi Ube, daging ini—" Saut salah satu prajurit. "Daging tidak ada gunanya jika kita mati membeku menjadi patung es!" potong Ube keras. "Kemas tenda! Kita kembali ke desa sekarang juga!"
Sambil menahan perih di lukanya, Ube naik ke punggung kuda dengan susah payah. Astrid bergerak sigap memadamkan api. "Khiya, ikat jubahmu kuat-kuat! Pegang tali kuda Ube, jangan sampai terpisah atau kau akan hilang ditelan putih!" Seru Astrid.
"Bagaimana dengan luka Paman? Perjalanan ini akan menyiksanya," sahut Khiya cemas sambil mengamankan busurnya.
Ube terkekeh di tengah deru angin. "Darah Viking tidak akan membeku hanya karena sedikit salju, Gadis Kecil! Ayo, bergerak sebelum jalanan hilang tertutup putih!" Seru Ube.
Mereka memacu kuda menembus kegelapan dan sapuan salju yang membutakan. Saat mereka mulai menjauh, Khiya menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Hutan utara tampak seperti raksasa yang sedang bangkit—sebuah kekuatan yang sama mencekamnya dengan kekacauan yang sedang membakar Alabas.
Perjalanan kembali ke desa adalah perjuangan melawan maut. Kuda-kuda mereka hampir kehilangan jejak jalan setapak, namun ketangguhan Ube memandu mereka menembus dinding salju hingga gerbang kayu besar benteng desa terlihat samar di balik kabut putih.
Begitu sampai, mereka langsung menuju aula utama. Ruangan itu luas dengan perapian besar di tengahnya, tempat Raja Hrolf duduk di singgasana. Suasana terasa berat; sang Raja tampak sedang mengamati peta tua di atas meja kayu. Khiya melangkah maju, kepalanya tertunduk. Salju yang mencair dari rambutnya menetes ke lantai aula.
"Kakek" suara Khiya bergetar, lebih karena rasa bersalah daripada dingin. "Aku pulang dengan tangan hampa. Aku gagal membawa rusa jantan yang kakek minta." Lanjut Khiya
Raja Hrolf mengangkat pandangannya, alisnya yang tebal bertaut. "Hutan utara tidak pernah ramah pada mereka yang lemah, Khiya. Kau tahu hukum kita; seorang pemburu dinilai dari apa yang ia bawa pulang ke meja makan." Saut Raja Hrolf.
Ube baru saja akan angkat bicara sambil memegangi bahunya yang dibalut perban, namun Astrid melangkah lebih dulu ke depan. Ia berdiri tegak, membiarkan jubahnya yang basah tersampir di bahu. "Dia memang tidak membawa rusa, Raja," potong Astrid dengan nada tenang namun tegas.
Astrid melirik ke arah Khiya, lalu kembali menatap Raja. "Kami disergap oleh enam pasang mata kuning. Tiga ekor serigala hutan utara—yang ukurannya cukup untuk menjatuhkan seekor kuda. Saat Ube terluka dan keadaan mendesak, Khiya tidak lari." Jelas Astrid.
"Tiga anak panah, Raja," lanjut Astrid dengan sedikit senyum bangga yang jarang ia perlihatkan. "Masing-masing tepat sasaran di kepala. Dia tidak hanya bertahan hidup; dia mendominasi pemangsa yang paling ditakuti di hutan itu dalam kondisi tertekan.
Jika rusa adalah bukti kemahiran, maka tiga serigala itu adalah bukti bahwa ia memiliki jiwa seorang prajurit." Lanjut Astrid.
Raja Hrolf terdiam sejenak, matanya beralih menatap Ube yang mengangguk mantap, mengonfirmasi cerita itu. Sang Raja Hrolf kemudian berdiri, langkah kakinya berat menggema saat ia mendekati Khiya. Ia meletakkan tangannya yang besar di bahu kecil cucunya. "Rusa bisa kita cari besok, Khiya. Tapi seorang pemanah yang bisa tetap tenang saat taring serigala berada di depan tenggorokannya... itu adalah aset yang lebih berharga."
Raja Hrolf tertawa rendah, suara yang menggelegar di aula. "Angkat kepalamu. Malam ini kita tidak makan daging rusa, tapi kita akan minum untuk merayakan lahirnya seorang pemburu serigala." Ujar Raja Hrolf.
Khiya akhirnya mendongak, rasa hangat mulai menjalar di dadanya—bukan dari api perapian, melainkan dari pengakuan yang akhirnya ia dapatkan.