NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGILAN MASA KECIL.

Malam itu, suasana di meja makan mansion Arasyid terasa lebih hangat meski masih diwarnai dengan adu mulut kecil. Assel sedang menata piring-piring berisi lauk pauk saat Maheer muncul. Pria itu tampak baru saja menjejakkan kaki di rumah, namun alih-alih membersihkan diri, ia langsung menarik kursi dan duduk di meja makan dengan wajah lapar.

Melihat tingkah ayah sambungnya, Razka yang sedang memegang sendok langsung memasang wajah tidak suka. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Maheer dengan tatapan menghakimi.

"Huh, dasar Om Jahat jorok! Tahu tidak kata Papaku, kalau mau makan itu harus dalam keadaan bersih. Om kan baru pulang kerja, bukannya mandi eh malah langsung duduk di sini," protes Razka dengan nada bicara yang sangat mirip dengan almarhum Muzammil.

Maheer tersentak, ia spontan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya, maaf. Habisnya, masakan Mama kamu nakal sih. Baru saja Papa Maheer masuk, eh harumnya malah memanggil-manggil perut Papa Maheer. Makanya kaki ini otomatis langsung jalan ke sini," bela Maheer mencari alasan.

"Huh, dasar banyak alasan! Bilang saja Om memang malas mandi, kan?" timpal Razka lagi, tidak mau kalah.

"Razka, jaga bicaramu. Berlaku sopanlah pada orang tua," tegur Assel lembut namun tegas, memotong perdebatan yang mulai memanas itu.

Maheer justru mengangkat tangan, membela keponakannya yang kritis itu. "Tidak apa-apa, Assel. Razka benar, aku memang harus membersihkan diri dulu. Tunggu sebentar, ya. Jangan habiskan ayam gorengnya!" seru Maheer sambil bergegas menuju kamar tamu di lantai bawah.

Sepeninggal Maheer, Assel menarik napas panjang. Ia menatap putranya dengan tatapan serius. "Razka, dengarkan Mama. Suka atau tidak suka, Razka harus tetap menjaga sikap baik dan sopan terhadap siapapun, apalagi di dalam rumah sendiri. Bukankah Razka ingin menjadi seperti Almarhum Papa?"

"Iya, Ma. Papa selalu berbuat baik pada semua orang," jawab Razka pelan, menundukkan kepalanya.

"Orang yang suka berbuat baik dan menjaga lisannya akan dicintai Allah, Nak. Mama tidak mau Razka tumbuh menjadi anak yang kasar," tambah Assel sambil mengusap kepala putranya dengan penuh kasih sayang.

"Maafkan Razka, Mama. Razka janji akan menjadi anak baik, biar kalau besar nanti Razka bisa sehebat Papa," ujar bocah itu tulus.

Tanpa mereka sadari, Maheer yang ternyata sudah selesai berganti pakaian dengan cepat—hanya mencuci muka dan mengganti kaus—berdiri di balik pilar ruang makan. Ia mendengar seluruh percakapan itu. Hatinya bergetar; ada rasa kagum pada cara Assel mendidik Razka, namun ada juga rasa pedih karena ia sadar sosok kakaknya begitu melekat sebagai standar kesempurnaan di mata mereka.

Maheer melangkah masuk dengan wajah yang sudah lebih segar. Ia duduk tepat di depan Assel dan menyodorkan piringnya. Assel menerimanya tanpa ekspresi, lalu mengambilkan nasi serta lauk pauk secukupnya sebelum mengembalikannya pada Maheer.

"Terima kasih, Istriku Acel," ucap Maheer dengan nada yang sengaja dibuat manis.

Assel seketika bergidik. Sendok di tangannya hampir saja terjatuh. "Acel?" bisiknya dengan nada tidak percaya.

Panggilan itu adalah panggilan masa kecilnya yang hanya digunakan oleh Maheer saat pria itu masih kecil dan kesulitan melafalkan huruf 'S'. Saat Muzammil memanggilnya dengan sebutan sayang, Assel merasa tenang. Tapi mengapa saat Maheer memanggilnya 'Acel', jantungnya justru berdegup dengan irama yang tidak menentu?

"Makanlah! Jangan berkata yang aneh-aneh, Maheer. Suara kamu itu mengganggu pendengaran," ketus Assel untuk menutupi rasa salah tingkahnya.

Maheer justru mengernyitkan dahi sambil menyuap nasi. "Aneh? Apanya yang aneh? Rasanya aku mengatakan hal yang sangat wajar. Sudah semestinya seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan kesayangan. Rasulullah saja memanggil istrinya, Aisyah, dengan sebutan Ya Humairah. Aku pernah membaca kisahnya. Jadi, sudah aku putuskan, panggilan kesayanganku untukmu adalah Acel."

"Diamlah, Maheer! Sebelum mulutmu itu aku jejali cabe rawit satu piring," ancam Assel dengan wajah yang mulai memerah padam.

Mbok Darmi yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan segera menghampiri Razka dan berbisik pelan. "Den Razka, ayo ikut Mbok ke belakang sebentar. Anak kecil tidak boleh lama-lama melihat orang tua yang sedang bertengkar manis."

Razka menghela napas panjang, bergumam pelan namun cukup terdengar oleh kedua orang di depannya. "Haiiis... Kenapa jaman sekarang dunianya terbalik ya? Anak-anak dipaksa dewasa, dan yang dewasa malah bertingkah seperti anak-anak."

Bocah itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gaya dewasa yang menggemaskan. Ia kemudian berpamitan pada Assel. "Ma, Razka mau mengerjakan PR dulu di atas."

Sebelum menaiki tangga, Razka sempat melirik tajam ke arah Maheer. "Eh, Om Manja! Jangan bikin ulah ya. Awas saja kalau sampai Mamaku menangis, Om akan aku..."

"Razka! Jaga bicaramu! Cepat minta maaf sama Om Maheer!" bentak Assel karena merasa putranya sudah kelewatan.

"Maaf, Mama!" seru Razka sambil berlari kencang menaiki tangga tanpa sempat meminta maaf pada Maheer.

Maheer mengertakkan giginya, merasa sangat gemas sekaligus kesal. "Anak itu... benar-benar jiplakan kakakku yang paling keras kepala."

Suasana meja makan menjadi sunyi. Assel yang tidak tahan dengan tatapan Maheer segera bangkit. "Aku mau menemani Razka belajar. Habiskan makananmu."

"Eh, Assel! Tunggu dulu!" panggil Maheer, namun Assel sudah lebih dulu menghilang di balik anak tangga.

Maheer menghela napas, menyandarkan punggungnya pada kursi. "Gara-gara bocah cilik itu, aku jadi gagal mendekati ibunya malam ini. Sabar Maheer, sabar. Masih banyak waktu untuk meluluhkan hati Acel kecilku."

Setelah makan, Maheer menuju ruang kerjanya. Niatnya untuk bersantai sirna saat ia membuka laptop dan menerima laporan darurat. Perusahaannya yang ia rintis dari nol di Australia sedang mengalami masalah hukum dan operasional yang serius.

"Hah, ada saja masalah di saat aku sedang mencoba membangun benteng di sini," gumam Maheer sambil memijat pelipisnya. "Haruskah aku biarkan? Ah, tidak mungkin. Itu hasil keringatku selama tujuh tahun."

Ia menimbang-nimbang. Haruskah ia mengajak Assel? Tapi apa alasannya? Mengingat sikap Assel yang masih dingin, kemungkinan besar wanita itu akan menolak mentah-mentah. Akhirnya, ia memutuskan untuk berangkat sendiri terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin.

Malam itu juga, Maheer menyusun beberapa helai pakaian ke dalam koper kecilnya sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.

Keesokan paginya, Assel sudah sibuk di meja makan menyiapkan sarapan. Ia tertegun saat melihat Maheer keluar dari kamar lantai bawah dengan mengenakan setelan jas lengkap dan menenteng sebuah koper kecil. Assel terdiam, ia ingin bertanya namun lidahnya terasa kelu.

Justru Razka yang lebih dulu menyuarakan rasa penasarannya. "Loh, kenapa Om Jahat bawa koper? Om mau pindah rumah ya? Akhirnya menyerah juga?" tanya Razka dengan nada sedikit berharap.

Maheer terkekeh pelan sambil meletakkan kopernya di dekat sofa. "Jangan senang dulu, jagoan. Papa Maheer tidak akan pindah. Papa harus pergi ke Australia sebentar karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan."

Maheer kemudian menatap Assel yang masih terdiam mematung. Ia mendekat ke arah Razka dan mengusap bahu bocah itu. "Razka, selama Papa tidak ada, tolong jaga Mama baik-baik ya? Jangan biarkan Mama sedih, dan jangan nakal."

Razka terdiam sejenak, melihat keseriusan di wajah Maheer. "Berapa lama Om pergi?"

"Hanya beberapa hari. Begitu selesai, Papa akan langsung pulang," jawab Maheer. Ia kemudian melirik Assel yang masih sibuk dengan piringnya, seolah-olah tidak peduli. "Assel, aku berangkat hari ini. Tolong jaga rumah dan... jaga dirimu baik-baik."

Assel hanya mengangguk pelan tanpa menatap Maheer. Namun, saat mobil Maheer mulai menjauh dari halaman mansion, Assel berdiri di depan jendela, menatap kepergian pria itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sedikit rasa lega karena drama 'Acel' akan berhenti sejenak, namun ada juga rasa hampa yang mulai menyelinap. Akankah kepergian Maheer ke Australia justru akan membuka kembali luka lama tentang Lusi? Ataukah ini menjadi awal dari rasa rindu yang sesungguhnya bagi Assel?

___

Terus dukung Author ya dan jangan lupa berikan Bintang 🌟 Like👍🏻 Hadiah 🎁dan komentarnya oke. Thanks...

1
Oma Gavin
semoga tidak ada drama di Australia sehingga tidak membuat assel semakin menjauh dari maheer
dyah EkaPratiwi
semangat maheer biar acel menata hatinya dulu
Radya Arynda
semangaaat up nya
Lia siti marlia
sabar yah mahher semoga kepergianmu ke australia menjadi benih benih rindu di hati assel🤭🤭
partini
luka lama lah,, kalian kan mengulang luka lama ya pastinya muter" dis situ dulu baru move on happy ending ya kalau happy ending sih
dyah EkaPratiwi
bener2 ya maheer
dyah EkaPratiwi
kelamaan ah maheer cari buktinya
dyah EkaPratiwi
sang raja arogan pasti yg akan luluh duluan
dyah EkaPratiwi
menyesal kau maheer
dyah EkaPratiwi
maherr keras kepala sekali knp gak coba cari kebenarannya
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
partini
lebih tau agama hemmm pintar kamu her
Lia siti marlia
cie cie yang di kasih kesempatan dah langsung nyosor aja tuh 🤭🤭🤭lanjut thorr😍😍
Lia siti marlia
ok maherr ...semangat up nya thorrr💪💪💪😍
Radya Arynda
semangaaaat up💪💪💪💪
Nifatul Masruro Hikari Masaru: selamat berjuang
total 1 replies
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!