Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Kembali ke Jaman Modern
Cahaya putih itu terlihat berjalan lurus menjauh dari istana. Cahaya putih itu lantas menghilang dan tak terlihat lagi.
Di dimensi berbeda, cahaya yang sama sempat melintas di atas sebuah rumah sakit. Dan begitu cahaya itu meninggalkan rumah sakit. Suara mesin ekg di sebuah ruangan terdengar begitu keras namun stabil.
Seorang wanita paruh baya, yang sudah beberapa hari berada di ruangan itu. Menunggui anaknya yang memang koma selama ini langsung menekan tombol emergency.
Wanita tua itu segera meraih tangan wanita yang koma itu.
"Huarin, Huarin, jangan menakuti ibu. Jangan menakuti ibu, ibu mohon!"
Air mata perlahan membasahi wajah lelah dan tua wanita itu. Seseorang membuka pintu dengan cepat.
"Ibu, bagaimana keadaan Mei?" tanya pria yang juga tampak khawatir itu.
Belum wanita paruh baya itu menjawab. Beberapa perawat sudah datang bersama seorang dokter yang menggunakan masker dan merapikan sarung tangannya.
"Nyonya, tuan, tolong keluar dulu! dokter akan menangani pasien segera!"
"Huarin..." air mata wanita patuh baya itu masih berderaian di wajahnya.
"Ibu, kita keluar dulu!"
Keduanya pun segera keluar dari ruangan. Mereka hanya bisa menyaksikan dokter dan perawat berusaha menangani Mei di dalam ruangan.
"Mei Huarin..."
Sementara di dalam ruangan, dokter yang melakukan pemeriksaan melihat tangan Mei Huarin bergerak.
"Pasien sepertinya akan sadar!"
Perawat itu segera memastikan penuh dekat.
"Mei Huarin, nona Mei Huarin, apa bisa dengar saya?" tanya dokter dengan suara tenang namun tegas.
Tak ada jawaban. Namun kelopak mata wanita itu tampak bergerak samar.
Dokter segera meminta pemeriksaan neurologis sederhana. Tangan Mei Huarin disentuh pelan untuk melihat apakah ada respons refleks atau kesadaran yang mulai kembali.
Perawat lain mencatat perubahan tekanan darah dan denyut nadinya yang sedikit meningkat, tanda otak mulai memberikan respons lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya.
"Jangan terlalu banyak stimulasi dulu," ujar dokter pada perawat.
"Kemungkinan kesadarannya mulai naik perlahan."
Mereka lalu menyesuaikan posisi tempat tidur agar Mei Huarin lebih nyaman, memastikan saluran napas aman, serta memanggil dokter spesialis saraf untuk pemeriksaan lanjutan.
Berikutnya Mei Huarin membuka mata perlahan.
"Dokter, pasien sadar!"
Suara perawat itu terdengar tegang sekaligus penuh keterkejutan di tengah ruang rawat intensif. Semua orang di ruangan langsung menoleh ke arah ranjang Mei Huarin.
Kelopak mata wanita itu bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit.
Pandangannya kosong beberapa detik, buram karena cahaya lampu rumah sakit yang terlalu terang setelah delapan belas hari berada dalam kegelapan panjang.
Monitor jantung di samping ranjang mulai berbunyi lebih cepat.
Dokter segera mendekat.
"Nona Mei? Bisa dengar saya?"
Napas Mei Huarin terdengar berat. Bibirnya bergerak kecil, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa kering seperti terbakar.
Perawat buru-buru menenangkan suasana. Salah satu dari mereka memeriksa tekanan darah, sementara yang lain memastikan selang oksigen tetap terpasang dengan baik.
Mata Mei Huarin bergerak perlahan menatap langit-langit putih rumah sakit. Wajahnya tampak kebingungan, seolah belum mampu membedakan mimpi dan kenyataan.
Tubuhnya terasa begitu berat sampai bahkan mengangkat jari saja sulit dilakukan.
Dokter kembali membungkuk sedikit mendekat.
"Nona Mei, kalau bisa dengar saya, coba kedipkan mata satu kali."
Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan, Mei Huarin mengedip.
Perawat langsung saling berpandangan lega.
"Respons bagus," kata dokter sambil mengangguk kecil.
"Kesadarannya sudah kembali, tapi kondisinya masih lemah."
Beberapa saat kemudian, dokter dan perawat itu keluar dari ruangan.
"Nyonya Hua..."
"Bagaimana anak saya dokter!"
"Kondisi pasien Mei Huarin sangat baik. Sudah sadar, dari hasil pemeriksaan. Sudah jauh lebih baik. Tidak ada yang perlu di khawatir, semua tanda-tanda alat vital juga berjalan bagus dan baik. Tidak ada masalah sama sekali!"
Kedua orang di depan dokter itu tampak menghela nafas lega.
"Boleh kami masuk dok?" tanya pria yang merupakan kakak kandung dari Mei Huarin itu.
"Tentu saja, tapi jangan banyak di ajak bicara dulu!" kata dokter itu.
"Baik dok!"
Hua Yanzhi dan Mei Zhenhao segera masuk ke dalam ruangan rawat Mei Huarin.
"Huarin..."
Air mata Mei Huarin juga langsung menetes begitu saja. Pada akhirnya dia bisa melihat ibunya.
"Ibu..."
Hua Yanzhi segera memeluk Mei Huarin.
"Ibu takut sekali, akhirnya kamu sadar!"
"Huarin, bagaimana perasaanmu?" tanya Zhenhao.
Mei Huarin menoleh ke arah kakaknya.
"Kakak!"
Keduanya tersenyum.
**
Malam harinya, Zhenhao kembali ke rumah sakit untuk membawakan makanan untuk ibunya dan Mei Huarin.
"Berapa lama aku koma, kak?" tanya Mei Huarin pada Zhenhao.
"Sudah 18 hari, kakak juga sudah melaporkan masalah ini ke pihak kepolisian. Teman kakak yang seorang pengacara juga akan segera tiba, kamu tinggal beri semua keterangan yang kamu ingat pada pengacara itu. Aku curiga, orang-orang dari Perusahaan Giant yang menyerang mu sampai kecelakaan itu terjadi!"
Mei Huarin menganggukkan kepalanya setuju.
"Zhenhao, nanti saja. Adikmu baru sadar. Bagaimana kalau nanti dulu..."
"Ibu...!" Mei Huarin menepuk punggung tangan ibunya, "aku sudah baik-baik saja. Orang yang membuatku koma itu, aku tidak akan biarkan dia!"
"Tapi Huarin, kamu masih..."
"Aku sudah sangat baik Bu, aku sangat sehat!"
"Baiklah!"
Beberapa waktu kemudian, setelah Hua Yanzhi tertidur di sofa. Mei Huarin menatap ke arah ibunya yang tampak lelah itu.
Dia kira, dia tidak akan lagi bisa bertemu dengan ibunya. Saat dia pergi, usianya berubah menjadi 17 tahun, padahal di jaman ini, dia sudah berusia 25, kalau menghitung waktu. Rasanya Mei Huarin takut sekali, 18 tahun kemudian. Dia sudah tidak bisa lagi bertemu ibunya yang sudah berusia 53 tahun saat dia tinggalkan. Ternyata dia hanya koma 18 hari.
Mei Huarin sendiri tidak paham, bagaimana bisa ada kesenjangan waktu yang begitu besar. Tapi, semua itu tidak lagi penting. Dia sudah memutuskan pergi meninggalkan masa lalunya di jaman itu. Maka dia akan melupakan semuanya, tentu saja tidak untuk Lu Yanzhi seperti janjinya.
Dia bahkan memberi nama anak perempuannya itu sama seperti nama ibunya.
'Yan'er. Ibu sudah kembali ke tempat ibu. Semoga disana kamu juga baik-baik saja!' batin Mei Huarin.
***
Bersambung...
Ternyata bersama Shen Meiren, kau memang ditakdirkan untuk tak bisa menjadi orang kaya.. 🤭
Semua gambar rakitan senjata telah musnah di bakar api..
Dan sekarang api itu membakar hatimu..
Siapa lagi pelakunya jika bukan Shen Meiren.. Selamat Jendral..!! Anda telah memilih wanita yang tepat..🤝🤣🤣
Mei emang pergi tapi kan warisannya banyak 🤭