Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Tidak Mau Ngaku
Danara mundur setengah langkah. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Sementara tangannya dengan cepat menutupi bagian cardigan tempat payet itu hilang.
Ucapan perawat tadi seolah sedang menelanjanginya secara perlahan. Danara harus segera mencari cara untuk menutupi kesalahannya. Dia menghembuskan napas panjangnya, berusaha menenangkan hatinya yang mulai tidak menentu.
Suasana lorong rumah sakit mendadak terasa mencekam. Menyisakan kecemasan yang mengendap di dada Danara. Pikirannya berputar cepat mencari alasan untuk bisa menutupi semua kesalahannya.
Sementara itu, tatapan Rendra turun perlahan ke lengan cardigan Danara.
"Lepaskan tanganmu!" titah Rendra saat Danara masih memegang cardigannya.
Gestur tubuh Danara semakin mencurigakan sehingga Rendra ingin memastikan sendiri kebenarannya.
Rendra memaksa Danara untuk tidak menutupi bagian lengannya.
"Apa sih Kak?" protes Danara, gelisah.
"Aku hanya ingin menyamakan jenis payet ini dengan payet yang ada di cardiganmu,"
Rendra menghela napasnya dengan pelan. Benar saja, ada satu bagian kecil yang kosong, persis seperti bentuk payet yang kini berada di tangannya. Rendra membeku. Tatapannya tajam.
"Ini...ini hanya kebetulan saja," ucapnya gugup. Telapak tangannya terasa dingin.
Razna terhenyak melihat payet yang menempel di cardigan Danara sama persis dengan payet yang dipegang Rendra.
"Jadi benar, Nona yang tadi siang masuk kamarku?" tanya Razna pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Mbak Razna!" bentak Danara panik.
"Jangan asal nuduh, Mbak. Tadi siang aku ke kamar mu setelah kejadian Finza jatuh dari tempat tidur. Sebelum kejadian aku sedang berada di tempat lain," lanjut Danara meyakinkan Razna dan Rendra.
Namun suara Danara justru terdengar semakin mencurigakan.
Rendra menyipitkan matanya, menatap tak percaya.
"Jadi kamu yang masuk kamar itu?" tanyanya dingin.
Danara mengangguk cepat mengiyakan.
"Iya tapi aku masuk kamar itu, setelah Finza jatuh,"
"Oh ya? Tapi kenapa payet cardiganmu bisa ada di baju Finza?" tanya Rendra lagi, kali ini lebih tajam.
Danara mulai kehilangan kendali. Dia menatap cardigannya sekali lagi, ada satu payet yang terlepas dan payet itu ada di tangan Rendra.
"Ya aku tahu! Tapi itu hanya suatu kebetulan saja," balasnya cepat.
"Seingatku, Nona tidak menggendong Finza saat Finza menangis,"
Deg!
Rahangnya mengeras. Dia gemas sendiri dengan ucapan Razna yang seolah ikut menelanjanginya.
"Kamu lupa kali, Mbak. Aku kan bantu gendong Finza untuk menenangkannya," protes Danara cepat.
Razna terdiam, mencerna ucapan Danara yang bertolak belakang dengan kejadian yang sebenarnya. Dadanya berdebar semakin keras.
"Jangan-jangan memang Danara pelakunya?" batinnya semakin yakin, apalagi Surti tadi melihat kejadian itu, walaupun tidak melihat wajah pelakunya.
Perawat yang merasa suasana mulai tidak nyaman akhirnya pamit pergi setelah memastikan kondisi Finza baik-baik saja.
Rendra melangkah perlahan mendekati Danara yang terlihat gugup.
"Aku tanya sekali lagi," katanya rendah namun penuh penekanan. "Saat kejadian kamu masuk ke kamar Razna atau tidak?"
Danara menelan salivanya dengan susah payah. Dia tidak mungkin mengaku di hadapan Razna dan Rendra. Kalau mengaku sekarang, bisa dipastikan Rendra akan melakukan hal yang tidak diinginkan. Sementara rencananya belum berhasil dengan sempurna.
Tatapan Rendra saat marah benar-benar menakutkan.
Danara menunduk dalam-dalam, "Aku...aku hanya mau melihat Finza. Itu pun setelah Finza jatuh," lirihnya. Berharap jawaban yang sama membuat Rendra percaya pada ucapannya.
Rendra mengusap wajahnya dengan kasar karena mulai kehilangan kesabaran dalam menghadapi Danara yang tidak mau jujur.
Rendra langsung mengambil benda pipih dari saku celananya. Dia menelepon seseorang,
"Hallo pak Ali, pak tolong siapkan bukti rekaman CCTV saat kejadian tadi siang. Secepatnya ya!" ujar Rendra sambil menatap tajam Danara.
Deg!
"Kakak tidak percaya aku?" tanya Danara lirih namun dalam hatinya sangat cemas.
"Aku hanya ingin melihat bukti kebenaran. Jangan salahkan aku bila aku berpikiran buruk tentangmu."
Kalimat itu membuat hati Danara memanas. Dia mulai menunjukkan rasa sedihnya.
"Kak, kita ini keluarga. Aku adik ipar kamu!" serunya tiba-tiba dengan wajah yang hampir menangis.
"Kanapa sih kakak selalu membela wanita itu. Dia itu jahat."
Tangannya menunjuk Razna dengan penuh kebencian. Danara menghapus air matanya dengan kasar.
Razna hanya terdiam.
"Aku hanya khawatir posisi kak Sherin bakal tergantikan oleh wanita lain," lanjut Danara emosional.
"Kakak terlalu perhatian pada wanita itu. Cantik juga engga, pakaiannya aja kuno gitu.Ga ada pantas-pantasnya pake baju."
"Cukup Danara! Jangan pernah kamu menghina dia lagi..."
"Kakak jahat...kakak tidak sayang sama Nara. Padahal sebelum kakakku meninggal, kak Sherin menyerahkan Kakak untukku bukan untuk wanita lain,"
Ucapan Danara membuat semua orang terdiam.
Rendra menatap Danara dengan tajam. Dia menggelengkan kepalanya sambil tertawa remeh.
"Jadi kamu cemburu?" tanya Rendra menatap tak percaya.
Danara langsung tersadar ia salah bicara. Ia terlalu gegabah dalam bersikap. Wajahnya terlihat panik
"Bukan...bukan begitu maksudku. Aku hanya ..." ucapannya langsung dipotong Rendra.
"Ingat satu hal Danara. Aku tidak pernah menganggap mu orang yang spesial. Istriku belum lama meninggal. Aku belum berpikir untuk menikah lagi. Walaupun aku harus menikah, itu bukan denganmu," potong Rendra penuh penekanan.
"Tapi kak..."
Rendra menghela napas panjang dengan rahang mengeras.
"Pulanglah! Mulai detik ini kamu tidak berhak ikut campur urusan Razna dan Finza lagi. Kalau hal ini terulang lagi, aku pastikan kamu akan ku kembalikan ke rumah Mama,"
"Kak..."
"Aku serius," ucapnya tegas.
Nada suara Rendra kali ini benar-benar dingin. Tanpa perasaan lagi.
Danara langsung menitikkan air mata bukan karena sedih melainkan marah dan merasa gagal dalam berharap untuk menjadi istri pengganti.
Dia melirik Razna dengan tatapan penuh kebencian. Dia meninggalkan rumah sakit dengan berlari kecil, sambil mengusap air matanya dengan kasar.
"Aku engga akan rela bila Razna masih berada di rumah kak Rendra. Tunggu aja tanggal mainnya. Aku ga akan pernah diam...." ujarnya penuh emosi.
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...