Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
031~
Wei Ji Xiang yang sedang membereskan sampah-sampahnya tersenyum saat melihat Lin Xia Mei berjalan ke arahnya.
"Ibu, Ayah sedang mencari Ibu." tutur Wei Ji Xiang.
Lin Xia Mei tidak merespon, ia memasukkan semua camilan ke dalam box dan melipat tikar dengan cepat.
"Ibu?"
"Ayo pergi," ajak Lin Xia Mei.
"Tapi Ayah belum kembali,"
"Ji Xiang, jangan membantah!" bentak Lin Xia Mei.
"Ibu, kita tidak bisa meninggalkan Ayah." tolak Wei Ji Xiang.
Lin Xia Mei memejamkan mata sejenak, setetes buliran bening mengalir.
"Kita akan menemui Ayahmu, jangan membuatku kesal lagi.
Akhirnya Wei Ji Xiang memilih patuh, ia membantu membawa tikar dan Lin Xia Mei membawa box nya. Di depan gerbang museum terlihat seorang supir Grab sedang berdiri di dekat mobilnya. Lin Xia Mei dan Wei Ji Xiang berjalan ke arahnya.
"Nyonya Lin Xia Mei?" supir mengkonfirmasi.
"Ya,"
Mereka berdua masuk ke dalam mobil di susul pengemudi.
"Apakah sesuai titik lokasi tujuan?"
"Ubah, ke Rumah Sakit GeHos."
"Ee untuk masalah perubahan rute ini ada biaya lain di luar aplikasi, Nyonya."
"Aku akan membayarnya berapapun itu, sekarang cepatlah ke tujuan."
Selama perjalanan, Lin Xia Mei sama sekali tidak berbicara, memasang ekspresi dingin namun jari jemarinya tidak berhenti meremas ujung pakaiannya.
Wei Ji Xiang sangat ingin bertanya, namun ia memilih diam daripada diamuk Ibunya.
Ban mobil berdecit saat mobil berhenti tepat di depan Rumah Sakit terbesar di Hainan. Lin Xia Mei memberikan uang ongkos dengan tambahan, segera ia turun bersama Wei Ji Xiang.
"Benar-benar nyonya kaya." gumam supir sebelum menginjak pedal gas dan pergi dari area Rumah Sakit.
Langkahnya menuju lobi dan mencari loker penitipan barang.
"Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya titip barang-barang ini."
Selesai masalah barang bawaan, ia segera berjalan ke ruang IGD dengan langkah terburu-buru, tentu Wei Ji Xiang semakin bingung.
"Apakah pasien atas nama Wei Zhu Chen sudah tiba?" tanya Lin Xia Mei pada petugas dengan suara pelan.
"Baru saja tiba, Nyonya. Apakah anda anggota keluarganya?"
Lin Xia Mei mengangguk.
"Syukurlah. Mohon Nyonya segera mengisi formulir, pasien sudah ditangani lebih dulu tadi."
Petugas menyerahkan berkas yang harus diisi olehnya, dengan cepat jari jemarinya mengisi formulir didepannya.
"Bagaimana biayanya?" tanya Lin Xia Mei.
"Biayanya akan menyusul nanti, Nyonya."
Lin Xia Mei mengangguk paham, ia menyodorkan kembali berkas yang sudah di isi.
"Ibu, sebenarnya kita ada urusan apa kesini? Ayah ditinggalkan di taman?" Wei Ji Xiang sudah tidak mampu menahan rasa penasarannya.
"Ji Xiang, dengarkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya, tapi kau harus bisa tenang dan tidak membuat kegaduhan ataupun hal lainnya."
Wei Ji Xiang mengangguk patuh.
"Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Ayahmu."
20 menit berlalu, saat ini Lin Xia Mei dan Wei Ji Xiang sedang menunggu di ruang tunggu sampai seorang petugas datang menghampiri mereka.
"Permisi, atas nama Nyonya Lin Xia Mei?"
"Benar, dengan saya sendiri."
"Pasien saat ini sudah selesai ditangani, namun lukanya cukup parah dan disarankan untuk rawat inap."
"Lakukan saja seperti itu,"
"Baik, Nyonya. Sebentar lagi pasien sudah boleh dijenguk."
10 menit berlalu, petugas kembali datang dan membawa Lin Xia Mei ke ruang rawat Wei Zhu Chen saat ini.
Saat membuka pintu ruangan, mata Wei Ji Xiang membulat sempurna melihat Ayahnya terbaring di ranjang.
"Ayah.." Wei Ji Xiang berlari menghampiri Wei Zhu Chen, matanya sudah basah air mata, ia memegangi tangan Wei Zhu Chen sambil menangis tersedu-sedu.
"Terima kasih," ucap Lin Xia Mei pada perawat yang mengantarnya.
"Terima kasih kembali, Nyonya."
Setelah perawat itu pergi, Lin Xia Mei masuk ke dalam ruangan dan menyaksikan seorang anak yang sedang menangis sambil menggenggam tangan Ayahnya. Ia berjalan menghampiri keduanya, memandangi Wei Zhu Chen yang sedang terlelap.
"Ibu.. Ayah kenapa?" tanya Wei Ji Xiang dengan suara serak.
"Ayahmu kecelakaan saat menyebrangi jalan tadi,"
Lin Xia Mei menarik kursi dan duduk di sebelah Wei Zhu Chen. Matanya menangkap sesuatu, ada pergerakan tipis pada mata Wei Zhu Chen, ia menghela napas lalu melayangkan pukulan di paha Wei Zhu Chen.
"Aaahkkk" pekik Wei Zhu Chen, rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. Ia membuka mata dan menatap Lin Xia Mei.
"Aku sudah terluka seperti ini dan kau malah memukulku?"
Lin Xia Mei menatap datar kemudian memandangi jari tangannya yang lentik.
"Kau hanya pura-pura pingsan, Zhu Chen."
"Ayah, syukurlah Ayah baik-baik saja!" Wei Ji Xiang langsung menempelkan kepalanya diatas paha Wei Zhu Chen.
"Ayah baik-baik saja, hanya sedikit luka."
"Dokter berkata aku harus dirawat inap untuk sementara waktu." ungkapnya sambil menatap Lin Xia Mei dengan mata memelas.
"Aku sudah tahu, Wei Ji Xiang akan menjagamu."
"Kenapa harus Ji Xiang, apakah kau tidak mau menemaniku disini?" tanya Wei Zhu Chen yang merasa agak kecewa.
"Kau sudah tahu jawabannya, Wei Zhu Chen. Aku tidak punya waktu dan tidak ingin punya waktu untuk menemanimu." jawabnya dengan santai.
Sungguh penolakan secara terang-terangan.
"Ibu, Ji Xiang libur sekolah?"
"Aku akan mencarikanmu sekolah baru, jadi kau tidak usah merengek ingin pulang. Jaga saja Ayahmu disini, aku akan menyuruh Feng Shou untuk mengantar keperluan kalian selama disini."
"Tapi Ibu juga akan sering kemari, kan?" tanya Wei Ji Xiang penuh harap.
"Ji Xiang, sejak kapan telingamu tuli? Ku bilang aku tidak punya dan tidak ingin ada waktu untuk menjaga Ayahmu itu. Itu Ayah kandungmu, jadi kau harus berbakti padanya." Lin Xia Mei menaikkan nada bicaranya.
"Dan ya, kau jangan lama-lama disini, Zhu Chen. Biayamu di ruangan VIP ini tidak murah."
Lin Xia Mei berdiri dan menyingkirkan kembali kursinya.
"Malam ini kau tidak usah pulang, Ji Xiang."
"Baik, Ibu." Wei Ji Xiang menunduk patuh.
Lin Xia Mei tersenyum menatap ke arah jendela.
"Aku harus pulang, banyak hal menyenangkan yang harus ku lalui. Selamat tinggal."
Lin Xia Mei melenggang pergi, meninggalkan Wei Zhu Chen yang sedang kesal bercampur sedih.
"Aku terluka seperti ini dan kau malah berencana bersenang-senang. Xia Mei, sungguh kejam hatimu."
Bao yang melayang di samping Lin Xia Mei tiba-tiba mengacungkan jempol.
"Selamat inang, rasa suka tokoh utama pria turun 3%. Saat ini angka rasa sukanya berada di 48%."