"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."
***
Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasilnya
Ini adalah hari yang ditunggu semua orang. Hari dimana hasil tes DNA itu akan keluar.
Siang ini, Alfand sudah duduk gelisah di ruang kerjanya.
Tatapannya berkali-kali tertuju pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tiga puluh menit lagi. Tiga puluh menit lagi ia akan mengetahui kebenaran yang selama bertahun-tahun ia hindari.
“Pak…” Suara asistennya membuat Alfand tersadar dari lamunannya.
"Ya?"
"Anda terlihat gelisah."
Alfand menghembuskan napas pelan lalu merapikan manset jasnya. Alih-alih menjawab, Alfand malah bertanya. “Jaka, saya tidak ada meeting kan siang ini?”
“Tidak ada, Pak. Tapi Bapak ada meeting dengan Pak Azzam menjelang sore nanti.”
“Oh…” Alfand mengangguk pelan. “Baiklah. Saya pergi dulu keluar sebentar.”
Jaka langsung menoleh. “Kemana, Pak?”
Tatapan Alfand berubah datar. “Bukan urusan kamu, Jaka.”
Jaka langsung menunduk cepat. “Oh… baik, Pak.”
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Alfand segera mengambil jasnya lalu berjalan keluar ruangan.
Langkahnya terlihat cepat. Bahkan sedikit tergesa.
Karena Azzam tadi sudah mengabari bahwa dirinya juga sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Dan hari ini… semuanya akan terjawab.
Pintu lift tertutup.
Begitu Alfand benar-benar pergi—ekspresi Jaka langsung berubah.
Ia buru-buru meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Tut.
Tut.
“Halo, Bu.”
“Ya, halo.”
“Pak Alfand baru keluar, Bu.”
“Ke mana?”
“Saya kurang tau, Bu. Bapak gak bilang apa-apa. Hari ini juga gak ada meeting selain sama Pak Azzam sore nanti.”
Di seberang sana, Yessi langsung mengernyit. “Berapa lama dia pergi?”
“Baru sekitar lima menit lalu, Bu.”
Entah kenapa hati Yessi langsung tidak tenang.
“Kamu ikuti sekarang. Kirim lokasi suami saya.”
Jaka langsung berdiri cepat. “Baik, Bu.”
Panggilan terputus.
Sementara itu di dalam mobilnya—Alfand menggenggam stir erat-erat.
Jantungnya berdetak semakin keras seiring mobilnya mendekati rumah sakit.
***
Alfand akhirnya tiba di rumah sakit.
Langkahnya terasa berat saat memasuki ruangan khusus itu.
Dan begitu pintu terbuka—semua orang sudah ada di sana.
Abi Athar.
Uma Arsyila.
Azzam.
Bu Lastri.
Mang Arif.
Dan… Aira.
Deg
Tatapan Alfand langsung tertuju pada gadis itu. Aira terlihat duduk diam dengan jemari yang terus saling meremas.
Wajahnya pucat. Tatapannya penuh kecemasan.
Sementara di sampingnya, Uma Arsyila terus mengusap pelan punggung tangan Aira, berusaha menenangkan gadis itu tanpa banyak bicara.
Suasana ruangan begitu hening. Tegang. Tidak ada yang berani membuka suara lebih dulu.
Hingga akhirnya Azzam berdiri.
Di tangannya sudah ada sebuah amplop cokelat.
Hasil yang selama ini ditunggu. Hasil yang bisa mengubah segalanya.
Azzam berjalan mendekati Alfand lalu menyerahkan amplop itu padanya. “Silakan, Om.”
Alfand menatap amplop tersebut beberapa detik. Tangannya perlahan menerimanya.
Sementara itu… di luar rumah sakit—Jaka terlihat panik sendiri di dalam mobil.
Ia kehilangan jejak Alfand.
“Pak Alfand ke mana sih…” gumamnya frustasi.
Dengan buru-buru ia menghubungi Yessi.
“Halo, Bu…”
“Gimana?!”
“S-saya kehilangan jejak Pak Alfand, Bu.”
“Apa?!” Suara Yessi langsung meninggi. “Kamu tuh gimana sih?! Baru disuruh ngikutin aja gak becus!”
“Maaf, Bu. Tadi lampu merah terus mobil Pak Alfand—”
“Alasan!” Yessi memijat pelipisnya penuh emosi.
Perasaannya semakin tidak tenang.
Alfand pergi tanpa bisa ia kendalikan. Dan itu membuatnya takut.
Kembali ke dalam ruangan.
Alfand masih menatap amplop di tangannya.
Ruangan terasa semakin sunyi.
Aira sampai menahan napas.
Sementara Azzam diam-diam memperhatikan gadis itu.
Ia tau—di balik wajah tenangnya, Aira sedang sangat ketakutan.
Perlahan… Alfand membuka amplop tersebut.
Kertas hasil pemeriksaan mulai terlihat.
Matanya langsung bergerak membaca baris demi baris tulisan di sana.
Dan beberapa detik kemudian—wajah Alfand membeku.
Perlahan mata Alfand bergerak membaca bagian paling bawah dari lembar hasil pemeriksaan itu.
Dan—Deg!
Napasnya tercekat.
Tangannya langsung gemetar hebat.
Di sana tertulis jelas. Hasil Pemeriksaan DNA.
Berdasarkan analisis sampel genetik yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa: Probabilitas hubungan biologis antara Tn. Alfand Malik sebagai ayah biologis dan Nn. Aira sebesar 99,99%.
Dengan demikian, hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Tn. Alfand Malik adalah ayah kandung biologis dari Nn. Aira.
Hening. Sunyi. Seolah seluruh suara di ruangan menghilang begitu saja.
Kertas itu hampir lepas dari tangan Alfand.
Matanya memerah. Tidak percaya. Namun tulisan itu begitu jelas.
Tidak bisa dibantah. Tidak bisa dihindari lagi.
Aira… benar-benar anak kandungnya.
Aira yang selama ini ia jauhi. Ia hina. Ia sebut anak haram.
Ternyata… darah dagingnya sendiri.
Tubuh Alfand perlahan melemas. Setelah bertahun-tahun, akhirnya air matanya jatuh.
Semua orang di ruangan itu terus memperhatikan perubahan ekspresi Alfand.
Wajah laki-laki itu perlahan runtuh. Matanya memerah. Tangannya gemetar hebat memegang lembar hasil pemeriksaan tersebut.
Aira langsung menahan napas.
Dadanya berdegup begitu keras sampai terasa sakit.
Ia takut bertanya. Takut berharap. Namun ekspresi Alfand…
sudah menjawab semuanya.
Azzam perlahan mengambil lembar hasil itu dari tangan Alfand yang melemas.
Matanya membaca cepat isi pemeriksaan tersebut.
Dan beberapa detik kemudian—sudut bibirnya terangkat lega.
“Alhamdulillah…”
Suara itu langsung membuat semua orang menoleh padanya.
Azzam mengangkat hasil tersebut sedikit lalu menatap Aira.
“99,99% cocok.”
Air mata Aira langsung jatuh begitu saja. Tangannya refleks menutup mulutnya sendiri. Seolah tubuhnya kehilangan tenaga.
“Pak Alfand..." Azzam tersenyum tipis. “…benar ayah kandung kamu, Aira.”
Tangis Aira pecah. Bukan tangisan keras. Tapi justru lebih menyakitkan.
Tangisan yang selama ini ia tahan bertahun-tahun.
Bu Lastri langsung ikut menangis sambil memeluk mulutnya sendiri. “Ya Allah… akhirnya…”
Mang Arif mengusap wajah kasar dengan tangan tuanya.
Uma Arsyila langsung memeluk Aira erat di sampingnya.
Wanita itu ikut menangis haru sambil terus mengusap kepala gadis tersebut. “Alhamdulillah ya Allah…”
Abi Athar pun menghembuskan napas lega. “Masya Allah.... Allah benar-benar tunjukkan kebenarannya.”
Sementara itu—Alfand masih membeku di tempatnya.
Tatapannya tidak lepas dari Aira.
Putrinya. Anak kandungnya. Anak yang selama ini justru paling ia sakiti.
Perlahan…lutut Alfand melemah.
Bruk
Laki-laki itu jatuh berlutut ke lantai.
Semua orang langsung terkejut.
Namun Alfand seperti tidak peduli.
Ia perlahan merangkak mendekati Aira.
Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.
Melihat itu, Bu Lastri dan Uma Arsyila perlahan menepi.
Membiarkan ayah dan anak itu berbicara.
Alfand berhenti tepat di depan Aira.
Tangannya gemetar mencoba meraih tangan gadis itu..“Maafkan Papa, Nak…Maafkan Papa…” Suaranya hancur.
Benar-benar hancur.
“Papa salah besar sama kamu. Papa sangat berdosa. Papa menyakiti kamu, maafkan papa nak. Papa…”
Namun kalimat itu terputus oleh tangisnya sendiri.
Ia tidak sanggup melanjutkan.
Bertahun-tahun… ia bersikap dingin pada putrinya sendiri.
Menghina. Merendahkan. Menganggap Aira tidak ada. Bahkan nafkah dan kasih sayang yang seharusnya menjadi hak seorang anak—tidak pernah benar-benar ia berikan.
Dan sekarang… saat kebenaran itu terbuka Alfand baru sadar seberapa besar dosanya.
Tangannya sampai terangkat ingin bersujud di hadapan Aira.
Namun Aira langsung menahan kedua pundaknya panik. “Pa… jangan. Jangan begitu…”
Tangis Aira kembali pecah.
Melihat laki-laki yang selama ini sangat ia rindukan sekarang menangis di hadapannya—membuat dadanya terasa sesak.
“Papa jahat sama kamu. Papa hina kamu. Papa gak pernah jadi ayah yang baik. Papa gagal…”
Aira menggeleng cepat sambil menangis..“Jangan bilang gitu…”
“Tapi Papa memang gagal…” lirih Alfand penuh penyesalan. "Papa bahkan lebih percaya orang lain daripada ibu kamu…”
Nama itu membuat Aira menunduk.
Alfand menangis semakin keras. “Padahal Desi selalu bilang. Kalau kamu anak Papa. Dia selalu bilang. Tapi Papa gak percaya…”
Ruangan itu kembali dipenuhi tangis.
"Aira sudah maafkan papa. Aira sayang papa. Kita mulai kehidupan baru ya, Pa. Apa… Aira boleh peluk Papa?”
Kalimat itu keluar pelan.
Begitu rapuh.
Namun justru membuat hati semua orang di ruangan itu ikut bergetar.
Alfand langsung menangis lagi. Ia mengangguk berkali-kali sambil tersenyum di sela air matanya.
“Itu… Itu hal yang paling Papa tunggu, Nak…”
Dan detik berikutnya—Aira langsung memeluk ayahnya erat.
Tangis keduanya pecah bersamaan.
Pelukan itu terasa begitu menyakitkan sekaligus menenangkan. Pelukan yang seharusnya sudah terjadi sejak lama.
Alfand memeluk putrinya erat seolah takut kehilangan lagi. Tangannya terus mengusap kepala Aira penuh penyesalan.
“Maafin Papa…Maafin…”
Sementara Aira hanya bisa menangis di dada ayahnya.
Bertahun-tahun ia menunggu momen ini. Bertahun-tahun ia mempertanyakan—apakah dirinya benar-benar tidak diinginkan?
Dan hari ini… akhirnya ia mendapat jawabannya.
Semua orang di ruangan itu terdiam haru.
Bu Lastri sampai menutup mulutnya sambil menangis.
Mang Arif mengusap matanya berkali-kali.
Uma Arsyila ikut menangis sambil bersandar pada suaminya. “Ya Allah. Kasihan banget anak itu…” lirihnya.
Abi Athar mengangguk pelan.
Namun di antara semuanya orang yang paling lega adalah Azzam.
Ia berdiri diam memperhatikan Aira. Sudut bibirnya terangkat tipis. Matanya terasa hangat.
Akhirnya… gadis itu tidak perlu lagi mempertanyakan dirinya sendiri.
Tidak perlu lagi menangis sendirian karena hinaan manusia.
Dan tanpa sadar—Azzam ikut mengucap syukur dalam hati. “Alhamdulillah…”
Karena hari ini Allah benar-benar memeluk Aira lewat banyak cara.
Setelah tangis keduanya perlahan mereda dan mereka saling melepaskan pelukan, suasana ruangan masih dipenuhi haru.
Mata Alfand masih merah.
Tatapannya tidak lepas dari wajah putrinya. “Kenapa kamu segampang itu memaafkan Papa, Nak?” suaranya lirih penuh rasa bersalah. “Padahal Papa sudah banyak berbuat dosa sama kamu…”
Aira tersenyum kecil meski air matanya masih tersisa. “Pa... Aira pernah dengar sebuah kalimat dari kajian yang selalu Aira dengerin.”
Semua orang mulai memperhatikan gadis itu.
“Beliau bilang… Sejahat apa pun atau sebesar apa pun kesalahan orang tua terhadap anaknya, tetaplah kita sebagai anak berbakti kepadanya. Mungkin tindakan orang tua terhadap anak memang gak dibenarkan. Tapi berbakti kepada orang tua itu wajib.”
Aira mengusap air matanya pelan. “Aira pernah kecewa. Pernah marah. Bahkan pernah benci sama Papa.”
Suara gadis itu mulai bergetar.
“Tapi Aira gak mau rasa marah itu mengalahkan kenangan kita selama lima tahun dulu. Dulu Papa pernah sayang sama Aira. Dan demi Mama… Aira pelan-pelan belajar ngilangin rasa benci itu.”
Tangis Alfand kembali jatuh.
“Aira gak bisa benci Papa…”
Ruangan kembali hening.
Bahkan Uma Arsyila sampai ikut menangis lagi mendengar ucapan Aira.
“Dan ustadz itu juga bilang. Lapangkan hati untuk memaafkan kesalahan mereka. Bukan cuma buat ketenangan orang lain… Tapi buat ketenangan hati kita sendiri.”
“Masya Allah…” lirih Abi Athar penuh haru.
“Masya Allah…” sahut Bu Lastri sambil menangis.
Tak ada satu pun orang di sana yang tidak tersentuh mendengar ketulusan hati Aira.
Gadis yang selama ini paling terluka— justru menjadi orang yang paling lembut hatinya.
Alfand kembali memeluk putrinya erat. “Maafin Papa, Nak. Sekali lagi… maaf…”
Aira mengangguk pelan di pelukannya. “Sudah ya, Pa. Biarkan yang lalu jadi pelajaran. Sekarang kita hidup buat masa depan. Bagi Aira… Papa mau menerima Aira kembali aja udah jadi kebahagiaan yang gak ternilai.”
Tangis Alfand pecah lagi. Ia mencium kening putrinya lama.
“Terima kasih, Sayang. Papa janji… Papa akan kasih semua kasih sayang yang selama ini gak kamu dapatkan.”
Azzam yang sejak tadi diam memperhatikan Aira, perlahan menundukkan pandangannya.
Kalimat-kalimat yang baru saja diucapkan gadis itu terus terngiang di kepalanya.
“Lapangkanlah hatimu untuk memaafkan kesalahannya…”
Azzam langsung teringat sesuatu.
Kajian singkat.
Tentang memaafkan orang tua.
Tentang melapangkan hati.
Tentang berbakti meski terluka.
Itu… adalah isi materi yang pernah ia tulis beberapa tahun lalu untuk akun kajian mereka.
Namun waktu itu yang mengisi suara videonya bukan dirinya.
Melainkan Abidzar.
Karena saat itu Azzam sedang sangat sibuk mengurus perusahaan.
Makanya suara di akun itu terkadang berbeda.
Azzam perlahan menatap Aira lagi. Pikirannya mulai menyusun semuanya.
Pertanyaan tentang “anak haram”. Cara Aira mengingat kalimat-kalimat dari akun itu.
Pesan DM yang masuk beberapa hari lalu. Dan sekarang— kalimat tentang memaafkan orang tua.
Semuanya…terlalu cocok.
Jantung Azzam mendadak berdegup lebih cepat. “Jadi benar… Selama ini yang selalu kirim pesan ke akun itu memang kamu, Aira?” gumamnya dalam hati.
Entah kenapa dada Azzam terasa hangat sekaligus sesak.
Tanpa ia sadari—selama bertahun-tahun… gadis itu ternyata sudah hadir di hidupnya.
Bahkan sebelum mereka benar-benar bertemu. Dan yang lebih membuat hatinya tersentuh— di saat Aira sedang paling terluka… gadis itu diam-diam mencari ketenangan lewat kalimat-kalimat yang pernah ia tulis.
Azzam tersenyum kecil.
Sangat kecil.
Namun penuh rasa syukur.
“Mungkin… Allah memang sudah mempertemukan kita dari jauh sebelum ini.”
makin seru ni🥰🥰🥰🥰
lnjut lgi Thor
harus tegas aira,bnyak hal terluka nanti klau km pilih krna kadian dan iba
lnjut lgi Thor 😊
lnjut lgi thor
hanya karena kasihan smnorang lain masa depan mu bakaln terancam Aira
uda bner sm Azam yg bener sayang sm kamu