Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Jericko
Senin, pukul 07.00..
Di awal masa SMA-nya, Judika Pratama tampak begitu santai menjalani rutinitasnya. Pagi ini, earphone merah kesayangannya terpasang rapat di telinga, mengalunkan nada lagu No More Dream yang menjadi favoritnya.
Langkah kakinya santai, kepalanya sesekali bergoyang mengikuti irama, seolah dunia ini hanya miliknya sendiri. Jalanan pagi itu masih lengang, menambah kenyamanan bagi siswa baru yang sedang menikmati perjalanannya ini.
"Hei, Judika Pratama!"
Seseorang memanggil dari arah belakang, namun suara itu hilang tertelan musik yang didengarnya. Pemuda itu terus berjalan tak peduli.
"Judika?" panggil orang itu lagi, kali ini dengan nada ragu, takut salah orang.
Saat semakin dekat, barulah dia sadar bahwa anak itu sedang asik dengan dunianya sendiri.
PLAK..
Tangan itu memukul pelan namun mengejutkan pundak Judika.
Judika yang tadinya bersenandung kecil langsung tersentak kaget dan menoleh ke belakang.
"Oh, Kak Jericko." ucapnya datar tanpa ekspresi, lalu hendak kembali memasang earphone-nya.
"Ck! Dasar anak tak tahu aturan!" gerutu Jericko kesal, lalu dengan kasar menarik earphone itu hingga lepas dari telinga Judika.
"Ada apa sih, kak?" tanya Judika dengan wajah datar, memberikan kode 'aku sibuk, jangan ganggu'. Wajahnya terlihat sangat malas... malas sekali bahkan hanya untuk sekadar membalas sapaan seniornya.
"Kau ini benar-benar menyebalkan! Dari tadi aku teriak memanggilmu. Kau dengar tidak? Ingat itu! Kau masih anak baru! Harusnya sopan sama senior!" omel Jericko panjang lebar.
Namun Judika sama sekali tidak menggubris. Dia terus berjalan menyebrang saat lampu hijau menyala, membiarkan Judika berkacak pinggang di belakangnya.
"Masih harus sopan kalau kakak lebih pendek dariku gini?" sahut Judika tiba-tiba tanpa menoleh.
"Anak iblis ini! Kau benar-benar— AWW!!"
BRUK..
Belum sempat Jericko menyelesaikan kalimatnya, kakinya tersandung batu kecil di jalan. Tubuhnya ambruk ke tanah dengan posisi yang sangat memalukan. Kaki kirinya terkilir parah, sementara telapak tangannya lecet dan berdarah karena menahan benturan keras di aspal.
"Ahhh... Sialan!" umpatnya kesakitan.
Mendengar suara itu, Judika segera berbalik dan membantunya bangun.
"Sudah kubilang jangan cari masalah denganku, kak. Lihat kan akibatnya?" ucap Judika setengah mengejek.
"Ahh.. diam kau! Ini semua salahmu!" Jericko masih ngotot meski wajahnya memerah menahan sakit.
Sementara itu, Judika justru tak kuasa menahan tawa.
"WHAHAHA! Konyol sekali kau, kak!"
"Nah! Sekarang kau malah menertawakanku? Dasar setan kecil!" Jericko menggelengkan kepala pasrah, benar-benar kalah dengan tingkah bocah satu ini.
Akhirnya perjalanan mereka berlanjut dengan lambat. Judika memapah Jericko yang tertatih.
Setiap kali langkah salah, Jericko pasti meringis kesakitan.
***
Sesampainya di sekolah, mereka tidak langsung ke kelas, melainkan menuju Ruang Klub Musik, markas besar mereka. Meski baru masuk beberapa hari, Judika sudah langsung diterima menjadi anggota di sana.
Klub Musik ini beranggotakan tujuh orang yang luar biasa. Mereka adalah Nathan Sanjaya sang pemimpin, Arjuna Haditama yang tertua, Yongki Sadewa, Hendy Rahardian, Jericko Sheehan, Tamma Okamy, dan Judika Pratama sebagai yang termuda.
Ruangan ini sangat lengkap, ada peralatan musik canggih, komputer, TV, dan yang paling unik adalah kompor gas yang dibawa Arjuna sendiri. Katanya sih buat masak kalau mereka lapar saat latihan. Tempat ini sudah seperti rumah kedua bagi mereka.
Di sana, Arjuna, Nathan, dan Hendy sudah ada lebih dulu, sedang asik mengobrol. Melihat Jericko yang masuk dengan kondisi mengenaskan membuat Arjuna langsung melompat dari kursinya.
"Ya ampun! Jericko! Kenapa bisa begini?!" tanya Arjuna panik, lalu segera membantu mendudukkan adiknya dan mengambil kotak P3K.
"Tanyakan saja pada anak setan ini, kak!" Jericko menatap tajam ke arah Judika yang masih menyunggingkan senyum jahil.
Semua mata kini tertuju pada bungsu mereka.
Judika mengangkat bahu acuh tak acuh, "Dia dapat karma, kak!" jawabnya santai sambil duduk di sebelah Nathan.
"Karma?" Hendy mengerutkan kening bingung.
"Iya. Dia mau jahatin aku, makanya kakinya tersandung batu terus jatuh deh." jelas Judika polos.
"Siapa yang mau jahat! Itu karena sikapmu yang tidak sopan!" Jericko semakin emosi, sementara Arjuna sibuk membersihkan luka di tangannya.
"Hei-hei! Berisik sekali kalian berdua! Aku mau belajar malah jadi nggak fokus!" tegur Nathan yang dari tadi sibuk membaca. Kini kehilangan konsentrasi.
"Maaf, kak." Jericko cemberut, lalu melotot ke arah Judika yang pura-pura tidak melihat.
"Sudah sudah, jangan ribut terus. Lihat kan hasilnya? Jadi sakit kan sendiri? Kita ini keluarga, harusnya saling menghargai." Arjuna mulai memberikan ceramah khasnya sambil mengobati luka.
"Dan kau, Judika. Walau pun sudah dekat, tetap harus hormat sama senior. Yaa... walau pun si senior ini badannya lebih kecil dan pendek darimu sih."
"Kak?!" Jericko melongo dengan mata terbelalak, kaget mendengar kalimat pedas itu dari mulut Arjuna.
Seketika itu juga, ruangan klub itu dipenuhi tawa yang sangat keras dan lepas.
"HAHAHAHA!!"
*****
BERSAMBUNG....