Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Namun, tepat saat ratusan prajurit pilihan Ra Kuti hendak memacu kuda mereka, sebuah suara membelah keheningan lembah. Dari balik gerbang besar markas mereka, terdengar suara lonceng yang berdenting bertalu-talu, menggema dengan nada yang ganjil dan menyayat.
Seketika, seluruh pasukan terdiam. Suasana menjadi sangat mencekam; hanya desau angin gunung dan suara jangkrik malam yang beradu dengan denting logam yang kian mendekat itu.
Krekekekek...
Gerbang kayu raksasa itu berderit nyaring, terbuka perlahan seolah didorong oleh kekuatan yang tak kasat mata. Dari balik kegelapan di luar gerbang, muncul sebuah siluet ringkih seorang kakek sepuh yang berjalan dengan langkah terseret. Tangan kirinya memegang lonceng perunggu kecil yang terus berbunyi, sementara tangan kanannya mengangkat sebuah lampion tua dengan cahaya temaram yang berkedip-kedip gelisah.
Di belakang kakek itu, dua orang berdiri layaknya pengawal. Mereka mengenakan pakaian pendekar, namun pemandangan itu membuat nyali para prajurit Ra Kuti menciut. Tubuh kedua pendekar itu penuh dengan sayatan luka yang menganga tanpa mengeluarkan darah. Bahkan, salah satu dari mereka berjalan dengan kepala miring yang mengerikan—lehernya hampir putus, menyisakan sedikit urat yang menahan kepalanya agar tidak jatuh.
Mata mereka kosong, seluruh bagiannya memutih tanpa pupil, menatap hampa ke arah kerumunan prajurit. Langkah mereka kaku dan dingin, menyebarkan aroma tanah kuburan yang menusuk ke udara.
Kakek itu berhenti tepat di depan barisan depan pasukan Ra Kuti. Ia mengangkat lampionnya lebih tinggi, menyinari wajahnya yang keriput dan pucat pasi.
Di punggung kakek tua itu, tersampir sebuah keranjang bambu yang besar. Namun, isinya bukan buah-buahan atau hasil tani, melainkan tumpukan kepala manusia yang masih berlumuran darah. Mata mereka melotot ngeri, seolah-olah nyawa mereka dicabut saat sedang menyaksikan ketakutan yang paling dahsyat.
Ra Kuti, sang pemberontak yang biasanya tak kenal takut, seketika melangkah turun dari panggungnya. Dengan langkah yang sangat berhati-hati, ia menunduk hormat di hadapan kakek angker tersebut.
"Eyang Guru," sapa Ra Kuti dengan nada suara yang merendah. "Siapa lagi yang kau bawa kali ini? Tidak cukupkah koleksi mayat pendekar yang memenuhi ruanganmu?"
Si kakek terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti gesekan tulang kering. "Ah, kau ini seperti tidak tahu saja, Ra Kuti. Selagi ada pertengkaran, selagi ada pertumpahan darah, di sanalah aku menunggu. Ke mana kau akan pergi dengan pasukan sebanyak ini di tengah malam buta?"
"Maaf, Eyang," jawab Ra Kuti tegas. "Aku baru saja menerima laporan bahwa dua jagal dari Klan Anggrek Hitam telah ditemukan. Kami akan segera berangkat ke Desa Mojorejo malam ini juga."
Mendengar nama desa itu, denting lonceng di tangan si kakek mendadak berhenti. Hawa dingin yang luar biasa seketika menusuk tulang siapa pun yang ada di sana.
"Hmmph... kau ini memang tak pernah puas menuruti nafsumu, Ra Kuti," desis si kakek sembari menatap tajam melalui mata putihnya yang keruh. "Batalkan perjalanan ini."
Ra Kuti tertegun, hendak membantah, namun suara si kakek mendadak meninggi dan bergetar penuh ancaman.
"Batalkan sekarang juga dan masuklah ke ruanganku! Kau dengar?!!"
Ra Kuti terdiam sejenak, mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah yang terpaksa ia pendam. Dengan helaan napas panjang yang sarat akan kekecewaan, ia akhirnya memberi isyarat kepada para panglimanya untuk membubarkan seluruh prajurit.
Satu per satu prajurit pilihan itu mundur ke dalam kegelapan, sementara Ra Kuti melangkah pelan, mengikuti punggung bungkuk sang kakek masuk ke dalam ruangan gelap yang berbau busuk tersebut. Di belakang mereka, dua mayat pendekar yang lehernya hampir putus itu mengekor dengan langkah kaku yang berirama.
Sesampainya di dalam ruangan, kakek sepuh yang bernama Eyang Blarak Geni itu memberi isyarat agar Ra Kuti segera duduk. Ruangan itu sudah tidak asing bagi Ra Kuti, namun hawa kematian yang pekat di dalamnya selalu berhasil membuat bulu kuduknya berdiri.
Di sepanjang tembok yang lembap, berjejer beberapa peti mati kayu jati tua yang berdiri bersandar. Isinya adalah mayat-mayat pendekar termasyhur dari seantero tanah Jawa. Mereka adalah "koleksi" yang sewaktu-waktu bisa dibangkitkan kembali oleh Eyang Blarak Geni untuk menjadi bala tentara maut yang tak kenal rasa sakit.
Di sisi lain ruangan, pemandangan jauh lebih mengerikan. Berderet tonggak-tonggak kayu yang ujungnya runcing, tempat di mana kepala-kepala manusia ditancapkan sebagai piala kemenangan. Kali ini, Eyang Blarak Geni bergerak dengan tenang, mengambil koleksi barunya dari keranjang dan mulai menancapkan kepala-kepala yang masih basah itu ke tonggak kayu yang masih kosong.
Terkadang, jika nafsu kreasinya muncul, kepala-kepala itu tidak sekadar dipajang. Ia akan menjahit dan menyambungkan kepala manusia itu ke tubuh kijang, ular, atau binatang hutan lainnya—menciptakan makhluk sungsang yang melampaui nalar manusia.
Saat itu juga, kedua mayat pendekar yang baru saja mengawal mereka masuk, seolah mengerti tugasnya tanpa perlu diperintah. Dengan gerakan kaku dan sinkron, keduanya melangkah menuju peti mati yang kosong, merebahkan diri di dalamnya, dan kembali ke dalam tidur abadi mereka.
Eyang Blarak Geni kemudian menutup daun pintu peti itu dengan dentuman pelan yang menggema di ruangan sunyi tersebut. Ia berbalik, menatap Ra Kuti dengan cahaya lampion yang menyinari wajah keriputnya dari bawah.
"Duduklah, Ra Kuti. Mari kita bicara tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di Mojorejo, sebelum kau melakukan kesalahan yang akan membuat kepalamu berakhir di atas salah satu tonggak kayu ini."
"Tapi Eyang sendiri sepertinya tak pernah puas dengan nafsu mengoleksi itu?" celetuk Ra Kuti, sebuah keberanian yang berbatasan dengan maut.
"Diam kau, murid jahanam...!!" bentak Eyang Blarak Geni. Suaranya bukan lagi parau, melainkan menggelegar layaknya guntur yang menghantam dinding batu ruangan itu.
Ra Kuti tersentak, nyalinya menciut seketika. Ia langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya, tak berani menatap mata putih sang guru yang kini seolah memancarkan bara api.
"Jangan pernah samakan aku dengan kau!" desis Eyang Blarak Geni sembari mendekatkan wajahnya yang dingin ke telinga Ra Kuti. "Jiwa-jiwa yang kubawa ini adalah mereka yang telah memilih jalan pedang dan memutuskan untuk mandi darah hingga ajal menjemput. Aku hanya menunggu di ujung ajal mereka, menjadi elang pemakan bangkai yang membersihkan sisa-sisa kesombongan manusia."
"Tapi di tangan Eyang, bangkai-bangkai itu hidup kembali... dan menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya," sahut Ra Kuti pelan, mencoba membela diri.
"Ya! Termasuk kau! Apa kau lupa siapa yang menjahit kembali ragamu saat kau terkapar tak bernyawa? Hah?!!"
Ra Kuti terdiam, sebuah memori kelam tentang kematiannya sendiri berkelebat di pikirannya. "Aku... aku tidak akan pernah lupa, Eyang."
Eyang Blarak Geni menghela napas panjang, hawa dingin yang keluar dari mulutnya membentuk kabut tipis di udara. Ia memutar tubuhnya, membelakangi Ra Kuti.
"Ra Kuti... seharusnya kau belajar dari masa lalumu. Nafsu kekuasaan yang kau bangga-banggakan itu hanya akan membuatmu menjadi mayat untuk yang kedua kalinya. Dan jika itu terjadi, jangan harap aku bisa menghidupkanmu lagi. Raga itu ada batasnya, apalagi jiwamu saat ini pun belum benar-benar utuh."
Ia menoleh sedikit, melirik Ra Kuti dari sudut mata keruhnya. "Pergi ke Mojorejo sekarang hanya akan mengantarkan nyawamu yang sisa separuh itu ke tangan Jagad Ireng. Kau tahu siapa dia, bukan? Dia bukan pengoleksi raga sepertiku... dia adalah penghancur sukma."
"Ya, dia adalah kakak seperguruanmu sendiri, Eyang. Maka dari itu, bantulah aku," ucap Ra Kuti dengan nada memohon yang terselip di antara ambisinya yang meluap. "Aku tak bisa hanya berdiam diri di sini, membusuk dalam penantian, sementara benakku selalu menjerit menuntut balas. Dendamku pada Gajah Mada adalah satu-satunya alasan mengapa jantung di dalam raga pinjaman ini masih berdetak!"
Ra Kuti mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat penuh kebencian setiap kali nama sang maha patih itu terucap.
"Jagad Ireng mungkin kuat, tapi dia hanya menginginkan Gandraka sebagai budak sukmanya. Sedangkan aku? Aku butuh bocah itu untuk meruntuhkan takhta yang dulu pernah kucicipi. Aku butuh kekuatan itu untuk menyeret Gajah Mada ke hadapanku agar ia bisa merasakan kematian yang lebih menyakitkan dari yang pernah kualami!"
Eyang Blarak Geni terdiam sesaat, jemarinya yang keriput mengetuk-ngetuk permukaan peti mati di dekatnya, menciptakan bunyi detak yang monoton dan mengerikan.
"Kakak seperguruan..." gumam sang kakek sepuh, suaranya kini terdengar jauh melayang ke masa lalu. "Hubunganku dengan Jagad Ireng sudah lama putus sejak ia memilih jalan kegelapan yang lebih pekat dari malam. Kau ingin aku membantumu melawan dia? Kau ingin aku menantang penguasa ilusi itu demi dendam pribadimu pada seorang patih Trowulan?"
Eyang Blarak Geni perlahan berbalik, sorot matanya yang putih keruh menatap tajam ke arah Ra Kuti.
"Ketahuilah, Ra Kuti. Memasuki wilayah Jagad Ireng saat ia sedang menggelar Surya Pralaya sama saja dengan menyerahkan lehermu pada algojo. Namun, jika kau memang sudah begitu merindukan lubang kuburmu yang dulu..." ia terhenti sejenak, lalu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang menghitam.
"Maka aku akan memberimu sesuatu yang bisa membuatmu tetap berpijak di tanah, meski ilusi Jagad Ireng mencoba mencabut sukmamu."