Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Kayla duduk termenung di sebuah kursi taman yang tidak terlalu jauh dari gedung tempat ia bekerja. Biasanya setelah mengurus pekerjaan dia akan termenung di tempat ini untuk menenangkan pikiran yang sedang kacau.
"Kenapa?" Suara lembut itu terdengar samar-samar tapi Kayla masih bisa mengenali pemilik suara itu.
Kayla memberikan sedikit tempat agar Alfian bisa duduk di sampingnya," Kenapa malam-malam kau kesini? bukannya tidur malah keluyuran nggak jelas!"
Meski dalam keadaan sedih kata-katanya tak pernah difilter,
"Harusnya aku tanya itu sama kamu. " ucap Alfian tak mau kalah. "Tadinya ada hal penting yang ingin kutanyakan, tapi aku tak melihatmu di seluruh tempat."
Tatapan mata Kayla jelas terlihat tidak baik-baik saja, dengan berat hati dia berkata. "Kalau urusan pekerjaan aku belum bisa, aku ingin memberikan sedikit ruang untuk aku menenangkan pikiran."
Alfian terkekeh, dilihatnya mata yang berair itu dengan tatapan mengejek, "Aku kira orang galak sepertimu tidak akan pernah merasa sedih. Kau terlihat seperti gadis pada umumnya sekarang."
Bugh!
Kepala Alfian sekarang sudah beralih menjadi samsak gratis yang dipakai buat latihan tinju. Setelah meluapkan emosinya Kayla tersenyum simpul.
Kayla memegangi kepala Alfian dengan lembut, "Maafkan aku, sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini, tapi kau terus saja memancing emosiku."
"Hehehe... aku nggak apa-apa terluka. Asal hadiahnya bisa melihatmu tersenyum."
Kata-katanya terlihat sangat sinkron dengan tindakannya. Senyumnya terlihat tulus, dan tidak dibuat-buat.
Kayla menatap bulan, kemudian matanya mengarah kepada pria yang berada di sampingnya ini. "Kau mirip seseorang di masa lalu... Apakah kau tidak keberatan kalau aku bercerita sedikit?"
Kayla memastikan apakah Alfian tidak keberatan mendengar kisah yang akan dia ceritakan.
Alfian hanya membalas dengan anggukan kepala. Dia terlihat seperti pendengar yang baik. Melihat hal itu, Kayla pun tidak ragu untuk bercerita.
Kayla tidak tahu harus memulai dari mana, karena ada banyak hal yang ingin dia ceritakan.
" Aku itu adalah anak yang tidak disayang oleh orang tuaku. Sering kali mereka mengabaikanku dan bersikap tidak adil. Mereka sering membedakan aku dengan adikku. Kadang aku bertanya pada diri sendiri, apakah aku anak pungut? Aku sering disalahkan, dipukul, dicaci dan dimaki."
Kayla berhenti sejenak. Ia berusaha mengontrol emosi yang saat ini bergejolak dan memaksa untuk keluar.
" Setelah merasa dunia seakan tidak adil, aku bertemu dengan dua orang pria. Mereka adalah orang yang mengerti perasaanku, tak jarang juga mereka selalu membelaku ketika sedang dimarahi Ayah dan Ibu. Tapi, kebahagiaan itu hanyalah sesaat...,"
Kayla tertawa namun air matanya menetes deras.Nafasnya tersengal-sengal tak beraturan, kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Mata Alfian berkaca-kaca, dia hampir saja menangis. Melihat seseorang yang dicintai bersedih seperti ini membuatnya tak tega.
Alfian menghadap ke samping sebentar, ia mengelap air mata yang hampir jatuh. Setelahnya kembali pada posisi semula.
"Mungkin saja kau adalah anak yang turun dari langit!" ucapnya sedikit heboh.
Kayla mengeplak kepala Alfian."Bodoh! kalau seperti itu mungkin aku akan disanjung -sanjung bagaikan Dewa! Namun kenyataannya tidak begitu!"
Setelah merasa cukup lega, Kayla pun melanjutkan ceritanya.
"Agar kau tidak bingung aku akan memberitahukan nama mereka. Sahabatku yang satu bernama Rafael, dan yang satu bernama Denis. Setelah Rafael membunuh Denis dia menghilang..."
Kayla berhenti sejenak. Ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan sangat pelan. Walaupun sudah merasa lega, tetapi saat akan bercerita dadanya kembali terasa sesak.
"Yang menggantikan Rafael di penjara adalah pengasuhnya, yang bernama Tuan Sam. Aku ingin sekali bertanya, apa alasan dia membunuh Denis? Tapi setelah kejadian itu dia menghilang... Aku tidak pernah lagi bertemu dengannya."
Suaranya mulai berubah. Suara yang tadinya stabil kini terdengar berat. Ia seperti tak mampu berkata-kata lagi.
"Sejak itu juga aku tidak lagi berteman dengan siapapun. Aku selalu sendiri, Aku mau berteman lagi setelah tim ini terbentuk."
"Pantas saja kata-katamu kasar! ternyata sepahit ini hidupmu." ucap Alfian santai.
"Apa kau ada gula? Hidupku kayaknya harus ditambahkan pemanis," Walaupun diucapkan dengan nada bercanda, sama sekali tidak terlihat lucu.
Alfian mendekatkan wajahnya," Aku bisa jadi gula di hidupmu nona."
Ekspresi Kayla terlihat datar ia mengangkat satu alisnya.
Alfian membungkuk dan meraih tangan Kayla dengan lembut bagaikan pangeran yang meraih tangan sang putri. "Aku akan jadi cahaya yang akan menerangi kehidupanmu yang sunyi."
Kayla melepaskan tangannya, "Aku tidak suka cowok lembek, aku suka cowok yang macho dan kuat." Ucap Kayla membayangkan tubuh para Petinju MMA yang terlihat kekar dan Kuat.
Alfian membuka dua kancing bajunya. Lalu meletakan salah satu tangan Kayla tepat di dada kekar miliknya.
Kayla terdiam. Wajahnya merah padam, tangannya gemetar. Namun tangan itu masih tetap berada disana, seolah-olah ia sedang menikmati surga dunia.
Alfian tersenyum jahil. ia mendekatkan wajahnya tepat di telinga Kayla sambil berbisik,"Gimana? Sudah macho belum?"
"E-eh...hhh... A-Aku..."
Tindakan Alfian barusan membuat Kayla gelagapan. Matanya kesana-kemari, seolah-olah mencari tempat persembunyian yang aman. Malu, gugup, dan salting bercampur aduk, membuat Kayla bingung harus berbuat apa.
Rasanya Alfian ingin memeluk dan menerkam Kayla yang terlihat menggemaskan. Ternyata kalau salting lucu juga.
Siapapun tolong aku! Pliss aku tidak sanggup di posisi ini! Wajahku mau ditaro dimana? Aku sudah kehilangan harga diri!!
"Sudahlah! Aku mau tidur." ucapnya datar tanpa menatap wajah Alfian.
Tanpa aba-aba Kayla langsung berlari menjauh dari Alfian. Kayla sadar Alfian adalah pria yang normal, dan berada di dekat Alfian saat ini mungkin akan menimbulkan sesuatu yang sangat bahaya.
Melihat mangsanya kabur, Alfian tak mau kalah. Ia mengejar Kayla dengan sekuat tenaga. Setelah berhasil mengimbangi Kayla, Alfian menarik tangan Kayla, sehingga membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas tubuh Alfian.
Terlalu intens begini sebenarnya tidak terlalu menakutkan. Namun, benda keras yang menempel di paha Kayla membuatnya sangat panik. Kayla segera bangkit dan berlari sekuat tenaga.
"Momen yang sangat manis sayang," Ucap Alvian tersenyum senang.
.................
Sampai di kamar Kayla berusaha menenangkan pikirannya. Kejadian tadi masih terus terbayang di kepalanya. Apalagi berdekatan terlalu intens seperti tadi, membuat degup jantungnya tak mau berhenti. Kayla menelan seteguk air untuk menghilangkan kegugupannya.
Dari arah belakang ada tangan yang menyentuh leher Kayla. Dengan tubuh yang gugup, Kayla menepis tangan itu terlalu kuat.
"Awh!"
Kayla membalikan tubuhnya, ternyata Jenny lah yang melakukan hal itu. Dia pikir Alfian yang melakukannya.
." Kamu ini bikin kaget aja!"
"Minta maaf dulu dong! Sakit nih tangan aku!" Jeni memperlihatkan wajah kesal yang dibuat-buat.
"Siapa suruh ngagetin!" Kayla mendudukkan bokongnya di kasur.
"Eh ngomong-ngomong kakak dari mana tadi? tadi aku lihat Joy juga sedang mencari Kak Alfian. Apa kalian saling bertemu? atau kalian sedang melakukan...," Jeni mendekatkan kedua jari telunjuknya sambil tersenyum geli.
"Tidur! anak-anak tak perlu tahu urusan orang tua." Jawaban Kayla membuat Jeni mengerutkan bibirnya.
"Keluar." Ucapan singkat itu semakin membuat Jenny kesal, dia berguling-guling di lantai seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Kau mau apa?" Walaupun malas Kayla tetap meladeni Jenny.
Jenny bangkit, tangannya meraih tangan Kayla, matanya membulat seperti seseorang yang akan meminta permohonan," Aku mau tidur disini."
"Aku tidak suka tidur dengan orang yang i-leran. Apalagi sampai membuat pulau di bantal kesayanganku!"
"Aku janji tidak akan seperti itu, kak plisss...,"
Kayla bernafas berat, "Oke."
Kayla membiarkan Jenny tidur bersamanya, Jeni adalah orang yang dekat dengannya setelah Alfian. Dia menganggap Jenny seperti adiknya sendiri, dia juga sangat perhatian terhadap gadis itu.
Ting!
(Jangan mengganggunya, aku tahu kau tidak menyukainya, kalau sampai itu terjadi aku akan membongkar kebusukan mu! Ingat itu!)
"Siapa?" Walaupun sedang mengantuk tapi telinga Kayla sangat sensitif dengan suara.
"Penipu ulung, " Jenny meletakan handphone dan menutup matanya.