Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Teratai Di Atas Abu
Bab 4 — Jalan Kultivasi yang Retak
Malam itu, salju turun lagi perlahan, menutupi tanah di luar gubuk dengan lapisan putih tipis. Angin bertiup pelan, mendesir di sela-sela dinding kayu yang keropos, namun di dalam ruangan, hawa hangat dari perapian membuat suasana terasa teduh.
A Bao duduk bersila di dekat api, wajahnya tak lagi tampak santai seperti biasa. Ia memanggil Lian Hua mendekat, lalu menunjuk lantai kosong di hadapannya. “Duduklah di sini, tegakkan punggungmu, dan tenangkan pikiranmu sepenuhnya. Jangan menahan apa pun, biarkan segala rasa yang ada di tubuhmu mengalir apa adanya.”
Lian Hua menurut saja. Ia tahu lelaki tua ini bukan orang biasa, meski sehari-hari hanya terlihat seperti pemabuk tak berguna. Sejak tinggal di sini, ia sudah berkali-kali mencoba melatih tenaga dalam mengikuti cara yang diajarkan gurunya dulu, namun selalu gagal. Setiap kali ia berusaha menggerakkan hawa di dalam tubuh, rasa nyeri yang tajam akan menyergap, seolah ada pisau yang mengiris di dalam dadanya. Ia berharap A Bao bisa memberi jawaban atas apa yang terjadi padanya.
A Bao mengulurkan kedua tangannya yang kasar namun mantap, meletakkannya di punggung dan dada Lian Hua. Matanya terpejam, napasnya melambat, dan perlahan, seulas hawa hangat yang lembut namun kokoh mulai mengalir dari telapak tangannya, masuk ke dalam tubuh Lian Hua, menjelajah ke segenap penjuru, menelusuri setiap urat dan meridian yang ada.
Di dalam diam itu, wajah A Bao perlahan berubah. Kerutan di dahinya makin dalam, bibirnya terkatup rapat, dan keningnya mulai berkeringat dingin. Hawa yang ia salurkan tadi berjalan sulit, sering kali terhenti tiba-tiba, atau malah bertemu dengan rintangan tajam yang seolah berupa pecahan batu tajam yang menganga di dalam jalan aliran tenaga.
Lian Hua sendiri menahan sakit, keringat bercucuran di wajahnya. Ia merasakan hawa itu bergerak, lalu tersendat, lalu berputar tak beraturan, membawanya rasa perih yang menusuk hingga ke tulang.
Lama sekali A Bao diam di tempat, sampai akhirnya ia menarik kembali tangannya dengan gerakan berat. Ia membuka mata, menatap nyala api di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa sedih, ada kemarahan yang tertahan, dan juga rasa iba yang mendalam.
“Bagaimana, Paman A Bao...?” tanya Lian Hua pelan, suaranya bergetar karena cemas. “Ada apa dengan tubuhku? Mengapa aku tak bisa menggerakkan tenaga sedikit pun seperti dulu?”
A Bao menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah dada dan punggung Lian Hua. “Ingatkah kau saat kau meloloskan diri dari kehancuran klanmu? Kau menerima serangan hebat, bukan? Bukan sekadar luka di kulit atau daging, tapi serangan yang langsung menyasar ke dasar kehidupanmu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada berat, “Meridian di dalam tubuhmu—jalur tempat hawa dan tenaga mengalir, pondasi utama bagi siapa saja yang ingin menapaki jalan persilatan—sudah rusak parah. Bukan hanya satu dua cabang, tapi jalur-jalur utamanya retak, terbelah, bahkan ada yang hancur sama sekali. Seperti sungai yang dasarnya pecah berantakan, air tak bisa mengalir lagi, malah akan merembes ke mana-mana dan merusak apa saja yang dilewatinya.”
Lian Hua diam terpaku. Ia sudah menduga ada yang salah, tapi tak pernah menyangka kerusakannya seberat itu. “Lalu... apa artinya itu?”
A Bao menatapnya lurus. “Artinya, jalan kultivasi yang biasa dilalui semua orang sudah tertutup bagimu. Orang lain bisa menampung tenaga, mengembangkannya, lalu menggunakannya untuk makin kuat selangkah demi selangkah. Tapi bagimu? Jika kau memaksakan diri berlatih dengan cara umum itu, hawa yang kau kumpulkan takkan punya tempat mengalir. Ia akan berputar liar di dalam tubuhmu, merobek sisa-sisa jalan yang masih ada, dan lama-kelamaan akan menghancurkan diri sendiri dari dalam. Kau takkan jadi kuat, tapi malah akan mati lebih cepat.”
Hati Lian Hua terasa seperti ditusuk benda tumpul yang berat. Harapan yang ia bangun pelan-pelan, tekad yang ia tanam demi membalas dendam, semuanya seolah runtuh seketika. Ia ingat kata-kata orang dulu yang menyebutnya sampah, yang bilang ia tak punya masa depan. Ternyata... mereka benar.
“Jadi... aku takkan pernah bisa jadi pendekar?” suaranya pecah, matanya memerah menahan air mata yang hendak tumpah. “Aku selamat dari api dan pedang, lari sejauh ini, menahan dingin dan lapar... tapi pada akhirnya, aku tetap tak bisa melakukan apa-apa? Menuntut balas, mengembalikan nama klan... semuanya hanya mimpi kosong?”
A Bao tak langsung menjawab. Ia meneguk sedikit anggur dari labunya, lalu menatap bocah itu dengan pandangan yang makin dalam.
“Belum kukatakan kau tak punya jalan sama sekali,” ucapnya pelan namun tegas. “Tapi satu hal harus kau pahami benar sekarang: cara orang lain berjalan, takkan bisa kau pakai lagi. Jalan itu sudah retak dan patah di depanmu. Kau bukan lagi anak murid klan yang bisa belajar seperti biasa. Kau berdiri di tempat yang berbeda, dan jika ingin melangkah, kau harus mencari jalan yang sama sekali baru—jalan yang belum pernah dilalui orang banyak, jalan yang mungkin tak ada jejaknya sama sekali.”
“Tapi untuk sekarang...” A Bao menggeleng pelan, suaranya melembut namun penuh kepahitan, “Kau harus tahu kenyataan pahit ini dulu: dengan keadaan meridianmu seperti ini, kau takkan pernah bisa berkultivasi dan tumbuh kuat seperti orang biasa. Tak peduli seberapa keras kau berusaha, seberapa besar kemauanmu... aturan dasar alam ini takkan berubah demi keinginanmu.”
Di luar, salju makin turun lebat, menutupi segala jejak di tanah. Di dalam gubuk kecil itu, diam yang berat melandai. Lian Hua menunduk dalam, menggenggam erat liontin giok di dadanya. Kini ia tahu benar: ia bukan hanya lemah, tapi juga terhalang oleh nasib yang seolah sengaja memutuskan segala jalan baginya.