Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
POV Ghea
"Saat aku remaja, mungkin sekitar 13 tahun, ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan mobil. Saat itu aku berfikir mereka hanya terlibat kecelakaan biasa. Setelah beberapa tahun kemudian, kami didatangi polisi, polisi itu mengatakan bahwa kecelakaan ayah dan ibu yang menyebabkan mereka meninggal adalah rekayasa. Dalangnya adalah seorang pebisnis yang usaha ilegalnya tengah dibongkar oleh ayah." Entah kenapa Ghani menceritakan masa lalunya padaku.
"Aku berterima kasih sekali pada pemerintah saat itu karena negara ikut andil dalam kasus orangtuaku. Mulai saat itu, yaaahh.. Aku bercita-cita untuk menjadi detektif, aku ingin membantu negara tanpa terlibat perang secara langsung. Lulus SMA aku melanjutkan di STIN, dan setelah lulus aku dikirim ke Montana untuk menjalankan misi. Naasnya, aku ketahuan saat tahun kedua, jadi aku tidak dipakai lagi oleh negara. Tapi entah kenapa saat menjalankan misi, aku menikmatinya. Dari sana aku bersama teman akhirnya freelance. Rasa ingin mengungkapkan kebenaran seperti sudah membelenggu jiwaku. Aku ingin kejahatan bisa pergi sepenuhnya dan dunia ini menjadi damai kembali." papar Ghani.
Ghani tiba-tiba mencium kepalaku, lama, lama sekali. "Aku mencintaimu sangat dalam Ghea. Aku tak ingin egois. Aku tak ingin apa yang menjadi mimpi dan kesukaanku menjadikanmu sebagai tumbal untuk itu semua. Melihatmu kesakitan, tak bisa bernafas sungguh mengorek jiwaku. Izinkan aku untuk terus mencintaimu dalam hati dan jiwaku tanpa harus memilikimu. Pergilah jauh dariku, tapi berjanjilah, kamu akan selamat dan akan bahagia." lanjutnya.
Tanganku mendorong dadanya dengan segenap kekuatanku hingga badannya terjengkang ke belakang, hingga kecupan pahitnya di kepalaku terlepas paksa.
"Kamu adalah pria pecundang paling lemah yang pernah kukenal. Kamu tahu, kamu mengambil hatiku, mengangkat jiwaku hingga ke menyentuh langit, hanya untuk kamu hempaskan ke dasar laut dengan dalih keselamatan?" Aku mendengus kasar. "Omong kosong!"
Lehernya menegang, dahinya berkerut melihat betapa tingginya aku menaikkan suaraku padanya, tak menyangka aku bisa bereaksi seperti itu.
"Kamu tak pernah benar-benar mencintaiku, kamu tak pernah memperjuangkanku. Kamu adalah pria egois yang tertutup oleh topeng pahlawan." Nafasku terasa berat saat mengungkapkan itu.
Pikiranku kemudian melayang saat aku masih duduk di bangku SMP. Ibu mengatakan jika aku sangatlah berharga, aku adalah harta bagi ayah dan ibu, harta yang tak pernah tergantikan oleh apapun. Ibu berpesan agar aku mencintai diriku sendiri sebelum aku mencintai orang lain dan carilah laki-laki yang benar-benar mencintaiku sepenuhnya yang benar-benar mau berjuang untukku. Jika Ghani benar-benar mencintaiku dia akan melakukan apa saja untukku, tapi apa yang terjadi bukan seperti itu. Dia lebih memilih untuk menggapai tujuannya yang kejam daripada berjalan bersamaku bersama-sama untuk memeluk kedamaian. 'Apakah dia sesayang itu denganku?' hah, tidak. Dia lebih sayang dengan dirinya sendiri daripada denganku.
"Kamu tak pernah menyayangiku, kamu tak pernah mencintaiku, kamu hanya menyayangi dirimu sendiri." kata itu keluar dari mulutku begitu saja.
Aku tak peduli dengan tanggapan Ghani. Tanganku meraih tas ranselku dan melangkah berat menuju speedboat yang terparkir goyah menahan terpaan ombak.
Ghani mengantarku sampai depan rumah. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung pergi, seolah dia orang yang sama sekali berbeda dari orang yang berada di pulau karang itu yang penuh dengan kehangatan. Aku mengerti jika banyak rahasia yang tak terucap dari bibirnya, tapi sikapnya benar-benar membuatku menyangsikan ungkapan rasa cintanya padaku.
Aku masuk ke dalam rumah, rumah yang biasanya membuatku nyaman dan hangat kini berubah menjadi dingin sedingin embun pagi yang menerpaku tadi pagi. Kulemparkan diriku pada empuknya sofa ruang keluargaku yang tak pernah lelah menangkap tubuhku yang penuh dengan beban.
Aku berjalan ke rak buku, kubuka kembali agendaku. Aku merencanakan untuk melanjutkan pendidikanku setelah 2 tahun gap year di Universitas Majapahit di Yogyakarta untuk jurusan managemen bisnis. Dua bulan yang lalu aku sudah mendapatkan pengumuman bahwa aku sudah diterima di Universitas itu dan tinggal menunggu jadwal masuk perkuliahan. Kulihat jadwal bahwa minggu ini mulai daftar ulang. Aku ingin pulang, pulang sekarang. Aku ingin segera melupakan orang yang sudah mengecewakanku.
Tiba-tiba pintu rumahku terbuka. Wati nampak muncul dengan tergesa-gesa. Wajahnya menunjukkan rasa khawatir yang sangat.
"Ghea kamu tak apa-apa? Ayah mengatakan jika ada pencuri semalam di rumahmu. Anehnya mereka ditemukan tak berdaya di sekitar rumahmu semalam."
"Benarkah?" aku terkejut. Itu artinya sebelum Ghani mengajakku pergi, dia sempat duel dengan para penjahat itu.
Wati mengangguk. "Kamu tidak tahu?"
Aku menggeleng. "Semalam Ghani mengajakku kemah di pulau Toma, pulau karang itu, sebelah timur pulau Re. Jadi aku tak tahu apa-apa."
"Syukurlah Ghe. Aku takut terjadi sesuatu padamu." Dia memelukku.
Akupun membalas pelukannya. Wati bukan hanya anak buah untukku, tapi juga sahabatku. Keluarganya juga sangat baik padaku dan menganggapku anak sendiri. Buatku itu adalah suatu anugerah.
"Aku pulang besok Wati."
Dia langsung melepas pelukannya, terkejut dengan perkataanku. "Bukankah minggu depan?" tanyanya. "Kamu bertengkar dengan Ghani?" tanyanya langsung pada pokoknya.
"Tidak. Tapi aku memutuskan untuk tidak bersamanya." jawabku singkat, sesingkat hatiku pernah jatuh cinta padanya.
"Kenapa?"
"Entahlah. Sepertinya aku meragukan cintanya."
"Ghe, kami bisa melihat bahwa dia sungguh sangat mencintaimu, juga sebaliknya, kami tahu jika sebenarnya kamu juga suka dia. Apapun keputusanmu itu aku akan hormati, tapi pergi karena dia itu seperti pengecut."
Aku menghela nafas panjang. "Sekarang atau besok, akan sama saja. Rumah ini sudah aku serahkan pengelolaannya padamu. Kedai juga sudah aku percayakan pada Gayo. Lalu apa lagi. Jika aku masih disini sekarang, aku akan terus mengingatnya. Aku ingin pergi, akun ingin lepas dari dia."
Rona wajah Wati yang manis berubah menjadi kemerahan, air mata menganaksungai membelah pipi mulusnya. Dia hanya mengangguk dan berusaha tersenyum.
"Aku boleh minta sesuatu, tolong jika ada seseorang yang bertanya aku dimana, tolong jangan beritahu. Jangan khawatir, aku akan kesini jika ada waktu luang." Kulihat air mata Wati semakin deras mengalir.
Entah hari ini atau sekarang perpisahan akan tetap menyakitkan. Aku sakit berpisah dengan teman-temanku, tapi pertemuan dengan Ghani semalam menyisakan kekecewaan besar untukku. Yah.. Kami bertemu dalam hitungan jari, kami jatuh cinta dalam hitungan detik, bukankah wajar jika berpisah dalam hitungan minggu?