NovelToon NovelToon
Maaf Aku Memilih Pergi

Maaf Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Poligami
Popularitas:288.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayra Zahra

Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.

Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.

Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.

Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

    Tiga tahun telah berlalu..

   Siang ini mentari bersinar begitu terik. Tapi, panasnya tak bisa menembus rimbunnya pepohonan yamg tumbuh dengan baik di Taman Kyai Langgeng. Taman yang sangat teduh di setiap sudutnya dengan angin sepoi-sepoi membuat siapa saja betah duduk berlama-lama di sana. Belum lagi pemandangan hamparan sungai Progo yang mengalir meliuk-liuk mampu menghipnotis pandangan mata.

  Ocehan burung yang bertengger diatas dahan seolah menjadi melodi penghantar ayunan langkah kaki. Bebrapa pasang muda-mudi nampak asyik berjalan sembari bergandengan tangan, menyusuri sudut demi sudut taman yang menjadi salah satu ikon wisata Kota Magelang itu.

  Semua pengunjung nampak menikmati suasana asri taman Kyai Langgeng yang sekarang menjadi Taman Kyai Langgeng Ecopark ini. Begitu pula dengan seorang perempuan berjilbab hitam yang asyik duduk di salah satu sudut taman kyai langgeng dengan view sungai progo.

    Tangannya begitu asyik menari di atas keyboard laptopnya. Sedari satu jam lalu dia sudah nampak duduk dengan tenang di sana dengan di temani kopi susu dalam cup yang dia beli di area street food yang ada di taman kyai Langgeng.

   Sengaja dia datang kemari selain mencari tempat nyaman untuk menulis, sekaligus merefresh otak yang sedah beberapa minggu ini dia gunakan untuk berfikir. Memang dia selalu datang kemari jika butuh menyegarkan otak setelah penat menjalani rutinitas kesehariannya.

    Terkadang datang dengan laptopnya, terkadang dia hanya datang untuk menikmati lari pagi di jogging areanya taman kyai langgeng. Bahkan pernah dia hanya sekedar duduk menikmati sejuknya hawa di sana.

   Semenjak pindah ke Magelang, Taman kyai Langgeng seolah menarik perhatiannya. Tidak pernah bosan menatap pepohonan yang begitu rindang.

  Wanita yang sedari tadi asyik duduk dan fokus pada laptopnya adalah Nafisa Retno Kinanthi. Nafis memilih tempat ini untuk melanjutkan menulis novelnya yang sudah seminggu lalu di tunggu penerbit. Kalau tidak aral bulan depan sebelum puasa novelnya akan mulai di cetak. Dan setelah hati raya nanti baru akan di launching.

  Selain itu dia juga harus menyelesaikan naskah sebuah film garapan salah satu sutradara ternama yang pernah mengadopsi novelnya menjadi sebuah film layar lebar.

   Saking fokusnya dia sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang sejak 15 menit lalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Memang begitulah Nafis, jika sedang fokus dengan laptop dan karyanya maka, akan sedikit acuh dengan lingkungan sekitar.

  Orang yang sedari tadi memperhatikannya dari jauh adalah Farid Alamsyah. Duda 3 anak yang begitu terpesona dengan ketenangan Nafis. Matanya bahkan tidak berkedip memandangi Nafis. Walau hanya dari belakang, Farid langsung dapat mengenalinya.

   Farid memang sengaja datang ke Magelang untuk bertemu dengan wanita mungil yang entah sejak kapan mencuri hatinya. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk dia memastikan bahwa hatinya memang telah tertambat pada wanita itu.

    Awalnya hanya merasa kagum atas ketegaran Nafis menghadapi ujian rumah tangganya. Lambat laun muncul rasa tertarik dan bahkan entah sejak kapan, ada semacam dorongan dalam hati kecilnya untuk selalu melindungi Nafis dan dua anaknya.

   Ada kesejukan mana kala dia bisa menatap wanita pujaannya itu. Ada juga rasa tenang dan nyaman saat sudah memastikan sendiri bahwa Nafis baik-baik saja. Tanpa banyak yang tau, setiap ada berita buruk tentang Nafis dia lah yang pertama kali bergerak untuk diam-diam menghapus berita itu dari peredaran.

   Saat bertemu Nafis, Farid tidak lagi memandang kemolekan dan kecantikan paras. Karena jika di bandingkan dengan Natasya mantan istrinya, tentu sangat jauh berbeda.

     Wajar saja karena Nafis memang selalu tampil sederhana. Berhias pun juga sewajarnya, tidak berlebihan. Lain halnya dengan Anastasya yang seorang anggota dewan dan juga pernah menjadi model papan atas yang hidup dengan segala ke glamorannya. Tapi, justru kesederhanaan Nafis itulah yang mampu memikat hati Farid yang sempat mati rasa karena penghianatan Natasya. Untuk itu dia memberanikan diri mendatangi Nafis kali ini.

   Setelah mengatur Nafas dan menata Hati, Farid mendekati Nafis yang masih fokus dengan laptopnya.

   " Assalamu'alaikum..!" Seru Farid dan itu sukses membuat Nafis terkejut.

   " Wa'alaikum salam. Ya Allah mas Farid. Kok bisa ada di sini ?" Farid tersenyum.

  " Iya mbak, mumpung libur syuting. Pengen main saja"

  " Saya kira sedang ada projek di sini "

  " Enggak, sengaja mau bertemu mbak Nafis " Nafis terkejut, bahkan dia sempat menatap farid yang kini ikut duduk di sebelahnya.

  " Ehm... Dalam rangka apa ya mas ?"

   " Nanti juga mbak Nafis tau " Nafis semakin pemasaran dan bingung saja.

   " Njenengan tau saya disini dari siapa ?" Ucap Nafis mengurangi rasa canggungnya.

   " Dari mbak yang ada di rumah mbak Nafis." Ucap Farid santai.

  " Berarti sudah dari rumah saya ?" Farid mengangguk.

   " Seharusnya njenengan minta mbak Nur telfon saya saja tadi, jadi tidak harus repot-repot sampai kemari."

   " Tidak apa-apa kan jadi tau Magelang ada taman sebagus ini.Yakin sih kalau bawa anak-anak kemari akan sangat suka "

   " Oya kayaknya tadi sedang sibuk ?" Nafis hanya tersenyum.

   " Di kejar deadline ya ?" Nafis mengangguk.

   " Harusnya naskah ini sudah di tanggan bang Ringgo sejak seminggu lalu buat di serahkan ke quality control mereka. Hanya saja saya belum sempat nulis lagi, karena banyak pangilan seminar dan pasien di klinik."

   " Makin sibuk dong ?"

   " Alhamdulillah rejekinya anak-anak mas "

   " Oya kabar anak-anak bagaimana ?"

  " Terakhir ketemu Zizah dua bulan lalu, waktu ikut mendampingi temen yang nyalon anggota dewan berkunjung ke pondok Zizah."

   " Njenengan bertemu Zizah ?" Farid mengangguk.

   " Zizah pasti merepotkan njenengan ya ?"

   " Tidak sama sekali, wong kalau tidak saya dulu yang mendekat dia juga malu-malu. Pas saya ajak keluar cuma minta di beliin bakso nggak mau di beliin yang lain "

   " Terima kasih banyak ya mas, sudah sekalian menyambangi Zizah di pondok."

  " Sama-sama. Zizah gadis luar biasa, mbak Nafis sangat beruntung memiliki putri seperti Azizah."

   " Alhamdulillah mas, Zizah memang begitu luar biasa. Sejak usia enam tahun susah di paksa mandiri dan harus tumbuh tanpa pendampingan saya. Sempat saya minta untuk di rumah saja sama saya tapi, dia bilang sudah terlalu jatuh cinta dengan pesantrennya dan juga ingin menyelesaikan hafalannya. Saya hanya bisa mesuportnya dan mendoakan saja dari sini " Mata Nafis selalu berkaca-kaca setiap membicarakan putrinya.

   " Mbak Nafis harus bersyukur dan bangga, Zizah tumbuh menjadi gadis yang begitu mandiri, tangguh dan sholeha lagi"

  " Betul mas, saya memang sangat bangga dan bersyukur karena tertakdir menjadi ibunya Azizah. Dia begitu getol mempelajari ilmu agama dan istiqomah dengan hafalannya. Di balik kepahitan ya harus saya alami kemaren, rupanya Allah menyiapkan nikmat yang luar biasa untuk kami. Subhanallah.." Air mata Nafis menitik tanpa mampu dia bendung.

   " Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tidak ada luka yang tanpa obat. Segala sesuatunya akan indah pada masanya bukan ?" Nafis mengangguk sembari mengusap air matanya.

   " Minum dulu.." Farid menyodorkan botol air mineral yang dia beli tadi.

   " Terima kasih." Nafis pun meminum sedikit air mineral yang di sodorkan Farid.

  Tiba-tiba ponsel Nafis berdering. Tertera di layar nama sang asisten yang menghubunginya. Santi memberi tahu jika, baru saja pihak polres Magelang kota menghubunginya. Jika ada seorang korban pelecehan seksual yang membutuhkan pendampingan psikologi. Dan Nafis di minta hadir kesana untuk membantu karena korbannya lebih dari satu.

  " Mas Farid maaf, saya harus segera pulang karena ada panggilan dari polres. Ada korban yang butuh pendampingan saya. Mohon maaf sekali lagi, jadi tidak bisa lama menemani njenengan menikmati keindahan taman kyai langgeng."

   " Tidak apa mbak Nafis. Kan memang sudah menjadi bagian dari profesionalismenya mbak Nafis. Ehm...apakah biasanya lama ?"

   " Tergantung kasusnya mas, bisa lama bisa juga sebentar."

  " Padahal saya mau mengajak mbak Nafis makan malan bersama " Nafis menghela Nafas.

   Akan terlalu beresiko jika dia mengiyakan keinginan Farid tapi, mau menolak juga tidak enak. Nafis selama ini berusaha menghindar dari hal-hal yang berujung membuatnya terkena skandal pemberitaan buruk. Ini malah Farid mengajak dirinya makan malam bersama. Meski jauh dari ibu kota, Nafis yakin kamera netizen itu lebih jeli dari pada kamera awak media.

   Dia tidak mau menciptakan skandal saat ini, terlebih sebentar lagi novelnya bakal rilis. Dia tak mau gosip ini di anggap sebagai pendongkrak novelnya agar laris di pasaran.

   " Maaf mas Farid, saya tidak bisa janji karena belum tau seberapa lama saya di Polres nanti "

   " Semoga cepat selesai ya mbak, ada yang mau saya sampaikan ke mbak Nafis "

  " Semoga saja ya mas."

  " Ini mau langsung pulang ?" Nafis menganguk.

" Ya sudah hayo "

" Tapi, saya naik motor tadi kesini " Ucap Nafis dengan wajah bingungnya.

" Gitu ya "

" Memang mas Farid kesini naik apa ?"

" Ojek online tadi, di pesenin orangnya mbak Nafis."

" Sebentar " Nafis meraih Hp yang dia taruh di dalam tas Laptopnya. Dia lantas menghubungi kang Tejo agar menjemput tamunya di Kyai Langgeng. Beruntung sopirnya itu sedang tidak sibuk mengantar pesanan butik jadi, bisa segera datang.

"Njenengan nanti akan di jemput kang Tejo. Kita tunggu di parkiran saja njeh " Farid menganguk.

" Terus mbak Nafis ?"

" Saya pakai motor saya " Farid terngaga.

" Apa tidak bahaya ?" Nafis tersenyum.

" Insya Allah tidak mas, susah biasa."

1
WHATEA SALA
Keras kepala juga ya si Nafis ini,sok kuat,padahal kalau dia cerita sama orang tua nya akan terasa ringan dan tentu ada solusi dan banyak membantu,tapi lihat semakin pontang panting kan..semua mau di pikul sendiri seolah gak punya orang tua.
𝐈𝐬𝐭𝐲
akhirnya sah juga setelah lama menunggu...
𝐈𝐬𝐭𝐲
Alhamdulillah sesuai harapan dan semoga pas akad semoga lancar tak ada halangan... saatnya Nafis berbahagia...
Susi Lawati
saatnya kamu bahagia fish segala sesuatunya jangan di pendam sendirian sekarang ada tempat yg nyaman dan leluasa tanpa harus merasa sungkan untuk kamu berbagi suka dan duka...
nunik rahyuni
menuju halal.. langsung gaaasszz biar louncing nafisa versi saset ato farid versi saset.banyak anak banyak rejeki
Agus Munib
top
nunik rahyuni
terlalu banyak liku liku ....kisah perjalann yg kurleb sama dg sebelum2nya
.langsung menuju pelaminan tanpa banyak acara
🌷tinull💞
inti nya komunikasi harus lancar jangan dipendem sendiri 😍
semangat terus Thor 👍
Hastutik cairn Brisbane
ruwet bin mbulet...simple lebih enak...bisa buat santai...
Tarwiyah Nasa
Nafis tu keras kepala
Susi Lawati
sepertinya trauma Nafis juga belum sembuh total, harus di sembuhkan dulu itu
Lee Mba Young
Nafis kelelahan tanpa mikir dirinya, pdhl anak nya masih butuh dia lo. kl terus bgini yg ada dia cpt mati.
bnyak TKW yg sakit hati tp masih bisa mikir, oiya kl Aku kerja rodi tanpa mikirin diri sendiri yg ada mlh rugi, kesehatan menurun ya kl ttp sehat kl sakit parah gimana nasib anak nya.

pdhl para TKW itu sdh nabung uang Dr luar Negri buat rumah eh suami di rumah mlh nikah lagi akhir nya rumah di bulldozer, tp mereka tau cara agar trauma hilang. healing tipis tipis, konseling juga.
kl nafis ini pdhl psikolog tp gk bisa nolong diri sendiri alasan trauma. yg ada mlh sakit sakit an. ya krn gk mau healing tipis tipis, nilmati Alam, nikmati karya Tuhan.
𝐈𝐬𝐭𝐲
Nafis suka abai dengan kesehatan selalu kerjaan yg di pikirkan sampai lupa tubuh juga perlu istirahat..
Siti M Akil
inaroh yang tidak tahu lelaki nya punya istri 🤣🤣
Adi Sudiro
panggilan nya umi tapi kelakuan nya umami🤭🤭🤭
Mayra Zahra: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Susi Lawati
wajar sih kalau zizah kecewa Ama bapaknya...
Kale
mertua laknat,,
Kale
sesakit itu ya menikah dng lelaki yg mengutamakan ibunya,,,hanafi jadi suami gk ada ketegasannya sama sekali,,,klau punya ibu sprti itu ,bukan surga yg kmu dapat fi,,,terimakasih kak author,,tokoh wanitanya gk menye",,,sukses slalu buat kak author/Rose/
Kale
apakah pak farid jodohnya nafis?
Kale
ya Allah,,,aku lihat suaminya pingin ikut gampar aja,,biar otaknya waras dikit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!