"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Arsitektur Angin dan Gelak Tawa
Matahari pagi baru saja sepenggal naik, mengusir sisa-sisa embun dari dedaunan mangga di halaman rumah Gani. Udara Karangbanyu masih terasa sejuk, namun atmosfer di teras rumah kayu itu sudah dipenuhi oleh ketegangan yang—secara absurd—terasa seperti persiapan sebuah proyek konstruksi berskala nasional.
Gani duduk bersila di atas tikar pandan yang digelar Kirana di teras. Di hadapannya, terhampar batang-batang bambu, gulungan kertas minyak berwarna merah menyala dan hitam, benang kenur tebal, gunting, serta lem kanji yang dibuat Kirana dari campuran tepung singkong dan air panas.
Pria itu menatap material di depannya dengan dahi berkerut dalam, seolah ia sedang mengevaluasi kualitas baja ringan untuk fondasi gedung pencakar langit. Tangan kanannya memegang sebilah pisau raut pinjaman dari Kang Ujang, sementara tangan kirinya—yang masih dibalut plester luka—memegang sebatang bambu petung yang belum diserut.
"Ini bambu yang salah," gumam Gani, memecah keheningan selama sepuluh menit terakhir. Suaranya terdengar sangat serius.
Kirana, yang sedang duduk santai di lincak sambil mengipasi dirinya dengan anyaman bambu, menghentikan gerakannya. Ia memiringkan kepala, menatap Gani dengan tatapan tak percaya.
"Salah bagaimana? Itu bambu petung terbaik yang kupotong dari kebun belakang," protes Kirana. "Tua, kering, dan lurus."
"Memang tua dan kering, tapi ini potongan dari ruas bawah dekat akar," Gani menjelaskan, memutar batang bambu itu untuk menunjukkan tekstur seratnya kepada Kirana. "Serat di bagian bawah terlalu padat dan kaku. Untuk rangka sayap utama layang-layang, kita membutuhkan elastisitas tingkat tinggi agar bisa melengkung menahan tekanan angin tanpa patah. Kita butuh bambu dari ruas tengah ke atas."
Kirana terdiam sejenak, mulutnya sedikit terbuka, sebelum akhirnya tawa renyahnya pecah. Ia tertawa hingga harus memegangi perutnya.
"Ya Tuhan, Gani," sela Kirana di antara gelak tawanya. "Kau ini sedang membuat mainan anak-anak seharga sepuluh ribu rupiah, bukan sedang merancang sayap pesawat Boeing! Pakai saja bambu itu, diserut sedikit lebih tipis pasti bisa melengkung."
Gani mendongak, menatap gadis itu dengan tatapan tajam yang memancarkan harga diri seorang profesional.
"Dengar, Tiran Kecil. Di dalam kamusku, tidak ada kata 'pakai saja' atau 'pasti bisa'. Arsitektur dan aerodinamika adalah ilmu pasti. Kalau kau memintaku membuat layang-layang untuk menang, maka aku akan membuat mahakarya yang secara struktural sempurna." Gani meletakkan bambu itu ke samping. "Aku tidak akan mempertaruhkan reputasiku pada bambu ruas bawah."
Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya, masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Ia benar-benar menyukai Gani versi ini. Pria yang kemarin malam tampak seperti mayat hidup yang tersesat di bumi, kini berdebat sengit soal anatomi bambu dengan mata yang menyala-nyala oleh antusiasme.
"Baiklah, Tuan Insinyur yang perfeksionis," Kirana mengalah, mengangkat kedua tangannya menyerah. "Aku punya beberapa batang bambu sisa dari ruas tengah di rumah. Aku akan menyuruh Udin mengambilnya sekalian saat dia datang nanti."
Tepat saat nama itu disebut, terdengar suara derap langkah kaki kecil dari arah jalan setapak, diikuti oleh suara nyaring yang saling bersahutan.
"Permisi! Assalamualaikum! Kak Kirana! Paman Gani!"
Dari balik semak belukar pekarangan, muncullah Udin. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu datang dengan bertelanjang dada, kulitnya kecokelatan terbakar matahari, dan celana pendek seragam SD merah yang sudah pudar dan longgar. Di belakangnya, mengekor dua orang temannya yang sebaya, menatap ke arah rumah Gani dengan pandangan sedikit waspada.
"Waalaikumsalam, Jagoan," balas Kirana riang, melambaikan tangan menyuruh mereka mendekat.
Udin berlari ke arah teras, langkahnya terhenti tepat di batas tikar pandan. Matanya yang bulat membelalak kagum melihat kertas minyak merah dan benang kenur yang berserakan. Namun, saat tatapannya beralih pada sosok Gani yang duduk bersila memegang pisau raut, Udin menelan ludah dengan susah payah.
Bagi anak-anak desa, Gani masih menjadi sosok misterius yang menakutkan. Pria kota berwajah muram yang kata ibunya 'sedang banyak pikiran'. Meskipun kemarin Gani sudah memperbaiki Balai Desa, aura intimidasinya sebagai orang dewasa yang kaku masih sangat kental.
"P-Paman Gani..." sapa Udin ragu-ragu, menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Teman-temannya bahkan mundur selangkah.
Gani meletakkan pisau rautnya. Ia menatap ketiga bocah itu dalam diam. Selama sepuluh tahun terakhir di Jakarta, Gani nyaris tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil. Dunianya diisi oleh para investor tua yang rakus, politisi yang korup, dan rekan bisnis seusianya yang manipulatif. Anak kecil adalah variabel yang tidak pernah ada dalam persamaan hidupnya.
"Duduklah," perintah Gani pelan, menunjuk ruang kosong di atas tikar dengan dagunya. Nadanya mungkin bermaksud ramah, namun suaranya yang berat dan datar membuatnya terdengar seperti sedang memerintahkan bawahannya di ruang rapat.
Ketiga bocah itu duduk serempak, bersila dengan sangat kaku, punggung mereka tegak lurus seperti sedang menghadapi ujian matematika. Kirana yang melihat adegan itu hanya bisa menahan tawa dengan menutup mulutnya menggunakan punggung tangan.
"Udin," panggil Gani.
"S-siap, Paman!" Udin menjawab dengan cepat, nyaris memberi hormat.
"Kirana bilang kau sudah sesumbar pada anak desa sebelah bahwa aku akan membuatkanmu layang-layang naga?" tanya Gani, menatap lurus ke mata anak itu.
Udin tampak sedikit pucat. Ia melirik Kirana untuk meminta pertolongan, tapi gadis itu hanya tersenyum polos tanpa niat membantu.
"I-iya, Paman," cicit Udin. "Soalnya... soalnya layang-layang Si Bowo dari Desa Sukatani itu besar banget, Paman. Bentuknya kelelawar. Kata Bowo, layang-layang Karangbanyu itu cuma kelas teri, bisanya cuma bikin layangan bapangan (layang-layang kotak tradisional) yang kalau kena angin kencang pasti oleng. Saya kan tidak terima desa kita dihina, Paman."
Mendengar alasan itu, sudut bibir Gani berkedut. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di masa kecil pada diri Udin. Gani kecil juga sama, sangat menjunjung tinggi kebanggaan desanya, tidak sudi diremehkan oleh siapa pun dari luar. Semangat kompetitif anak itu ternyata sangat murni.
Gani menghela napas panjang, merubah postur tubuhnya menjadi lebih santai. Ia mengambil sebatang bambu dan mulai menyerutnya dengan gerakan perlahan namun sangat presisi.
"Naga itu terlalu berat, Udin. Terlalu banyak detail ornamen yang menghambat aliran angin. Secara aerodinamika, itu desain yang tidak efisien," jelas Gani.
Udin dan teman-temannya saling berpandangan, bingung dengan istilah aerodinamika.
"Maksud Paman," Gani menyederhanakan bahasanya, menyadari audiensnya. "Naga itu cuma menang gaya, tapi susah terbang tinggi. Kau mau layang-layang yang kelihatannya seram tapi terbangnya rendah, atau kau mau layang-layang yang bentuknya keren, melesat paling cepat, membelah angin, dan bisa memutus benang layang-layang Bowo si Kelelawar itu?"
Mata Udin dan kedua temannya seketika berbinar terang. Kata 'memutus benang' adalah mantra ajaib di telinga anak laki-laki. Itu adalah esensi tertinggi dari sebuah festival layang-layang.
"Mau yang bisa mutus benang, Paman!" jawab mereka serempak, ketakutan mereka pada Gani menguap tak berbekas, digantikan oleh kekaguman absolut.
Gani tersenyum tipis—sebuah senyum tulus pertama yang ia tunjukkan pada warga desa selain Kirana dan Bibi Ratna. "Bagus. Kalau begitu, kita tidak akan membuat naga. Kita akan membuat Delta-Wing Glider dengan rangka Pegon ganda. Bentuknya akan seperti pesawat jet tempur siluman. Tajam, ringan, dan mematikan."
"Woahhh..." ketiga bocah itu berdecak kagum, meski mereka tidak tahu apa itu jet tempur siluman.
Melihat interaksi itu, dada Kirana berdesir hangat. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang teras, memperhatikan bagaimana pria kota yang keras kepala itu mulai melunakkan dinding esnya demi anak-anak desa.
Proses pembuatan pun dimulai secara resmi setelah Udin mengambil bambu yang tepat dari rumah Kirana.
Gani berubah menjadi seorang mandor yang tegas namun sangat sabar. Ia tidak hanya mengerjakannya sendiri, tetapi melibatkan Udin dan teman-temannya. Ia mengajari Udin cara mengampelas bambu agar permukaannya halus dan tidak merobek kertas minyak. Ia menyuruh dua bocah lainnya memegangi ujung benang kenur saat Gani sedang mengukur titik berat (Center of Gravity) dari persilangan rangka bambu.
Pisau raut di tangan Gani bergerak menari-nari. Ia membelah bambu menjadi bilah-bilah tipis, merautnya hingga mencapai ketebalan yang sama dari pangkal hingga ujung. Ia kemudian meletakkan bilah bambu itu di atas telunjuk jarinya, mencari titik seimbang yang paling sempurna.
"Keseimbangan adalah kunci utama," Gani menjelaskan, seolah ia sedang memberikan kuliah tamu di hadapan mahasiswa teknik. Ia menekan sedikit ujung bambu yang melengkung. "Kalau sayap kiri lebih berat satu gram saja dari sayap kanan, layang-layang ini akan terbang miring dan menukik tajam ke bumi. Kalian harus selalu mengukur segala sesuatu dengan teliti. Presisi itu mahal."
Anak-anak itu mendengarkan dengan mulut terbuka, mengangguk-angguk seolah Gani sedang menurunkan ilmu silat tingkat tinggi.
Setelah rangka utama yang berbentuk menyerupai mata panah bersayap lebar itu selesai diikat dengan benang kenur—simpulnya begitu rapi dan kencang hingga bambunya tidak bergeser satu milimeter pun—tiba saatnya untuk memasang kertas pelapis.
"Nah, sekarang giliran kita," Kirana beringsut maju, bergabung ke atas tikar. Ia mengambil gunting dan mulai memotong kertas minyak berwarna merah dan hitam sesuai dengan pola rangka yang dibuat Gani.
Gani memegang rangka bambu, memastikan posisinya tidak bergeser, sementara Kirana mengoleskan lem kanji pada pinggiran kertas minyak.
Dalam proses ini, jarak mereka menjadi sangat dekat. Gani bisa mencium aroma melati yang selalu menguar dari tubuh gadis itu, bercampur dengan aroma lem kanji yang manis. Saat Kirana harus menekan ujung kertas di bagian tengah persilangan rangka, jari telunjuknya yang dingin tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Gani yang kasar.
Gani sedikit tersentak, namun ia tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan tangannya tetap di sana, memberikan fondasi yang kuat bagi Kirana untuk menekan kertas tersebut.
Gani mencuri pandang ke arah wajah Kirana yang sedang menunduk serius. Jarak yang dekat ini memungkinkannya melihat butiran keringat halus di dahi gadis itu, serta rona kemerahan yang agak tidak wajar di pipinya akibat cuaca yang mulai panas mendekati siang. Napas Kirana terdengar sedikit memburu, meskipun pekerjaan mengelem kertas bukanlah aktivitas fisik yang berat.
"Kau kelelahan," bisik Gani pelan, nadanya sangat rendah agar tidak didengar oleh anak-anak yang sedang sibuk memotong sisa benang di ujung yang lain.
Kirana mendongak, matanya bertemu dengan mata Gani. Ia memaksakan sebuah senyum. "Aku cuma kepanasan, Gani. Lem kanji ini lengket sekali."
"Duduklah di lincak. Biar aku dan Udin yang menyelesaikan pengeleman ini," Gani menggunakan nada perintah yang tidak menerima bantahan, sebuah kebiasaan lamanya yang kali ini digunakan untuk tujuan perlindungan.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi, Kirana," potong Gani cepat, tangannya bergerak mengambil alih kuas lem dari tangan gadis itu. "Kalau kau pingsan di terasku, desa ini akan mengira aku melakukan eksperimen berbahaya padamu. Istirahatlah."
Melihat keseriusan di mata Gani, dan menyadari bahwa jantungnya memang sudah mulai berdetak dengan ritme yang menyakitkan, Kirana akhirnya mengalah. Ia melepaskan kertas minyak itu, lalu mundur kembali ke lincak, menyandarkan tubuhnya dengan helaan napas lega yang ia coba sembunyikan.
Gani memperhatikan Kirana selama beberapa detik untuk memastikan gadis itu benar-benar duduk bersandar, sebelum kembali fokus pada layang-layangnya. Ada perasaan protektif yang aneh mekar di dadanya. Perasaan yang membuatnya ingin membangun sebuah dinding kaca anti peluru di sekeliling gadis itu, agar dunia dan penyakitnya tidak bisa menyakitinya lebih jauh.
Proses pengeleman berlangsung selama hampir satu jam. Gani dengan cermat memadukan warna merah di bagian tengah sayap dan warna hitam di bagian ujungnya, menciptakan desain geometris yang terlihat sangat agresif dan modern. Ia bahkan menambahkan sedikit tegangan (tension) pada benang pengikat kertas agar permukaan sayap layang-layang itu menegang seperti kulit gendang.
"Sudah selesai!" seru Udin, melompat berdiri dengan penuh kemenangan saat Gani menekan sisa ujung kertas terakhir.
Gani mengangkat mahakaryanya. Layang-layang itu berukuran sangat besar, nyaris setinggi dada Gani sendiri, dengan bentang sayap melebihi rentangan tangan Udin. Bentuknya sekilas memang seperti pesawat glider bersayap delta. Rangkanya luar biasa kokoh, namun secara bobot sangat ringan. Saat angin sepoi-sepoi menerpa permukaannya, kertas minyak itu mengeluarkan suara bergemuruh pelan yang mengintimidasi.
Sebagai sentuhan akhir, Gani memasang sendaren—sebuah busur bambu kecil yang dilengkapi pita plastik tipis, diikat melintang di bagian atas layang-layang. Saat diterbangkan nanti, angin yang melewati pita itu akan menghasilkan suara dengungan keras yang khas.
"Ini bukan lagi layang-layang, Gani," Kirana bergumam kagum dari tempat duduknya, matanya berbinar melihat presisi dan keindahan objek tersebut. "Ini karya seni."
Gani tersenyum puas, memutar-mutar layang-layang itu di tangannya. Ia benar-benar merasa bangga. Kebanggaan ini terasa lebih murni, lebih tulus dibandingkan saat ia menyelesaikan maket gedung apartemen mewah yang bernilai puluhan miliar. Karena layang-layang ini tidak dibuat untuk memperkaya dirinya; layang-layang ini dibuat untuk membahagiakan orang lain.
Gani menunduk, menyerahkan layang-layang raksasa itu kepada Udin yang menerimanya dengan tangan gemetar saking bahagianya. Mata bocah itu berkaca-kaca menatap Gani, seolah pria di hadapannya adalah superhero yang baru saja memberinya senjata pusaka.
"Terima kasih, Paman Gani! Terima kasih banyak!" Udin nyaris menangis, memeluk batang bambu layang-layang itu dengan hati-hati. "Paman Gani itu orang paling hebat di seluruh dunia!"
Kata-kata polos anak desa itu menghantam hati Gani dengan kekuatan penuh. Orang paling hebat di seluruh dunia. Di Jakarta, gelar itu diukur dari saldo rekening dan seberapa sering wajahmu masuk majalah bisnis. Di Karangbanyu, gelar itu didapatkan hanya dengan meraut bambu dan menempel kertas minyak untuk anak yatim yang merindukan sosok ayah.
Gani berlutut, menyetarakan tingginya dengan Udin. Ia meletakkan tangan besarnya di atas bahu anak itu.
"Ini belum selesai, Udin," ucap Gani, suaranya sangat hangat. "Membuatnya adalah satu hal. Menerbangkannya dan mengendalikan angin adalah hal lain. Layang-layang ini adalah senjatamu. Kaulah pilotnya. Pastikan Bowo dari Sukatani itu menelan ludahnya sendiri saat melihatmu di lapangan sore ini."
Udin mengangguk dengan semangat yang membara-bara. "Siap, Paman Komandan! Saya akan buat layang-layang naga Si Bowo putus sampai nyangkut di pohon kelapa!"
Ketiga bocah itu langsung pamit berlari pulang untuk menyimpan layang-layang tersebut dengan aman sebelum festival sore nanti. Suara tawa dan teriakan kemenangan mereka menggema di sepanjang jalan setapak, membawa kehidupan baru bagi pekarangan Gani yang selama bertahun-tahun sunyi senyap.
Gani berdiri, menepuk-nepuk sisa serbuk bambu dari celana jinnya. Ia menoleh ke arah Kirana. Gadis itu sedang menatapnya dengan senyum yang teramat lembut, senyum yang bisa membuat gunung es mencair dalam hitungan detik.
"Ternyata," ucap Kirana pelan, nada suaranya mengalun seperti puisi, "Tuan Kota yang kaku dan sinis ini punya hati yang sangat lembut. Kau akan menjadi ayah yang sangat baik suatu hari nanti, Gani."
Gani terpaku. Kata 'ayah' dan 'masa depan' adalah konsep yang telah ia hapus dari daftar hidupnya sejak Sania melempar cincin pertunangan mereka. Namun anehnya, mendengar kata itu keluar dari mulut Kirana, Gani tidak merasa benci atau takut. Ia justru merasakan semacam kerinduan.
"Jangan terlalu cepat memujiku, Tiran Kecil," balas Gani, berusaha mengembalikan nada suaranya yang sarkastis untuk menutupi detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu. Ia berjalan mendekati lincak tempat Kirana duduk. "Kita belum melihat apakah benda itu benar-benar bisa terbang stabil atau tidak sore ini."
Kirana berdiri, merapikan gaun overall-nya. "Oh, aku yakin seratus persen layang-layang itu akan membelah awan. Tanganku mungkin yang mengelem, tapi hatimu yang merancangnya, Gani. Sesuatu yang dibangun dengan hati, tidak akan pernah jatuh begitu saja."
Kirana menatap mata Gani lekat-lekat, menyalurkan makna ganda dari kalimatnya tersebut. Ia tidak hanya membicarakan layang-layang, tapi ia juga membicarakan diri Gani sendiri. Pria itu tidak akan jatuh lagi.
"Bersiaplah, Komandan," Kirana menepuk bahu Gani ringan, sebelum melangkah pergi meninggalkan teras. "Sore ini jam empat, di lapangan kecamatan. Kita buktikan pada seluruh desa bahwa keajaiban arsitektur Gani Raditya telah resmi kembali!"
Gani menatap punggung Kirana yang berjalan menjauh, ditelan rimbunnya pohon mangga dan semak teh-tehan. Angin siang yang hangat berembus, menyapu sisa-sisa potongan kertas merah di atas tikar pandan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Gani menatap langit biru Karangbanyu tanpa merasakan beban dosa dan keputusasaan. Ia memejamkan mata, membiarkan dadanya dipenuhi oleh rasa antisipasi yang menggebu-gebu.
Festival Layang-layang Karangbanyu mungkin hanyalah acara kampung biasa. Namun bagi Gani, sore ini akan menjadi pembuktian pertamanya bahwa ia, Gani Raditya, siap untuk menantang kembali kejamnya gravitasi kehidupan.