Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
*Kratak. Kratak. Kratak*.
Malam semakin larut di atas bukit asri dekat pertambangan Aquamarine. Sisa-sisa bara api unggun berderak pelan, memancarkan pendar oranye redup yang berangsur mati. Di dalam gerbong kereta dan tenda kain, Mira, Sorento, Elenoir, dan Laura kecil sudah tertidur lelap, memulihkan tenaga dari ketegangan hari yang begitu melelahkan.
Di luar, di bawah perlindungan tabir Eros yang melingkupi perkemahan, hanya Eros yang masih terjaga. Sang Dewa Nafsu duduk bersandar pada sebatang batang pohon besar, menjaga kewaspadaannya agar tidak ada satu pun energi luar yang bisa mengusik ketenangan mereka.
Krystal tidur dengan nyenyak tepat di sampingnya, menggunakan lipatan jubah tebal Eros sebagai alas dan kain bulu sebagai selimutnya. Dalam lelapnya, wajah Krystal tampak begitu damai, bebas dari topeng keangkuhan ataupun beban berat rencana penggulingan takhta.
Eros menatap wajah itu dengan pandangan yang teramat dalam dan lembut. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan jemari yang penuh kehati-hatian, ia membelai rambut Krystal yang kini kembali berwarna cokelat madu akibat sihir penyamaran yang telah ia pasang ulang.
"Kau... kau benar-benar selalu membuatku khawatir, Rys," bisik Eros lirih, suaranya sangat rendah hingga nyaris tertelan oleh desir angin malam bukit.
Ia menundukkan kepalanya perlahan, lalu mengecup ujung rambut samaran Krystal dengan penuh kasih sayang. Kejadian hilangnya Krystal di Provinsi Ruby tadi benar-benar sempat memicu kepanikan yang luar biasa di dalam dadanya—sebuah perasaan rapuh yang belum pernah ia rasakan selama ribuan tahun eksistensinya sebagai dewa.
"Aku benar-benar tidak boleh mengalihkan pandanganku darimu sedikit pun, ya," gumam Eros lagi, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan janji pengabdian abadi.
Ia menarik selimut Krystal agar menutupi bahunya dengan lebih sempurna, lalu kembali menyandarkan kepalanya. Sembari membelai rambut sang putri dengan ritme yang menenangkan, mata gelap Eros menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang. Di dalam hatinya, tekadnya kini telah bulat: ia akan memastikan roda-roda proyek *LadyBug* berjalan tanpa hambatan, dan siapa pun yang mencoba menyentuh Krystal lagi—baik itu Ratu Seraphina ataupun Alucas—harus bersiap menghadapi murka penuh dari sang Dewa Agung.
Mereka berencana melanjutkan perjalanan menuju ibu kota kekaisaran dengan rute memutar melewati Provinsi Emerald. Pilihan rute ini membuat waktu perjalanan mereka menjadi semakin lama karena jalur perbatasan Aquamarine menuju Emerald sangat jauh, membutuhkan waktu hingga satu minggu penuh jika menggunakan kereta kuda konvensional. Namun, Krystal tetap bersikeras untuk tidak memotong jalan demi menjaga kerahasiaan total Operasi *LadyBug* dan menjemput sendiri orang-orang berbakat di sepanjang wilayah luar.
Di dekat aliran sungai kecil tempat mereka membersihkan diri, Eros berdiri tepat di belakang Krystal. Menggunakan sisir kayu sederhana, jemarinya yang besar bergerak dengan teramat telaten dan lembut, menyisir helai demi helai rambut cokelat samaran Krystal yang masih sedikit basah.
"Kau yakin kita tak perlu memakai sihir teleportasi?" bujuk Eros dengan suara rendah yang sarat akan perhatian. "Kau paham betul jika sihir teleportasiku tidak akan pernah bisa terlacak oleh penyihir manusia manapun, Rys. Hanya sesama dewa agung yang mampu menyadarinya. Kita bisa menghemat waktu satu minggu."
Krystal mendongak melalui pantulan permukaan air sungai yang jernih, menatap sepasang mata cokelat madu milik Eros. Sebuah seringai provokatif yang menawan terbit di sudut bibirnya saat ia memutuskan untuk memancing emosi pria yang kini telah resmi menjadi kekasihnya itu.
"Aku benar-benar ingin menikmati perjalanan ini, Eros..." Krystal sengaja menjeda kalimatnya, lalu memajukan wajahnya sedikit ke belakang, berbisik dengan nada menggoda, "... atau... haruskah kupanggil *sayangku*?"
*Deg*.
Gerakan tangan Eros yang sedang memegang sisir seketika membeku. Semburat merah pekat langsung menjalar cepat dari pipi hingga memenuhi seluruh permukaan telinganya. Pria yang biasanya selalu memasang wajah datar dan ketus itu mendadak salah tingkah, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah pohon besar demi menyembunyikan rasa malunya yang luar biasa akibat godaan spontan dari sang putri.
"Hey kalian! Ayo makan rotinya sekarang sebelum kita melanjutkan perjalanan!" teriak Mira dengan suara lantang dari arah samping kereta kuda, memecah atmosfer intim yang baru saja terbangun di tepi sungai. Mira sudah berdiri di sana bersama Sorento, Elenoir, dan Laura kecil yang sedang mengunyah sarapan mereka dengan lahap.
Krystal tertawa renyah melihat reaksi Eros yang menggemaskan, lalu bangkit berdiri dan melangkah ringan menuju kereta. "Ayo, Sayang, jangan membuat Mira berteriak lagi," seloroh Krystal sekali lagi sebelum berlari kecil menghindari tatapan tajam Eros yang masih tersipu malu.
Selama perjalanan panjang menembus rute memutar tersebut, waktu satu minggu sama sekali tidak terasa menjemukan. Mereka benar-benar menikmati setiap jengkal kebebasan di luar dinding istana. Kereta kuda Sorento sering kali berhenti sejenak agar mereka bisa berlarian bebas di hamparan padang bunga liar yang luas dan indah. Laura kecil yang periang dengan lincah memetik bunga-bunga kelopak cerah, lalu merangkainya menjadi mahkota bunga yang cantik untuk Krystal, Mira, Elenoir, dan tentu saja untuk dirinya sendiri. Sedangkan untuk Sorento dan Eros, gadis kecil itu membuat buket bunga kecil yang menggemaskan, yang langsung diselipkan Eros di saku jubahnya dengan senyum tipis tersembunyi.
Di sepanjang jalur perbatasan, mereka berpapasan dengan banyak orang yang hidup dengan jujur; para petani yang menggarap ladang, rombongan pedagang antarwilayah yang ramah, penggembala yang menggiring puluhan domba berbulu tebal, serta anak-anak kecil pedesaan yang berlarian riang. Bagi Krystal, melihat kehidupan yang berdenyut alami adalah obat terbaik bagi jiwanya.
Setibanya mereka di Provinsi Emerald, atmosfer wilayah itu terasa sangat normal, bersahabat, dan tentu saja memang benar-benar normal. Hal ini terjadi karena warga asli Emerald sangat jarang bepergian ke ibu kota kekaisaran, sehingga mereka tidak terpapar oleh jaring sihir hitam Ratu Seraphina secara langsung. Ditambah lagi, meskipun energinya tidak sejernih permata Aquamarine, permata hijau yang tertanam di seluruh tanah Provinsi Emerald memiliki sifat magis yang mampu memurnikan energi negatif dan manipulasi sihir, meskipun proses pemurniannya membutuhkan waktu yang lebih lama.
Kebetulan, setibanya rombongan penyamar itu di pusat kota, seluruh sudut jalanan telah dihiasi oleh lentera-lentera anyaman bambu berwarna hijau zamrud. Di sana sedang berlangsung Festival Purnama, sebuah perayaan yang diadakan setiap bulan sebagai bentuk rasa syukur atas kelimpahan hasil bumi, sekaligus menjadi momen bagi warga untuk memuja Dewa Kesejahteraan. Meskipun Kekaisaran Aethermoor secara mayoritas memuja Dewa Kesejahteraan dan Dewi Pemurnian, namun setiap daerah memiliki tingkat kepercayaannya masing-masing; wilayah Aquamarine jauh lebih khidmat memuja Dewi Pemurnian, sementara di tanah Emerald ini, altar Dewa Kesejahteraan selalu dipenuhi oleh persembahan buah dan bunga.
Krystal berdiri di dekat kereta, menatap kerumunan warga yang saling tertawa hangat di bawah pendar lentera festival. Sebuah kehangatan dari pemandangan keluarga di sana mendadak memercikkan rasa rindu yang asing di dalam dadanya.
"Aku jadi merindukan Ayah dan Ibu—orang tua Eros di wilayah Biov..." gumam Krystal pelan, matanya menerawang. "Kira-kira... apakah mereka juga sedang merindukanku saat ini?"
Bagi Krystal, Grand Duke dan Grand Duchess Biov adalah sosok orang tua sejati yang sesungguhnya. Merekalah yang memberikan kehangatan keluarga yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarga kandungnya.
Eros yang berdiri di samping Krystal mendengar gumaman itu, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecut. Ia menyenggol pelan lengan Krystal dengan lengannya. "Aku kan sudah sering sekali mengajakmu untuk pulang ke rumah, Rys. Tapi kau selalu saja beralasan sedang sibuk."
Krystal merona tipis, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah stan makanan festival untuk menutupi rasa salah tingkahnya. "Itu... itu karena momennya belum pas, Eros!" belanya dengan suara pelan yang mengundang tawa kecil Eros.