Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIKAP ACUH
Matahari sudah condong ke arah barat, sinarnya menembus celah-celah dedaunan lebat di atas kepala, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang-goyang diterpa angin sore. Hutan di sekitar mereka terasa makin lebat, makin sunyi, dan udaranya makin lembap serta dingin. Suara burung hantu mulai terdengar bersahutan dari kejauhan, menambah suasana mencekam di sepanjang jalan setapak tanah yang mereka lalui.
Ketujuh anggota kelompok itu terus berjalan menyusuri jalur sempit yang berkelok-kelok, semakin masuk ke dalam wilayah hutan yang belum terjamah tangan manusia. Di depan, Dika dan Jaka berjalan memimpin dengan waspada, membelah semak belukar menggunakan sebilah kayu panjang. Di tengah, keempat murid wanita berjalan beriringan, sesekali saling berpegangan tangan karena merasa ngeri dengan suasana hutan yang asing dan sepi itu. Dan seperti biasa, Liam berjalan paling belakang, langkahnya pelan, tenang, dan tanpa suara, wajahnya tetap datar dingin, matanya menatap ke segala arah dengan pandangan tajam namun kosong, seolah hal-hal mengerikan di sekitar itu sama sekali tak ada artinya baginya.
"Sebentar lagi kita sampai," ucap Dika pelan sambil menunjuk ke depan, suara bisiknya memecah keheningan hutan. "Kalau perkiraanku benar, setelah kita lewati lembah kecil di depan sana, kita akan melihat batas pemukiman Desa Cemara. Sabar sedikit lagi, jangan lengah."
Semua mengangguk setuju, sedikit lega mendengar akan segera sampai. Mereka mempercepat langkah, ingin segera keluar dari hutan yang terasa menyeramkan itu sebelum malam benar-benar turun.
Namun, tiba-tiba saja...
"Aaaaahhh!!! Sakit! Sakit sekali!"
Jeritan melengking keras terdengar tiba-tiba dari tengah barisan, disusul suara tubuh yang jatuh terhempas ke tanah bersamaan dengan gemerisik dedaunan kering. Semua orang kaget dan langsung berhenti melangkah seketika, jantung mereka berdegup kencang karena terkejut. Mereka buru-buru berbalik dan mendekat ke arah sumber suara.
"Ratih! Itu Ratih!" seru Sari panik, wajahnya pucat pasi.
Ratih terbaring meringkuk di atas tanah berlumpur, wajahnya menegang menahan sakit, keringat dingin sudah membasahi seluruh dahinya. Tangannya mencengkeram kuat betis kaki kanannya, tempat di mana terlihat jelas dua bekas gigitan kecil berwarna biru kehitaman, dari mana cairan darah kental berwarna gelap mengalir perlahan keluar. Di samping kakinya, seekor ular berwarna hijau lumut dengan garkan hitam melingkar di kepalanya, melesat cepat masuk ke dalam semak belukar dan hilang tak berbekas.
"Ular! Dia digigit ular berbisa!" teriak Mira histeris, suaranya bergetar ketakutan.
Kepanikan langsung melanda seluruh anggota kelompok. Dika dan Jaka segera berlutut di samping Ratih, wajah mereka cemas dan bingung tak tahu harus berbuat apa. Sari dan Diah langsung berlutut juga, memegang tangan Ratih yang sudah mulai terasa dingin dan gemetar hebat.
"Tolong kami! Apa yang harus kita lakukan?!" seru Jaka gelisah, matanya melirik ke arah Dika berharap pemimpin kelompok itu punya solusi. "Kita tidak membawa obat penawar, kita tidak tahu jenis ular apa itu! Kalau salah penanganan, nyawanya bisa melayang!"
Dika menggeleng kuat, keningnya berkerut dalam penuh kekhawatiran. "Aku juga tidak tahu... itu ular hutan jenis baru, aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Bisanya pasti sangat beracun, lihat saja warna lukanya sudah berubah jadi hitam begitu cepat."
Sementara itu, kondisi Ratih makin parah dalam hitungan menit saja. Wajahnya yang tadinya cerah kini berubah pucat pasi seperti kain kafan, bibirnya membiru, napasnya tersendat-sendat pendek dan berat. Racun ular itu menyebar sangat cepat melalui pembuluh darahnya. Kakinya mulai bengkak besar dan berubah warna menjadi ungu kehitaman sampai ke lutut. Ratih merintih kesakitan, matanya mulai terbalik ke atas, pandangannya mulai kabur dan gelap.
"Sakit... dingin... tubuhku mati rasa..." rintih Ratih pelan, suaranya sudah nyaris tak terdengar, tangannya berusaha menggapai udara mencari pegangan. "Kak Dika... teman-teman... aku... aku tak kuat lagi..."
Air mata mulai menetes di pipi teman-temannya. Mereka bingung, panik, dan tak berdaya. Jaka mencoba mengikat bagian atas luka dengan kain supaya racun tak naik ke atas, tapi itu hanya tindakan sementara dan tak cukup ampuh. Dika berusaha menyedot darah beracun itu keluar dengan mulutnya, tapi racunnya sudah terlalu banyak masuk ke dalam tubuh dan tak mungkin habis disedot begitu saja.
Di tengah kekacauan dan kepanikan itu, ada satu orang yang sama sekali tidak bergerak, tidak ikut membantu, dan tidak ikut panik.
Liam.
Ia masih berdiri diam di tempatnya, beberapa langkah di belakang mereka. Ia bersandar santai pada batang pohon besar yang kasar, kedua tangannya disilangkan di dada, kakinya disilang satu di atas yang lain. Wajahnya masih sama persis: datar, dingin, tanpa ekspresi apa pun. Matanya yang hitam pekat menatap ke arah Ratih yang terbaring sekarat itu dengan pandangan tenang, diam, dan seolah tak peduli sedikit pun. Ia hanya menonton saja, tak ada niat mendekat atau menolong.
Melihat sikap Liam itu, Jaka yang sedang panik dan sedih itu akhirnya meledak marah. Ia berbalik menatap Liam dengan mata berapi-api.
"Kau diam saja di situ, Liam?! Kenapa kau tidak bantu?! Ratih sedang sekarat di sini, dia bisa mati kalau tidak ditolong sekarang! Kenapa kau bersikap dingin dan tak punya hati begini?!" bentak Jaka keras-keras, penuh amarah dan kekecewaan.
Liam hanya menatap Jaka sekilas, lalu kembali menatap Ratih. Tak ada jawaban, tak ada perubahan wajah. Ia tetap diam bersandar di pohonnya.
"Jangan marahi dia, Jaka..." ucap Dika pelan sambil menggeleng lemah, napasnya berat. "Kau kan tahu sifat Liam. Dia memang begitu... dingin dan tertutup. Mungkin dia tidak tahu cara mengobati juga... atau mungkin dia tidak peduli pada kita."
Hati semua teman-temannya terasa sakit melihat sikap Liam itu. Di saat nyawa teman mereka melayang, orang itu justru santai bersandar pohon seperti sedang menonton pertunjukan biasa.
Sementara itu, kondisi Ratih makin kritis. Napasnya hampir tak terdengar lagi, dadanya hampir tak bergerak, wajahnya sudah membiru gelap, dan tubuhnya mulai kaku tak bergerak. Matanya terpejam rapat, rintihannya sudah berhenti sama sekali.
"Ratih?! Ratih! Bangun! Jawab kami!" panggil Sari sambil mengguncang bahu Ratih, air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Dia... dia tidak bernapas lagi... dia pingsan! Dia sekarat... kita terlambat..."
Keheningan mencekam menyelimuti mereka semua. Keputusasaan terasa memenuhi dada setiap orang. Mereka menundukkan kepala, menangis diam-diam, merasa gagal dan tak berdaya. Di hadapan mereka, teman baik yang masih muda, baik hati, dan ceria itu terbaring diam tak bernyawa, kalah oleh gigitan ular berbisa di tengah hutan sunyi ini.
Namun, tepat saat mereka semua menyerah dan mulai meratapi nasib, terdengar suara langkah kaki pelan mendekat.
Liam akhirnya bergerak. Ia melepaskan sandarannya dari pohon, berjalan pelan, tenang, dan tanpa tergesa-gesa mendekati tubuh Ratih yang terbaring diam itu. Wajahnya masih dingin, matanya masih tajam dan serius. Ia berlutut di samping tubuh gadis itu, menepis perlahan tangan Sari yang sedang memegang tangan Ratih.
"Menyingkir," ucap Liam singkat dan dingin. Suaranya rendah namun penuh wibawa yang tak bisa ditolak. "Dia belum mati. Masih ada waktu."
Semua orang tertegun kaget, air mata mereka berhenti mengalir sejenak menatap Liam.
Liam menundukkan kepalanya, menatap lekat-lekat bekas gigitan di betis Ratih yang sudah membengkak besar dan berwarna hitam pekat itu. Ia tahu persis jenis ular apa itu. Ia tahu betapa dahsyatnya racun itu, yang bisa membunuh manusia biasa dalam waktu kurang dari satu jam. Namun baginya yang memiliki darah dan pengetahuan kuno yang tersimpan di ingatannya, racun semacam ini bukanlah hal yang tak teratasi.
Tanpa banyak bicara, Liam mengangkat tangan kanannya. Ia menjentikkan jari-jarinya pelan, dan di ujung jari telunjuknya, muncul kilatan cahaya merah samar yang hangat namun berbahaya. Dengan gerakan cepat dan tegas, Liam menggoreskan ujung jarinya tepat di atas dua bekas gigitan itu, membuat sayatan kecil melintang. Darah hitam pekat berbau busuk seketika mengalir deras keluar dari luka baru itu, membawa serta semua racun yang sudah menyebar ke seluruh kaki.
Lalu Liam mendekatkan mulutnya ke luka itu, dan dengan teknik khusus yang ia ingat samar-samar dari masa lalu, ia menyedot darah beracun itu keluar satu per satu, lalu membuangnya ke tanah. Ia tidak menelannya — karena racun itu takkan berpengaruh padanya, tapi ia tak ingin mencemari darahnya sendiri — tapi ia membuangnya jauh-jauh.
Setelah darah yang keluar berubah warna menjadi merah cerah kembali, Liam berhenti. Ia mengeluarkan selembar daun lebar tertentu yang ia petik diam-diam saat berjalan tadi, daun yang berkhasiat penawar racun alami paling ampuh, lalu ia remas-remas sampai hancur dan keluar sarinya. Ia menempelkan gumpalan daun itu ke seluruh bagian kaki Ratih yang bengkak dan berubah warna, lalu membalutnya rapat dengan kain bersih.
Gerakan Liam begitu cepat, tepat, dan luwes, seolah ia sudah melakukannya ribuan kali seumur hidup. Matanya fokus penuh, wajahnya serius, namun tetap tak ada ekspresi emosi apa pun yang terlihat.
Setelah selesai, Liam duduk bersila diam di samping tubuh Ratih, meletakkan satu tangannya yang dingin di dada kiri gadis itu, tepat di atas jantungnya. Ia menyalurkan sedikit tenaga dalam miliknya, tenaga kehidupan yang hangat dan murni, masuk perlahan ke dalam tubuh Ratih yang kaku dan dingin itu, mendorong jantungnya berdetak kembali, mendorong napasnya keluar masuk lagi, dan melawan sisa-sisa racun yang masih tersisa.
Semua teman-temannya hanya bisa diam terpaku menonton, tak berani bersuara sedikit pun. Mereka melihat bagaimana warna wajah Ratih perlahan berubah. Biru pucat itu hilang, digantikan warna kemerahan yang sehat. Bengkak di kakinya perlahan kempes, warna hitam itu memudar menjadi kulit aslinya. Tubuhnya yang kaku kembali menjadi lemas dan hangat.
Menit demi menit berlalu dengan hening. Matahari sudah hampir hilang sepenuhnya, cahaya makin redup.
Perlahan-lahan, dada Ratih mulai bergerak naik turun teratur dan kuat. Napas halus terdengar jelas kembali dari mulutnya. Kelopak matanya yang tertutup bergerak-gerak pelan.
Dan akhirnya... mata indah itu terbuka perlahan. Kabur, bingung, namun hidup.
"A... di mana... aku...?" gumam Ratih pelan, suaranya lemah tapi jelas terdengar. Ia menatap wajah Liam yang sedingin es tepat di depannya, lalu menoleh melihat teman-temannya yang menangis bahagia di sekelilingnya. "Kalian... kenapa menangis? Apa yang terjadi?"
"Ratih! Kau sadar! Kau hidup lagi!" seru Sari histeris bahagia, langsung memeluk temannya itu erat-erat. "Kau digigit ular! Kau hampir mati! Kami sudah putus asa... tapi Liam... Liam yang menyelamatkanmu!"
Ratih menatap Liam dengan mata terbelalak kaget dan tak percaya. Ia ingat rasa sakit yang luar biasa, ingat kegelapan yang menelannya, dan sekarang ia merasa segar, sehat, dan sama sekali tak ada rasa sakit lagi di kakinya. Ia menunduk melihat kakinya yang sudah dibalut rapi dengan daun obat.
Liam bangkit berdiri perlahan, membersihkan debu di bajunya, wajahnya kembali dingin dan acuh tak acuh seperti awalnya. Ia tidak menunggu ucapan terima kasih, tidak menunggu pertanyaan, tidak menunggu pujian. Ia berbalik badan, kembali ke posisinya di barisan paling belakang, bersandar sebentar di pohon lain.
"Sudah sembuh. Bisa jalan lagi sebentar lagi," ucap Liam singkat, datar, dan dingin, seolah apa yang baru saja ia lakukan itu hanyalah hal kecil yang sepele dan biasa saja.
Semua anggota kelompok saling pandang, perasaan mereka campur aduk. Mereka marah karena sikap Liam yang dingin dan diam saja di awal, mereka heran dari mana ia tahu cara mengobati sehebat itu, tapi yang paling besar... mereka sangat berterima kasih dan kagum. Tanpa Liam, nyawa Ratih pasti sudah melayang di hutan ini.
Jaka menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa sangat malu karena tadi membentak Liam. Ia sadar sekarang: Liam memang dingin, pendiam, dan sulit dimengerti, tapi di balik sikap itu, ia punya kemampuan luar biasa dan hati yang setia kawan. Ia tidak bicara banyak, tidak pamer, tapi saat bahaya datang, dialah yang menjadi penyelamat terbesar mereka.
"Terima kasih, Liam..." ucap Dika pelan, penuh rasa hormat dan permintaan maaf.
Liam hanya diam, menatap ke arah depan, ke arah Desa Cemara yang makin dekat.
"Lanjut jalan," ucap Liam singkat. "Hari mau gelap. Desa dekat."
Ratih dibantu berdiri oleh teman-temannya. Ia merasa sehat dan kuat kembali, seolah tak pernah digigit ular sama sekali. Mereka kembali berjalan, namun kali ini perasaan mereka pada Liam sudah berubah total. Sikap dinginnya masih sama, tapi rasa hormat dan kekaguman mereka makin tumbuh besar. Mereka tahu, selama Liam ada bersama mereka, seberat apa pun bahaya yang datang, mereka akan selamat.
Di bawah cahaya remang senja, ketujuh orang itu kembali melangkah maju, meninggalkan kejadian mengerikan itu, menuju Desa Cemara yang menyimpan rahasia besar, dengan satu keyakinan baru: sosok misterius bernama Liam itu jauh lebih hebat dan lebih istimewa daripada yang pernah mereka bayangkan.