NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Hari Senin bagi sebagian besar murid identik dengan satu hal: upacara bendera. Menyebalkan bagi yang malas berdiri lama di bawah matahari.

Di saat lapangan sekolah dipenuhi barisan rapi, enam orang justru duduk santai di warung yang berjarak sekitar dua ratus meter dari gerbang.

Enam orang yang nyaris tidak pernah tahu rasanya mengikuti upacara dengan benar. Alergi dengan kata baris dan lebih alergi lagi mendengarkan kepala sekolah berpidato.

Meski begitu, mereka bukan satu-satunya. Di warung sebelah, masih ada beberapa siswa lain yang memilih jalur hidup serupa.

Daerah ini memang dipenuhi warung makan kecil. Wajar, karena di sekitarnya berdiri beberapa rumah kos dan jalannya cukup ramai sejak pagi.

"Nasi kuning gw mana?" Narisa sudah celingukan, melirik piring di depan teman-temannya satu per satu.

"Ini, neng. Kelaparan banget kayaknya."

Ibu penjual yang merangkap tukang sarapan langsung datang membawa sepiring nasi kuning lengkap. Bahkan sepotong paha ayam mencuat di atasnya, seperti sengaja dipamerkan.

"Makasih, Bu," Narisa menerimanya dengan mata berbinar.

"Lo tumben gak sarapan, Nar," ujar Putra dengan mulut penuh.

"Hari ini mama lagi meriang, jadi gak masak," jawab Narisa sambil mulai menyendok makan.

Di sisi lain, Kara dan Harum yang juga 'terdampar' di tempat itu hanya duduk santai dengan rokok di tangan.

"Asepnya ke sini ih," protes Putri sambil mengipas- ngipas udara.

"Ya namanya juga ketiup angin," bela Fahri santai.

Putri langsung mendelik. "Lo ngapa belain dua orang itu?"

"Soalnya abis ini gw juga mau ikutan," jawab Fahri tanpa dosa.

"Dasar cowok. Hobi banget makan tembakau."

"Eh, Put," panggil Kara.

Dua orang langsung menoleh bersamaan.

"Putri. Putri," Kara memperjelas malas. "Zaman sekarang tembakau gak cuma buat cowok."

Putri menyipitkan mata, sementara Narisa tiba-tiba tertawa sampai hampir tersedak.

"Kata gw juga apa," katanya setelah menelan. "Tampang lo berdua gak meyakinkan."

"Mata lo kali yang siwer," balas Kara.

"Lo tau bedanya kalian sama Pak Kasim?"

"Kumisnya," sambar Putra cepat.

"Itu satu," Narisa mengacungkan jari. "Sama titit."

"Astaga, ini cewek mulutnya," Harum menggeleng.

Kara tetap datar. "Hargai perbedaan selera, oke?"

"Selera lo kejauhan, peak."

"Urusannya apa sama lo? Ngerugiin lo juga kagak."

"Ngerugiin lah. Kalau sampai pas tinggal bar-" Narisa langsung berhenti, lalu berdehem, "Yaudah, terserah lo dah,"

Kara paham maksudnya. Dia mendecak pelan.

"Gak usah ngerasa cakep. Mirip ondel-ondel juga."

Narisa langsung meletakkan sendoknya agak keras, hampir berdiri kalau saja Putri tidak cepat-cepat menahan lengannya.

"Bacot lo minta dikasih jatah!"

"Eh, eh, udah," Fahri buru-buru menengahi.

"Kalian tiap ketemu kenapa sih? Kayak anjing rebutan tulang."

"Lo kali yang anjing," sembur Narisa sambil duduk lagi.

"Anjir, murka dia," Putra tertawa.

"Udahlah, makan aja," Putri menggeser teh dingin ke depan Narisa. "Upacara kelar kita masuk."

"Oiya, ada ulangan," Fahri menepuk dahinya.

Kara dan Harum saling pandang. Kelas mereka sama. Tapi belajar? Itu urusan lain. Biasanya cuma terjadi di dalam mimpi.

~

Kertas ulangan baru saja dikumpulkan, saat dua nama tiba-tiba diumumkan dari pengeras suara sekolah.

Narisa dan Kara.

Satu sekolah langsung bisik-bisik. Dua orang dengan reputasi kenakalan yang hampir legendaris dipanggil bersamaan. Padahal semua orang tau, mereka bukan satu geng.

Begitu sampai di ruang kepala sekolah, laki-laki berwajah hangat dengan senyum sopan itu langsung menyerahkan dua amplop putih, dihiasi garis emas di setiap sisinya.

"Bapak tidak tahu ini apa, tapi ada yang menitipkan untuk kalian," katanya tenang.

"Yang ngasih orangnya kayak gimana, pak?" tanya Kara penasaran,

"Laki-laki dengan setelan jas hitam. Tidak menjelaskan dari siapa. Tapi dari sikap dan barangnya, sepertinya ini sesuatu yang penting."

Matanya menyipit tipis.

"Kalian tidak sedang terlibat dengan pihak berbahaya kan?"

Keduanya refleks menggeleng.

"Kita mentok-mentok cuma kabur, pak," jawab Narisa ringan, "Gak kenal orang beginian."

"Baiklah. Coba kalian buka."

Mereka saling lirik sekilas, lalu membuka amplop

masing-masing. Isinya hanya selembar kertas kecil.

"Sabtu nanti kalian ke Thailand. Saya beri voucher bulan madu di negara itu selama tiga hari, lalu lanjut ke Singapura tiga hari. Persiapkan diri kalian dari sekarang."

Keduanya langsung mendelik.

Dengan gerakan cepat, kertas itu kembali dimasukkan ke dalam amplop, seolah itu bom yang baru saja aktif.

Kepala sekolah mengernyit. "Ada apa? Isinya ancaman?"

"Bukan, pak," jawab Kara cepat, wajahnya kembali datar. "Ini undangan dari universitas yang saya incar."

"Kamu sudah daftar dari sekarang?" alisnya terangkat. "Beasiswa?"

Kara mengangguk mantap. Masuk akal. Dia memang punya track record bagus di basket.

Lalu pandangan itu beralih ke Narisa. "Kalau kamu?"

Narisa berhenti sebentar, seperti otaknya baru dinyalakan.

"Ini... undangan pentas seni dari universitas sepupu saya, pak."

Kepala sekolah menatapnya lama. Sangat lama. Lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah," Entah percaya, entah lelah.

"Kalau begitu kalian boleh kembali ke kelas. Dan ingat, kurangi bolosnya. Kalian sudah kelas dua belas. Sudah bukan-"

"Pak, saya lapar," potong Kara tanpa dosa. " Boleh saya keluar sekarang? Maag saya kambuh nanti."

Kepala sekolah menarik napas panjang, napas seorang pria yang sudah menyerah pada kenyataan hidup.

"Ya sudah."

Begitu Kara keluar, Narisa masih duduk manis di kursi depan meja.

"Pak, saya mau izin minggu depan, boleh?"

"Loh, memangnya mau ke mana?"

"Mau." Narisa berpikir keras. "Tante saya di Singapura lagi sakit." Padahal dia tidak punya Tante di sana.

"Sakitnya sekarang, kenapa perginya minggu depan?"

"Operasinya minggu depan, pak. Kalau gak jadi operasi, ya saya gak jadi izin."

Logika level: fleksibel.

Kepala sekolah kembali menghela napas.

"Ya sudah. Pastikan dulu."

"Siap, pak."

Narisa berdiri, lalu sebelum keluar, dia menoleh.

"Cakra bilang dia suka main catur sama bapak. Dia juga suka potongan rambut baru bapak."

Klik.

Pintu tertutup.

Di dalam, kepala sekolah tiba-tiba tersenyum lebar dan refleks merapikan rambutnya.

"Nanti sore ajak Cakra main catur ah."

~

Di taman belakang, Kara sedang duduk santai bersama Harum dengan segelas es kopi di tangan. Amplop itu dikeluarkan, difoto, lalu dikirim ke dua kontak sekaligus.

Tak lama, balasan masuk.

Dari Irwan: "Iya, Papa udah tau. Nanti Papa buatkan surat izin, "

Dari Eka: "Seriusan? Bagus. Gw udah nunggu bonusnya.

Kara memutar mata. Reaksi yang tidak mengejutkan,

"Orang terlalu kaya bisa jadi aneh juga ya," gumamnya pelan sambil memasukkan ponsel.

"Kenapa, Ka?" tanya Harum,

Kara hanya menggeleng, lalu menyeruput kopinya. Beberapa hal memang terlalu absurd untuk dijelaskan.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!