Ketika Olivia, gadis kota yang glamor dan jauh dari agama, dipaksa menikah dengan Maalik—kepala desa yang taat, dunia mereka berbenturan. Tapi di balik tradisi, ladang, dan perbedaan, cinta mulai tumbuh… pelan-pelan, namun tak terbendung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon komurolaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[ BAB 27 ] Janji Seorang Suami
Setelah berhasil menenangkan Olivia yang akhirnya terlelap dengan mata masih basah, Maalik duduk sejenak di tepi ranjang. Tatapannya jatuh pada koper yang tertutup rapat, saksi bisu dari gejolak hati istrinya. Dengan helaan napas berat, ia bangkit dan mulai merapikan kembali semua yang sempat berantakan.
Satu per satu pakaian Olivia ia keluarkan dari koper, lalu dilipat rapi dan dimasukkan kembali ke lemari. Setiap lipatan terasa seperti janji dalam hati Maalik, bahwa ia tak akan pernah membiarkan rumah tangga mereka hancur hanya karena ucapan yang melukai. Tangannya sempat terhenti ketika melihat alat make up dan skincare Olivia yang tergeletak sembarangan di lantai. Ia meraihnya perlahan, lalu menatanya kembali dengan penuh kehati-hatian, seolah benda-benda itu adalah bagian dari jiwa istrinya yang rapuh dan butuh dijaga.
Koper itu akhirnya ia simpan kembali ke tempat asalnya, tersembunyi seakan tak pernah ada rencana kepergian. Setelah semua selesai, Maalik kembali menghampiri ranjang. Ia menunduk, menatap wajah Olivia yang tertidur lelah dengan sisa air mata di pipinya. Tangannya terulur, mengelus rambut istrinya penuh kelembutan, lalu menempelkan kecupan singkat di keningnya.
“Saya janji nggak akan biarkan kamu terluka lagi, Olivia...” bisiknya lirih, meski sang istri tak lagi mendengar.
Maalik berdiri dengan tatapan yang berubah keras. Dadanya naik turun, rahangnya mengeras, dan matanya menyala oleh tekad. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tak membangunkan Olivia, lalu keluar rumah. Pintu depan ia kunci rapat dari luar, memastikan istrinya tetap aman.
Dengan langkah cepat, ia menuju garasi, menaiki motor trail kesayangannya. Mesin meraung begitu dinyalakan, memecah jalanan desa. Maalik menggenggam erat setang, giginya terkatup, rahangnya menegang. Tanpa ragu, ia melajukan motornya menuju rumah orangtuanya. Ada amarah yang menuntut penjelasan, ada luka yang harus disuarakan.
Maalik tahu, hari ini ia tak lagi bisa diam.
Sesampainya di depan rumah orang tuanya, Maalik melangkah cepat masuk melewati pekarangan. Ilham, ayahnya, yang sedang merapikan pemotong rumput, langsung menyadari ada yang tidak biasa dari wajah putranya.
“Maalik… ada apa?” tanya Ilham, meletakkan alat di tangannya sambil menatap penuh selidik.
Maalik menyalami ayahnya dengan hormat, lalu berkata tegas, “Ibu di mana, Pak?”
“Ibu ada di dalam…” jawab Ilham singkat.
Tanpa menunggu lebih lama, Maalik melangkah masuk. Dari ruang tamu, terdengar suara televisi yang menyiarkan berita siang. Di sana Ibrahim, kakeknya, duduk bersandar sambil memperhatikan layar. Sementara di dapur kecil yang menyatu dengan ruang makan, tampak Sulis, ibunya, sedang menyusun menu untuk makan siang.
“Assalamualaikum…” sapa Maalik, suaranya terdengar berat.
Ibrahim segera menoleh, meninggalkan layar televisi, lalu tersenyum tipis.
“Waalaikumsalam…” sahut Ibrahim dan Sulis hampir bersamaan.
“Kok sendiri? Istri kamu mana, Le?” tanya Ibrahim, menoleh ke arah cucunya dengan raut heran.
Maalik mendekat, lalu menunduk mencium tangan kakeknya. “Olivia lagi istirahat…” jawabnya singkat.
Saat matanya bertemu dengan ibunya, wajah Maalik berubah kaku. Ia mendekat perlahan, tetap menjaga adab, lalu menyalami tangan ibunya. Namun tatapannya tajam, berbeda dari biasanya.
Sulis mengerjap, merasa ada yang tidak biasa dari sikap putranya. “Mau makan di sini, Nak?” tawarnya dengan nada halus.
Maalik menggeleng pelan. “Tidak, Bu. Ada istri Maalik yang menunggu di rumah,” jawabnya, namun pandangan matanya masih mengunci pada ibunya, seolah setiap kata yang keluar sedang menuntut kejujuran.
Sulis mulai gelisah. “Ada apa, Maalik?” tanyanya hati-hati.
Maalik menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke ibunya. “Ibu bicara apa sama Olivia, Bu?” tanyanya datar, namun nadanya penuh tekanan.
Sulis tersentak, tangannya berhenti mengaduk sayur. “Ibu tidak bicara apa-apa, Maalik. Ibu hanya menasihatinya agar lebih memperhatikan suaminya,” jawabnya, mencoba terdengar tenang.
Maalik menaikkan sebelah alisnya. “Dan mengatakan kalau orang tua Olivia tidak bisa mendidik dia?” ucapnya dengan nada tegas.
Sulis menegang. Ibrahim yang mendengar ucapan itu langsung menegakkan tubuhnya, menatap tajam ke arah menantunya. “Benar begitu, Sulis?” tanyanya perlahan namun mengandung tekanan.
Sulis gelagapan, suaranya mulai meninggi. “Olivia itu terlalu tidak sopan, Pak. Sulis hanya… hanya ingin memberi nasihat supaya dia bisa lebih menjaga sikap!” jelasnya, namun matanya tak sanggup menatap balik ke arah Maalik.
Maalik mengepalkan tangannya, menahan diri agar tetap hormat. Suaranya bergetar, namun tegas. “Itu tugas Maalik, Bu. Bukan tugas Ibu. Maalik suaminya. Jadi biarkan Maalik yang mendidik dan menasihati Olivia. Dia memang keras kepala, manja, kadang terlalu emosional. Tapi Olivia selalu berusaha paham setiap kali Maalik bicara. Dia mencoba mengerti, meski butuh waktu. Olivia masih belajar, Bu. Dia masih berusaha beradaptasi.”
Sulis hendak membuka mulut, tapi Maalik mendahului dengan nada lebih dalam. “Olivia memang salah kalau sampai meninggikan suara. Tapi, Bu… Olivia juga tahu, sejak awal Ibu tidak pernah benar-benar menerimanya. Olivia tahu setiap tatapan sinis, setiap kalimat tajam yang Ibu lontarkan."
Sulis terdiam, wajahnya mulai pucat.
“Ibu sayang sama Maalik, itu Maalik tahu,” suara Maalik melembut, namun matanya tetap berkaca-kaca. “Tapi Maalik juga sangat mencintai Olivia, Bu. Saat ijab qabul terucap, Maalik sudah menyerahkan seluruh hidup Maalik untuk menjaga, melindungi, dan mencintai Olivia. Itu janji Maalik di hadapan Allah. Jadi apapun tentang Olivia, itu tanggung jawab Maalik, bukan orang lain. Termasuk Ibu.”
Ruangan itu hening. Hanya terdengar suara napas berat Maalik dan bunyi detak jam dinding.
“Ibu…” suara Maalik mulai parau. “Maalik sedang berusaha membuat Olivia betah, membuat dia bisa merasa menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi Maalik mohon, Bu… kalau Ibu tidak bisa ikut membantu Maalik dalam usahanya, setidaknya jangan membuat Olivia merasa tidak nyaman. Maalik mohon… demi rumah tangga Maalik, demi kebahagiaan Maalik, jangan lagi ada kata-kata yang menyakiti dia.”
Sulis menunduk, jemarinya bergetar menggenggam sendok kayu. Ibrahim menghela napas panjang, pandangannya penuh arti pada cucunya. Sementara Maalik berdiri di sana dengan tubuh tegak, tetapi hatinya luluh lantak oleh keberanian yang baru saja ia tunjukkan pada ibunya sendiri.