NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Dibawah Kekuasaan

Langkah kaki Naura terasa berat seolah ada rantai tak kasat mata yang mengikat kakinya setiap kali ia melangkah masuk melewati ambang pintu besar kediaman Dewa Angkasa Buwana. Udara di dalam sana terasa jauh lebih dingin daripada udara malam di luar, dingin yang bukan hanya berasal dari suhu ruangan, melainkan dingin yang menjalar dari suasana yang kaku, sunyi, dan penuh tekanan. Di sekelilingnya, dinding-dinding tinggi berbalut marmer putih dan kaca berukir memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang megah, namun kemewahan itu sama sekali tidak memberikan rasa nyaman. Sebaliknya, bagi Naura, tempat ini terasa lebih seperti sebuah istana yang berubah menjadi penjara mewah, tempat di mana kebebasan dan kebahagiaan tampaknya telah dihapuskan sepenuhnya.

Dewa berjalan di depannya dengan langkah tegap dan berirama, setiap hentakan kakinya seolah menggetarkan lantai tempat ia berpijak. Pria itu tampak begitu menguasai tempat ini, seolah setiap sudut ruangan, setiap perabotan, dan setiap napas yang ada di dalam gedung besar ini adalah milik mutlaknya. Punggungnya yang lebar dan tegap terlihat angkuh, menunjukkan rasa percaya diri yang tidak tergoyahkan, sebuah kekuasaan yang ia bangun dengan darah, keringat, dan rasa sakit selama bertahun-tahun.

Di sepanjang lorong utama yang luas itu, beberapa pelayan dan pengawal berdiri berbaris rapi di kedua sisi dinding. Mereka semua menundukkan kepala dalam-dalam, tidak ada satu pun yang berani menatap lurus ke arah Dewa, bahkan sekadar melirik pun tidak. Keheningan yang menyelimuti ruangan itu begitu tebal hingga suara detak jam dinding yang tergantung di ujung lorong terdengar begitu nyaring dan menakutkan. Ketaatan mutlak terpancar dari sikap mereka, dan hal itu semakin mempertegas betapa hebatnya pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki oleh pria yang kini menjadi suami Naura.

Naura mengikuti dari jarak beberapa langkah di belakang. Tangannya mencengkeram ujung gaun pengantinnya yang mahal dan indah itu dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Di matanya, gaun indah ini kini tidak lebih dari sekadar pakaian yang dipakai seorang tawanan sebelum dikurung selamanya. Matanya yang bening mengamati setiap sudut ruangan dengan penuh kewaspadaan, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi dan di mana ia berada. Hatinya berdebar kencang, bukan karena rasa bahagia atau harapan, melainkan karena rasa takut yang bercampur dengan rasa benci yang mulai tumbuh subur di dalam dadanya. Ia merasa seperti seekor burung yang sayapnya baru saja dipotong, dipaksa masuk ke dalam sangkar emas yang dingin dan gelap.

Dewa berhenti mendadak di depan sebuah pintu kayu besar berukir mewah yang terbuat dari kayu jati asli. Pintu itu tampak kokoh dan berat, seolah menjadi pembatas antara dunia luar dan ruang pribadi yang paling sakral bagi sang pemilik rumah. Tanpa menoleh ke belakang, Dewa mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk.

"Masuk," perintahnya singkat, suaranya terdengar datar dan tanpa emosi, namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduk Naura meremang.

Dengan napas yang tertahan, Naura melangkah masuk melewati ambang pintu itu. Ruangan itu ternyata adalah ruang kerja sekaligus ruang pribadi Dewa. Ruangan berukuran besar itu dipenuhi rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit, sebuah meja kerja besar dari kayu mahoni yang tampak sangat berharga, dan jendela kaca raksasa yang menghadap ke arah taman belakang yang luas. Di tengah kemewahan itu, ada nuansa kelam dan dominan yang sangat kuat, nuansa yang sangat mirip dengan karakter pemiliknya.

Dewa berjalan menuju ke tengah ruangan, lalu berbalik badan menghadap Naura. Di bawah cahaya lampu yang redup namun fokus, wajah tampan pria itu terlihat semakin tajam dan menakutkan. Tidak ada sedikit pun kelembutan atau keramahan yang terlukis di sana. Hanya ada tatapan mata hitam yang dalam, tajam, dan penuh perhitungan, tatapan yang seolah mampu menembus hingga ke sudut terdalam hati dan pikiran Naura.

Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jas hitamnya, berdiri dengan sikap santai namun sangat mengintimidasi. Sikapnya seolah berkata bahwa ia adalah penguasa mutlak di sini, dan Naura hanyalah makhluk kecil yang berada di bawah telapak kakinya.

"Dengar baik-baik apa yang akan aku katakan ini, Naura," ucap Dewa perlahan, suaranya rendah namun berwibawa, bergema memenuhi ruangan luas itu. "Aku tidak suka mengulang perkataan yang sama dua kali. Dan aku sangat benci jika perintahku tidak dipatuhi atau diabaikan. Di rumah ini, ada aturan yang berlaku. Aturan yang aku buat, aturan yang harus kau ikuti tanpa bantahan, tanpa tanya jawab, dan tanpa alasan apa pun. Ingatlah hal ini baik-baik: di sini, aku adalah hukum. Apa yang aku katakan adalah kebenaran mutlak, dan apa yang aku inginkan adalah kewajiban yang harus kau penuhi."

Ia melangkah satu langkah ke depan, membuat Naura secara refleks mundur selangkah hingga punggungnya bersentuhan dengan dinding berpanel kayu di belakangnya. Dewa tersenyum tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak ramah, melainkan senyum kemenangan yang dingin dan penuh sarkasme. Ia tampak menikmati setiap ekspresi ketakutan yang tersembunyi di balik wajah tegar istrinya itu.

"Pertama," tegas Dewa, jarinya yang panjang dan besar menunjuk tepat ke arah dada Naura, seolah menandai wilayah kekuasaannya. "Jangan pernah, dalam situasi apa pun, kau bertanya tentang urusanku. Ke mana aku pergi, dengan siapa aku bertemu, apa yang aku kerjakan, atau kapan aku akan pulang. Hidupku, duniamu, dan segala hal yang berhubungan denganku adalah rahasia besar yang tidak boleh kau ganggu. Kau ada di sini, tapi kau tidak berhak tahu apa pun tentangku selain apa yang aku izinkan kau ketahui. Jangan pernah mencoba mencari tahu atau mengintai, karena itu akan menjadi kesalahan terbesarmu."

Naura mengatupkan rahangnya kuat-kuat, menahan gejolak emosi yang meluap-luap di dalam dadanya. Bagaimana mungkin ia hidup serumah dengan seseorang, menjadi istrinya secara sah, namun dilarang tahu apa pun tentang kehidupan suaminya? Itu sama saja dengan menjadikannya patung hiasan, atau barang yang diletakkan begitu saja di sudut ruangan.

"Kedua," lanjut Dewa, suaranya sedikit meninggi, nada bicaranya menjadi lebih keras dan menekan. "Kau ada di sini hanya untuk satu tujuan: melayaniku. Saat aku memanggil, kau harus datang secepat kilat. Saat aku bicara, kau harus mendengarkan dengan saksama dan menundukkan kepala. Jangan pernah menatapku dengan tatapan menantang atau penuh kebencian seperti yang kau lakukan tadi di dalam mobil. Kesabaran bukanlah sifat yang dimiliki oleh Dewa Angkasa Buwana. Jika aku meminta sesuatu, kau harus berikan. Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, kau harus kerjakan. Jangan pernah membantah, jangan pernah berdebat, dan jangan pernah berpikir kau punya hak yang sama denganku di tempat ini."

Dewa melangkah lagi semakin dekat, hingga jarak antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Aroma tubuhnya yang khas campuran antara wangi parfum mahal dan bau tembakau yang kuat menyeruak masuk ke hidung Naura, membuat napas wanita itu terasa sesak. Dewa mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Naura, hingga suara bisikannya terdengar mengerikan dan menggetarkan hati.

"Dan yang ketiga, ini adalah aturan paling penting yang harus kau tanamkan jauh di dalam otakmu..." bisik Dewa dengan nada yang dingin dan penuh ancaman. "Jangan pernah berpikir kau bisa lari dari sini, atau meminta bantuan pada siapa pun. Dinding-dinding rumah ini memiliki telinga dan mata. Setiap langkah yang kau ambil, setiap kata yang kau ucapkan, setiap orang yang kau temui, semuanya terpantau olehku. Kau tidak punya privasi, kau tidak punya kebebasan. Kau adalah milikku, sepenuhnya dan selamanya. Dan ingatlah ini baik-baik, Naura... Satu kesalahan kecil saja, satu kali kau mencoba melanggar batas, atau satu kali kau berani berusaha melepaskan diri, maka aku akan pastikan ayah dan ibumu menanggung akibatnya. Nyawa mereka, keselamatan mereka, dan masa depan mereka kini sepenuhnya ada di tanganku. Dan kau yang memegang kendalinya."

Naura merasakan darahnya berdesir hebat. Kata-kata terakhir itu adalah pukulan telak yang paling menyakitkan. Dewa tidak hanya mengancamnya, tapi ia menggunakan kasih sayang Naura pada orang tuanya sebagai senjata paling tajam untuk menundukkannya. Pria itu benar-benar memahami titik terlemah Naura, dan ia menggunakannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Rasa marah, rasa sakit, dan rasa benci meledak di dalam dada Naura seperti gunung berapi yang meletus. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata hitam Dewa yang begitu gelap dan kosong. Matanya memanas, namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menangis di hadapan pria ini. Air mata hanya akan menjadi tanda kekalahan, dan ia belum kalah.

"Kau benar-benar tidak punya hati, ya?" desis Naura pelan, suaranya bergetar namun tetap terdengar tegas dan penuh penekanan. "Kau puas menyiksa orang yang sama sekali tidak bersalah? Kau puas membuat orang lain menderita hanya untuk memuaskan rasa dendammu yang konyol itu?"

Wajah Dewa berubah seketika menjadi jauh lebih seram dan dingin. Senyumnya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi bengis yang mengerikan. Dengan gerakan cepat, ia mengangkat tangannya, mencengkeram rahang Naura dengan kuat, menekan tulang pipi wanita itu hingga Naura meringis pelan menahan sakit. Dewa mendekatkan wajahnya, menatap tajam tepat ke dalam mata istrinya.

"Hati?" ulang Dewa dengan nada sinis yang sangat tajam. "Keluargamulah yang menghancurkan hatiku, menginjak-injak harga diriku, dan membakar seluruh hidupku sepuluh tahun yang lalu! Kau bertanya apakah aku punya hati? Hati sudah lama aku buang, Naura. Hati sudah tidak ada lagi dalam kamus hidupku sejak hari ayahmu melakukan kejahatan itu pada keluargaku. Dan kau ada di sini sekarang... kau ada di sini untuk menggantikan semua rasa sakit, semua kehancuran, dan semua penderitaan yang mereka berikan padaku dulu. Kau adalah pembayaran hutang itu, dan kau harus membayarnya sampai lunas."

Dewa melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Naura hampir terjatuh ke belakang jika tidak segera menahan tubuhnya di dinding. Rahang Naura terasa perih dan panas, pasti akan ada bekas merah di sana nanti. Namun, ia tetap menatap Dewa dengan pandangan yang tidak menyerah, meski kakinya terasa sangat lemas.

Dewa menunjuk ke arah lorong panjang yang terlihat dari pintu ruangan itu, ke arah ujung yang agak gelap.

"Kamar tidurmu ada di ujung lorong itu, pintu berwarna emas dengan ukiran bunga mawar," ucap Dewa dingin. "Kamar itu terpisah dari kamarku. Jangan pernah berani melangkahkan kakimu masuk ke kamarku tanpa izin dariku, apalagi saat aku tidak ada di sana. Jika kau melakukannya, hukuman yang kau terima tidak akan ringan. Kau tidur di sana, kau berpikir baik-baik tentang posisi dan tempatmu di sini, dan kau bersiaplah. Mulai besok pagi, saat matahari terbit, kehidupan barumu yang sesungguhnya akan dimulai. Kehidupan di mana kau akan belajar arti ketakutan, arti kepatuhan, dan arti rasa sakit yang sesungguhnya."

Dewa berbalik memunggungi Naura, berjalan kembali menuju meja kerjanya yang besar, lalu duduk di kursi kebesarannya seolah keberadaan wanita itu sudah tidak penting lagi baginya. Ia mengambil selembar dokumen di atas meja, membacanya seolah-olah tidak ada orang lain di ruangan itu.

"Keluar," perintahnya singkat dan kaku. "Dan jangan sampai kau membuatku marah atau mengecewakanku di hari pertama ini. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan segan-segan memperpendek masa percobaanmu."

Naura menatap punggung lebar itu dengan rasa benci yang membara di setiap sudut hatinya. Ia mengusap perlahan rahangnya yang masih terasa sakit, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang kacau. Ia berbalik badan, melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah yang gemetar namun penuh tekad yang kuat. Ia tidak akan menyerah pada keadaan. Ia tidak akan membiarkan pria ini menghancurkannya semudah itu. Ia akan bertahan, ia akan berjuang, dan suatu saat nanti ia akan membuktikan pada Dewa bahwa ia bukanlah wanita lemah yang bisa dipermainkan sesuka hati.

Saat pintu ruangan itu tertutup rapat kembali, keheningan menyelimuti Dewa sendirian di sana. Pria itu meletakkan dokumen yang dipegangnya kembali ke atas meja. Ia menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup Naura. Ada rasa gelisah yang aneh menjalar di dadanya, rasa yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Semakin ia menyakiti wanita itu, semakin ia menindasnya, semakin ia merasa ada bagian dari dirinya sendiri yang ikut hancur dan sakit.

Namun, harga dirinya yang tinggi dan dendam kesumat yang sudah ia pelihara begitu lama menjadi tembok tebal yang menutupi perasaan itu. Dewa menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir rasa aneh itu. Tidak ada jalan mundur sekarang, batinnya keras. Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam kebencian ini. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Naura harus membayar lunas segala dosa ayahnya.

 

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!