GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Berjuang Mati-Matian di Tengah Kota Besar
Perjalanan dari desa menuju pusat kota besar itu terasa sangat panjang dan melelahkan. Luna menempuhnya dengan naik angkutan umum yang sempit, berdesak-desakan sama orang-orang asing, sambil memeluk erat bungkusan kain satu-satunya yang dia miliki. Di dalam bungkusan itu, cuma ada beberapa helai baju ganti sederhana, foto kenangan Ayah Haris dan Ibu Sumi, serta sisa uang simpanan yang ditemukannya di balik laci lemari tua. Uang itu jumlahnya nggak banyak, tapi bagi Luna, itu adalah harta paling berharga, modal awal buat dia bertahan hidup di tempat asing ini.
Duduk di pinggir bangku angkot yang keras dan bergoncang, Luna menatap keluar jendela. Pemandangan desa yang hijau, asri, dan tenang perlahan berubah jadi pemandangan gedung-gedung tinggi yang menjulang, jalanan beraspal lebar yang penuh macet, serta hiruk-pikuk suara kendaraan yang bikin telinga berdenging. Semakin jauh dia pergi, semakin jauh pula dia meninggalkan kenangan sedih di kampung halamannya. Di dalam hatinya, ada rasa sakit yang masih terasa nyeri banget, tapi di sisi lain ada tekad baja yang makin menguat.
"Ayah... Ibu... tungguin Luna ya. Di kota nanti Luna bakal kerja keras banget. Luna bakal buktiin kalau Luna bukan cuma cewek lemah yang cuma bisa nangis. Luna bakal sukses, bakal jadi orang hebat, dan bakal balas semua kejahatan yang udah bikin kalian pergi selamanya," batinnya sambil menggenggam erat foto kecil kedua orang tuanya itu di dalam saku baju. Matanya berkaca-kaca, tapi dia buru-buru hapus air matanya sebelum jatuh. Dia janji sama dirinya sendiri, mulai hari ini dia nggak boleh nangis lagi. Air mata nggak bakal nyelesain masalah, air mata cuma bakal bikin dia kelihatan makin rapuh dan gampang diremehkan orang lain.
Saat angkot yang dia tumpangi akhirnya berhenti di terminal besar kota itu, Luna turun dengan langkah ragu. Dia berdiri diam di pinggir trotoar, menatap sekeliling dengan mata terbelalak kagum sekaligus takut. Suasananya bising banget, orang-orang jalan bergegas seolah mereka semua punya urusan penting dan nggak ada waktu buat nyapa atau senyum sama orang lain. Baunya campur aduk: bau asap kendaraan, debu, minyak goreng dari penjual makanan pinggir jalan, sama bau keringat manusia. Semuanya beda banget sama desanya yang bersih, sejuk, dan damai.
Luna menghela napas panjang, menguatkan hati, lalu mulai melangkah masuk ke dalam keramaian itu. Dia sadar, dia nggak punya sanak saudara, nggak punya kenalan, nggak punya tempat tujuan, dan nggak punya keahlian khusus apa pun selain rajin, jujur, dan kuat tenaga. Satu-satunya bekal yang dia punya cuma wajah cantik, sifat sopan santun, dan semangat hidup yang membara.
Hari-hari awal di kota besar itu bener-bener ujian berat buat Luna. Dia harus cari tempat tinggal dulu. Dia keliling dari satu gang ke gang lain, nanya-nanya harga sewa kamar. Ternyata, harga hidup di kota ini jauh lebih mahal dibandingkan di desa. Uang yang dia bawa rasanya bakal habis banget kalau dia asal sewa tempat. Akhirnya, setelah keliling seharian penuh sampai kakinya lecet dan rasanya mau copot, dia nemuin satu kamar kontrakan paling kecil, paling sempit, dan paling murah yang ada di sudut gang sempit, jauh dari jalan utama.
Kamar itu ukurannya cuma cukup buat kasur tipis sama meja kecil, lantainya tanah yang diplester semen kasar, dindingnya papan yang udah mulai lapuk, dan atapnya kadang bocor kalau hujan deras. Tapi bagi Luna, itu udah lebih dari cukup. Itu tempat berlindung dia, tempat dia istirahat, tempat dia nyimpan sisa-sisa harapannya. Dia bayar sewa tiga bulan di muka, langsung bikin isi dompetnya menipis drastis. Sekarang, dia makin terdesak. Dia harus cepet dapet kerjaan, kalau nggak dia bakal kelaparan.
Keesokan harinya, tepat sebelum matahari terbit, Luna udah bangun. Dia cuci muka pake air yang ada di ember, sisir rambut hitam panjangnya rapi, terus pake baju paling layak yang dia punya: baju kurung katun polos warna biru pudar yang udah sering dicuci sampai agak tipis, tapi bersih banget dan disetrika licin. Dia bertekad, mau kerja apa aja, yang penting halal, yang penting hasil keringat sendiri.
Luna mulai keliling dari satu warung makan ke warung lain, dari satu toko ke toko lainnya, nanya apakah butuh pekerja atau pembantu. Tapi jawaban yang dia dapet kebanyakan sama: "Enggak butuh, Dik," atau "Udah ada orang," bahkan ada yang jawab ketus sambil natap remeh, "Anak kecil kayak kamu bisa ngapain? Pulang sana!"
Siang itu panas banget. Matahari bersinar terik membakar kulit, bikin aspal jalanan rasanya panas banget nancep ke telapak kaki. Luna udah jalan hampir seharian, keringat ngucur terus membasahi baju dan punggungnya, tenggorokannya kering kerontang karena nggak minum dari pagi, dan kakinya rasanya pegal luar biasa. Tapi dia nggak berani berhenti. Dia inget, kalau dia pulang dengan tangan kosong, berarti besok dia nggak bakal punya makan.
Pas dia lagi duduk istirahat sebentar di pinggir selokan sambil kipas-kipas pake ujung baju, ada suara panggilan halus dari arah warung makan sederhana di sebelahnya.
"Neng... sini dulu sebentar..."
Luna langsung bangkit berdiri cepet-cepet, beresin baju dan rambutnya biar kelihatan rapi, terus mendekat dengan senyum sopan. Di depan warung itu ada seorang Ibu paruh baya yang agak gemuk, wajahnya ramah dan baik hati. Namanya Bu Yati, pemilik warung nasi rames yang lumayan rame pembelinya.
"Iya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Luna lembut, suaranya manis dan sopan banget.
Bu Yati natap Luna dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia lihat cewek muda ini cantik banget, manis, kulitnya bersih, matanya bening jujur, tapi kelihatan banget lagi susah dan capek. "Ibu lihat kamu dari tadi keliling nanya kerjaan ya? Emangnya kamu bisa ngapain aja?"
Mata Luna langsung berbinar penuh harap. "Saya bisa apa aja, Bu! Saya kuat, rajin, jujur, dan cepet tangkap. Saya bisa nyuci piring, nyapu, ngepel, masak pun saya bisa dikit-dikit, bersihin rumah, ngupas bawang, bungkus makanan... pokoknya apa aja Bu, yang penting halal dan dibayar."
Bu Yati senyum dikit, dia lihat ketulusan di wajah Luna. Lagipula, warungnya emang lagi butuh tenaga tambahan karena pembelinya makin banyak. "Yaudah, gimana kalau kamu kerja di sini aja? Bantuin Ibu di warung. Kerjanya dari jam 5 pagi sampe jam 7 malem. Kerjanya berat, banyak cucian piring, banyak yang harus dibersihin. Bayarnya nggak gede sih, cukup buat makan sama nambah tabungan sewa kamar. Gimana mau?"
Luna rasanya mau teriak senang banget. Dia langsung tunduk hormat berkali-kali. "Mau Bu! Mau banget! Makasih banyak ya Bu, Ibu baik banget! Saya janji bakal kerja sebaik mungkin, bakal rajin, nggak bakal nyantai!"
Hari itu jadi hari paling bahagia buat Luna setelah kepergian Ayah sama Ibu. Akhirnya dia punya pekerjaan, punya penghasilan, punya alasan buat bertahan hidup. Dan bener aja, kerjaan di warung Bu Yati emang berat banget. Tiap hari Luna harus bangun jam 3 pagi buat bantuin belanja ke pasar, terus nyuci berkaton-karton piring kotor, panci besar, wajan, sampai tangannya keriput kena sabun dan air terus. Dia harus nyapu ngepel lantai yang kotor kena tumpahan makanan, ngelap meja, ngambilin pesanan pembeli, dan bungkus makanan. Badannya pegal luar biasa, tulang-tulangnya rasanya kayak mau copot, tangan dan kakinya penuh memar lecet kena pinggiran panci atau piring.
Banyak orang yang natap Luna dengan pandangan nggak percaya. Mereka heran, cewek secantik, semanis, dan sehalus ini kok mau kerja berat-berat kayak kuli? Ada juga yang punya niat jahat, coba-coba godain atau ngomong kotor pas Bu Yati lagi nggak ada. Tapi Luna pinter banget jaga diri. Dia selalu jawab sopan tapi tegas, kalau ada yang macem-macem dia langsung lapor Bu Yati atau ngomong keras, bikin orang-orang itu malu sendiri dan akhirnya kapok. Bu Yati sendiri makin hari makin sayang sama Luna. Dia nganggap Luna kayak anak sendiri karena sifatnya yang rajin, jujur, dan nggak pernah ngeluh sedikit pun.
Bulan berganti bulan, Luna jalani hari-harinya dengan disiplin tinggi banget. Dia hidup irit banget. Uang gajian yang dia terima, cuma dia pake sedikit banget buat beli beras sama lauk seadanya—paling cuma tahu, tempe, atau sayur, jarang banget makan daging. Sisanya? Dia lipet rapet-rapet, masukin ke kain bekas yang dijahit, terus simpan di bawah kasur. Dia nabung mati-matian. Tiap ada uang lebih dikit aja, langsung dia masukin ke tabungan itu. Niatnya satu: pengen cepet-cepet punya modal buat buka usaha sendiri, pengen punya tempat tinggal yang lebih layak, pengen punya masa depan cerah.
Nggak cuma kerja fisik aja, di sela-sela waktu kosong atau pas lagi istirahat sebentar, Luna sering banget curi-curi waktu buat belajar. Dia sadar dia nggak sekolah tinggi, dia nggak pinter baca tulisan rumit, tapi dia nggak mau bodoh selamanya. Dia minta sama Bu Yati sama koran bekas atau majalah bekas yang ada pembeli bawa, terus dia baca pelan-pelan, hafal kata-katanya, nambah wawasan dia. Dia sering dengerin orang-orang ngobrol, belajar cara ngomong yang sopan, cara bawa diri, biar dia nggak kelihatan kayak orang kampung yang lugu banget terus dibodohi orang.
Siang bolong pas warung lagi sepi, kadang Luna suka duduk di pinggir trotoar agak jauh dari warung, natap ke arah jalan raya besar yang lebar dan bersih di depannya. Di sana, mobil-mobil mewah berwarna hitam mengkilap melaju kencang, nyalip kendaraan lain dengan elegan. Gedung-gedung tinggi beralaskan kaca kelihatan megah banget berkilau kena sinar matahari. Salah satu gedung yang paling tinggi, paling besar, dan paling megah itu ada tulisan emas besar di atasnya: PRATAMA GROUP.
Dari orang-orang yang lewat ngobrol, Luna tau kalau itu gedung milik pengusaha paling kaya, paling berkuasa, dan paling ditakuti di kota ini. Namanya Pak Aditya Pratama. Katanya dia masih muda, ganteng luar biasa, tapi dingin banget, kejam, dan nggak pernah punya belas kasihan sama siapa pun. Namanya aja udah bikin siapa aja yang denger langsung segan.
Luna sering banget natap gedung itu lama banget, matanya berkilat penuh mimpi dan tekad. Dia bayangin, gimana rasanya kerja di tempat dingin, ber-AC, bersih, dan mewah kayak gitu? Gimana rasanya jadi orang yang punya kuasa dan uang banyak?
"Suatu saat nanti..." janjinya dalam hati sambil genggam tangan jadi kepalan. "Suatu saat nanti, aku nggak bakal lagi nyuci piring kotor di pinggir jalan. Aku bakal masuk ke gedung itu, aku bakal duduk di kursi empuk di dalam sana, pake baju rapi, sepatu bagus, jadi orang sukses yang disegani semua orang. Ayah... Ibu... lihat deh, Luna berjuang banget buat bikin kalian bangga. Sabar ya, sebentar lagi mimpi Luna bakal kejadian."
Ada kalanya perjuangan itu rasanya beneran berat banget sampai Luna hampir nyerah. Ada hari di mana dia sakit demam tinggi tapi tetep harus kerja karena kalau dia libur sehari aja, uang makan dia berkurang. Ada hari di mana dia dimarahin sama pembeli yang rewel tanpa sebab, sampai dia nangis diam-diam di belakang warung. Ada malam di mana hujan deras turun dan atap kamarnya bocor, bikin dia basah kuyup dan kedinginan sendirian di dalam kegelapan.
Tapi setiap kali rasa lelah atau putus asa itu datang, Luna selalu inget wajah Ayah Haris sama Ibu Sumi. Dia inget pesan Ibu waktu itu: "Luna, kamu lahir bukan buat menderita selamanya, kamu lahir buat jadi orang sukses. Jangan pernah nyerah, apa pun yang terjadi."
Kalimat itu jadi bahan bakar dia. Kalimat itu jadi alasan dia bangun pagi-pagi, jadi alasan dia tersenyum meski capek, jadi alasan dia tetap jujur dan baik hati meski dunia sering banget jahat sama dia. Dia percaya, Tuhan itu adil. Penderitaan nggak bakal abadi, dan keringat yang dia keluarkan sekarang bakal berbuah manis di masa depan.
Bulan berganti bulan, satu tahun berlalu begitu aja tanpa terasa. Luna sekarang udah berusia sembilan belas tahun. Dia makin dewasa, makin cantik, makin matang. Wajah cantik dan manisnya itu makin bersinar, kulitnya bersih, matanya bening, tapi tatapannya sekarang lebih tajam, lebih kuat, dan lebih percaya diri. Dia udah nggak lagi jadi cewek kampung yang bingung dan takut sama keramaian kota. Dia udah jadi wanita muda yang tangguh, mandiri, dan punya prinsip hidup kuat banget.
Tabungannya pun udah lumayan terkumpul banyak. Dia rencananya, nanti pas uangnya udah cukup, dia bakal keluar dari warung Bu Yati, terus nyewa tempat agak strategis buat buka usaha kue atau jajanan pasar. Dia pinter banget bikin kue enak, keahlian yang dia dapet dari Ibu Sumi dulu. Dia yakin, usahanya bakal maju, bakal berkembang, dan bakal bikin dia jadi orang mandiri yang sukses.
Dia nggak nyangka sama sekali, kalau rencana indah itu bakal sedikit terganggu dan berubah arah total. Dia nggak nyangka, kalau perjuangan keras dia selama ini bakal ketemu titik baliknya sebentar lagi. Dia nggak tau, kalau takdir udah nulis skenario lain buat hidupnya. Skenario yang bakal bikin dia ketemu sama laki-laki paling dingin dan berkuasa itu, bukan dalam keadaan indah dan mulia, tapi dalam keadaan penuh masalah dan ketakutan.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷