NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *6

Namun manusia tetaplah manusia. Seberapa besar pun ia mencoba memahami, seberapa sabar pun ia mencoba mengalah, tetap ada rasa lelah yang perlahan tumbuh. Rasa lelah karena selalu mengalah. Rasa lelah karena selalu menjadi yang kedua. Rasa lelah karena selalu membiarkan suaminya pergi demi wanita lain, walau alasan di baliknya sangat mulia.

Malam itu, Merlin sedang berdiri di depan lemari menyusun pakaian bersih mereka. Ruangan hening, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berirama pelan. Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja rias.

Satu pesan masuk. Dari Reyno.

*Aku pulang telat ya, Mer. Ada urusan sedikit lagi.*

Merlin menatap layar ponsel itu cukup lama. Matanya meneliti kata-kata sederhana itu. Lalu ia membalas singkat, padat, dan datar.

*Iya.*

Tidak lama kemudian, layar ponselnya kembali menyala. Notifikasi pesan baru masuk, kali ini berupa sebuah foto. Merlin membuka foto itu perlahan.

Di dalam bingkai gambar itu, terlihat suasana rumah sakit yang agak remang. Di sofa panjang ruang tunggu, Yara terlihat tertidur pulas, wajahnya tampak pucat dan lelah, sementara tangannya menggenggam lengan Reyno yang duduk di sebelahnya. Genggaman itu erat sekali, seolah-olah Reyno adalah satu-satunya penopang hidup gadis itu.

Di bawah foto itu, ada keterangan singkat dari Reyno. *Dia demam tinggi. Gak mau dipegang siapa-siapa selain aku. Harus nemenin dulu sampai agak reda.*

Merlin menatap foto itu lama sekali, tanpa ekspresi. Wajahnya datar, tapi matanya terasa panas. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, hatinya terasa sakit. Sangat sakit.

Bukan karena Reyno sedang bersama perempuan lain. Bukan karena Reyno sedang menjaga orang lain. Tapi karena di foto itu, Merlin bisa melihat betapa dibutuhkannya Reyno. Betapa pentingnya keberadaan suaminya bagi gadis itu. Di sana, Reyno terlihat begitu berarti, begitu dibutuhkan, begitu menjadi pusat dunia seseorang.

Sementara di sini, di rumah ini, Merlin selalu sendirian. Selalu menunggu. Selalu melepas pergi. Selalu menjadi pihak yang mengerti, yang memaklumi, yang menahan rindu dan sepi sendirian. Dan untuk pertama kalinya, rasa takut itu menjalar cepat memenuhi seluruh hatinya.

Merlin mulai takut kalau suatu hari nanti,

tempatnya di hati Reyno, posisinya sebagai wanita utama di hidup suaminya, akan tergeser perlahan oleh rasa tanggung jawab, oleh rasa kasihan, dan oleh ketergantungan seseorang yang terlihat begitu rapuh dan begitu membutuhkan perlindungan.

Dan yang paling mengerikan, Merlin sadar, ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mencegahnya. Karena semua yang dilakukan suaminya itu benar. Semua itu mulia. Dan ia tidak berhak melarang. Karena suaminya telah berhutang nyawa pada gadis tersebut.

***

Hujan kembali turun malam itu. Deras dan tak kenal ampun, menghantam kaca-kaca jendela dengan suara berisik yang berirama, memenuhi seluruh ruangan apartemen kecil mereka dengan kesunyian yang terasa asing dan menekan.

Suara air yang jatuh ke jalan raya di bawah sana seolah menjadi satu-satunya peneman malam panjang Merlin. Menggantikan suara tawa, percakapan, atau sekadar kehadiran sosok suaminya yang belakangan ini semakin jarang ada di sampingnya.

Merlin duduk diam di kursi meja makan, tepat di sisi yang biasa ia tempati setiap malam. Di atas meja, makanan yang telah ia siapkan sejak satu jam lalu masih terlihat rapi dan lengkap. Ada semangkuk sup ayam hangat berkuah kental yang baunya sempat memenuhi ruangan tadi sore. Lalu, nasi putih yang masih mengepulkan uap tipis, dan sepiring ayam goreng berbumbu. Itu masakan kesukaan Reyno, yang selalu ia buat dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

Namun sekarang, semuanya mulai dingin. Uapnya hilang. Aroma lezatnya memudar. Sama seperti malam sebelumnya. Jam dinding di sudut ruangan berdetak pelan, suaranya terdengar sangat jelas di tengah keheningan. Jarum panjangnya sudah menunjuk angka sepuluh kurang tiga puluh menit. Reyno belum pulang. Lagi.

Merlin menatap layar ponselnya yang tergeletak diam di samping piring makan, berulang kali meliriknya berharap ada notifikasi masuk. Namun layar itu tetap gelap. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar.

Sebenarnya, ia ingin sekali menelepon. Ingin bertanya di mana suaminya, apa yang sedang dilakukan, kapan akan pulang. Ia ingin mengeluh sedikit saja, mengatakan bahwa ia lelah menunggu, mengatakan bahwa rumah ini terasa sepi dan dingin kalau tanpa kehadiran Reyno.

Tapi setiap kali keinginan itu muncul, setiap kali jemarinya hampir menyentuh tombol panggil, wajah Yara selalu terlintas tajam di kepalanya. Wajah gadis muda yang baru saja kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya, yang kini hidup sendirian di kota ini, yang terlihat begitu rapuh, begitu tak berdaya, dan begitu bergantung pada Reyno.

Dan seketika itu juga, Merlin merasa dirinya jahat. Ia merasa dirinya egois. Bagaimana bisa ia menuntut waktu suaminya, sementara ada orang lain yang jauh lebih membutuhkan, yang sedang berjuang menahan rasa sakit yang jauh lebih besar daripadanya?

Akhirnya, ia hanya menghela napas panjang dan pelan, lalu mulai mengambil sendoknya. Ia berusaha menyendok nasi ke mulutnya, berusaha memakan makanannya sendiri tanpa ditemani siapa pun.

Namun baru dua suap masuk, suara dering ponselnya memecah keheningan ruangan. Nama “Reyno” terpampang jelas di layar yang kini menyala terang. Merlin buru-buru meletakkan sendoknya, meraih ponsel itu dengan cepat, dan mengangkatnya dengan napas yang sedikit tertahan.

“Halo?” suaranya terdengar lembut, berusaha menyembunyikan rasa rindu dan kecemasan yang menggunung.

“Mer … maaf.…”

Suara Reyno terdengar dari seberang. Terburu-buru, berat, dan penuh kelelahan. Di latar belakang suaranya, terdengar suara bising, langkah kaki orang berlalu-lalang, dan pengumuman yang samar. Itu suasana yang sangat ia kenal. Apalagi kalau bukan rumah sakit.

“Aku belum bisa pulang malam ini,” lanjut Reyno cepat, seolah takut dipotong atau dimarahi.

Tangan Merlin yang memegang ponsel itu perlahan menegang. Gerakannya tak berhenti sama sekali.

“Kenapa?” tanyanya pelan. Ada rasa dingin yang menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya.

“Yara pingsan.”

Hening menyelimuti sambungan telepon itu sesaat. Hanya suara hujan yang terdengar jelas di telinga Merlin.

“Dia demam tinggi dari tadi sore, tapi nggak mau bilang siapa-siapa. Katanya cuma pusing biasa." Reyno menjelaskan panjang lebar, nadanya terdengar khawatir sekali. “Terus tiba-tiba aja dia jatuh di lantai pas lagi mau ambil minum. Aku lagi di rumah sakit sekarang, lagi nunggu dokter periksa.”

Merlin langsung duduk tegak, matanya menatap kosong ke arah dinding. “Dia … dia enggak apa-apa kan? Kondisinya parah nggak?” tanyanya, rasa kaget dan khawatir yang tulus sedikit mengalahkan rasa sepi di hatinya.

“Masih diperiksa. Dokter bilang karena kelelahan berat, kurang makan, dan tekanan batin yang terlalu tinggi,” jawab Reyno. Suaranya terdengar sangat lelah, hampir tak ada tenaganya lagi. “Aku nggak bisa ninggalin dia sendiri di sini, Mer. Keadaannya lagi kacau banget. Dia nangis terus kalau aku mau mundur sedikit aja.”

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!