NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:565
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Keesokan harinya, kelas IPS 4 mendadak jadi markas rapat kriminal gagal. Awalnya gara-gara Narisa masuk dengan muka jutek, lalu membanting tas sampai satu kelas menoleh.

Brak!

"Woy, di sini ada anak basket gak?" tanya Narisa tiba-tiba.

"Gw," satu cowok angkat tangan,

"Gw sama dia. Total tiga orang sih di kelas ini," sahut yang lain.

Lesti langsung menyipit curiga. "Ada apaan nih tiba- tiba nanya basket ?"

"Lo basket cewek. Diem aja," tunjuk Narisa jutek.

"Bujug dah. Diskriminasi gender."

Fahri ikut mendekat sambil narik kursi terbalik.

"Ini pasti ada sesuatu." Dia nunjuk Narisa. "Bagus lo ya kagak cerita-cerita,"

Narisa duduk di meja dengan muka ditekuk. "Si Cakra selingkuh sama Sonya."

Satu kelas langsung heboh.

"HAH?!"

"Wah, anjing."

"Berani juga ketua basket."

"Anak kepala sekolah tapi otaknya diskon."

"Kita kempesin semua bola basketnya."

"Jangan bego," sahut yang lain cepat. "Yang salah Cakra doang. Timnya ngapa kena?"

"Kita culik aja."

"Itu kriminal."

"Karungin terus lempar ke got."

"Itu lebih kriminal lagi, goblok"

Keributan makin menjadi sampai Putra tiba-tiba berdiri di atas kursi dengan wajah penuh inspirasi sesat.

"Dia anak kepala sekolah kan?" katanya lantang.

"Gimana kalau kita bikin sekolah kacau aja sekalian?"

Satu kelas langsung hening. Lalu...

"Wih,"

"Anjir."

"Menarik."

Putri yang memang hobi bolos langsung berdiri paling semangat. "Bolos massal!"

Kelas langsung ribut lagi.

"ANJIR."

"Seru tuh."

"Kita ajak anak-anak kelas lain."

"Gw kenal anak STM sebelah."

"Ngapain ngajak STM, goblok."

"Nanti gw sebar isu razia sepatu."

"Gw ajak junior."

"Kita bikin sekolah sepi kayak kuburan."

"Heh, jangan ngomong kuburan pagi-pagi, tai."

Tawa pecah ke mana-mana sampai Narisa menepuk meja tiga kali.

Plak. Plak. Plak.

"Diem dulu, peak!"

Satu kelas langsung anteng.

"Kita mulai besok." Narisa nunjuk sembarang orang. "Yang penting makin banyak yang bolos makin bagus."

"Weeeee!"

"Terus kalau ada guru nanya siapa yang ngajak.." Narisa nyengir tipis. "Bilang Cakra."

Satu kelas bengong dua detik. Lalu lagsung meledak.

"WO00OY!"

"ANJIR JAHAT."

"BUSYET."

Fahri sampai ngakak sambil nepuk meja. "Ini baru seru,"

Putri hampir jungkir balik ketawa. "Gila. Lo gak main-main, Nar,"

Narisa mengangkat bahu santai. "Bodo amat."

"Terus si Cakra gimana?"

Narisa langsung menunjuk anak basket di kelasnya.

"Gak mau tau gimana caranya. Besok dia harus ikut bolos juga."

Tiga orang anak basket langsung saling pandang.

"Kita seret paksa."

"Jangan kriminal mulu ngapa, goblok."

"Terus gimana?"

"Kita pura-pura traktir sate."

"Emang pagi-pagi ada yang jual? Lagian dia gak mungkin tertarik-"

"Eh, lo pada diskusi nanti aja," potong Narisa cepat.

"Yang jelas besok kita gerak. Inget, orang-orang yang kalian ajak harus bisa jaga mulut."

"WOKEH!"

Lesti yang dari tadi paling waras cuma menghela napas.

"Bisa-bisa kita gak lulus."

Narisa langsung nunjuk dia.

"Diem lo, Les. Kalau kita gak lulus, sekolah yang rugi."

"Anjir, pede banget,"

"Ya kali sekolah mau nahan kita setahun lagi."

Satu kelas langsung ngakak. Lesti akhirnya nyender pasrah.

"Yaudah lah. Gw ikut."

"Nah gitu dong."

"Gw umpetin bola basket kesayangan Cakra aja."

Narisa langsung mendelik. "Eh, gak ada yang nyuruh lo ikut balas dendam receh."

Lesti melotot balik. "Lo hari ini kenapa sih sama gw? Udah bosen dikasih contekan?"

Narisa malah cekikikan, "Lesti babi. Bacot babi,"

"Dih, anjing. Gw cipok juga lo." kelas heboh lagi.

"Cieee lesbian."

"Lah goblok." Lesti makin emosi. "Dia pacar gelap gw."

"Tai. Banyak amat pacar lo."

"Semua cewek cantik pacar gue."

"Cewek sarap."

Bel masuk berbunyi, tapi satu kelas masih ribut sendiri. Dan parahnya lagi... tidak ada satu pun yang benar-benar bercanda.

-

Sebelum jam pulang, Narisa menoleh ke belakang.

"Siapa yang mau ganter gw?"

Putri dan dua cowok di belakang langsung saling pandang.

"Lo tinggal tunjuk aja, Nar," kata Fahri santai.

Narisa akhirnya menunjuk Putra karena rumahnya paling dekat dengan rumah orang tuanya.

Putra langsung mengacungkan jempol bangga. "Siap, nona.."

"Narisa., Putri, papan tulis pindah ke belakang ya?" tegur guru dari depan kelas dengan wajah lelah.

"Yaelah, bu. Baru juga mau jadi bodyguard," Putri bersungut.

Narisa malah ikut nimbrung.

"Kalau ada masalah cerita aja, bu. Kita pendengar yang baik kok."

Guru itu cuma diam beberapa detik. Kantung matanya hitam, rambutnya agak berantakan. Semalam anaknya demam dan dia nyaris tidak tidur. Ditambah harus menghadapi kelas IpS 4 yang tiap hari ada saja tingkahnya.

Ting.

Tung.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Si guru langsung keluar tanpa banyak bicara, seperti takut disandera obrolan tidak penting.

Begitu suasana kelas pecah, Narisa buru-buru menyambar tas lalu menarik lengan Putra.

"Gw duluan,"

"Lah, Nar." Putra sampai nyeret ranselnya sendiri.

"Kok buru-buru amat?"

" Cakra dari tadi spam chat."

"Ya tinggal blokir."

"Udah." Narisa mendecih. " Tapi gw males kalau dia nongol tiba-tiba."

"Oh.." Putra langsung paham, "Takut balikan?"

Narisa berhenti jalan sebentar cuma buat mendelik.

"Gw dorong lo dari tangga ya."

Putra langsung nyengir dan angkat tangan menyerah.

Di kelas sebelah, Kara melihat Narisa lewat dari balik jendela sambil nyeret Putra seperti karung sampah.

"Buru-buru amat," gumamnya heran. "Tumben."

Harum yang duduk sebangku langsung nyenggol lengannya.

"Bini lo kenapa?"

Kara menoleh malas.

"Gw juga heran."

Rasa penasarannya baru terjawab waktu dia turun tangga. Dari arah sebaliknya, Cakra muncul dengan wajah kusut sambil sesekali melihat ponsel.

Kara langsung mengangkat alis kecil.

"Pantes kabur duluan,"

"Hah?" Harum menoleh. "Siapa?"

"Si Bonar. Kayaknya lagi dicariin Cakra."

"Ya iyalah. Kan pacarnya."

Kara santai memasukkan tangan ke saku.

"Udah putus kali."

Harum langsung berhenti jalan.

"HAH? Serius?"

"Iya. Tuh cowok selingkuh sama Sonya."

"Anjir. Sonya IPA 2?"

Kara menoleh heran.

"Lo apal semua cewek satu sekolah?"

"Kan gw pernah liat mereka bedua mojok belakang gudang."

"Demi apa?"

Harum langsung ngacung sebelum sempat disumpahin.

"Demi cinta lo sama Narisa."

Pletak.

"Aw!"

Kara menjitak kepala Harum tanpa ampun, "Serius dikit napa."

Harum meringis sambil ngusap kepala.

"Ya seriusan, goblok. Gw kira emang ada apa-apa. Tapi ya bodo amat juga. Cepat atau lambat pasti ketahuan."

Kara terdiam sebentar, lalu kembali jalan menuju gedung olahraga.

~

~

Di rumah Nuri dan Taslim, Putra sedang makan lahap di meja makan sampai nyaris tidak bisa napas. Baru tiga suap, lauknya sudah berkurang separuh.

"Masakan Tante gak pernah gagal ya," katanya sambil nunjuk telur dadar. " Ini enak banget sumpah."

"Kamu muji biar dikasih makan terus kan?" Nuri melipat tangan sambil menyipit curiga.

Putra dan Narisa langsung tertawa sampai hampir tersedak.

"Tau aja, Tante. Ini telur dadarnya rame banget rasanya. Mamaku kalau bikin beginian rasanya sepi."

Narisa langsung nyaut.

"Gak ada warna?"

"Iya!" Putra nunjuk Narisa semangat. "Cuma garem sama micin soalnya."

"Mungkin mama kamu gak suka dikasih perbawangan," kata Nuri santai.

"Bukan." Putra geleng mantap. "Dia males ngupas sama ngiris."

Nuri langsung memutar mata, lalu bangkit dari kursinya.

"Mama mau bantu bikin kue di rumah tetangga dulu." Dia menoleh ke Narisa. "Kamu nanti dijemput Kara kan?"

"Iya, ma."

"Yaudah. Soalnya papa kamu katanya lembur. Mama juga balik sore kayaknya."

Narisa yang lagi makan langsung berhenti.

"Lah, terus rumah kosong dong?"

"Gak kosong. Mama di sebelah kok."

"Oh." Narisa mengangguk pelan, lalu cepat-cepat menambahkan, "Tapi aku mau kuenya kalau udah jadi."

"Besok mama anter."

Nuri akhirnya pergi sambil bawa tas kecil dan cetakan kue. Begitu pintu tertutup, suasana meja makan mendadak sunyi.

Putra yang dari tadi sebenarnya menahan pertanyaan akhirnya menyipit ke arah Narisa.

"Tadi Tante Nuri bilang lo dijemput Kara."

"Iya."

"Lo mau ke mana?"

Narisa tersedak sendiri.

Sial.

Dia lupa soal itu. Kenapa malah baru sadar?

Putra yang sudah kenal Narisa dari kelas sepuluh langsung tahu sahabatnya itu sedang cari alasan ngawur.

"Gak usah ngarang ya," katanya datar. "Nama Kara disebut di rumah lo aja udah aneh. Satu sekolah juga tau kalian tiap ketemu kayak anjing."

"Kucingnya mana?"

"Kucing lucu. Lo berdua kagak ada lucunya."

Narisa menghela napas panjang. Mau tidak mau dia sadar Putra memang bakal curiga terus kalau tidak dijelaskan. Masalahnya... cerita soal nikah paksa itu terlalu absurd.

Kalau otak Putra mendadak hang pas dengar gimana?

"Buruan," desak Putra sambil nambah nasi lagi. "Gw penasaran."

Akhirnya Narisa menyerah. Dia menceritakan semuanya dari awal. Tentang pernikahan mendadak, rumah baru, sampai sekarang tinggal serumah sama Kara.

Putra mendengarkan sambil makan. Sesekali cuma manggut-manggut. Bahkan sempat nambah telur lagi di tengah cerita paling dramatis.

"Gitu dah," tutup Narisa lelah. "Jadi gw sekarang tinggal sama si santen,"

"Oh." Putra mengangguk pelan, "Seru juga ya."

Narisa langsung melongo.

"Seru dari mananya, peak? Harusnya lo kaget kek."

"Ya agak kaget sih." Putra santai nyuap nasi. "Tapi ini langka aja. Lagian kalau dipikir-pikir, hidup lo malah naik level."

"Hah?"

"Rumah dapet. Biaya sekolah aman. Dapet mobil juga." Putra nunjuk Narisa, pakai sendok. "Hoki lo gede banget."

Narisa bengong beberapa detik. Dia benar-benar tidak tahu harus tersinggung atau ketawa. Cerita hidupnya barusan terasa seperti sinetron rusak, tapi di mata Putra malah terdengar seperti keberuntungan.

"Otak lo emang gak normal."

"Normal lah." Putra nyandar santai. "Kalau gw dipaksa nikah terus dikasih rumah, gw malah nanya kapan akad kedua."

Narisa langsung melempar tisu ke mukanya.

"Gw sama-sama cewek, peak."

"Nah itu. Lagian lo sama Kara dibebasin mau pacaran. Gak disuruh bikin anak, "

Narisa meringis, tapi otaknya jalan. Kata-kata Putra memang benar sih. Terlalu masuk akal sampai dia tidak bisa membantah.

Setelah makan dan ngobrol sebentar, Putra akhirnya pamit pulang.

"Tenang aja," katanya sambil pakai helm. "Gw gak bakal cerita ke dua curut itu."

Narisa sedikit lega mendengarnya.

Ternyata jujur ke teman dekat memang ada gunanya juga. Paling tidak sekarang ada satu orang yang tahu hidupnya sudah berubah total. Dan anehnya masih mau berteman dengan dia.

~

Sore harinya, Kara menjemput Narisa di rumah orang tuanya. Dia tidak mampir karena Nuri masih di rumah tetangga.

Di perjalanan, Narisa yang duduk di belakang mendadak mengernyit jijik.

"Eh, santen!" teriaknya di antara suara angin, "Lo jemput kagak mandi dulu?"

"Lagi males," Kara balas teriak santai. "Emang bau? Kan gw lapisin jaket."

Narisa diam.

Bukan soal bau sebenarnya. Tapi dia melihat ujung rambut pendek Kara masih basah. Di kepala Narisa, itu otomatis berarti: belum mandi.

Padahal kalau habis mandi juga rambut bisa basah. Tapi Narisa sedang malas berpikir baik tentang manusia satu ini.

Sampai di rumah, dia langsung ganti baju lalu masuk ke dapur sambil membawa ponsel. Setelah menanak nasi, dia berniat video call Nuri buat minta bantuan masak dari jauh. Mamanya pasti masih bisa angkat walaupun lagi sibuk bikin kue.

Namun sebelum sempat menekan tombol panggil, suara ketukan terdengar dari pintu depan.

Tok. Tok. Tok.

Narisa langsung tergopoh-gopoh keluar dapur. Tidak mungkin menyuruh Kara buka pintu, karena cewek itu sedang mandi.

Begitu pintu dibuka, seorang wanita berambut panjang berdiri sambil memegang kotak makanan. Senyumnya tipis dan sopan.

"Maaf langsung masuk. Pagarnya kebuka," katanya pelan.

Narisa langsung tersadar.

"0-oh. Iya, kak."

"Saya tetangga sebelah. Femi suruh anter ini." Dia menyodorkan kotak makanan itu. Narisa bengong sebentar sebelum buru-buru menerima.

"Ohh... kakak sodaranya Tante Femi ya?" Dia langsung minggir sedikit. "Masuk dulu, kak,"

"Lain kali aja," tolak wanita itu ramah. "Aku cuma disuruh anter makanan kok."

"Oh iya, iya." Narisa cepat-cepat mengangguk. "Btw, aku Narisa."

Wanita itu menyambut uluran tangannya.

"Eri,"

Dan tepat saat itu, Kara muncul dari arah belakang sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Langkahnya melambat begitu melihat ada orang asing di depan pintu.

"Bonar," panggilnya sambil menyipit tipis ke arah Eri.

Narisa langsung menoleh.

"Nah, ini sepupu aku, kak." Dia nunjuk Kara asal. "Namanya Santen, Eh, Kara."

Kara langsung mendelik. "Sepupu pala lo."Tapi tetap maju dan menjabat tangan Eri dengan sopan.

"Yaudah, aku pulang dulu ya," kata Eri sambil tersenyum kecil. "Senang kenal kalian."

"Iya kak, makasih ya." Narisa melambai kecil.

"Bilang makasih juga sama Tante Femi."

Eri mengangguk lalu pergi keluar pagar.

Begitu pintu tertutup, Narisa langsung menoleh jutek ke Kara.

"Muka lo bisa ramah dikit gak sih?" semprotnya. "Dia itu tetangga."

"Lah, kapan lo kenal?"

Narisa menghela napas malas sambil berjalan ke meja makan. Kotak makanan itu langsung dibuka. Isinya ayam cabe ijo dan tumis sayur.

"Wuihhh..."

Matanya langsung berbinar. Kara ikut melirik.

"Kok baik banget?" Dia mulai curiga. "Aman nih?"

Narisa langsung menoleh datar.

"Tante Femi baik tau. Dia pernah bayarin gw makan di warteg." Omelnya mulai ngalir tanpa rem, "Rumahnya juga sebelahan banget. Jadi lo gak usah sok FBI gitu. Kalau gak mau makan, biar gw yang abisin."

"Waspada itu penting. Lo bego makanya diselingkuhin gak nyadar."

Narisa langsung mendelik tajam.

"Ngapa lo bawa-bawa itu? Gak nyambung, peak."

"Nyambung lah. Sama-sama kurang waspada."

"Waspada pala lo pitak. Si Cakra itu emang gak punya adab aja-"

Kalimat Narisa tiba-tiba berhenti. Dia mendadak teringat sesuatu. Dengan ekspresi serius, dia langsung duduk dan menunjuk kursi depan.

"Duduk dulu lo. Gw mau ngomong."

Kara ikut duduk sambil mengernyit heran. Kadang dia bingung sendiri. Mood Narisa bisa pindah jalur lebih cepat dari motor kopling liar.

"Apaan?"

"Ini soal besok."

Lalu Narisa mulai menjelaskan rencana gilanya bersama satu kelas. Dari bolos massal sampai ide bikin nama Cakra terseret. Semakin lama Kara dengar, semakin datar mukanya. Setelah selesai, dia cuma bengong beberapa detik.

"Kelas lo paling ujung bukan berarti harus goblok massal juga."

"Bacot lo. Pokoknya lo harus ikut. Ajak sekalian anak-anak kelas lo."

Kara langsung geleng-geleng. "Lo kalau mau gila ya sama circle IPS lo aja. Jangan ngajak kelas gw."

"Kalau lo gak mau, gw ajak Harum."

"Dia mah nurut apa kata gw."

Bibir Narisa langsung berkedut kesal. Telunjuknya naik perlahan.

"Berani nolak, gw gak bakal masak lagi."

Kara malah ketawa kecil. "Kayak masakan lo enak aja."

"Oh gitu?"" Narisa melipat tangan. "Kamar lo gw acak-acak."

"Baju lo gak gw anter ke laundry."

"Gitar lo gw putusin senarnya."

"Boneka lo gw lempar ke jalan."

Narisa makin emosi. "Lo kebangetan ya. Gw bilang ke Tante Eka lo kasar sama gw."

Kara langsung mendelik.

"Lah gak asik. Mainnya fitnah, Cakra mau lo fitnah, sekarang gw juga?"

"Eh, namanya bini itu harus saling dukung."

"Ya gak buat ngajak kriminal kecil-kecilan juga kali."

Narisa mengangguk pelan.

"Oke. Gw ngerti sekarang."

"Ngerti apaan?"

"Ternyata lo sok suci." Narisa menyender santai. "Besok gw sebarin foto lo ciuman sama junior."

"Woy, bentar." Kara langsung refleks angkat tangan.

"Cuma ngajak bolos doang kan?"

"Ya lo ikut bolos lah,"

Kara mengusap wajah kasar. Bolos sebenarnya bukan masalah buat dia. Tapi ngajak orang lain bikin masalah? Dosanya berasa berlipat-lipat.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi..Cakra memang pantas dibikin pusing sedikit.

"Yaudah," katanya pasrah.

"Nah, gitu dong." Narisa langsung nyengir lebar penuh kemenangan.

Kara mendengus. "Stresss gw punya bini kayak lo."

Narisa malah tertawa tanpa dosa.

"Inget," katanya sambil nunjuk Kara. "Kalau guru nanya, bilang Cakra yang suruh,"

Kara cuma geleng-geleng kepala. Gila. Tapi dipikir- pikir lagi... ini jauh lebih seru daripada sekadar ngerusak motor orang.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!