NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalal Latihan Kembali

​Truk fuso Bang Jagur akhirnya memelankan laju mesinnya setelah menempuh perjalanan panjang membelah malam menuju Indramayu. Lampu depan truk menyorot sebuah rumah sederhana dengan pagar kayu yang dicat biru pudar di sebuah kawasan yang tenang. Begitu mesin diesel itu dimatikan, keheningan desa langsung menyambut, hanya menyisakan suara jangkrik yang bersahutan.

​Selama perjalanan, Miranti dan Kirana tidak lagi meringkuk di balik terpal belakang yang menyesakkan. Bang Jagur, setelah melihat kondisi mereka yang memprihatinkan di pinggir jalan tadi, akhirnya memutuskan untuk membiarkan mereka duduk di kabin depan. Di sepanjang jalan, Kirana yang semula gemetar hebat perlahan mulai tenang, meski sesekali matanya masih melirik ke kaca spion, takut kalau ada mobil hitam yang membuntuti mereka.

​Bang Jagur melompat turun dari kabin, lalu membukakan pintu penumpang dengan sopan. "Ayo, turun pelan-pelan. Kita sudah sampai," bisik Bang Jagur.

​Miranti membantu Kirana turun dari kabin yang cukup tinggi. Wajah mereka berdua tampak lelah, kusam oleh debu perjalanan, namun jauh lebih tenang dibandingkan saat mereka pertama kali ditemukan.

​Tepat saat mereka melangkah menuju halaman, pintu rumah biru itu terbuka lebar dengan sentakan keras. Seorang wanita bertubuh sintal dengan daster batik yang warnanya sudah memudar muncul di ambang pintu. Matanya yang tajam, yang biasanya digunakan untuk mengawasi tetangga, langsung menyapu pemandangan di depan rumah. Ketika melihat suaminya sedang membimbing seorang wanita cantik—yang meski berpenampilan berantakan, masih terlihat aura kelembutannya—dan seorang anak kecil, wajah wanita itu berubah merah padam.

​"Oh, jadi ini alasanmu pulang telat dua hari, Jagur?!" teriak wanita itu, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian malam di kompleks tersebut. "Bukan karena macet, bukan karena kiriman sayur yang lambat, tapi karena sibuk mengangkut 'penumpang istimewa' di kursi depan?!"

​Bang Jagur tersentak kaget. Ia segera mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Eh, Bu! Jangan ngawur! Ini bukan siapa-siapa, mereka dalam kesulitan!"

​"Bukan siapa-siapa?!" Istri Bang Jagur—yang akrab disapa Bu RT oleh para tetangga—melangkah maju dengan pinggang yang bertolak. Ia menunjuk tepat ke wajah Miranti yang terdiam gemetar. "Cantik, muda, malah duduk di kabin depan samping supir! Wah, hebat kamu ya, Jagur! Sudah bosan sama yang tua, jadi cari yang masih segar buat nemenin jalan?"

​"Bu, dengarkan dulu! Mereka ini dalam bahaya, bukan—"

​"Bahaya, bahaya! Kamu yang bahaya, Jagur!" sang istri semakin menjadi-jadi. Ia mengambil sapu lidi yang tersandar di dinding. "Suruh pergi perempuan itu sekarang juga! Atau aku yang akan buat perhitungan sama kalian semua di sini!"

​Miranti, yang merasa dadanya sesak karena disalahpahami, melangkah maju sedikit dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan saya, Bu. Saya sama sekali tidak ada niat buruk. Saya dan keponakan saya sedang melarikan diri. Kami sedang dikejar orang jahat..."

​"Nggak usah banyak alasan! Pergi!"

​Bang Jagur mulai kehilangan kesabaran. "Sabar, Bu! Kamu jangan memalukan diri sendiri! Mereka ini nyawanya sedang di ujung tanduk. Kalau aku tidak bawa dari jalan tadi, mereka mungkin sudah habis di tangan penculik!"

​Mendengar kata 'penculik', amarah sang istri sedikit surut, meski tatapannya tetap penuh curiga. Ia menatap Miranti dari atas ke bawah. Melihat wajah Miranti yang pucat dan mata Kirana yang sembab karena ketakutan, naluri keibuannya mulai terusik.

​"Dikejar orang jahat?" tanya Bu RT dengan nada yang lebih rendah.

​"Iya, Bu," sahut Kirana pelan sambil memeluk kaki Miranti.

​Bu RT menatap suaminya yang tampak frustrasi. "Kalau kalian bohong, Jagur, aku tidak akan pernah membukakan pintu rumah ini lagi untukmu," ucapnya dingin, lalu berbalik masuk ke rumah. "Masuk! Tapi ingat, jangan harap aku akan memberikan tempat tidur yang enak untuk wanita itu!"

​Bang Jagur menghela napas lega. "Maaf ya, istriku memang sensitif. Ayo, masuklah dulu. Malam ini kalian aman di Indramayu."

----

​Pagi hari di kaki bukit Indramayu terasa begitu segar, menyisakan embun yang menempel di ujung dedaunan. Jalal, yang kini telah pulih sepenuhnya berkat ramuan herbal Abah dan ketelatenan Rafael, melangkah dengan mantap di atas tanah yang mulai menanjak. Di sampingnya, Rafael berjalan dengan irama yang tenang, meski ada kewaspadaan yang selalu terjaga di matanya.

​Keduanya berjalan menuju puncak bukit yang dikenal sebagai tempat latihan rahasia Abah. Di tengah perjalanan, Jalal yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara, memecah kesunyian hutan kecil itu.

​"Rafael," panggil Jalal pelan. "Seingatku, sepuluh tahun lalu kau bilang ingin kuliah di luar negeri. Beasiswamu sudah turun, rencanamu sudah matang. Kenapa... kenapa kau tidak pergi saat itu? Kenapa kau justru berakhir di rumah Abah?"

​Langkah Rafael sedikit melambat. Senyum tipis yang biasanya menghiasi wajahnya kini memudar, digantikan oleh gurat kepedihan yang tersimpan rapi. Ia menatap ke arah cakrawala yang masih tertutup kabut.

​"Dunia berubah cepat, Jalal," jawab Rafael lirih. "Tiga bulan setelah kau pergi berguru ke Semeru, ayahku meninggal. Ia dikeroyok oleh sekelompok perampok saat sedang bertugas ronda malam. Dia berusaha melindungi aset desa, tapi nyawanya harus terbayar."

​Jalal terdiam, detak jantungnya berdegup kencang mendengar kabar buruk yang baru diketahuinya.

​"Kehidupan kami turun drastis," lanjut Rafael. "Ibuku... dia tidak sanggup menanggung duka. Dia frustrasi, kehilangan arah, dan tidak lama setelah ayah meninggal, ibu menyusul karena sakit parah. Aku kehilangan segalanya dalam waktu singkat."

​Rafael menoleh ke arah Jalal, menatap sahabat masa kecilnya itu dengan sorot mata yang penuh keikhlasan. "Temanku hanya kau, Jalal. Hanya kau yang menemaniku dari SD sampai SMA. Aku tidak punya tujuan, lalu aku teringat kau pernah bercerita tentang Abahmu di gunung. Aku datang ke sini, berharap bisa bertemu denganmu. Tapi saat aku sampai, kau tidak ada. Aku hanyalah pemuda yang hancur, sering melamun, dan sakit-sakitan. Akhirnya, Abah mengasihani aku. Beliau mengajariku cara menghimpun tenaga dalam. Ya sudah, sekalian saja aku belajar bela diri sampai detik ini."

​Jalal tertegun. Beban yang dipikul Rafael ternyata jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan. Ia merasa bangga sekaligus bersalah karena telah meninggalkan sahabatnya sendirian di masa-masa tergelap.

​Mereka pun tiba di sebuah tanah lapang di puncak bukit yang dikelilingi oleh pepohonan pinus. Angin bertiup kencang di sini, menerbangkan ujung jaket Jalal.

​"Dari Abah sudah banyak pelajaran yang kudapat," ujar Rafael tiba-tiba, sambil melepaskan jaket luarnya dan menaruhnya di atas batu besar. Ia sudah memasang kuda-kuda, "Aku penasaran tentang cerita Abah, bahwa kau titisan Si Buta Dari Gua Hantu."

Jalal terkekeh, "Kalau sudah tahu, berani sekali kau, mari kita berlatih, keluarkan seluruh tenagamu." ​Jalal tersenyum, posisi kuda-kudanya berubah menjadi lebih solid.

"Tantangan yang menarik. Jangan menyesal kalau aku tidak akan menahan diri, Jalal."

​"Justru itu yang kuharapkan!" seru Jalal.

​Tanpa aba-aba, Rafael melesat. Gerakannya sangat berbeda dengan petarung dari 'Mata Malaikat'. Aliran tenaga dalamnya lebih lembut namun sangat bertenaga, perpaduan antara teknik militer yang ia pelajari secara otodidak dan olah napas murni dari Abah.

​WUSH!

​Rafael melepaskan pukulan lurus ke arah dada Jalal. Jalal, dengan insting yang tajam, menggeser tubuhnya dan menangkap pergelangan tangan Rafael. Namun, Rafael bukanlah petarung amatir. Dengan satu sentakan, ia memutar tubuh dan mengirimkan tendangan melingkar yang menargetkan kepala Jalal.

​Jalal menunduk, lalu melakukan sapuan kaki. TAK! Rafael melompat tinggi, lalu melakukan manuver udara, menghujamkan telapak tangannya ke tanah tempat Jalal berada. Debu beterbangan.

​Pertarungan itu berlangsung sengit. Jalal bisa merasakan bahwa Rafael kini telah melampaui kemampuan bela diri standar. Setiap serangan Rafael mengandung filosofi yang diajarkan Abah—fokus, tenang, dan mematikan. Jalal melayani setiap serangan sahabatnya dengan teknik tangan kosong yang ia pelajari di Semeru. Mereka berdua bertukar serangan dengan kecepatan tinggi, menciptakan dentuman suara gesekan pakaian di udara.

​Jalal berhasil memukul mundur Rafael dengan satu dorongan telapak tangan, namun Rafael segera bangkit dengan senyum lebar. Bagi mereka, ini bukan sekadar pertarungan untuk menentukan siapa yang kuat, melainkan cara mereka untuk kembali terhubung setelah sekian lama terpisah oleh takdir yang kejam. Di atas puncak bukit itu, di antara desau angin, persahabatan mereka diuji kembali melalui keringat dan tenaga dalam.

1
Muqimuddin Al Hasani
rencananya novel tidak ada end, nanti ada sembara dari gunung merapi, ada Jaka Tingkir dari Madura, Jaka Tarub, sunan Kalijaga 🤣🤣
T28J
jalal, si buta dari gua hantu
mungkin lebih mantap lagi nanti ada karakter baru titisan wiro sableng, buat bantu jalal 🤔
Muqimuddin Al Hasani
makasih kak, baru nyoba nulis kak🙏
Alia Chans
hadir thor, karya nya keren👍👈
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya sudah bagus 👍 tapi ada Typo : "Tuhan bersabda" tapi yang betul "firman Tuhan".
Muqimuddin Al Hasani: Oke Kakak noted👍
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!