NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

​Hari ini adalah hari Minggu, sebuah fragmen waktu yang biasanya dianggap sebagai oase padang pasir bagi anak-anak sekolah yang lelah dengan tumpukan tugas. Tak terkecuali bagi Ziva. Di balik tirai apartemennya yang masih tertutup rapat, gadis itu masih asyik menjelajahi alam mimpi di atas ranjang empuknya. Guling putih panjang tampak didekap erat dalam pelukan, seolah-olah benda mati itu adalah satu-satunya pelindung dari dinginnya dunia. Jam di dinding baru saja menunjukkan pukul setengah enam pagi, saat embun masih betah bertengger di kaca jendela.

​Bagi banyak orang, tidur tanpa guling mungkin terasa seperti makan tanpa garam—hambar dan kurang lengkap. Guling adalah teman setia yang tak pernah protes saat dipeluk sekencang apa pun, dan bagi Ziva, itu adalah pengganti pelukan hangat yang sudah lama hilang dari hidupnya.

​Ting tong...

​Ting tong...

​Suara bel apartemen yang melengking memecah keheningan pagi yang damai.

​"Eunghh..."

​Sebuah lenguhan kecil keluar dari bibir mungil Ziva. Tidurnya yang nyenyak terusik. Dengan mata yang masih berat, ia mencoba membuka mata bulatnya perlahan, melirik ke arah jam meja di samping tempat tidurnya.

​"Selamat pagi dunia tipu-tipu," gumam Ziva menyambut fajar dengan nada sarkasme yang kental. Ia sama sekali tidak ikhlas. Niat hatinya hari ini adalah melakukan "hibernasi" total untuk memulihkan energi setelah semalam menonton balapan liar bersama Karlota, namun suara bel itu terdengar sangat tidak tahu diri.

​"Siapa sih, ganggu orang tidur aja!" gerutu Ziva, suaranya parau khas bangun tidur. Ia mengeram tertahan di balik bantalnya.

​Ting tong!

​"Arrghhh! Ganggu banget sih!" Ziva mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dengan gerakan malas, ia beranjak dari ranjang. Langkah kakinya yang gontai terseret di atas lantai menuju pintu depan. Nyawanya belum sepenuhnya kembali ke raga, langkahnya sedikit sempoyongan. Beruntung ia tidak memiliki penyakit pusing mendadak saat langsung berdiri.

​Ceklek.

​Ziva menarik gagang pintu dengan wajah masam yang sudah ia siapkan untuk menyemprot siapa pun tamunya.

​PLAK!

​Baru saja pintu terbuka sedikit, sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kirinya. Sentakan fisik itu begitu mendadak sehingga nyawa Ziva yang tadi masih tertinggal di bantal langsung tertarik paksa masuk ke tubuhnya. Rasa panas dan perih menjalar di kulit wajahnya yang putih bersih.

​"Lama banget kamu buka pintunya, hah!" teriakan seorang wanita paruh baya langsung menusuk gendang telinga Ziva.

​Ziva terdiam. Ia mematung sambil memegang pipinya yang mulai berdenyut. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan riasan wajah yang sudah rapi meski matahari baru saja terbit. Orang itu adalah Ratna Rahmawati, ibu tirinya. Nama yang indah, bermakna permata yang berkilau, namun bagi Ziva, wanita ini lebih mirip duri dalam daging.

​"Cepat kasih saya uang lima juta sekarang!" perintah Ratna tanpa basa-basi, bahkan tanpa bertanya kabar atau meminta maaf atas tamparan yang baru saja ia berikan.

​Ziva mengatur napasnya. Tatapan matanya yang tadi sayu kini berubah menjadi datar dan dingin. "Saya nggak ada uang," jawabnya singkat.

​"Bohong kamu! Sekarang cepat kasih saya uang sebelum apartemen ini saya obrak-abrik!" tekan Ratna lagi. Suaranya melengking di lorong apartemen yang sunyi.

​"Ziva beneran nggak ada uang, Tante..." ucap Ziva lelah. Bayangkan, bangun tidur bukannya mendapat ucapan selamat pagi, ia malah mendapatkan "hadiah" tamparan dahsyat dan todongan uang.

​"Kasih saya uang atau saya teriak di sini! Biar tetangga-tetangga kamu tahu kalau kamu itu anak durhaka yang menelantarkan orang tuanya!" Ratna mulai mengancam dengan nada histeris yang dibuat-buat.

​"Hufttt..." Ziva menghela napas gusar. Ia melirik koridor. Ia tahu ini masih terlalu pagi dan banyak penghuni apartemen lain yang sedang beristirahat. Ziva adalah tipe orang yang tidak suka membuat keributan di tempat umum, apalagi jika menyangkut aib keluarganya. Ia tidak ingin orang-orang terganggu hanya karena ulah ibu tirinya yang tak punya urat malu ini.

​Ziva berbalik masuk ke dalam apartemen, membiarkan Ratna nyelonong masuk tanpa izin. Ziva berjalan menuju meja dekat televisi, tangannya membuka laci dan mengambil sebuah amplop cokelat. Itu adalah uang hasil jerih payahnya bekerja paruh waktu di kafe milik keluarga Karlota dan sisa dari hasil memenangkan beberapa taruhan balap yang ia sisihkan. Rencananya, uang itu akan ia bagi dua; setengah untuknya, setengah untuk ayahnya (walau ia tahu ayahnya hanya akan memberikan uang itu pada Ratna).

​Namun, baru saja amplop itu keluar dari laci, Ratna langsung merebutnya secepat kilat.

​"Nah, gini dong dari tadi. Nggak usah pakai drama sok miskin," ucap Ratna sambil menghitung lembaran uang di dalamnya dengan mata berbinar serakah.

​"Tante, jangan diambil semua! Uang itu untuk keperluan Ziva sehari-hari. Cicilan listrik dan air apartemen ini juga belum dibayar!" ucap Ziva berusaha merebut kembali amplop tersebut.

​"Eet! Kamu mau uang ini?" Ratna menjauhkan amplop itu dari jangkauan Ziva.

​"Iya, Tante. Ziva butuh uang itu."

​Ratna tertawa sinis. "Ya kamu kerja lagi dong! Kamu kan masih muda, punya banyak tenaga. Uang ini buat saya. Ingat, kamu itu harus balas budi sama saya karena saya dan suami saya—ayahmu itu—yang merawat kamu dari kecil! Kamu pikir makan dan sekolah kamu gratis?"

​Hati Ziva mencelos. Dirawat? Seingatnya, sejak Ratna masuk ke rumahnya, Ziva justru berubah menjadi asisten rumah tangga tanpa gaji. Sekolahnya pun ia biayai sendiri sejak SMP.

​"Tante, kali ini aja serahin uang Ziva sebagian. Jangan diambil semua, Tante..." pinta Ziva memohon. Ego dan harga dirinya seolah runtuh demi bisa bertahan hidup satu bulan ke depan.

​"Ck, sudah lah! Mending saya pergi shopping daripada dengerin kamu merengek. Dan ingat, bulan depan siapkan lagi lebih banyak! Oh iya, satu lagi... pulang ke rumah siang ini. Beresin rumah sampai bersih, saya nggak mau lihat ada debu sedikit pun saat saya pulang belanja!" Setelah mengatakan itu, Ratna berlalu pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Ziva yang mematung di ambang pintu dengan hati yang hancur.

​"Arrghhh, sial!" umpat Ziva pelan saat pintu tertutup. Ia masuk kembali ke apartemen, wajahnya memerah bukan hanya karena tamparan, tapi juga karena amarah yang ia pendam hingga ke ulu hati.

​Ziva memutuskan untuk mandi. Hasrat untuk tidur lagi sudah sirna ditelan badai yang dibawa ibu tirinya.

​Hanya butuh waktu dua puluh menit bagi Ziva untuk mandi di bawah guyuran air dingin, berharap air itu bisa memadamkan api di kepalanya. Ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos oversize putih dan celana jeans selutut. Ia berjalan menuju meja rias di sudut kamar.

​"Hufttt, wajah gue jadi jelek lagi," gumam Ziva saat menatap pantulan dirinya di cermin. Pipinya tampak lebam kemerahan, dan ada luka sobekan kecil di sudut bibirnya—mungkin akibat tergores kuku atau cincin Ratna saat menamparnya tadi.

​"Gue bosan sama kehidupan gue sendiri," bisiknya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca.

​Inilah sisi lain dari Ziva Alqueena. Di luar sana, ia adalah gadis yang bar-bar, hiperaktif, ceria, dan seolah tidak punya beban hidup. Ia adalah Ziva yang bisa menyanyi lagu konyol di arena balap dan menggoda cowok berbaju hitam dengan penuh percaya diri. Namun, saat berada di ruangannya sendiri, di bawah lampu kamar yang temaram, ia hanyalah gadis biasa yang rapuh.

​Ziva sangat mahir menyembunyikan luka dengan tawa. Ia menggunakan keceriaannya sebagai topeng yang paling sempurna. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa gadis yang tertawa paling keras di kelas itu adalah gadis yang setiap malam merindukan kasih sayang dan merasa sangat sendirian. Ingatlah, seringkali orang yang tertawa paling kencang adalah mereka yang sedang mencoba menutupi duri yang menancap dalam di hatinya.

​"Rasanya gue pengen pergi nyusul Ibu aja," ucap Ziva pelan, air matanya kini mulai menetes membasahi pipi yang lebam. "Tapi kalau gue pergi, mereka akan makin senang memakan warisan Ibu. Tapi kalau melawan... gue juga nggak bisa menyakiti Ayah."

​Pikiran Ziva melayang ke masa lalu. Ia adalah gadis malang yang di usia labil harus kehilangan ibu kandungnya akibat kecelakaan tunggal. Kehilangan itu adalah awal dari penderitaannya. Setelah ayahnya menikah lagi, Ziva diperlakukan seperti pelayan di rumahnya sendiri. Yang paling menyakitkan bukanlah cacian Ratna, melainkan diamnya sang ayah. Ayahnya hanya diam membisu saat putri kandungnya dihina, dipukul, dan diperas. Sabar adalah satu-satunya senjata yang Ziva miliki, meski senjata itu lama-lama mulai tumpul dimakan waktu.

​"Tuhan, kapan seorang Ziva ini bisa bahagia?" isaknya. "Ziva ingin bahagia, Tuhan. Sangat ingin. Ziva iri melihat mereka yang bisa bermanja dengan orang tuanya. Ziva pengen disayang, Ziva pengen dipeluk Ayah lagi. Ziva rindu Ayah yang dulu, bukan Ayah yang sekarang. Tuhan, Ziva mohon... kembalikan Ayah yang dulu. Ayah yang baik, ayah yang selalu bilang kalau Ziva adalah permata hatinya. Bukan Ayah yang menatap Ziva seolah Ziva adalah sampah."

​Ziva merenung cukup lama. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ia pernah melakukan kesalahan besar sehingga ayahnya begitu membencinya? Apakah kehadirannya adalah sebuah kesalahan? Namun, ingatannya hanya berputar seperti kaset rusak, menunjukkan gambaran masa kecil yang indah yang perlahan memudar menjadi abu-abu.

​Kruuk kruuk...

​Suara perutnya memecah suasana melankolis itu.

​"Ck, gara-gara nenek lampir itu gue jadi laper, mana uang gue diambil semua lagi! Huft! Suatu saat nanti gue bakal bales lo dan anak-anak lo, nenek lampir!" umpat Ziva mencoba mengalihkan rasa sedihnya menjadi amarah yang produktif.

​Ia mulai menggeledah sudut-sudut kamarnya. "Kayaknya gue masih punya uang sisa sekolah kemarin deh, tapi di mana ya?"

​Ia mengacak-acak tumpukan buku paket di meja belajar. Setelah beberapa saat mencari dengan teliti...

​"Nah, ketemu!" Ziva melompat kecil dengan mata berbinar. Di antara selipan buku Sejarah—buku yang selalu membuatnya mengantuk di kelas Bu Sukma—terselip selembar uang lima puluh ribu rupiah. Itu adalah uang "darurat" yang sengaja ia sembunyikan untuk situasi genting seperti ini.

​"Oke, sekarang waktunya beli makanan!" ucap Ziva. Semangatnya sedikit pulih. Ia berlari keluar apartemen tanpa repot-repot mengganti baju.

​Ziva turun ke parkiran dan mengendarai motornya. Motor matic itu adalah hasil kerja kerasnya menabung selama bertahun-tahun. Tak sepeser pun uang dari ayahnya masuk ke dalam mesin motor itu. Justru sebaliknya, selama ini Ziva-lah yang sering memberikan lembaran uang kepada keluarga tirinya karena gaji ayahnya—yang sebenarnya cukup besar sebagai Manajer Keuangan di sebuah kantor pusat—selalu ludes tak bersisa.

​Kenapa bisa ludes? Jawabannya sederhana: hobi belanja Ratna dan kedua anak tirinya. Mereka bisa menghamburkan jutaan rupiah hanya untuk tas bermerek atau barang-barang tidak berguna dalam sekejap mata. Akibatnya, sebelum akhir bulan, mereka sudah kebingungan mencari uang, dan Ziva selalu menjadi sasaran peras mereka.

​Ziva melajukan motornya membelah jalanan pagi. Pikirannya sekarang hanya satu: mengenyangkan perut. Karena jika perut kosong, rasa sedihnya biasanya akan terasa dua kali lipat lebih menyesakkan. Kalau orang lapar itu bawaannya ingin makan, kalau orang haus ya ingin minum. Logika sederhana yang sedang dijalani Ziva untuk sekadar melupakan fakta bahwa pipinya masih terasa perih akibat tamparan sang ibu tiri.

​Ziva tersenyum tipis saat melihat penjual bubur ayam di pinggir jalan. Setidaknya, semangkuk bubur hangat mungkin bisa menjadi pelukan sementara yang ia butuhkan pagi ini. Di dunia yang keras ini, Ziva belajar bahwa jika tidak ada tangan yang merangkulnya, ia harus bisa merangkul dirinya sendiri—lewat semangkuk makanan atau tawa yang dipaksakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!