"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Satu
Sinar mentari pagi yang baru saja menyentuh permukaan Telaga Teratai Imortal di sisi selatan Desa Jinan menciptakan pendaran cahaya yang begitu jernih, seolah-olah ribuan kristal cair sedang menari di atas air. Di tengah telaga tersebut, Teratai Salju Purba yang baru saja ditanam oleh Zhou Ji Ran kemarin malam sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang tidak masuk akal. Kelopaknya yang putih transparan memancarkan hawa dingin yang menyejukkan, namun tidak membekukan, menciptakan harmoni yang unik dengan kehangatan energi Padi Surgawi yang tumbuh di lereng bukit.
Ao Kun, sang naga laut biru, terlihat sedang bermeditasi di dasar telaga dengan posisi melingkar yang sangat tenang. Ia menggunakan energi airnya untuk memastikan akar-akar teratai salju tersebut mendapatkan nutrisi dari mineral dasar bumi tanpa terganggu oleh arus liar. Bagi Ao Kun, tugas ini bukan lagi sebuah hukuman, melainkan sebuah bentuk kultivasi yang sangat mendalam. Ia merasa setiap detak jantungnya kini selaras dengan ritme alam yang diciptakan oleh Zhou Ji Ran di tempat ini.
Di daratan, tepatnya di Kedai Teh Kedamaian, suasana masih cukup tenang. Zhou Ji Ran duduk di kursi goyangnya yang biasa, menghadap ke arah jalan setapak desa. Di atas meja kayu di depannya, sebuah teko keramik tua mengeluarkan aroma melati yang bercampur dengan sedikit sentuhan aroma teratai salju. Ia menuangkan teh itu ke dalam cangkir kecil dengan gerakan yang sangat lambat, memperhatikan bagaimana uap air tersebut membentuk pola-pola awan yang hilang ditiup angin sepoi-sepoi.
"Pagi yang benar-benar berkualitas," gumam Zhou Ji Ran. Ia menyesap tehnya, membiarkan rasa dingin dan hangat beradu di dalam kerongkongannya. "Tanpa suara peringatan dari benda logam itu, rasa teh ini menjadi sepuluh kali lebih nikmat."
Di dalam dapur kedai, Lin Xiaoqi dan Bai Ling terlihat sedang sibuk mempersiapkan bahan masakan untuk makan siang. Bai Ling, meskipun baru satu hari tinggal di sana, tampak sudah mulai terbiasa dengan ritme kerja yang ada. Ia sedang mengupas beberapa umbi-umbian yang diambil dari kebun belakang, sementara Lin Xiaoqi sedang mencuci daun sawi unggulan yang menjadi kebanggaan tuan rumah mereka.
"Nona Bai, jangan terlalu tegang. Di sini, tidak ada yang akan menyakitimu. Jika kau melakukan pekerjaanmu dengan tulus, Tuan akan menjamin keamananmu bahkan jika seluruh langit jatuh," ucap Lin Xiaoqi sambil tersenyum hangat, mencoba menenangkan kegelisahan yang masih terpancar dari wajah putri klan salju tersebut.
"Saya hanya masih merasa ini seperti mimpi, Xiaoqi," jawab Bai Ling dengan suara rendah. "Klan saya dihancurkan oleh kekuatan yang begitu besar, namun di sini, kekuatan itu tampak seperti debu yang tidak berarti. Tuan Zhou... dia benar-benar bukan manusia biasa, bukan?"
"Tentu saja bukan. Dia adalah... yah, dia adalah petani paling berbahaya di semesta," canda Lin Xiaoqi, membuat Bai Ling sedikit tersenyum untuk pertama kalinya sejak ia tiba.
Di luar, Ye Hua sedang sibuk mengelap jendela-jendela kedai teh menggunakan kain basah. Gerakannya sangat ritmis, menyerupai gerakan pedang "Tujuh Bintang Langit" yang legendaris, namun kini tujuannya hanya untuk memastikan tidak ada bercak air yang tersisa di kaca. Di ujung jalan, Sembilan Tetua Awan sedang berbaris dengan sapu lidi masing-masing. Mereka baru saja menyelesaikan tugas menyapu jalan setapak dari gerbang masuk hingga ke depan kedai.
Tetua Agung berdiri di tengah kelompoknya, mengamati hasil kerja rekan-rekannya dengan sangat teliti. "Tetua Ketiga, ada satu daun willow yang tertinggal di bawah pot bunga itu. Bersihkan segera. Kebersihan adalah cerminan dari kemurnian hukum yang kita junjung sekarang."
"Siap, Tetua Agung!" jawab Tetua Ketiga dengan semangat yang sebelumnya tidak pernah ia tunjukkan saat masih duduk di singgasana awan.
Zhang Tian berjalan melewati mereka sambil membawa dua keranjang penuh pakan ayam. Ia sempat memberikan hormat kecil kepada Zhou Ji Ran yang sedang bersantai. "Tuan Zhou, ayam-ayam kita sudah bertelur lagi. Sepertinya mereka sangat produktif hari ini. Saya rasa kita bisa memasok telur-telur ini ke restoran Chen Long untuk menu barunya."
"Lakukan saja, Zhang Tian. Dan pastikan ayam jantan yang berwarna merah itu tidak terlalu banyak berkokok, dia mengganggu tidur siang Gu Lao," sahut Zhou Ji Ran tanpa membuka matanya.
Namun, di tengah-tengah rutinitas yang damai dan sedikit konyol itu, Zhou Ji Ran merasakan ada sesuatu yang mendekat dari arah perbatasan dimensi barat. Bukan satu, bukan dua, melainkan ratusan aura yang sangat tajam dan dipenuhi dengan niat haus darah yang tersembunyi di balik tabir kesucian. Ini bukan lagi sekadar utusan atau tetua sekte tunggal. Ini adalah "Pasukan Penjaga Surga" yang dikirim langsung oleh Aliansi Besar untuk melakukan penyelidikan total atas hilangnya para elit mereka.
Zhou Ji Ran membuka satu matanya, menatap ke arah langit barat yang mulai menunjukkan gumpalan awan berwarna putih keperakan yang bergerak melawan arah angin. "Sigh... mereka benar-benar gigih. Tidakkah mereka mengerti bahwa biaya transportasi antar dimensi itu mahal? Kenapa mereka suka sekali membuang-buang sumber daya hanya untuk datang dan berakhir menjadi buruh di ladangku?"
Gu Lao, yang sedang duduk di kursi goyangnya di samping Zhou Ji Ran, mengeluarkan tawa serak. "Ji Ran, kau tahu alasannya. Bagi mereka, kehilangan Sembilan Tetua Awan dan seorang Penegak Hukum adalah tamparan keras bagi wajah otoritas mereka. Jika mereka tidak bisa menundukkan desa kecil ini, maka seluruh sistem kekuasaan mereka di Dunia Atas akan runtuh karena tidak ada lagi yang takut pada mereka."
"Otoritas... kata-kata yang sangat berat untuk sesuatu yang begitu rapuh," ucap Zhou Ji Ran. Ia berdiri perlahan, merenggangkan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku. "Ye Hua! Berhenti mengelap jendela. Bersiaplah untuk menyambut rombongan baru. Sepertinya kita akan memiliki banyak tenaga kerja untuk pembangunan jembatan kayu di atas sungai."
Ye Hua segera meletakkan kain lapnya. Wajahnya yang cantik seketika berubah menjadi sangat dingin dan auranya menjadi setajam pedang abadi. "Siap, Tuan. Apakah kali ini saya diperbolehkan menggunakan pedang asli?"
"Jangan dulu. Gunakan saja sapu lidimu. Jika mereka sudah mulai merusak tanaman, baru kau boleh mengeluarkan sedikit kekuatanmu. Tapi ingat, jangan ada darah di halaman kedai teh, itu akan merusak selera makan tamu-tamu desa," pesan Zhou Ji Ran.
Hanya berselang beberapa menit, langit di atas Desa Jinan terbelah membentuk lubang raksasa yang memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Ratusan kapal terbang kecil yang berbentuk seperti sayap malaikat muncul dari lubang tersebut, meluncur turun dengan formasi tempur yang sangat disiplin. Di tengah-tengah formasi tersebut, terdapat sebuah kapal induk raksasa yang terbuat dari gading suci dan emas murni.
Di anjungan kapal induk itu, berdiri seorang pria muda dengan rambut hitam panjang yang diikat dengan pita sutra berwarna ungu. Ia mengenakan zirah ringan yang terbuat dari sisik naga putih dan membawa sebuah tombak yang ujungnya memancarkan cahaya matahari. Namanya adalah Lu Xing, Sang Jenderal Cahaya dari Aliansi Besar, salah satu dari tiga jenderal terkuat di Dunia Atas yang kekuatannya sudah mencapai tahap Nirvana tingkat puncak, hampir menyentuh keabadian.
"Zhou Ji Ran! Atas perintah dari Dewan Tertinggi Aliansi Besar, kau dinyatakan sebagai pelaku penculikan terhadap para pemimpin suci! Serahkan dirimu sekarang dan bebaskan semua tawanan, atau kami akan mengubah tempat ini menjadi debu bintang!" suara Lu Xing menggelegar, gelombang suaranya menciptakan riak besar di air Telaga Teratai.
Ao Kun menyembulkan kepalanya dari air, mengeluarkan geraman rendah yang sangat kesal. "Tuan Zhou, apakah saya boleh memakan salah satu kapal mereka? Mereka sangat berisik dan mengganggu meditasi teratai saya."
"Jangan, Ao Kun. Kapal-kapal itu terbuat dari bahan yang sulit dicerna. Kita butuh bahan bangunan, bukan sampah perut," jawab Zhou Ji Ran dengan suara yang tenang namun terdengar jelas hingga ke atas kapal induk Lu Xing.
Lu Xing menatap ke bawah dan terkejut melihat sosok Sembilan Tetua Awan yang sedang memegang sapu lidi di depan gerbang. "Tetua Agung?! Apa yang Anda lakukan?! Kenapa Anda... menyapu tanah?!"
Tetua Agung mendongak, wajahnya menunjukkan ekspresi pasrah yang bijak. "Jenderal Lu Xing, saya sarankan Anda untuk mendarat dengan tenang dan meminta maaf. Menyapu tanah di sini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada duduk di atas tahta gading. Jika Anda tetap keras kepala, Anda hanya akan berakhir sebagai pemotong kayu bakar di belakang rumah ini."
"Apa?! Anda pasti sudah dicuci otaknya oleh si petani ini!" Lu Xing meradang. Ia mengangkat tombak cahayanya tinggi-alih ke arah Zhou Ji Ran. "Seluruh pasukan! Aktifkan Formasi Pembersihan Surga! Musnahkan desa ini!"
Ratusan kapal terbang itu mulai memancarkan cahaya suci yang saling terhubung, membentuk sebuah jaring energi raksasa di langit yang mulai menekan atmosfer desa. Suhu udara naik drastis, dan tanah di luar batas desa mulai retak karena tekanan yang luar biasa.
Namun, di dalam batas Desa Jinan, tidak ada satu pun daun yang bergerak. Keberadaan Zhou Ji Ran di sana seolah-olah menciptakan sebuah kubah absolut yang tidak bisa ditembus oleh hukum energi mana pun.
Zhou Ji Ran menghela napas panjang. Ia berjalan menuju tengah halaman, mengambil sebuah gayung kayu tua yang berisi sisa air cucian piring dari dapur. "Kalian benar-benar tidak kreatif. Selalu saja menggunakan cahaya dan energi yang menyilaukan. Tidakkah kalian tahu bahwa mata manusia itu butuh istirahat?"
Zhou Ji Ran melakukan satu gerakan yang sangat sederhana: ia menyiramkan sisa air cucian piring itu ke udara ke arah formasi kapal di langit.
Air yang seharusnya hanya beberapa liter itu tiba-tiba membesar secara ajaib saat meninggalkan gayung. Air itu berubah menjadi air terjun raksasa yang terbuat dari energi murni yang sangat pekat, namun memiliki sifat yang sangat "lengket". Air terjun itu menghantam jaring energi Formasi Pembersihan Surga, dan bukannya meledak, air itu justru menempel pada setiap kapal terbang seolah-olah itu adalah lumpur yang sangat berat.
"Apa?! Energi suci kami... terikat oleh air cucian?!" Lu Xing berteriak tidak percaya saat ia merasakan kapal induknya mulai miring dan ditarik jatuh menuju bumi.
Dalam hitungan detik, seluruh kapal terbang milik Pasukan Penjaga Surga jatuh dari langit. Mereka tidak hancur lebur; mereka mendarat dengan suara gedebuk yang keras di atas area rawa-rawa yang baru saja dibuka di sebelah timur desa. Ratusan prajurit berbaju zirah emas itu merangkak keluar dari puing-puing kapal mereka dengan wajah yang penuh dengan sisa lemak makanan dan aroma bawang putih dari air cucian tadi.
Zhou Ji Ran berjalan mendekati tepian rawa, menyeret gayung kayunya. "Selamat datang di Desa Jinan. Karena kalian datang dengan jumlah yang sangat banyak, kebetulan sekali saya sedang merencanakan pembangunan jembatan kayu dan jalur irigasi baru sepanjang lima kilometer menuju ke desa tetangga. Kalian tampak memiliki otot yang bagus, kurasa memindahkan balok kayu dan menggali tanah akan menjadi latihan fisik yang bagus untuk kalian."
Lu Xing mencoba berdiri, tombaknya masih bergetar dengan cahaya redup. "Aku adalah Jenderal Lu Xing! Aku lebih baik mati daripada menjadi buruh tani!"
Zhou Ji Ran menjentikkan jarinya ke arah Lu Xing. Seketika, zirah sisik naga putih milik sang jenderal pecah berkeping-keping dan berubah menjadi baju rami kasar berwarna cokelat. Tombak cahayanya menyusut dan berubah menjadi sebuah linggis besi yang sangat berat.
"Kematian adalah pemborosan sumber daya, Lu Xing. Di sini, kita menghargai kehidupan. Sekarang, ambillah linggis itu dan mulailah menggali di titik yang sudah ditandai oleh Zhang Tian. Jika kau bisa menggali satu kilometer hari ini, kau akan mendapatkan jatah sup iga naga buatan Chen Long," ucap Zhou Ji Ran dengan senyum tipis.
Lu Xing merasa seluruh kekuatannya tersegel oleh hukum yang tidak bisa ia pahami. Ia menatap linggis di tangannya, lalu menatap ke arah ratusan anak buahnya yang kini sudah mulai bekerja di bawah pengawasan Jenderal Han yang sedang tertawa lebar.
"Pekerjaan yang bagus, Tuan Zhou! Saya butuh lebih banyak orang untuk bagian penggalian ini!" seru Jenderal Han dari kejauhan.
Sore harinya, pemandangan di timur Desa Jinan menjadi sangat sibuk. Ratusan mantan prajurit elit surga terlihat sedang bahu-membahu memindahkan balok kayu besar dan menggali tanah. Jenderal Lu Xing, dengan wajah yang penuh lumpur, sedang berjuang menggunakan linggisnya untuk menghancurkan batu raksasa yang menghalangi jalur irigasi. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: setiap kali ia bekerja keras, ada aliran energi murni yang mengalir masuk ke tubuhnya, memperbaiki kelemahan dalam kultivasinya yang selama ini ia abaikan.
Di Kedai Teh Kedamaian, Zhou Ji Ran kembali duduk santai di terasnya. Ye Hua sedang melayani beberapa penduduk desa yang datang untuk meminum teh sore. Kedamaian telah kembali, namun dengan penambahan tenaga kerja yang sangat signifikan.
"Tuan," Ye Hua mendekati Zhou Ji Ran sambil membawa nampan kosong. "Sepertinya kabar tentang tempat ini akan semakin menyebar. Apakah Tuan benar-benar tidak keberatan jika seluruh Dunia Atas akhirnya datang ke sini?"
"Biarkan saja mereka datang, Ye Hua. Semakin banyak yang datang, semakin cepat kita bisa membangun desa ini menjadi sebuah surga yang mandiri. Lagipula, aku masih butuh banyak orang untuk proyek perkebunan anggur di lereng barat bulan depan," jawab Zhou Ji Ran sambil memejamkan matanya, menikmati hembusan angin sore.
Gu Lao mengangguk setuju. "Ji Ran, kau sedang membangun sebuah kekuatan yang tidak didasarkan pada penindasan, melainkan pada kebutuhan. Dan itu adalah fondasi yang paling kuat di seluruh multisemesta."
Namun, di tengah suasana yang tenang itu, seorang pria muda dengan pakaian yang sangat modern dan membawa sebuah alat aneh berbentuk kotak hitam kecil berjalan mendekati kedai teh. Ia tampak sangat asing bagi dunia ini, namun ia tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Namanya adalah Yan Fei, seorang "Pengumpul Data" dari dimensi yang jauh lebih maju secara teknologi yang telah lama memantau pergerakan anomali Zhou Ji Ran.
Yan Fei berhenti di depan teras, mengarahkan kotak hitam kecilnya ke arah Zhou Ji Ran. "Subjek 001, Zhou Ji Ran. Terdeteksi adanya aktivitas manipulasi energi tingkat tinggi tanpa melalui gerbang otorisasi sistem. Anda diminta untuk memberikan penjelasan atas penghancuran sistem penguasa multisemesta sepuluh tahun yang lalu."
Zhou Ji Ran membuka matanya, menatap pemuda itu dengan pandangan bosan. "Lagi? Apakah kalian tidak punya hobi lain selain meminta penjelasan? Dan apa itu kotak hitam yang kau pegang? Apakah itu bisa digunakan untuk memotong rumput?"
Yan Fei tampak sedikit bingung dengan reaksi Zhou Ji Ran. "Ini adalah detektor energi partikel sub-atom. Ia bisa mengukur tingkat kehancuran yang bisa Anda timbulkan."
"Lupakan soal kehancuran. Kotak itu sepertinya memiliki frekuensi getaran yang bagus untuk mengusir ulat bulu dari tanaman sawi. Jika kau ingin tinggal, letakkan kotak itu di kebun sayurku dan kau bisa mulai belajar cara menyeduh teh yang benar di bawah bimbingan Ye Hua," perintah Zhou Ji Ran.
"Tapi saya datang untuk tugas penyelidikan—"
"Tugasmu sekarang adalah menjadi asisten pelayan di kedai ini. Kita sedang kekurangan orang untuk mencatat pesanan di meja luar karena Lu Han sibuk dengan logistik jembatan baru," potong Zhou Ji Ran.
Yan Fei merasa ada sebuah kekuatan yang menariknya ke arah konter teh. Tanpa ia sadari, ia sudah mengenakan celemek dan memegang nampan kayu. Sistem deteksinya seketika mengalami kegagalan total dan menampilkan pesan: **"Kesalahan Logika: Subjek telah mendefinisikan ulang realitas Anda."**
"Selamat datang di tim pelayanan, Yan Fei. Senyum adalah kunci utama di sini," ucap Ye Hua dengan nada yang sedikit sarkastik namun tetap ramah.
Malam mulai turun, menyelimuti Desa Jinan dengan kedamaian yang mendalam. Di tepi sungai, api unggun besar dinyalakan untuk para pekerja jembatan. Aroma masakan Chen Long menyebar ke seluruh penjuru, memberikan rasa syukur yang murni bagi mereka yang lelah bekerja seharian. Zhou Ji Ran berdiri di bawah Pohon Memori, menatap ke arah langit yang bertabur bintang. Ia merasa bahwa perjalanannya tanpa instruksi ini adalah sebuah mahakarya yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Satu hari lagi, satu kehidupan lagi," bisiknya.
Ia tahu bahwa besok pagi akan ada lebih banyak tantangan, mungkin lebih banyak tamu yang tidak diundang, dan mungkin lebih banyak ulat yang mencoba memakan sawinya. Namun selama ia memiliki tanah di bawah kakinya dan orang-orang ini di sisinya, ia tidak akan pernah merasa bosan. Karena di Desa Jinan, setiap detik adalah nyata, setiap peluh adalah doa, dan setiap panen adalah bukti bahwa kedamaian sejati adalah kekuatan yang paling tidak terkalahkan di seluruh alam semesta.
"Tuan Zhou, apakah Anda ingin mencoba teh teratai salju hasil seduhan pertama saya?" tanya Bai Ling yang baru saja keluar dari rumah.
"Tentu saja, Bai Ling. Mari kita lihat apakah kau sudah belajar cara mengukur suhu air dengan benar," jawab Zhou Ji Ran dengan senyum hangat.
Dan di bawah sinar rembulan, Desa Jinan terus bersinar, sebuah mercusuar kedamaian di tengah dunia yang penuh dengan badai ambisi. Kehidupan sang mantan pemilik sistem baru saja melewati satu lagi fase penting, dan ia sangat siap untuk menyambut hari esok dengan cangkul di tangan dan ketenangan di hati. Semuanya berjalan dengan lambat, indah, dan sempurna.