Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Takdir??
Hari demi hari berlalu, aku terus tumbuh dengan pola pikir yang berbeda, kebanyakan orang pasti masa kecilnya bermain sana sini, tapi berbeda dengan Gua, Gua salah satu anak yang terbilang tumbuh dengan tangga yang terlalu maju, namun tetap dengan prinsip yang Gua lakukan yaitu harus dalam bayangan nggak boleh sampai ada yang tau namun nggak boleh lalai jadi Gua bertekat untuk tidak termakan yang namanya kenikmatan sesaat.
Di 3 tahun Gua mau lahap semua buku bahkan buku-buku yang pernah Gua baca Gua libas habis, dan bodohnya Gua baru tau kalo ada perpustakaan yang tak jauh dari rumah, nggak semua sih karna saat ini buku tersebut belom muncul, mungkin sekitar umur Gua 15 tahun itu muncul tahun 2018 san, saat asik-asiknya membaca, ada penjaga perpustakaan yang melihatku dengan senyum ramah.
Dengan tersenyum dia berkata, "nak lana udah selesai liat-liatnya?" ucapnya dengan nada ramah ia tau Gua cuma meliat-liat buku, Gua kira dia bakal tau kalo Gua bisa baca untungnya enggak.
Gua hanya cengir tak berdosa lalu berkata "belum bibi Alin, lana masih mau liat-liat lagi"ucap Gua pura pura melihat cover buku sambil sesekali menyisipkan di tempat yang Gua tandai agar mudah di kenali kalo Gua kesini lagi, sejauh ini cuma,Bibi Alina saja, oh ya bibi Alina ini adalah seorang wanita paru baya yang terkenal dengan wawasannya yang luas, ia cukup sama seperti Gua Tegas dan penuh perhitungan kalo lagi di situasi genting, Gua cukup dekat dengannya karna Gua memanfaatkan kelemahannya yaitu pelupa, pas pertama kali kesini ia lupa menaruh bukunya berjudul "Black Swan" gila bibi satu ini udah baca buku ini mana versi bahasa inggris, buku itu tak jauh dari tempat Gua biasa menaruh buku selipan, Gua memanfaatkan situasi tersebut dan sepakat Bibi Alin tidak memberitahunya ke Ibu.
Ia melihat Gua mengacak-acak buku perpustakaan yang nggak terlalu besar ini, bukanya marah ia justru senang sebab tempat ini sangat jarang anak kecil berkunjung, apa lagi membaca buku, ada sih mahasiswa yang tengah mencari referensi buat skripsi mereka, anak kecil seperti Gua ini termasuk langka, setelah selesai menandai beberapa buku yang mau Gua mau libas, Gua pamit ke bibi Alin untuk pulang, Ia selalu mengucapkan "datang kembali ya lana kecil" dan selalu memberiku permen sebagai bentuk semangat, tentu aku menerimanya dengan senang hati.
Gua pulang dengan riang kerumah, tentu mereka tidak tau kalo Gua selalu ke perpustakaan setiap siang, mereka taunya Gua bermain dengan anak-anak sekitar komplek, ini bentuk kebohongan pertama yang Gua lakukan demi menutupi ketidak normalan yang Gua lakukan, tepat saat Gua pulang kak Liam, kak Kaylo, dan kak Viera, namun aku melihat keanehan pada kak Viera seperti orang berbeda, mungkin cuma perasaan Gua saja. Gua berlalu ke kamar dan ternyata Ibu lagi sibuk membersihkan rumah yang merupakan tugas dari seorang istri.
setelah Ibu selesai Ia melihat Gua dan tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Gua lalu berkata "Bunda mau pergi dulu ya mau beli bahan buat makan siang kita nanti"ucapnya aku dengan semangat menjawab "Bunda bial lana aja"ucap Gua dengan mata yang memancarkan kepercayaan, tanpa basa basi Gua kemudian pamit buat beli barang kebutuhan racikan masakan, saat itu Gua sedang melihat daftar belanja yang Bunda tulis di kertas, di area jualan sayuran pasar palimo, tempat Gua biasa beli bahan baku masak Gua melihat seorang anak kecil yang tengah nangis mencari orang tuanya, awalnya Gua tidak mau ikut campur tapi karena nggak tega, Gua mendekat dan terjadi interaksi pertama Gua dalam kehidupan kedua ini, Yura, ya .... nama panjangnya Yura Talita, bocah umur yang sama seperti ku, anak dari pak Dedy Mulyadi dan Hasnah iswandari, ibuku berteman dekat dengan istri dari pak Dedy, mereka berteman sejak SMK, Gua kaget denger berita mengejutkan ini, di kehidupan Gua sebelumnya hal seperti ini tidak ku ketahui, mungkin ini karna biasnya kehadiran ku, Aku mengantarnya pulang ia tersenyum, namu Gua merasa aneh dengan senyumnya itu.
Sejak saat itu aku sering bermain dengan gadis aneh ini yang tempat tinggalnya hanya beberapa meter dari rumah Gua, saat Gua keluar, terlihat gadis manis, dengan mata indahnya yaitu violet, walau mataku termasuk paling langka yaitu light blue tapi ini pertama kalinya Gua melihat secara langsung mata violet ini, jujur ... ini membuat Gua bersyukur, Yura berlari kecil kearah Gua lalu menggenggam erat jari jemari tangan kanan Gua, tanpa basa basi ia berpamit kepada ibuku, seakan ia meminjam diriku sebentar, Gua cuma pasrah di bawa entah kemana olehnya,
pasang mata menatap kami, karna kami termasuk anak yang berbeda dengan anak-anak yang lain, itu disebabkan warna mata kami, di teras depan rumah terlihat anak laki-laki yang nampak sedang membantu ayahnya mencuci kendaraan roda empat milik keluarga, mata laki-laki tersebut terpaku pada mata biru milik Gua, terlihat binar ketertarikan hingga tidak fokus dengan apa yang tengah dia lakukan, sehingga menyebabkan ia terpeleset dan terjatuh menginjak kain yang terkena busa sabun cuci.
***
Yura mendengar suara gaduh dari arah belakang sudut kiri, ia melihat seorang anak laki-laki tengah meringis menahan sakit, mata hitam pekat laki-laki itu tengah menggerutu tidak jelas, entah apa yang di katakan anak laki-laki itu, Yura sontak berlari kecil dan mendekat, terlihat lutut laki-laki tersebut mengeluarkan darah, luka gores akibat jerjatuh tadi., Yura berkata
"Alvin kamu nggak papa kan, OMM TEJOO ALVIN JATUH!"ucap Yura mencemaskan anak laki-laki tersebut yang bernama Alvin Rendra, anak dari Teijo Rendra dan Melati sari Rendra, mendengar suara nyaring khas anak perempuan, Teijo langsung menuju tempat sumber suara.
Ini teman Yura, Gua juga baru tau setelah ia mengajak Gua bertemu dengan teman barunya, Yura ini emang hebat kalo soal berteman hampir semua anak di komplek pasti teman dia, Alvin ini Gua sempat pernah ketemu saat malam hari ibu menyuruh Gua menjemput kak Kaylo di belakang rumah, tak sengaja Gua melihat anak laki-laki tampak mau menangis ini cukup mengejutkan Gua dengan sifat Alvin yang sangar, ya seperti biasa Gua mengantarnya pulang yang ternyata tak jauh dari rumah Gua, alias tetanggaan, dari cerita yang Gua dengan dari Alvin ia sempat mau menyusul Ayahnya berniat membantu namun ia sendiri tersasar, okeh lanjut ke cerita.
langkah kaki berat mendekat dan alangkah terkejutnya Teijo melihat putra sulungnya ini terluka di lutut kanannya terlihat luka tersebut masih baru, ia tanpa basa basi langsung mengambil kotak P3K yang tak jauh dari garasi rumahnya, sembari menunggu Yura memulai pembicaraan
"kamu kenapa bisa terjatuh Vin?"
"oh tadi nggak sengaja injek ini"
"hah kok bisa? kamu ceroboh sekali sih alvin hahaha"
"aku nggak ceroboh, aku bener bener nggak liat kalau ada ini"
diskusi mereka belangsung sengit terlihat Alvin tidak mau mengakui kelalaian nya, dan Yura masih kekeh memojokan Alvin, Qirana hanya menatap mereka berdua jengah, Alvin merupakan teman dekat Yura, ia mengenal Alvin karna Yura sering sekali mengajak nya untuk bermain bersama, awalnya Qirana menolak, namun lama kelamaan ia menerima, yang membuat Qirana tidak nyaman adalah tatapan Alvin terhadapnya seolah tersirat sesuatu,
tak lama setelah itu Teijo datang dengan kotak P3K di tangan kanannya, ia mengobati Alvin dengan cekatan karna Teijo adalah seorang dokter yang handal,
"Lain kali hati-hati, kamu yang luka bapak yang habis nanti sama ibu kamu"ucap Teijo dengan menghela nafas pasrah, ia pasti di marahi habis-habisan oleh istrinya, Alvin menunduk kemudian berkata
"maaf pa ... Alvin tadi ceroboh"ucapnya, Teijo tersenyum ia senang putranya mengakui kesalahannya, ia mengelus puncak kepala anaknya lalu berkata
"udah cukup hari ini bantuin papa cuci mobilnya, kamu main sana saja sama Yura dan Qirana"ucapnya kemudian melanjutkan cucian mobilnya yang belum selesai, Alvin mendengar hal tersebut tersenyum senang akhirnya ia bisa bermain bersama Yura dan Qirana, sebenarnya yang membuat ia semangat adalah Qirana, memang bocah satu ini agak laen.
mendengar hal itu Yura bersorak 'Horeyy' membuat tawa kecil Teijo terbebas, ia kemudian menatap ketiganya lalu berkata
"kalian bertiga main aja disini... di belakang, kolam berenangnnya sudah om bersihin"ucap Teijo, mendengar kata itu bertambah senangnya Yura, ia kemudian berlari tanpa memperdulikan Qirana dan Alvin ia terus melaju ke arah belakang tempat kolam berenang itu berada, Qirana terkekeh melihat teman kecilnya itu, kekehannya tak lepas dari mata Alvin, jantungnya berdebar melihatnya, emang bocah ini agak aneh,
Qirana menoleh ke arah Teijo berniat mau membaca bukunya secara diam-diam namun sebelum Gua bergerak, tangan Gua sudah di tarik oleh Alvin, perlahan menyusul Yura berada, Gua cuma bisa pasrah mengikuti kemana Alvin menarik Gua, meskipun dalam hatinya sangat kesal, namun Gua berusaha menahannya agar tidak marah.
Sesampai di kolam berenang, terlihat Yura berenang kesana kesini, seperti setrika berjalan, Alvin menyusul Yura berenang, Gua hanya duduk di dekat kolam berenang, sesekali kaki Gua berayun-ayun menciptakan sedikit percikan air, Yura melihat Gua bermain air, menyelan entah kemana, secara mengejutkan ada seseorang yang menarik kaki Gua dan belum sempat merespon Gua pun terlelap
WUAHH!
kepala Gua muncul setelah 15 detik terlelap di dalam air, Gua menatap Yura dengan tatapan tajam yang di balasnya dengan tersenyum tak berdosa, ia mengangkat tangan kanannya lalu jari-jarinya mengatup menyisakan dua jarinya, memberi salam perdamaian, namun hal tak membuat amara Gua mereda, dengan ayunan cepat Gua mengejar Yura berniat membalas, namun karna bakat Gua dalam berenang terlalu rendah tentu tidak dapat menggapai Yura, Alvin melihat hal tersebut tersenyum, tanpa sadar menatap Gua intens.
Tanpa Gua sadari Gua bermain hingga tak terasa sore hari berlalu, Qirana pulang dengan buku ditangannya berjudul "Berani tidak Disukai" Gua tertarik dengan judul buku tersebut, namun ia tidak lupa mengambil buku berjudul "Takdir" Tentu Gua mengambil buku tersebut diam diam di tempat yang sepertinya ingin di buang. Novel yang terlihat menarik, bukan karna judulnya namun ada sesuatu yang menarikku untuk mengambil buku tersebut.
***
Setelah Gua pamit sama ibu, Gua melangkah kan kaki menuju kamar tanpa menoleh ke arah ayah sedikitpun, entah kenapa Gua keinget momen dimana ia menyatakan secara lantang jika ia berselingkuh, hal tersebut membuat Gua sangat terpukul, itu cukup membuat Gua sakit hati, kenapa ayah begitu tega bahkan ia tidak memikirkan masa depan anaknya.
sesampai Gua di kamar... Gua merebahkan diri tak lupa menaruh kedua buku tersebut di meja dekat kasur, tak lama setelah itu Gua beranjak dari kasur kemudian membuka buku berjudul "Berani Tidak Disukai" lalu membukanya, ternyata buku ini berisi dialog Filsuf dan Pemuda, buku ini tidak jauh seperti buku yang dulu pernah Gua baca,
"Pembagian tugas?? ini sama seperti Trikotomi kendali, tapi yang Gua masih kurang faham ini terkait teori Pisikologi Adler, itu belum Gua pelajari, Gua mesti tau dulu apa itu pisikologi Adler, baru lanjut baca buku ini"Monolog Gua, tanpa Gua sadari dua pasang mata menatapku, itu kedua kakak laki-laki ku.
Gua masih fokus terhadap buku itu, tanpa menghiraukan kedua kakak laki-lakiku yang sibuk mengamati apa yang Gua lakukan, setelah membaca buku itu, mataku tak sengaja melihat mereka, ketika tatapan mata kami bertemu, Gua buru-buru memalingkan muka kemudian melanjutkan mengambil buku novel berjudul "Takdir" saat aku membuka buku tersebut, terlihat tulisan rumit yang bahkan aku tak mengerti
"buset buku apaan ini! dan apa tulisan ini? apa ini aksara?"Monolog Gua dalam hati, ketika tangan Gua menyentuh tulisan rumit tersebut, tulisan itu bersinar, lalu masuk dalam pikiran Gua, seketika Gua terjatuh tak sadarkan diri.
***
Di alam bawah sadar
Mata Gua terbuka, yang Gua lihat cuma pemandangan hamparan putih tak terhingga, saat mata Gua membuka sempurna, Gua terperanjat kaget, menatap kesana kemari melihat dimana Gua saat ini, saat tengah asik mengamati sekitar, Gua di kagetkan dengan suara yang memanggil, saat Gua menoleh ke sumber suara terlihat, seseorang dengan figur tubuh dan wajah mirip sekali dengan diriku,
"Siapa?"kata tersebut terucap tanpa Gua sadari, dia tidak merespon namun dia hanya tersenyum lalu berkata tanpa memberi Gua waktu untuk menjawab
"Takdir... Takdir menunggu mu, setiap ukiran yang kau bangun akan menghasilkan sesuatu yang menentukan masa depan, kau tak perlu bertanya, ruangan ini berisi imajinasi, karna kau tidak memikirkan hal lain maka ruangan ini hanya menampilkan warna putih"
"Qirana Valeryne Azzahra... Takdir sekarang ada di tangan mu, setiap pilihan yang kau buat akan mempengaruhi masa depan mu, mungkin hanya sampai sini pertemuan kita, aku menunggu mu di tempat yang jauh" ucapnya lalu tanpa memberi Gua kesempatan untuk bertanya, seketika diriku tersedot ke dalam kehampaan tak berujung, perlahan mataku tertutup, kemudian terdengar sayup-sayup suara isak tangis.
Saat mataku terbuka terlihat Ibu dan ketiga Kakak ku tengah menangis, tanpa memberikan Gua sedikit waktu untuk menjelaskan, mereka semua memeluku bersamaan, terutama kakak kedua ku, entah kenapa ia sangat begitu protektif terhadapku.
ibu menenangkan ekspresinya, lalu mengusap air mata di sela sela mata dengan jari telunjuk kanannya, kemudian berkata
"Syukurlah kamu bangun sayang... bunda khawatir... lain kali kalau ada sesuatu bilang ke bunda ya... jangan di pendam sendiri..."ucapnya dengan suara lirih, hal tersebut membuat Gua tak kuasa menahan tangis, mungkin ini adalah tangis pertamaku di dunia baru ini, ibu memeluk Gua, menenangkan Gua yang tengah menangis,
***
tanpa disadari tangan kiri Qirana bersinar, terlihat tato simbol aksara di jari-jari tangannya bersinar, nantikan bab selanjutnya ya bai bai