Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.
Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.
Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.
Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pembuktian Sang Hantu
Malam terakhir di Warnet Abadi terasa sangat sunyi bagi Reno. Setelah shift malamnya berakhir, ia tidak langsung pulang. Ia duduk di kursi PC nomor 42, menatap layar monitor yang sudah mati. Selama bertahun-tahun, tempat ini adalah dunianya. Di sini, ia bukan hanya seorang penjaga warnet yang dibayar murah; di sini, ia adalah penguasa udara digital. Namun sekarang, saatnya ia membawa "Satu Ketukan" miliknya ke panggung yang jauh lebih besar.
Pukul sepuluh pagi tajam, Reno sudah berdiri di depan markas *Black Viper*. Penampilannya masih sama—sederhana dan apa adanya—namun tatapan matanya jauh lebih tajam. Ia tidak lagi merasa terintimidasi oleh kemewahan gedung itu. Ia datang untuk satu tujuan: membuktikan bahwa seorang anak warnet bisa mengguncang dunia "Showbiz" e-sport.
"Sudah siap, Reno?" Ardi menyambutnya di lobi utama. Pria berkacamata itu tampak antusias, seolah ia sudah tidak sabar melihat kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh "Anak Genius" di depannya ini.
Reno mengangguk mantap. Ardi membawanya ke sebuah arena latihan yang sangat luas. Di tengah ruangan, terdapat sepuluh set PC yang disusun berhadapan, menyerupai panggung turnamen besar. Lima orang pemuda dengan jersey resmi berwarna abu-abu sudah duduk di satu sisi. Mereka adalah tim cadangan utama *Black Viper*, pemain-pemain yang sudah sering mencicipi panasnya kompetisi nasional.
"Reno, kamu akan memimpin tim dari akademi," Ardi menjelaskan sambil menunjuk empat remaja lain yang tampak sangat tegang. "Lawanmu adalah tim cadangan utama. Mereka punya koordinasi yang solid. Ini bukan lagi soal latihan menembak, ini adalah perang strategi."
Reno duduk di kursinya. Begitu ia memasang *headset*, suara bising di sekitarnya menghilang. Ia masuk ke dalam zona fokus total. Di layar monitor, permainan *Final Zone* sudah dimulai. Peta yang digunakan adalah Neo-Jakarta, sebuah peta urban yang penuh dengan gang sempit, gedung tinggi, dan banyak sudut tersembunyi yang berbahaya.
"Siapa bocah ini?" bisik *Fierce*, kapten tim cadangan lawan melalui *voice chat* timnya. "Ardi bilang dia calon kapten baru? Yang benar saja. Ayo kita buat dia menyesal sudah datang ke sini."
Ronde pertama dimulai. Sebagai pemain baru, Reno mengambil peran sebagai *Entry Fragger*—ujung tombak yang bertugas membuka jalan. Namun, alih-alih membeli senapan serbu seperti pemain lainnya, Reno justru hanya membeli sebuah pistol *Desert Eagle*.
"Reno! Kenapa pakai pistol? Kita butuh daya tembak besar di ronde awal!" seru salah satu rekan setimnya dengan nada panik.
"Percaya saja padaku," jawab Reno singkat. Suaranya tenang, tanpa keraguan sedikit pun.
Begitu ronde dimulai, Reno berlari dengan kecepatan penuh menuju area tengah, sebuah koridor sempit yang menjadi kunci penguasaan peta. Dua pemain lawan sudah menunggu di sana dengan senapan otomatis. Mereka tertawa saat melihat Reno hanya memegang pistol.
Klik.
Satu peluru keluar dari laras pistol Reno. Kepala pemain pertama meledak dalam hitungan milidetik. Sebelum pemain kedua sempat menarik pelatuk, Reno sudah melakukan gerakan *flick* yang sangat cepat—sebuah sentakan tangan yang hampir tidak tertangkap mata.
Klik.
Dua musuh tumbang seketika. "Area tengah bersih. Maju sekarang," perintah Reno.
Ardi yang melihat dari layar pemantau menahan napas. Ia melihat data statistik Reno secara *real-time*. Kecepatan reaksinya tetap stabil di bawah 140 milidetik, dan setiap tembakannya mendarat tepat di titik tengah helm lawan. Ini bukan lagi sekadar keberuntungan; ini adalah dominasi teknis yang mutlak.
Pertandingan berlanjut hingga ronde kesepuluh, dan suasana di ruangan itu mulai berubah mencekam. Tim cadangan yang awalnya penuh kesombongan kini tampak frustrasi. Wajah *Fierce* memerah, tangannya gemetar saat memegang mouse. Mereka telah mencoba segala cara—menggunakan bom asap, melakukan serangan mendadak dari belakang, hingga mengepung Reno bertiga sekaligus—namun Reno selalu selangkah lebih maju.
Reno bergerak seperti hantu. Ia tahu kapan harus bersembunyi dan kapan harus muncul untuk memberikan satu ketukan mematikan. Skor sementara menunjukkan 10-0 untuk tim Reno. Reno sendiri sudah mengumpulkan 30 kill dengan angka kematian nol.
"Ini tidak mungkin... dia tahu posisi kita terus!" teriak salah satu pemain lawan. Mereka mulai curiga, namun Ardi ada di sana memantau setiap gerak-gerik tangan Reno. Tidak ada program ilegal, tidak ada kecurangan. Hanya ada bakat murni yang luar biasa.
Ronde penentuan tiba. Tim Reno terjebak dalam situasi sulit. Empat rekan setimnya sudah gugur setelah terkena jebakan lawan di area penjinakan bom. Reno terkepung sendirian melawan lima pemain lawan yang masih utuh.
"Habisi dia! Jangan kasih napas!" perintah *Fierce* dengan penuh amarah.
Seluruh penonton di ruangan itu berdiri. Di atas kertas, situasi satu lawan lima adalah misi mustahil, apalagi melawan pemain setingkat tim cadangan pro. Namun, Reno tidak panik. Ia mengatur napasnya, mendengarkan suara langkah kaki yang sangat halus melalui *headset*-nya.
Ia melompat keluar dari balik pilar, melakukan putaran 360 derajat di udara sambil menembak.
Klik! Klik! Klik!
Tiga orang jatuh dalam hitungan detik. Dua sisanya mencoba menembak dari arah yang berbeda. Reno melakukan *sliding* ke bawah meja digital, lalu membalas dengan dua tembakan cepat yang tak kalah akurat.
Klik! Klik!
ACE!
Layar menampilkan kemenangan mutlak bagi tim Reno. Ruangan itu seketika sunyi senyap. Tidak ada yang berani berbicara sampai Ardi mulai bertepuk tangan dengan keras, diikuti oleh sorakan dari para pemain akademi yang merasa sangat bangga.
Reno melepaskan *headset*-nya. Ia melihat tangannya sendiri; ada sedikit keringat, tapi ia merasa sangat hidup. Emosi "Action" yang ia rasakan jauh lebih nyata daripada saat ia bermain di warnet.
Ardi berjalan mendekat ke arah Reno dengan senyum lebar. "Pembuktian yang luar biasa, Reno. Kamu bukan hanya punya tangan seorang dewa, tapi kamu punya mental seorang juara."
Ardi kemudian menoleh ke arah tim cadangan yang masih terduduk lesu. "Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh meremehkan dia. Reno bukan lagi sekadar tamu. Dia adalah masa depan Black Viper."
Reno berdiri, menatap rekan-rekan setim barunya dan para senior yang kini menatapnya dengan penuh rasa hormat sekaligus ketakutan. Ia tahu, langkah pertamanya di dunia "Showbiz" e-sport telah berhasil. Namun, ia juga tahu bahwa di luar sana, lawan yang lebih kuat dari seluruh penjuru dunia sudah menunggunya.
"Tujuanku bukan hanya menjadi kapten di sini," ucap Reno pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. "Tujuanku adalah membawa tim ini ke panggung dunia dan membuktikan bahwa satu ketukan sudah cukup untuk menguasai segalanya."
Malam itu, Reno tidak kembali ke Warnet Abadi. Ia melangkah menuju asrama tim, meninggalkan masa lalunya yang kelabu dan menyambut fajar baru sebagai sang "One Tap God" yang sesungguhnya.