NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KATA YANG TERUCAP TANPA SENGAJA

BAB 22 — KATA YANG TERUCAP TANPA SENGAJA

Pagi itu suasana di rumah terasa lebih tenang dan sunyi.

Namun itu hanya di permukaan saja.

Di dalam kepala Keisha, bayangan-bayangan kejadian semalam masih terus berputar-putar tanpa henti seperti film yang tak mau tamat.

Arsen duduk di lantai bermain Lego.

Arsen yang mencuci piring.

Arsen yang memotongkan daging ayam untuk Leo.

Dan kalimatnya yang membuat jantung berdebar: "Keluarga ini terlihat cocok."

Pria itu benar-benar sosok yang sangat berbahaya.

Bukan karena ancaman atau kekuasaannya.

Tapi karena caranya yang perlahan namun pasti masuk ke dalam kehidupan mereka berdua, seolah-olah memang sejak awal ia punya tempat dan hak yang sama di sana.

 

Di meja makan, Leo sedang sarapan sambil memainkan sendoknya seperti pesawat terbang yang mau lepas landas.

“Mama.”

“Hm? Kenapa, Sayang?”

“Om Arsen datang lagi nggak hari ini?”

“Nggak tahu deh. Omnya kan sibuk.”

“Kalau Leo telepon dia aja yuk?”

Keisha hampir tersedak teh hangat yang baru saja diminumnya.

“Kamu... punya nomor teleponnya?”

Leo mengangguk sangat bangga sambil menunjuk pergelangan tangannya sendiri.

“Iya dong! Om Arsen masukin nomornya di jam tangan pintar Leo kemarin!”

Keisha memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing.

Tentu saja. Pria itu memang sudah merencanakan segalanya.

 

Siang harinya, Keisha memutuskan membawa Leo ke taman kompleks agar pikirannya bisa sedikit lebih segar dan jauh dari bayangan pria itu.

Leo berlari kecil kegirangan membawa bola besarnya.

“Mama cepetan dong! Jalan lambat banget!”

“Iya-iya, tunggu Mama dulu dong...”

Di taman, beberapa ibu-ibu lain sedang duduk sambil menemani anak-anak mereka bermain. Mereka melirik Keisha dan Leo dengan ramah.

Semuanya terasa normal dan damai.

Hingga sebuah mobil hitam mewah berhenti pelan tepat di pinggir jalan taman.

Keisha bahkan tak perlu melihat logo mobil itu untuk tahu siapa pemiliknya.

“Ya Tuhan... kenapa dia ada di sini lagi...” gumamnya lemas.

Pintu mobil terbuka.

Arsen turun dengan gaya yang sangat mencolok. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi sampai siku, kacamata hitam menutupi matanya, dan aura kekayaan serta kekuasaan yang terlalu kuat untuk sebuah taman bermain keluarga biasa.

Beberapa ibu-ibu yang duduk di sana langsung berbisik-bisik dan melirik takjub.

Keisha rasanya ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga.

 

Leo yang melihat sosok itu langsung menjerit senang sekuat tenaga.

“OM SEREM!!!”

Anak itu berlari sekencang-kencangnya menuju arah Arsen, hampir saja menabrak kaki besar pria itu.

Arsen bereaksi sangat cepat. Ia langsung mengangkat tubuh mungil Leo tinggi-tinggi ke udara hanya dengan satu tangan saja dengan mudah.

“Pelan-pelan, Jagoan. Nanti jatuh.”

“Kamu datang beneran, Om!”

“Karena kamu panggil kan? Om dengar.”

Leo tertawa lepas dan bangga sekali.

Keisha yang berjalan mendekat langsung menatap Arsen tak percaya.

“Kamu benar-benar datang cuma karena dia telepon?”

Arsen menoleh santai sambil masih menggendong Leo.

“Aku sedang ada rapat penting tadi.”

“Kamu tinggalkan rapatmu cuma karena ini?”

“Aku memilih yang lebih penting,” jawabnya singkat, padat, dan menatap lurus ke mata Keisha.

Jantung Keisha kembali berdetak tidak karuan.

Ia sangat membenci efek yang ditimbulkan oleh kalimat-kalimat pria ini.

 

Arsen akhirnya duduk di bangku taman, sementara Leo kembali berlari bermain bola.

Pria itu duduk dengan santai namun tetap terlihat gagah dan mahal. Beberapa ibu-ibu di sana pura-pura melihat ke arah anaknya tapi matanya terus melirik ke arah Arsen.

Salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri mendekat ke Keisha yang duduk agak jauh.

“Bu... suaminya ganteng banget ya. Gaya juga keren,” bisiknya ramah.

Keisha hampir tersedak udara sendiri mendengarnya.

“Eh, bukan! Dia bukan suami saya, Bu!”

Ibu itu tertawa kecil dan tersipu malu.

“Aduh maaf-maaf... kirain mirip banget sama anaknya.”

Arsen yang duduk tidak jauh dari sana jelas mendengar percakapan itu. Sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyum puas yang sangat menyebalkan menurut Keisha.

 

Tiba-tiba Leo menendang bola terlalu keras, sehingga bola itu menggelinding jauh keluar area rumput dan menuju ke jalan kecil di pinggir taman.

Pada saat yang sama, sebuah sepeda melintas dengan kencang dari arah berlawanan.

“LEO!!! JANGAN! KEMBALI SINI!!!” teriak Keisha panik setengah mati, kakinya terasa kaku tak bisa bergerak.

Namun Arsen jauh lebih cepat.

Dalam sekejap mata, pria itu berlari menyambar, menarik tubuh kecil Leo ke belakang punggungnya dengan kuat, dan tangannya yang lain secara refleks menahan stang sepeda itu agar tidak menabrak anaknya.

Pengendara sepeda itu kaget, meminta maaf, lalu segera pergi meninggalkan tempat.

Leo terlihat kaget dan sedikit takut, matanya mulai berkaca-kaca.

Arsen langsung berjongkok di hadapannya, memeriksa seluruh tubuh anak itu.

“Kalau mau kejar bola, lihat jalan dulu ya bahaya. Jangan langsung lari.”

“Maaf, Om...”

“Tidak apa-apa. Kamu tidak apa-apa kan?”

Keisha datang berlari dengan napas memburu dan gemetar. Ia langsung memeluk Leo erat-erat seolah takut kehilangan.

Lalu, tanpa sadar, ia menatap Arsen dengan rasa syukur yang begitu besar yang tak sempat ia saring atau ia sembunyikan.

Arsen hanya menatapnya tenang dan berkata pelan,

“Aku pegang dia. Aman.”

Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam dan menenangkan, seakan berjanji bahwa selama dia ada, tidak akan ada yang menyakiti anak itu.

 

Setelah kejadian menegangkan itu, Leo menjadi semakin manja dan menempel terus pada Arsen seperti perangko.

Minta digendong.

Minta dibelikan es krim.

Minta didorong ayunan setinggi langit.

Dan Arsen... menuruti semua permintaan itu tanpa penolakan sedikit pun.

Keisha duduk di bangku taman sambil menyaksikan pemandangan yang rasanya tak masuk akal itu.

Pria yang ditakuti oleh banyak orang di dunia bisnis, pria yang dingin dan galak itu, kini sedang tersenyum sambil mendorong ayunan, bahkan disuruh-suruh oleh anak kecil berusia lima tahun.

 

Menjelang sore, saat mereka hendak pulang ke rumah, Leo berlari kecil sambil memegang es krim cokelatnya.

Tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon yang besar. Tubuh kecil itu hampir jatuh tersungkur ke tanah, namun tangan cepat Arsen kembali menangkapnya tepat pada waktunya.

Sayangnya, es krim di tangan Leo tumpah dan menempel banyak di dada kemeja putih mahal milik Arsen.

Leo langsung panik dan matanya terbelalak.

“OM! Maaf! Baju Om jadi kotor!”

Arsen menunduk menatap noda putih dan cokelat yang mengotori bajunya yang mahal itu.

Lalu ia menatap wajah ketakutan Leo.

“Masih hidup?” tanyanya datar.

Leo bingung lalu mengangguk. “Iya...”

“Berarti aman. Baju kotor bisa dicuci, kalau kamu jatuh yang bahaya.”

Mendengar jawaban itu, Leo langsung tertawa keras dan lega.

Keisha yang melihatnya tak kuasa menahan senyum tipis di bibirnya.

Arsen menangkap senyum itu.

Dan untuk sesaat, waktu seakan berhenti berputar. Dunia terasa hening dan indah.

 

Sesampainya di rumah, karena terlalu lelah bermain seharian, mata Leo sudah mulai berat dan mengantuk.

Arsen menggendong tubuh mungil itu menuju kamar tamu agar bisa tidur nyenyak. Kepala kecil itu sudah terkulai lemah di bahu lebar pria tersebut, napasnya sudah mulai teratur.

Keisha mengikuti dari belakang dengan langkah pelan.

Saat Arsen hendak meletakkan Leo di atas kasur kecil dengan sangat hati-hati, tiba-tiba mata anak itu terbuka sedikit saja, setengah sadar.

Tangan kecilnya meraih kerah baju Arsen, menggenggamnya erat.

Dan dengan suara yang sangat pelan, serak, dan polos karena mengantuk, Leo berbisik:

“Papa... jangan pulang.”

Brak.

Sesuatu seakan meledak di dalam dada mereka berdua.

Keisha berhenti bernapas total.

Arsen menegang kaku di tempatnya, seluruh otot tubuhnya terasa mati rasa mendengar kata itu.

Setelah mengucapkan kalimat itu, Leo kembali memejamkan mata dan tertidur pulas lagi, sepenuhnya tak sadar akan kekuatan kata yang baru saja ia ucapkan.

Kesunyian yang mencekam namun indah memenuhi seluruh ruangan kecil itu.

Arsen menatap wajah damai anak itu lama sekali, seakan ingin mengukir momen itu selamanya di ingatannya. Dengan sangat pelan dan lembut ia menyelimuti tubuh kecil itu sampai ke leher.

Keisha berdiri mematung di ambang pintu, jantungnya berdegup kacau balau, campuran antara kaget, cemas, dan haru.

Arsen berjalan keluar kamar perlahan, menutup pintu pelan-pelan.

Tatapan matanya saat ini benar-benar berbeda.

Lebih gelap.

Lebih lembut.

Dan jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

“Dia... dia salah sebut kok. Masih ngantuk tadi,” kata Keisha cepat, berusaha mencoba menormalisasi keadaan dan membangun tembok pertahanan.

Arsen melangkah mendekat satu langkah, jarak mereka sangat dekat.

“Anak kecil... jarang sekali salah soal perasaan, Keisha. Mereka bilang apa yang mereka rasakan.”

“Jangan besar kepala dulu,” desis Keisha mencoba marah tapi suaranya tak keluar.

“Aku tidak besar kepala.”

Ia menatap lurus tepat ke dalam manik mata wanita itu, sorot matanya tampak bersinar penuh emosi.

“Aku hanya... sangat bahagia. Sangat, sangat bahagia.”

Kalimat itu menghancurkan pertahanan Keisha tanpa ampun, membuat hatinya goyah tak berdaya.

 

Di depan pintu rumah, saat Arsen hendak masuk ke mobilnya untuk pulang, ia berhenti sejenak dan menoleh.

“Besok aku jemput Leo. Kita mau ke kebun binatang.”

“Kamu seenaknya sendiri terus ya!”

“Benar. Memang begitu sifatku.”

“Kalau aku bilang TIDAK?!”

Arsen tersenyum tipis sambil membuka pintu mobilnya.

“Kalau begitu... aku jemput kamu juga. Sekalian jalan-jalan.”

Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.

Meninggalkan Keisha yang berdiri kaku di teras, tangan memegang dada yang berdebar jauh terlalu keras.

Dan dari dalam kamar tidur, terdengar suara Leo yang sedang mengigau pelan dalam tidurnya:

“Papa...”

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!