Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan sang kapten
Adeeva membanting pintu kamarnya dan segera melepas cadar yang terasa mencekik lehernya. Ia melempar kain itu ke atas kasur dengan perasaan campur aduk. Bayangan mata tajam Kapten Shaheer di butik tadi masih menghantuinya. Pria itu terlalu cerdas untuk dibohongi, dan Adeeva benci bagaimana jantungnya berdebar hanya karena tatapan menyelidik itu.
Tak lama kemudian, Adiba masuk dengan wajah lesu. Gamisnya tampak sedikit berdebu setelah seharian mengurus berkas di Jakarta.
"Bagaimana? Lancar?" tanya Adeeva ketus.
Adiba menghela napas panjang sembari duduk di tepi ranjang. "Visaku harus menunggu satu minggu lagi karena ada dokumen tambahan yang diminta. Tapi tadi... di butik tidak ada masalah, kan? Kamu tidak bicara banyak, kan?"
"Lancar menurutmu? Hampir saja terbongkar! Tentara itu—Shaheer—dia bukan orang bodoh, Kak. Dia sempat curiga," Adeeva bangkit dan berdiri di depan cermin, menghapus riasan tipis yang tersisa. "Dan satu lagi, mantan pacarku, Revian, sepertinya melihatku di sana. Masalah ini makin rumit."
Adiba memegang keningnya. "Maafkan aku, Deeva. Aku hanya ingin memastikan kuliahku aman sebelum aku benar-benar terikat dalam pernikahan ini."
Seminggu kemudian, hari yang dinantikan keluarga besar Arjunka tiba. Keluarga Jenderal Ali datang ke pondok pesantren untuk pertemuan resmi—momen di mana kesepakatan pernikahan akan dikukuhkan.
Di ruang tamu utama yang luas dan beralaskan karpet tebal, Abi dan Umi duduk dengan senyum yang dipaksakan untuk menutupi kegelisahan mereka. Di sisi lain, Jenderal Ali dan Shaheer duduk dengan gagah. Shaheer mengenakan kemeja batik berwarna gelap, wajahnya tampak tenang namun matanya terus bergerak mengamati sekeliling ruangan.
"Jadi, sesuai pembicaraan kita sebelumnya, Kyai," buka Jenderal Ali dengan nada akrab. "Putraku, Shaheer, sudah setuju. Dan saya dengar Nak Adiba juga sudah siap."
Abi mengangguk mantap. "Alhamdulillah. Adiba adalah putri kami yang paling kami andalkan dalam urusan agama. Kami yakin dia akan menjadi istri yang taat bagi Shaheer."
Shaheer berdehem kecil. "Mohon maaf sebelumnya, Kyai. Jika diperbolehkan, saya ingin bertanya. Saat di butik kemarin, saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Apakah... Adiba memiliki saudara?"
Suasana mendadak hening. Abi dan Umi saling lirik. Wajah Abi mengeras. "Adiba memiliki adik kembar, Adeeva. Namun, Adeeva sedang kurang sehat dan kurang begitu mendalami ilmu agama seperti kakaknya, jadi kami jarang memperkenalkannya dalam acara besar."
Abi sengaja tidak menyebutkan bahwa Adeeva sedang "dihukum" di kamar belakang agar tidak membuat keributan. Namun, jawaban Abi justru membuat Shaheer semakin yakin dengan instingnya.
Tepat saat itu, di koridor luar, terdengar suara keributan.
"Aku bilang minggir! Aku mau ambil minum!" suara Adeeva melengking, berdebat dengan salah satu santri senior yang ditugaskan Abi untuk menjaganya tetap di dalam kamar.
Pintu geser ruang tamu sedikit terbuka karena dorongan Adeeva yang tidak sabaran. Untuk beberapa detik, mata Shaheer menangkap sosok gadis yang mengenakan kaos oblong dan celana kulot, rambutnya dikuncir asal, sangat berbeda dengan sosok Adiba yang kini sedang duduk santun di pojok ruangan dengan pakaian syar’i lengkap.
Shaheer langsung berdiri. "Itu dia."
Abi terkejut. "Maksudmu, Shaheer?"
Shaheer menatap Abi dengan tegas, mengabaikan kode dari ayahnya untuk duduk kembali. "Kyai, saya minta maaf jika ini terdengar tidak sopan. Tapi wanita yang saya temui di jalan, wanita yang bersama saya di butik saat fitting baju, dan wanita yang baru saja lewat itu... dia orang yang sama. Dan dia bukan Adiba yang ada di depan saya sekarang."
Adiba tertunduk lesu, air matanya mulai jatuh. Rahasia mereka pecah.
"Adeeva! Masuk ke kamar!" bentak Abi dengan wajah memerah menahan malu.
Namun Shaheer justru melangkah menuju pintu. "Kyai, saya datang ke sini untuk mencari istri yang jujur. Saya tahu Adiba adalah wanita yang luar biasa sholehah. Tapi hati saya justru tertambat pada kejujuran emosi yang saya lihat pada adik kembarnya. Jika Kyai mengizinkan, saya ingin membatalkan ta'aruf dengan Adiba dan melamar Adeeva Zamira."
Jenderal Ali terperangah. Abi hampir saja berdiri karena murka. "Kamu ingin menikahi Adeeva? Dia anak yang susah diatur, pakaiannya saja tidak benar, dia tidak tahu urusan pesantren!"
"Justru karena itu, Kyai," jawab Shaheer tenang. "Tugas saya sebagai suami bukan hanya untuk didampingi, tapi untuk membimbing. Saya lebih memilih wanita yang menunjukkan warna aslinya daripada yang bersembunyi di balik cadar untuk menutupi kesalahan orang lain. Saya ingin Adeeva."
Adeeva yang masih berdiri di ambang pintu membeku. Ia menatap Shaheer dengan pandangan tidak percaya. Pria yang ia maki-maki, pria yang ia anggap "tentara moral", justru memilih dirinya di saat ayahnya sendiri menganggapnya sebagai aib.
"Apa kamu gila, Kapten?" gumam Adeeva pelan.
Shaheer menoleh, sebuah senyum tipis—pertama kalinya—muncul di wajahnya yang kaku. "Mungkin. Tapi saya serius. Saya yang akan menjagamu agar tidak 'jatuh di aspal', seperti kata saya kemarin."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...