NovelToon NovelToon
GUS BAD BOY MY HUSBAND

GUS BAD BOY MY HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
​Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
​Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
​Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Rahasia di Balik Oli dan Air Mata

Sisa cokelat semalam masih menyisakan rasa manis yang getir di lidah Arini saat ia terbangun untuk shalat Tahajud. Ia melirik ke samping; ranjang itu kosong. Namun, selimutnya berantakan, menandakan Zikri sempat merebahkan diri di sana beberapa jam setelah ia tertidur. Arini menghela napas, rasa kantuknya hilang seketika digantikan oleh rasa penasaran yang semakin menebal.

Setelah shalat, Arini tidak langsung kembali tidur.

Ia berjalan menuju jendela dan menatap ke arah gudang tua yang kemarin ia datangi. Pikirannya melayang pada pengakuan Zikri tentang ibunya.

Selama ini, ia mengira Zikri hanyalah pemuda manja yang memberontak karena bosan. Siapa sangka, di balik jaket kulit yang keras itu, bersembunyi luka bernanah yang tak pernah diobati selama sepuluh tahun?

Pagi itu, suasana pesantren sedikit lebih sibuk. Ada kunjungan dari donatur yayasan, yang berarti seluruh keluarga ndalem harus tampil sempurna. Arini dengan telaten membantu Nyai Salma menyiapkan hidangan, sementara matanya terus mencari sosok Zikri.

Ia menemukan Zikri di ruang tamu utama, sedang duduk bersila di samping Kyai Ahmad. Zikri tampak sangat meyakinkan. Ia memakai jubah abu-abu dan sorban yang dililit rapi di kepalanya—sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan pria berkaos kutang yang memegang obeng kemarin sore. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih kepada para tamu, mengutip ayat-ayat tentang sedekah dan keberkahan ilmu.

Penyamaran yang sempurna, batin Arini.

Namun, Arini menangkap satu detail kecil. Tangan Zikri yang tersembunyi di balik lengan jubah yang lebar terus-menerus meremas kain bajunya sendiri. Itu adalah tanda kecemasan yang hanya bisa ditangkap oleh orang yang memperhatikannya dengan sangat saksama.

"Terima kasih sudah berbohong kemarin," suara itu mengejutkan Arini yang sedang menyetrika baju di ruang belakang pada sore harinya.

Zikri berdiri di sana, sudah kembali ke mode "santai"—sarung yang disampirkan di bahu dan kaos oblong putih. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu, menatap Arini dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Aku tidak berbohong untukmu," jawab Arini tanpa menoleh, terus menekan setrika panas pada kain koko suaminya. "Aku berbohong untuk ketenangan rumah ini. Aku tidak mau melihat Kyai Ahmad terkena serangan jantung karena melihat putranya menyimpan motor rongsokan di gudang."

Zikri terkekeh kecil, melangkah masuk ke ruangan yang sempit itu. "Motor itu bukan rongsokan. Itu satu-satunya benda yang menghubungkanku dengan Ummi. Motor itu yang dulu sering dipakai Ummi untuk menjemputku diam-diam di gerbang belakang saat aku rindu rumah."

Arini menghentikan gerakan setrikanya. Ia menoleh perlahan. "Kenapa kamu tidak bilang saja pada Kyai? Mungkin beliau akan mengerti."

"Abi?" Zikri mendengus pahit. "Baginya, masa lalu adalah gangguan bagi masa depan. Dia ingin aku jadi replikanya. Seorang Kyai yang tidak bercelah, yang tidak punya hobi selain mengajar, dan tidak punya cinta selain pada kitab. Dia tidak sadar kalau dia sedang membangun robot, bukan membesarkan anak."

Zikri duduk di atas meja kayu di samping Arini, membuat Arini sedikit merasa terintimidasi oleh jarak mereka yang dekat. "Tapi, kenapa kamu mau membantuku? Padahal aku sudah sangat jahat padamu sejak hari pertama."

Arini meletakkan setrikanya dan menatap Zikri tepat di mata. "Karena aku tahu rasanya kehilangan cerita yang belum selesai. Sebagai penulis, bagian tersulit adalah ketika sebuah bab diputus paksa tanpa ending yang layak. Kamu... kamu adalah bab yang terputus itu, Zikri. Kamu butuh penutup untuk lukamu."

Zikri terdiam lama. Keangkuhannya seolah menguap di antara uap setrika yang panas.

"Malam ini, geng motor lamaku, The Vultures, punya agenda di luar kota. Aku harus pergi."

"Lagi?" Arini mengernyit. "Kyai Ahmad akan memimpin doa bersama malam ini. Kamu harus ada di sana."

"Aku sudah janji pada seseorang," Zikri berdiri dengan gelisah. "Aku harus mengembalikan sesuatu pada mereka dan menyatakan kalau aku ingin... keluar. Tapi mereka tidak akan membiarkanku pergi begitu saja kalau aku datang dengan tangan kosong."

"Apa yang harus kamu kembalikan?"

"Uang taruhan lama. Temanku, Rian, kecelakaan bulan lalu karena balapan yang seharusnya menjadi bagianku. Dia butuh biaya operasi, dan geng itu menuntut 'pajak keluar' dariku."

Arini melihat keringat dingin di pelipis Zikri. Pria ini terjepit antara dua dunia yang sama-sama menuntutnya. Tanpa pikir panjang, Arini mengambil tas kecilnya yang tersimpan di lemari dekat situ. Ia mengeluarkan amplop berisi mahar emas dan uang simpanannya dari hasil menulis novel.

"Gunakan ini," kata Arini sambil menyodorkannya.

Zikri terbelalak. "Gila kamu? Itu maharmu, Arin! Itu hakmu."

"Anggap saja ini investasi," Arini memaksa amplop itu masuk ke tangan Zikri. "Investasi agar suamiku tidak pulang dengan luka lebam lagi.

Pergi, selesaikan urusanmu, dan pulanglah sebelum jam tiga pagi. Aku akan bilang pada Abah kalau kamu sedang tidak enak badan dan ingin ber-khalwat di kamar."

Zikri menatap amplop itu, lalu menatap Arini. Ada sesuatu yang bergetar di matanya. Tanpa disangka, ia meraih tangan Arini dan menggenggamnya erat. "Kenapa kamu melakukan ini, Arin?"

"Karena aku ingin melihat bagaimana cerita ini berakhir," jawab Arini dengan senyum tipis yang menyembunyikan rasa takutnya. "Dan aku tidak mau ceritanya tamat karena suaminya mati konyol di jalanan."

Malam itu adalah malam terpanjang bagi Arini. Ia duduk di sajadah, bukan hanya untuk shalat, tapi untuk memasang telinga. Kyai Ahmad sempat mengetuk pintu kamar jam sembilan malam, bertanya mengapa Zikri tidak turun untuk doa bersama.

"Zikri sedang kurang sehat, Bah. Tadi muntah-muntah, sekarang sedang tidur setelah saya beri obat," jawab Arini dari balik pintu dengan suara yang sengaja dibuat cemas.

"Oh, begitu. Ya sudah, biarkan dia istirahat. Tolong jaga dia, Arini."

"Inggih, Bah."

Arini bersandar di pintu, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya sendiri. Ia melakukan dosa besar. Ia membohongi seorang ulama, seorang ayah, dan seorang guru. Demi apa? Demi seorang pria yang bahkan belum pernah mengucapkan kata sayang padanya.

Pukul dua pagi, suara deru motor terdengar samar dari arah kebun. Arini langsung berlari menuju pintu belakang ndalem. Ia melihat Zikri turun dari motor Ninja hitamnya dengan lemas. Jaket kulitnya robek di bagian bahu, dan ada darah mengering di sudut bibirnya.

Arini segera memapahnya masuk, menghindari area yang bisa terlihat oleh santri jaga. Ia membawa Zikri ke kamar mandi di dalam kamar mereka.

"Apa yang terjadi?" bisik Arini sambil mengambil kotak P3K.

"Mereka tidak mau menerima uang itu dengan mudah," Zikri meringis saat Arini membersihkan lukanya dengan alkohol. "Mereka bilang, darah Gus itu mahal. Tapi setidaknya, aku sudah memberikan uang itu. Aku bilang pada mereka, ini adalah transaksi terakhir."

Zikri menatap Arini yang sedang serius mengobati lukanya. Cahaya lampu kamar yang temaram membuat wajah Arini tampak begitu lembut di matanya. Rasa bersalah yang besar tiba-tiba menghantam Zikri. Gadis ini, yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, justru harus ikut berlumuran lumpur dan rahasia bersamanya.

"Arin..." panggil Zikri pelan.

"Hmm?"

"Terima kasih. Dan... maaf."

Arini berhenti mengobati luka Zikri. Ia menatap mata suaminya. Untuk pertama kalinya, tidak ada tembok es di sana. Yang ada hanyalah kejujuran.

Zikri meraih tangan Arini yang masih memegang kapas. Ia mencium telapak tangan Arini dengan lembut, sebuah gerakan yang begitu sakral dan penuh hormat. "Aku akan mencoba, Arin. Aku akan mencoba berhenti menjadi beban untukmu."

"Jangan berjanji padaku, Zikri. Berjanjilah pada dirimu sendiri," balas Arini.

Malam itu, mereka tidak tidur di sisi yang berbeda. Zikri membiarkan Arini tidur di ranjang, sementara ia duduk di lantai di sampingnya, menjaga istrinya hingga fajar tiba. Arini menyadari bahwa perang dingin mereka telah usai, namun perang yang sebenarnya—perang melawan dunia luar dan ekspektasi pesantren—baru saja dimulai.

Arini tahu, dengan membantu Zikri menyembunyikan rahasianya, ia telah mengikatkan nasibnya pada nasib pria itu. Ia bukan lagi sekadar penonton; ia adalah karakter utama dalam tragedi yang sedang ditulis oleh takdir. Dan di dalam hatinya, ia mulai merasa bahwa akhir dari cerita ini mungkin tidak akan seindah novel-novel yang ia tulis. Namun untuk saat ini, melihat Zikri yang tertidur dengan tenang di dekatnya sudah cukup bagi Arini untuk merasa bahwa setidaknya, ia telah menyelamatkan satu jiwa yang hampir hilang.

1
Titik Sofiah
awal yg menari ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍
sefira🐼
makasih kak semangat juga💪
nis_ma
semangatttt Thor 🔥🔥
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr
Rian Moontero
lanjoooott👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!