Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Adrian menarik sebuah kursi plastik biru yang agak goyah dari sudut toko.
Tanpa memedulikan debu yang menempel pada celana kain mahalnya, ia duduk dengan tenang, menyilangkan kaki, dan menatap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Baiklah, aku akan menunggu di sini sampai kamu mau," ucap Adrian dengan nada bicara yang datar namun penuh tekad.
Suaranya bergema di antara gantungan baju, membuat beberapa pembeli yang lewat sempat menoleh heran.
Liana tertegun sejenak, lalu sebuah tawa kecil yang hampir tak terdengar lolos dari bibirnya.
Ia menggelengkan kepala, merasa pria di depannya ini benar-benar keras kepala dengan cara yang gila.
"Silakan, Pak Adrian. Tapi sebentar lagi saya dan Mama mau pulang," sahut Liana santai.
Ia kembali sibuk melipat pakaian, seolah kehadiran pria berpakaian jutaan rupiah itu hanyalah bagian dari dekorasi tokonya.
Waktu bergulir pelan. Suasana pasar mulai berubah.
Cahaya matahari yang tadinya garang kini melunak menjadi jingga yang redup.
Satu per satu pedagang mulai menarik pintu besi mereka, menimbulkan suara gaduh yang memecah kesunyian sore.
Jam di pergelangan tangan Adrian menunjukkan pukul empat sore tepat, namun ia tidak bergeming sedikit pun.
Punggungnya tetap tegak, matanya terus mengikuti setiap gerak-gerik Liana yang sedang sibuk mengikat karung-karung dagangan.
"Ayo, Liana. Motornya sudah Mama panaskan," panggil Mama dari depan toko sambil menenteng tas plastik berisi sisa makan siang mereka.
Liana menoleh ke arah Adrian yang masih setia di kursinya.
Wajah pria itu mulai tampak sedikit kusam karena udara pasar yang pengap, namun sorot matanya tidak meredup.
"Kami pulang dulu, Pak. Selamat bermalam di pasar," ucap Liana dengan nada jenaka sambil mengunci laci uangnya.
Ia memberikan senyum simpul yang seolah mengejek keteguhan hati sang produser.
Adrian mendongak. Ia tidak tampak tersinggung sama sekali.
Sebaliknya, ia justru membenarkan posisi duduknya seolah kursi plastik itu adalah singgasana di kantornya.
"Aku akan duduk di sini sampai kamu mau," balas Adrian tegas.
Liana hanya mengangkat bahu, menganggap pria itu hanya sedang menggertak.
Ia berjalan keluar toko bersama Mamanya, naik ke atas motor tua mereka, dan meninggalkan Adrian sendirian di tengah lorong pasar yang mulai gelap dan sepi.
Sesampainya di rumah, Liana langsung merebahkan tubuhnya yang penat.
Kamar kecil itu terasa sangat sejuk dibandingkan pengapnya pasar tadi, namun pikiran Liana tidak bisa benar-benar tenang.
Bayangan Adrian yang duduk tegak di atas kursi plastik biru itu terus membayangi benaknya.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka pelan.
Mama masuk dan duduk di pinggir tempat tidur, menatap putrinya dengan gurat kecemasan yang jelas di wajahnya.
"Sayang," panggil Mama lembut, tangannya mengusap rambut Liana.
P"Apa benar Pak Adrian itu akan duduk di sana semalaman? Mama jadi kepikiran. Pakaiannya saja mahal begitu, mana mungkin kuat diam di pasar."
Liana menghela napas panjang, menatap langit-langit kamarnya yang remang-remang.
"Entahlah, Ma. Mungkin dia hanya bohong. Orang kota seperti dia mana betah berlama-lama di tempat kotor."
"Tapi tatapannya tadi, seperti orang yang tidak mau kalah," sahut Mama lagi.
Liana memiringkan tubuhnya, memeluk guling erat-erat.
"Pasar kan gelap, Ma. Belum lagi nyamuk dan tikus-tikus besar yang berkeliaran kalau malam. Paling-paling satu jam lagi dia sudah lari ketakutan mencari mobil mewahnya."
Meskipun mulutnya berkata demikian, ada sedikit rasa tidak nyaman yang menyelinap di hati Liana.
Ia membayangkan lorong pasar yang kini pasti sudah sunyi senyap, hanya diterangi satu-dua lampu kuning yang temaram.
Di sana, di depan tokonya yang terkunci rapat, seorang produser film terkenal mungkin sedang duduk sendirian menantang gelap.
"Sudahlah, Ma. Jangan dipikirkan. Besok pagi juga dia sudah hilang," gumam Liana, berusaha meyakinkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan ibunya.
Namun, malam itu Liana sulit memejamkan mata. Setiap kali ia menutup mata, ia seolah mendengar ketukan pantofel Adrian di atas lantai pasar yang berdebu, seirama dengan detak jantungnya yang gelisah.
Tepat tengah malam, ketika angin dingin mulai menyusup melalui celah jendela, ponsel Liana berdering nyaring di atas nakas.
Dengan mata mengantuk, ia meraih benda itu. Nama "Pak Dadang Satpam" berkedip di layar.
"Halo, Pak? Ada apa malam-malam begini?" suara Liana parau.
"Aduh, Mbak Liana, maaf mengganggu. Ini lho, laki-laki yang tadi sore di depan toko Mbak. Dia masih di sini, duduk di kursi plastik itu. Kasihan Mbak, dia kedinginan sampai menggigil hebat, wajahnya pucat sekali. Saya suruh pindah ke pos, dia tidak mau. Katanya mau nunggu Mbak sampai mau," suara Pak Dadang terdengar cemas di seberang telepon.
Liana terdiam. Jantungnya berdegup kencang antara rasa kesal dan rasa tidak tega yang mulai membuncah.
Ia membayangkan lorong pasar yang gelap gulita, lembap, dan dinginnya semen yang menusuk tulang.
"Dia masih di sana, Pak?" tanya Liana memastikan.
"Masih, Mbak. Sepertinya dia mulai demam. Saya khawatir kalau terjadi apa-apa di sini."
Liana memejamkan mata sesaat, lalu menghela napas panjang—napas yang penuh dengan kekalahan atas rasa ibanya sendiri.
"Baik, Pak. Tolong jaga dia sebentar. Saya ke sana sekarang."
Liana bangkit, menyambar jaket tebalnya, dan mengambil kunci motor yang tergantung di balik pintu.
Ia melangkah pelan agar tidak membangunkan Mamanya, namun pikirannya berkecamuk.
Kenapa pria itu harus sekeras kepala ini? Apa yang sebenarnya ia cari dari seorang penjual pakaian sepertiku?
Suara mesin motor tua Liana memecah keheningan malam saat ia memacu kendaraannya menuju pasar.
Di bawah lampu jalanan yang remang-remang, ia tahu bahwa malam ini, benteng pertahanannya mulai retak oleh kegigihan seorang Adrian yang gila.
Suasana pasar di tengah malam terasa mencekam.
Bunyi kepakan sayap kelelawar dan derit tikus di balik tumpukan sampah menjadi satu-satunya musik yang tersisa.
Liana memarkirkan motornya dengan terburu-buru, matanya langsung tertuju pada sesosok pria yang meringkuk di kursi plastik biru di depan tokonya.
Liana terpaku. Adrian tidak lagi tampak seperti produser film yang angkuh.
Rambutnya yang klimis kini acak-adakan, dan jas mahalnya nampak kuyu terkena embun malam yang lembap.
Tubuhnya bergetar hebat, giginya gemeretak menahan dingin yang menusuk tulang.
"Pak Adrian?" panggil Liana pelan.
Pria itu mendongak perlahan. Matanya sayu, namun saat melihat Liana, ada binar kemenangan yang tipis di sana.
"Liana, kamu datang," suaranya parau, terputus oleh napas yang menggigil.
Liana menghela napas panjang, rasa kesal dan kasihan bercampur aduk di dadanya.
Ia tidak tega melihat seseorang menyiksa diri sedemikian rupa hanya untuk sebuah ambisi.
"Cukup, Pak. Jangan gila," ucap Liana sambil memegang lengan Adrian yang terasa sangat dingin.
"Ayo ikut aku ke rumah. Tapi ingat, hanya malam ini! Besok pagi Anda harus pulang dan jangan kembali lagi dengan cara seperti ini."
Adrian tidak membantah. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah, tenaganya seolah sudah habis terkuras oleh malam yang panjang.
"Pak Dadang, tolong bantu saya," seru Liana kepada satpam yang berdiri cemas di samping mereka.
"Siap, Mbak Liana. Saya akan ikuti dari belakang pakai mobil Bapak ini," jawab Pak Dadang sambil memegang kunci mobil mewah Adrian yang tadi sempat dititipkan padanya.
Liana membantu Adrian berdiri. Pria itu harus bertumpu berat pada bahu Liana agar tidak jatuh.
Di tengah kesunyian pasar, mereka berjalan perlahan menuju parkiran.
Liana membonceng Adrian dengan motor tuanya, sementara mobil sport mewah milik Adrian membuntuti pelan di belakang seperti pengawal yang canggung.
Sepanjang jalan, Liana bisa merasakan napas hangat Adrian di tengkuknya, sebuah pengingat bahwa pria ini telah mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melihatnya menari.
Di bawah lampu jalanan yang kuning temaram, Liana mulai bertanya-tanya: Seberapa berharganya tarian itu bagi Adrian hingga ia rela sehancur ini?
Suara deru motor Liana yang masuk ke halaman rumah di tengah malam buta seketika membuat lampu ruang tengah menyala.
Mama muncul di ambang pintu dengan wajah cemas, masih mengenakan daster tidurnya.
Matanya terbelalak lebar saat melihat Liana turun dari motor sambil memapah seorang pria yang nyaris tak bisa berdiri tegak.
Di belakang mereka, mobil mewah Adrian berhenti pelan, disusul Pak Dadang yang turun dengan wajah lega.
"Astaga, Liana! Siapa ini—Lho, ini kan Pak Adrian?" pekik Mama, suaranya tertahan antara kaget dan ngeri melihat kondisi Adrian yang pucat pasi dengan bibir membiru.
Liana tidak sempat menjawab panjang lebar. Ia memegang pinggang Adrian kuat-kuat agar pria itu tidak tersungkur ke lantai tanah.
"Dia nekat diam di pasar semalaman, Ma. Badannya panas sekali, dia menggigil hebat."
Mama langsung tersadar dari keterkejutannya. Naluri keibuannya muncul seketika saat melihat Adrian yang biasanya tampak gagah kini terlihat begitu rapuh dan tak berdaya.
"Ya Tuhan, orang kota ini memang gila! Cepat, bawa masuk ke kamar tamu, Liana! Letakkan dia di sana," perintah Mama sigap.
Dengan bantuan Pak Dadang, Adrian dibaringkan di atas kasur tipis di kamar tamu yang sederhana.
Begitu tubuhnya menyentuh sprei, Adrian meringkuk seperti janin, mencoba mencari kehangatan yang tersisa.
"Cepat kompres dia, Liana! Jangan sampai demamnya naik lagi. Mama buatkan teh panas dulu dengan jahe supaya badannya hangat," seru Mama sambil bergegas menuju dapur.
Liana menghela napas panjang. Ia mengambil baskom berisi air hangat dan selembar handuk kecil.
Dengan ragu, ia duduk di pinggir tempat tidur dan mulai menyeka kening Adrian yang terasa membara.
"Kenapa Bapak harus melakukan ini?" bisik Liana pelan, hampir tak terdengar.
Adrian membuka matanya sedikit, menatap Liana dengan pandangan sayu yang dalam.
Meskipun kedinginan, sudut bibirnya sedikit terangkat, seolah ingin mengatakan bahwa penderitaan ini sepadan karena akhirnya ia bisa berada di sini.
"Minum dulu ini," ucap Mama yang kembali dengan segelas teh jahe yang mengepulkan uap harum.
Liana membantu menyangga kepala Adrian agar pria itu bisa meminum ramuan hangat buatan ibunya.
Di kamar yang kecil dan sederhana itu, untuk pertama kalinya, dunia Adrian yang penuh kemewahan dan ambisi bersentuhan langsung dengan ketulusan hidup Liana yang bersahaja.
ditunggu crazy upnya