NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^09

Tidak ingin berteman dengan banyak orang. Hanya saja, mulut sangat malas untuk memulai obrolan. Apalagi jika harus membahas hal yang benar-benar tidak berguna, dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Itu sama saja membuang waktu.

Mungkin, itu salah satu alasan, kenapa Anna tidak memiliki sosok teman dekat di sekolahnya. Dan untungnya, Anna tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Karena bagi Anna, lebih baik sendiri daripada mendapat banyak teman yang pasti akan menguras energinya. Tapi bukan berarti Anna menolak siapapun yang ingin mendekat padanya.

Diam melihat deretan huruf yang berjejer rapi membentuk sebuah kata, baru saja Anna salin dari papan tulis ke buku tugasnya.

Di mana lima nama yang tertera sangat jelas, membuat Anna membuang napas pelan. Pasrah, menerima apa yang telah diterapkan oleh guru seni.

Perlahan mengadahkan pandangan untuk melihat satu persatu rekan kelompoknya untuk saat ini. Hingga kedua netranya terhenti pada sosok pemuda yang tengah disibukkan oleh laptop di depan matanya itu.

"Berhentilah menatapnya, karena itu sangat jelas sekali jika kau mengharapkannya." Cetus gadis cantik penuh aura gelap yang mengelilingi tubuh gadis itu yang duduk di sisi kanan Anna. Ampuh menarik perhatian ketiga pasang mata lainnya dengan sorot yang berbeda, mereka melihat Yuna maupun sang gadis secara bergantian.

"Berhentilah bicara jika kau tidak bisa mencari inspirasi untuk tugasnya." Pelan Yuna penuh peringatan. Membuat Anrey tersenyum tipis, dan kembali melihat layar leptopnya. Sedangkan Aldi menutup rapat mulutnya yang hampir saja mencetuskan kalimat manis penuh sahutan. Hingga siapapun yang mendengar pasti akan merasa jika, raganya sangatlah istimewa.

"Inspirasi?" Sekilas menaikan alisnya, Austyn kembali membuka suara untuk memberi respon kepada Yuna. "Untuk apa aku mencari inspirasi? Jika murid terpandai di sekolah ini ada di depan mataku. Toh, usahaku juga tidak akan dilihat."

Ingin rasanya Yuna menarik rambut panjang Austyn dan menenggelamkan gadis itu kelautan samudra. Agar, mulut manis Austyn tidak lagi sanggup untuk bicara.

"Kau tahu, jika belanu itu sangat menjijikan?" Sangat santai tanpa beban, seperti kapas tertiup angin. Yuna mencetuskan perkataannya, yang ampuh membuat Austyn terbakar akan kalimat yang barus saja memenuhi ruang pendengarannya.

"Kau__"

"Tulis nama kita, itu jauh lebih bermanfaat." Pinta Aldi sembari meletakkan selembar kertas folio di atas buku tulis dengan sebuah pena. Tepat di hadapan Austyn.

"Kau bisa menulisnya sendiri, kenapa harus aku?" Sungut Austyn yang benar-benar harus menahan diri agar tidak meledakkan emosi dalam dirinya.

"Keluarlah, kau juga tidak dibutuhkan di kelompok ini." Timpal Anrey tanpa mengalihkan pandangannya. Dan bukan berarti Anrey membari ancaman untuk Austyn. Hanya saja, Anrey tidak lagi ingin mendengar perdebatan kecil yang mungkin saja akan berakhir sangat fatal.

"Aku akui kau memang tampan Anrey, tapi perkataan mu tidak sopan sama sekali." Kesal Austyn, yang mau tidak mau menulis satu persatu nama kelompoknya saa ini. Dan Austyn sangat terpaksa, jika pindah kelompok itu tidak sulit, maka Austyn akan melakukannya sejak tadi. sayangnya itu tidak semudah keinginannya.

Detik berubah menjadi menit yang telah berlalu beralih mendekati jam, membuat seluruh murid di sana mulai merasa lelah akan tugas yang sangat sederhana tapi entah kenapa sangat menguras energi mereka. Mungkin, sudah waktunya untuk mereka istirahat.

"Tutup buku kalian, dan lanjutkan di waktu luang kalian." Seru sang guru seni yang akhrinya menghadirkan napas lega untuk mereka.

"Selamat sore semua." Akhir guru itu, sebelum melangkah keluar kelas.

"Sore.." Serentak 20 penghuni kelas 2-3 menyerukan suara mereka untuk membalas kalimat dari sang guru.

19 dari 20 murid di sana mulai membereskan buku-buku mereka, bersiap untuk pulang ke rumah. Lain halnya dengan satu orang yang sibuk dengan benda pipih di tangannya, tidak lupa senyum kecil sebagai penghias wajah lelahnya.

"Apa yang aku lakukan? Sampai kau tersenyum seperti orang gila." Celetuk Anrey, merasa heran dengan raut wajah temannya satu itu. Aldi.

Saat itu juga sebuah notifikasi masuk ke dalam handphone Anrey, membuat sang empu melihat ke arah layar handphonenya yang tergeletak di atas meja. Dan tidak hanya Anrey saja, melainkan tiga insan perempuan pun juga sama. Mengecek handphone mereka masing-masing.

"Kenapa kau memasukkan ku ke dalam obrolan tidak jelas ini?" Protes Austyn yang hampir saja melayangkan benda persegi di tangannya ke arah, Aldi.

"Jika kau tidak ingin nilai, kau bisa keluar sendiri. Bukankah itu sangat mudah?" Tanggap Aldi dengan sengaja menaikan kedua alisnya sebentar. Niatnya hanya ingin menggoda Austyn sekali-kali, sayangnya, gadis di depan matanya sulit untuk di goda.

"Berhentilah menggodanya, kau akan semakin membuatnya jauh darimu." Final Anrey. Kini beranjak dari duduknya, dan berjalan kelaur kelas dengan tas punggung yang disampirkan dipundak kanannya. Yang diikuti oleh Yuna begitu jengah melihat orang-orang di depan matanya saat ini.

Seketika Austyn tersenyum masam. Kembali mengarahkan pandangannya untuk menatap Aldi. "Kau menyukaiku?"

"Aku lebih memilih tidak memakai baju dari pada harus menyukaimu." Sangat rendah Aldi memberi balasan.

Hal itu ampuh membuat emosi Austyn berada di ujung tandus. "Hah. Lepas baju mu jika kau memilih seperti itu." Kesal Austyn yang berdiri dari duduknya. Spontan membuat Aldi menghindar, karena Austyn akan sangat mengerikan jika tangan kecil itu sudah melayang.

"Kau akan candu jika melihat tubuhku." Bukannya berhenti, Aldi semakin menggoda Austyn.

Tersenyum simpul, sebentar melihat ke arah Tessa sebelum melangkah keluar. Mengabaikan seruan dari Austyn yang meneriaki nama Aldi dengan umpatan tidak pantas diucapkan seorang perempuan. Dan hal itu menarik seluruh pasang mata yang masih berada di dalam kelas. Melihat Austyn dengan pasangan berbeda.

Sedangkan Anna sendiri, perlahan beranjak dari duduknya untuk pergi dari tempat itu. Karena tidak ingin menjadi bahan pelampiasan Austyn untuk kesekian kalinya. Itu sangat melelahkan.

Saat berada di depan kelas, tubuh Anna disentakkan akan sosok familiar yang berdiri di balik pintu dengan senyum yang sangat khas. Dan untungnya, Anna tidak melontarkan umpatannya karena merasa kesal telah dikagetkan oleh orang yang tidak merasa bersalah.

Gadis itu hanya bisa menyunggingkan senyumannya sembari menggeleng pelan, sebelum melangkah pelan beriringan dengan Aldi.

"Kau tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu pada Austyn. Itu akan melukai perasaannya." Ucap Anna, sekilas melihat Aldi yang meluruskan pandangannya.

"Itu tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan pada murid-murid disini. Jika terus dibiarkan, dia akan semakin gila. Jadi, menggoda satu-satunya cara agar dia berhenti. Karena, dia akan malu sendiri." Balas Aldi tanpa beban.

"Tapi, bukankah hal seperti itu akan membuatnya berpikir, jika aku benar-benar menyukainya." Ada sedikit keraguan Anna melontarkan perkataannya.

"Itu tidak masalah," sebentar mengangguk kecil. Aldi melanjutkan ucapannya. "Yang penting aku tidak memberinya harapan."

"Bukankah hal itu beda tipis?" Sangat rendah, tapi Aldi masih bisa mendengarnya sangat jelas.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!