Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Apa benar yang di katakan bu Lusi itu Gista?" baru saja Gista tiba di ruang BK namun ia sudah di sodorkan pertanyaan itu
"Maaf bu ..." lirih Gista, kepalanya tertunduk dengan tangan meremas ujung seragamnya
"Benarkan bu Ayu apa yang saya katakan tadi," ucap bu Lusi yang sudah melaporkan Gista pada bu Ayu
"Gista, kenapa kamu lakukan hal itu? Kamu gak ingat ini hari pertamamu berada di sekolah ini jangan sampai ini juga menjadi hari terakhirmu di sekolah." tegas bu Ayu. "Di sekolah ini, sekali saja membuat kesalahan maka orang tuanya akan di panggil."
Deg.
Mendengar ucapan bu Ayu membuat mata Gista melebar, ucapan wanita itu terus berputar di benaknya bak kaset rusak.
"Sekali saja membuat ke sekola maka orang tuanya akan di panggil ke sekolah." ucapan itu terus melintas di benak Gista
"Tolong jangan bu, jangan panggil orang tua saya.." mata Gista memerah, ia mendongak agar air matanya tak menetes.
"Tidak bisa, ini sudah menjadi peraturan sekolah ini." air mata yang Gista tahan kini meluncur bebas membasahi wajahnya.
"G-gista mohon bu, tolong jangan panggil orang tua saya nanti saya di marahin."
"Itu resiko yang harus kamu tanggung, makannya beretika." ucap bu Lusi. "saya ini guru dan tadi saya ada di dalam kelas itu seharusnya kamu izin jangan nyelonong pergi aja, saya merasa tak di anggap ada."
"Sabar bu.." bu Ayu menenangkan bu Lusi yang terlihat benar-benar sangat marah pada Gista, dari tatapannya saja sudah terlihat jelas jika dia benar-benar marah dan kecewa pada Gista.
"Permisi ibu, kalo boleh tau ini ada apa ya?" seorang siswa datang menghampiri mereka, dia berdiri di samping Gista yang menundukan pandangannya
"Siswi baru ini bikin ulah, hari pertama masuk sudah bolos aja." ketus bu Lusi. "Pantes di keluarin dari sekolahnya ternyata gak ada etikanya." Lanjutnya
Siswa tersebut menoleh pada Gista, bersamaan dengan itu Gista juga menoleh padanya hingga pandangan keduanya bertemu.
"Loh, lo 'kan yang nolongin gue tadi." ucap siswa tersebut.
Bu Lusi serta bu Ayu saling menatap. "Nolongin?"
Pemuda laki-laki itu mengangguk. "Iya bu, dia yang nyelamatin saya yang hampir kenah robohan ring basket.
kalo dia gak nolongin saya, mungkin saya sudah berada di rumah sakit dan gak akan bisa ikut pertandingan besok."
Bu Lusi terdiam, ia mencerna ucapan sang kapten basket di sekolah itu. "Benar itu, Gista?"
Gista menganggukan pelan, kepalanya kembali tertunduk. "Saya mohon bu jangan panggil mama saya, dia marah besar kalo tau saya bermasalah lagi."
"Astaghfirullah kenapa kamu gak bilang Gista, ibu udah marah-marah lo sama kamu." ucap bu Lusi yang merasa tak enak
"Gapapa bu, Gista minta maaf karena langsung pergi gak izin terlebih dahulu."
"Ya sudah masalah selesaikan? Ini cuma kesalah pahaman, Gista kamu boleh kembali kekelas." ucap bu Ayu
Gista tak beranjak dari sana, ia masih berdiri tegap di tempat semula.
"Gista?"
"M-mama saya gak di panggilkan bu?" cicit Gista, suaranya terdengar bergetar.
Bu Ayu menggelengkan kepalanya. "Enggak, buat apa panggil orang tuamu sedangkan kamu melakukan kebaikan di sekolah ini."
Senyuman terukir di bilah bibir Gista. "Makasih bu, makasih bu." ucapnya berulang kali sembari mencium punggung tangan bu Ayu
Dengan perasaan gembira Gista keluar ruang Bk, ia menyerkah air matanya yang masih membasahi pipinya.
Huft..
Ia menghela napas berat, hari ini benar-benar sangat berat bagi Gista.
"Untuk gak jadi di panggil orang tua, bisa mati aku kalo mama di panggil." gungam Gista
"Tunggu!" langkah Gista terhenti saat mendengar teriakan seseorang, dengan gerakan slow motion Gista memutar tubuhnya.
"Lo yang panggil gue?" tanya Gista yang di beri anggukan oleh sang empu. "Kenapa?"
"Gue mau bilang makasih, berkat bantuan lo gue selamat." ucap pemuda tersebut. "Ini bukan kali pertamanya lo bantuin gue tapi udah kedua kalinya, terima kasih ya."
Jidat Gista mengerut. "Dua kali?" tanya Gista, terlihat jelas raut wajah kebingungannya
Pemuda itu mengangguk. "Inget gak lo pernah nolongin gue pas di keroyok geng motor?"
"Itu lo?" bukan menjawab Gista malah berbalik nanya
Pemuda laki-laki itu mengangguk. "Kenalin gue Raden," ucapnya sembari menyodorkan tangannya
Gista terdiam sesaat sembari menatap uluran tangan tersebut. "Gista."
senyuman tipis terbit di bibir pemuda itu, akhirnya ia bisa bertemu kembali pada gadis pemberani yang sudah menolongnya pada malam itu.
"Gue kesana ya takutnya temen-temen gue nungguin lama." ucap Raden sebelum berlalu
Gista memandang kepergian pemuda yang memiliki nama Raden itu, senyuman di bibirnya terbit. Gista senang karena ada yang mau berkenalan padanya, ini pertama kalinya ada orang yang mau mengobrol padanya bahkan mengajaknya kenalan lebih dulu. Biasanya Gista lah yang mengajak orang-orang berkenalan walaupun tak ada yang mau berteman padanya.
"Kita gak mau temanan sama temannya setan."
"Nanti kita ketularan aneh, teriak-teriak gak jelas."
"Gak mau temanan sama pembawa sial tar yang ada kenah sial mulu hidup gue."
Seketika senyum di bibir Gista memudar saat teringat perkataan teman-teman di sekolah lamanya dulu.
"Gista!" lamunan Gista buyar saat seseorang menepuk pundaknya
"Ya Allah dar, gue kaget loh."
Adara menghela napas berat. "Lo bikin masalah apa lagi sampai masuk ruang BK Gista?"
"Gak ada masalah apa-apa,"
"Kalo Gak ada masalah, kenapa bisa dipanggil ke ruang Bk? Yang masuk ke ruangan itu hanya anak bermasalah, kamu tau 'kan gimana marahnya mama kalo kamu di keluarin lagi?"
Gista mengangguk. "Iya aku tau, walaupun aku gak bikin masalah mama tetep marah sama aku."
___________
"Adara, mana saudari kembar yang lo ceritain di kelas tadi?" tanya Pipit, salah satu sahabat baik Adara.
Saat ini mereka berada dikantin, setelah perdebatan cukup panjang tadi Adara mengajak Gista pergi ke kantin namun gadis itu memintanya pergi lebih dulu karena dia masih ada urusan pada bu Lusi, wali kelasnya.
"Itu.." tunjuk Adara membuat semua menoleh, mereka menatap Gista yang baru tiba.
Anita mengelilingi tubuh Gista dengan mata memicing. "Kok gak ada mirip-miripnya ya?"
"Ho'oh katanya kembar kok gak mirip?" timpal pipit
Plak!
"Aw, Ih kok lo tampar gue sih dar?"
"Coba lo pada inget gue di kelas tadi bilang apa?"
Kedua gadis itu terdiam dengan otak bekerja, keduanya mengingat kembali perkataan Adara di kelas
"Guys, gue mau kasih tau kalian sesuatu." ujar adara
"Apaan dar?"
"Gue punya saudari kembar yang tak identik dan sekarang dia sekolah disini juga."
"Gimana, udah inget belom?" tanya Adara
Keduanya mengangguk secara bersamaan. "Hehe iya gue baru inget, tapi ya dar orang tu walaupun saudara kembar tak identik pasti ada mirip-miripnya sedikit. Lah kalian berdua gak ada tu mirip-miripnya.." ucap Anita yang di beri anggukan oleh Pipit
"Apa jangan-jangan kalian berdua—"
Bug.
"Jangan ngomong sembarangan, gue sama Gista emang saudara kandung dan wajarlah muka kita gak sama namanya juga kembar tak identik." sela Adara, ia merangkul Gista.
Maaf gue ga bisa ngasih bintang ga ada koin 😭😭