NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:64
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

hadir di pesta

Sementara itu, di ruang kerjanya sendiri, Devan Yudistira berdiri menatap foto lama yang tersimpan rapi di dompet kulitnya. Foto sederhana, sebuah rumah kecil, ayahnya mengenakan seragam tukang kebun, ibunya tersenyum lelah namun bangga.

Ucapan Pak Surya kembali terngiang jelas di kepalanya.

“Dev, kamu harus jadi anak yang sukses. Bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi untuk mengangkat derajat orang tuamu.”

Hari itu, saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah besar keluarga Assyura, Devan hanyalah anak lelaki dengan pakaian sederhana dan sepatu lusuh. Ia datang menemani ayahnya bekerja, tanpa tahu bahwa hidupnya akan berubah selamanya.

Ketika Pak Surya menawarkan untuk menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengan Rayya, Devan menolak.

“Saya tidak pantas, Pak,” ucapnya waktu itu, menunduk. “Saya takut merepotkan.”

Namun Pak Surya tersenyum dan menepuk pundaknya.

“Justru di tempat seperti itu kamu akan belajar banyak hal. Dunia lebih luas dari yang kamu bayangkan, Dev.”

Awal sekolah bukan masa yang mudah.

Rayya dengan caranya sendiri, mengompori teman-temannya.

“Dia bisa sekolah di sini karena dikasihani papa aku.”

Kalimat itu beredar cepat.

Devan sering menjadi bahan bisik-bisik, tatapan meremehkan, bahkan ejekan halus yang menusuk. Ia hampir membalas. Hampir menyerah. Namun wajah orang tuanya dan ucapan Pak Surya selalu menahannya.

Ia memilih diam.

Belajar lebih keras.

Berlatih lebih lama.

Prestasinya mulai berbicara.

Juara taekwondo tingkat provinsi.

Finalis olimpiade sains.

Ketua OSIS.

Hingga akhirnya, beasiswa Oxford University datang menghampirinya.

Saat itu, Rayya bahkan tidak menoleh.

Namun Devan tahu satu hal:

Ia tidak lagi berjalan di bawah bayang-bayang siapa pun.

Setelah lulus cum laude, tawaran kerja berdatangan. Perusahaan multinasional, gaji besar, posisi strategis. Namun Devan memilih satu hal—balas budi.

Dan satu alasan lain yang tak pernah ia ucapkan:

Ia ingin membuktikan pada Rayya Assyura

bahwa anak tukang kebun pun bisa berdiri sejajar dengannya.

Kembali ke masa kini.

Rayya meraih tasnya, berjalan keluar dari ruang kerja dengan langkah cepat. Lift membawanya turun ke basement, namun di dalam mobil, tangannya justru gemetar di setir.

“Aku nggak perlu datang,” gumamnya. “Aku nggak perlu membuktikan apa pun.”

Mesin mobil sudah menyala, namun Rayya belum juga melaju.

Ucapan Devan kembali terngiang.

Orang-orang yang bernyali.

Rayya tertawa kecil, getir.

“Dia pikir aku pengecut?”

Ia mematikan mesin, bersandar di kursi, menutup mata sejenak. Ada bagian dari dirinya yang ingin menghindar, menjaga jarak, melindungi luka lama. Namun ada bagian lain yang lebih keras kepala yang menolak kalah.

Akhirnya, Rayya menghela napas dan kembali ke kantornya. ia terlihat sedikit bingung.

“Baik, Devan Yudistira,” ucapnya lirih.

“Aku akan datang. Dan aku akan buktikan… siapa yang paling bernyali.”

Jam di dinding menunjukkan hampir pukul delapan malam ketika Rayya akhirnya menutup laptopnya. Ruangan direktur itu kembali sunyi, hanya suara pendingin udara yang menemani pikirannya yang berisik. Laporan tender sudah tersusun rapi, semua email penting sudah terkirim. Secara logika, ia punya alasan kuat untuk tidak datang ke acara penyambutan malam ini.

Dan sempat terpikir olehnya untuk benar-benar pulang.

Rayya meraih tasnya, berdiri, lalu melangkah menuju pintu. Tangannya bahkan sudah menyentuh gagang ketika sebuah kalimat tiba-tiba terlintas begitu jelas di kepalanya.

Acara ini memang khusus untuk orang-orang yang bernyali.

Rahang Rayya mengeras. Tangannya berhenti bergerak.

Ucapan itu seperti bara yang disiram bensin. Bukan sekadar sindiran, tapi tantangan terang-terangan. Devan mengatakannya dengan nada tenang, tapi Rayya tahu, pria itu sengaja. Ia mengenal Devan terlalu baik untuk tidak memahami cara halusnya menyerang.

Rayya menghembuskan napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia tidak suka perasaan ini. Perasaan terprovokasi. Perasaan seolah Devan masih punya kuasa untuk mengusik ketenangannya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

“Aku tidak perlu membuktikan apa pun,” gumamnya pelan.

Namun tubuhnya berbalik arah, kembali ke meja.

Rayya duduk lagi, menatap pantulan dirinya di layar laptop yang kini gelap. Wajah itu tampak tegar, rapi, berwibawa, wajah seorang direktur yang terbiasa mengambil keputusan besar. Tapi di baliknya, ada sesuatu yang bergejolak. Amarah lama yang ia kira sudah terkubur, kini muncul ke permukaan dengan cara yang tidak ia duga.

Ia mengambil ponsel, membuka kalender. Acara penyambutan tercatat jelas, lengkap dengan nama restoran mewah langganan perusahaan. Sebuah senyum tipis, nyaris sinis—terbit di bibirnya.

“Baik,” katanya pelan. “Kalau itu maumu.”

Rayya bangkit, mematikan lampu ruangan, lalu melangkah keluar dengan langkah mantap. Keputusannya sudah diambil. Ia lebih dahulu menuju rumahnya.

Di rumah, Rayya berdiri lama di depan lemari pakaiannya. Deretan gaun formal tergantung rapi, masing-masing mencerminkan kepribadian profesional yang selama ini ia bangun. Ia menelusuri satu per satu dengan ujung jarinya, berhenti pada gaun hitam sederhana dengan potongan tegas.

Tidak mencolok. Tidak berlebihan.

Namun elegan.

Rayya tahu betul medan yang akan ia hadapi malam ini. Bukan sekadar pesta penyambutan, tapi panggung tak kasat mata tempat orang-orang saling menilai, membaca gestur, dan menyusun kesimpulan. Dan tentu saja—tempat di mana Devan akan berada.

Ia mengenakan gaun itu, merapikan rambutnya menjadi sanggul rendah, lalu menatap bayangannya di cermin. Tatapan Rayya tajam, penuh kontrol. Ia memastikan tidak ada satu pun jejak keraguan yang tersisa.

“Ini hanya acara formal,” ucapnya pada diri sendiri. “Tidak lebih.”

Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat ia meraih kunci mobil.

Sementara itu, di sisi lain kota, Devan berdiri di depan jendela hotel tempat ia sementara menginap. Lampu-lampu kota berkilauan di bawah sana, mengingatkannya pada malam-malam panjang di luar negeri—malam yang ia isi dengan kerja keras, disiplin, dan ambisi yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang.

Ia merapikan jasnya, menatap pantulan dirinya di kaca. Wajahnya kini lebih dewasa, rahangnya lebih tegas, sorot matanya penuh keyakinan. Tidak ada lagi sisa anak laki-laki yang dulu datang ke rumah megah dengan sepatu usang dan kepala tertunduk.

Namun satu nama tetap mampu membuat dadanya mengeras.

Devan mengingat reaksi Rayya di ruang rapat tadi siang, ketegangan yang ia coba sembunyikan, tatapan dingin yang ia pertahankan dengan susah payah. Ia tidak melewatkan satu detail pun. Bahkan cara Rayya menggenggam pena terlalu kuat saat namanya disebut.

Ucapan sindiran yang ia lontarkan bukan tanpa tujuan. Devan tahu risikonya. Tapi ada bagian dalam dirinya yang ingin melihat, sejauh apa Rayya masih menyimpan api itu.

Dan diam-diam, ia berharap Rayya akan datang.

Restoran mewah itu mulai dipenuhi para tamu. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat, musik lembut mengalun di latar, dan percakapan-percakapan formal terdengar di berbagai sudut. Para direktur, manajer senior, dan tamu kehormatan mulai berkumpul, mengenakan busana terbaik mereka.

Devan berdiri di dekat meja utama, menyapa satu per satu dengan sikap profesional. Senyum tipis menghiasi wajahnya, cukup untuk menunjukkan keramahan, namun tetap menjaga jarak. Ia menjalankan perannya dengan sempurna.

Namun sesekali, pandangannya melayang ke arah pintu masuk.

Belum ada Rayya.

Ia meneguk air mineral, berusaha tampak tenang. Tidak ada yang tahu bahwa detik-detik berlalu terasa lebih lambat dari biasanya.

Hingga akhirnya, pintu restoran terbuka.

Percakapan di beberapa meja meredup sejenak.

Rayya melangkah masuk dengan langkah anggun. Gaun hitamnya membingkai tubuhnya dengan sempurna, wajahnya tenang, matanya tajam menatap ke depan. Ia menyapa beberapa kolega dengan anggukan sopan, senyum profesional terukir rapi.

Devan membeku sesaat.

Ada sesuatu tentang Rayya malam ini. bukan hanya kecantikannya, tapi aura keberanian yang terpancar jelas. Seolah Rayya datang bukan untuk menghindar, melainkan untuk menantang.

Pandangan mereka akhirnya bertemu.

Tidak ada senyum. Tidak ada anggukan.

Hanya tatapan lurus yang menyimpan terlalu banyak makna.

Rayya menahan napasnya selama sepersekian detik sebelum mengalihkan pandangan dan melangkah lebih jauh ke dalam ruangan. Ia datang. Dan itu saja sudah cukup untuk membuktikan satu hal.

Devan menarik napas pelan.

Permainan ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!