JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Setelah menelusuri hubungan keluarga pemilik tubuh asli, Lin Yao tiba-tiba menyadari jika dikehidupan sebelumnya ia seorang sebatang kara.
Tanpa keluarga, ikatan atau pun kekhawatiran. Memiliki cukup makanan, uang, rumah bagus dan kendaraan. Bisa dibilang ia mempunyai kehidupan yang membahagiakan.
Sementara itu satu jam setelah kepergian Lin Yao, Lin Shun telah turun gunung membawa seekor burung pegar dan kelinci liar.
Lin Shun amat gembira karena bisa memberi kedua adiknya makanan enak.
Namun ketika Lin Shun memasuki rumah, ia tidak dapat menemukan Lin Yao.
Lin Shun memanggil beberapa kali, tetapi cuma Lin Song yang berlari keluar menyambutnya.
Tadi Lin Yao berpamitan pada Lin Song, jika akan membelikan permen malt untuk dirinya dan menyuruh bocah itu menunggu dengan sabar dirumah.
Tapi sampai sekarang belum kembali juga.
Lin Song panik.
Begitu melihat sang kakak pulang, Lin Song gegas berlari, memeluk tubuh kurus Lin Shun.
Dengan suara gemetar Lin Song berkata "Kakak, kakak perempuan belum kembali. Dia bilang mau membelikanku permen malt, aku sudah menunggu begitu lama tapi dia tidak juga pulang."
Dada Lin Shun berdebar kencang, firasat buruk menghinggapi nalurinya.
Keluarga mereka kesulitan untuk makan, mana mungkin punya uang untuk membeli permen malt.
Mungkinkah adik perempuannya telah ditipu...?
Lin Shun menyimpan hasil buruannya, lalu melakukan pencarian keseluruh sudut desa.
Setiap orang yang ditemui Lin Shun dan Lin Song tanyai, tetapi semua penduduk desa menggelengkan kepala.
Takut, cemas, panik, bercampur menjadi satu.
Lin Shun dan Lin Song menyusuri jalan keluar desa dengan terus menyerukan nama Lin Yao.
Saat petang tiba dan jarak pandang menipis, kedua kakak beradik itu semakin cemas. Mereka melanjutkan pencarian ditepian hutan, tanpa perduli dengan duri-duri yang merobek pakaian mereka.
Disepetak rerumputan liar, Lin Shun menemukan ikat rambut yang ia kenali tergeletak disana. Itu milik Lin Yao, pemberian dari sang ayah sebelum pergi kemedan perang.
Lin Shun menggenggam erat benda itu, hatinya pedih mencekam.
"Kakak, ini milik----
"Ayo, kita cari kedalam...!"
Keduanya gegas bergerak, berlari menuju hutan yang sunyi.
Tepat saat itu, Lin Yao berjalan terhuyung-huyung muncul dari balik pohon besar.
"Adik...!"
"Kakak kedua...!"
Teriak Shun dan Song bersamaan, menangkap tubuh Lin Yao yang akan rubuh.
"Adik, apa yang terjadi padamu..?" tanya takut Shun, melihat Lin Yao berlumuran darah.
Rambut acak-acakan, badan kotor berantakan.
"Kakak kedua.!" seru Song menangis bergetar.
Lin Shun langsung mengangkat raga lemah sang adik lalu menggendongnya dipunggung untuk pulang kerumah.
"Yao'er, kau mendengarku..?" tanya Shun.
"Kakak perempuan, katakan sesuatu." kata Song memegang erat tangan lemah Lin Yao.
"Iya...!" lirih Lin Yao.
Perlahan kesadaran Lin Yao memudar, ia pulas tertidur karena saking lelah serta pusing.
Sesampainya dirumah, Lin Shun dengan hati-hati membaringkan Lin Yao ditempat tidur dan segera pergi mencari ramuan.
Lin Shun telah bertahun-tahun berburu dipegunungan dan menderita banyak luka, jadi ia selalu menyimpan ramuan dirumah untuk menghentikan pendarahan serta mengurangi pembengkakan.
Lin Song jongkok disamping ranjang beralas jerami, tangan kecilnya dengan gugup mencengkeram ujung bajunya. Mata bocah itu dipenuhi ketakutan.
Dengan lembut Lin Song meniup luka didahi Lin Yao. Ia ingat jika mendiang sang ibu pernah melakukan hal yang sama ketika dirinya terluka akibat jatuh.
Ibunya berkata, jika itu bisa mengobati rasi sakit.
Lin Shun menghancurkan bermacam taman herbal dan dengan penuh kehati-hatian mengoleskannya keluka Lin Yao.
"Nyalakan tungku, rebus tanaman obat itu." titah Lin Shun menunjuk mangkuk berisi ramuan tonik.
Lin Song mengangguk "baik...!"
Satu jam berlalu, tonik siap dikonsumsi dan bertepatan dengan Lin Yao yang mulai terbangun.
Saat Lin Yao mencoba untuk bergerak, sakit ditubuhnya menjadi lebih terasa.
"Yao'er...!"
"Kakak kedua..!"
"Air...!" pinta lemah Lin Yao.
Lin Song yang duduk disamping tempat tidur, segera berlari menuang air kemangkuk.
Dengan telaten Lin Song membantu kakaknya minum, setelahnya disambung dengan menelan tonik obat.
"Yao'er, apa yang terjadi..? kenapa kau bisa ada dihutan..?" tanya Lin Shun.
Lin Yao menceritakan semua secara detail dengan suara terbata-bata.
Lin Cheng mengepalkan tinjunya dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Sejak sang ayah menghilang, keluarga pamannya itu selalu saja menindas dan sekarang mereka bahkan berencana untuk menjual Lin Yao.
"Bagaimana mungkin bibi Hu begitu kejam..?" raung Lin Shun "aku akan memberi mereka pelajaran."
Lin Yao dengan cepat mencekal tangan sang kakak, saat Shun hendak beranjak.
"Kakak, tidak ada yang mengetahui kejadian ini. Kita tidak bisa membuktikan apa pun, percuma saja jika kita menuntut mereka. Bibi Hu pasti akan menyangkalnya, bahkan mungkin berbalik menuduh kita."
"Lalu aku harus diam saja..? kau terluka. Bagaimana kalau kau mati tadi..?" tanya nanar Shun.
Lin Yao terkesiap, jiwa asli memang telah mati. Yang berbicara kini orang lain, bukan Lin Yao asli.
"Kita akan membalas mereka nanti, dengan cara lain." balas Yao.
Lin Shun menggertakkan giginya, sebelum akhirnya mengangguk pasrah.
Setelah memastikan Lin Yao baik-baik saja. Lin Shun dan Song menuju kedapur untuk memasak makan malam.
Ruangan itu gelap dan lembap. Lin Yao berbaring diranjang lusuh, kepalanya masih pusing, tetapi pikirannya berpacu.
Didunia yang kacau ini, kelangsungan hidup bergantung padanya.
Karena takdir telah membawanya ke sini, Tuhan tidak mungkin membuatnya mati lagi.
Lin Yao bertekad akan menemukan cara untuk bertahan, membawa keluargaan meraih masa depan lebih baik dan hidup dalam kemakmuran.
semangat trs updatenyaaa 💪