di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.
tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.
Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis
hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.
> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <
> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUEL KECIL DI TAMAN ISTANA
Keesokan pagi, pada hari itu. musim gugur membawa angin hangat dari arah selatan, lingkungan istana di pagi hari yang damai memberikan kesejukan di dalam hati. terlihat dua anak remaja berlatih bersama di taman istana kekaisaran.
Kedua permaisuri duduk memperhatikan putra mereka dari kejauhan di sebuah gazebo dengan dua cangkir teh hangat yang berada diatas meja.
Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent dua putra sang kaisar xuanzi Laurent, bertukar jurus satu dengan yang lainnya di taman istana,
keduanya tampak serius dengan jurus mereka masing-masing.
Kenzie yang tidak berbakat namun memiliki tekad dan Reinzie yang memiliki bakat serta jenius mudah kerajaan. Keduanya terlihat begitu fokus menggunakan pedang kayu mereka.
Terlihat sang kakak yang mencoba mengalahkan sang adik justru malah tersungkur jatuh ketanah pada saat ia hendak memberikan serangan pada sang adik.
Sedangkan Reinzie selalu saja menghindari setiap serangan yang diarahkan sang kakak, ia tak membalas serangan tersebut mau hanya sekali saja, sebab ia tau betul bahwa jika ia menyerang balik, pastinya sang kakak akan kalah telak.
"aku terjatuh..." katanya pada reinzie "tapi aku tak akan menyerah, aku tak mau hidup di bawah perlindunganmu Rein hingga kita berdua dewasa nantinya!... sampai saat itu tiba di saat kita dewasa nanti, biarkan aku yang menjadi pelindungmu" ujar Kenzie dengan suara lelah
"kak Ken.... aku tak akan perna meninggalkan sisimu walaupun aku yang menjadi pelindungmu suatu saat nanti... Satu hal kak, aku tak pernah merasa bahwa dirimu menjadi sebuah beban bagiku, malah aku berpikir sudah sepantasnya kita saling menjaga dan saling melindungi satu sama lain". Ujar Reinzie kepada kakanya dengan nada yang meyakinkan dan penuh kasi
"aku tak akan membiarkan itu Rein... seharusnya aku yang menjadi pelindung. Seharusnya aku yang kamu harapkan!..." ujar Kenzie dengan mata yang menatap kearah reinzie dengan tekad yang terlihat jelas di dalam matanya.
"Ayok kita mulai lagi, sekarang serang aku jangan hanya menunggu serangan dariku dan menghindarnya terus menerus.. aku mau kamu memberikan perlawanan juga, jangan hanya menunggu serangan dariku" ujar Kenzie pada adiknya
"hmm...baik kak Ken, biar aku perlihatkan pada mu kak, apa yang kurang dari dalam dirimu... Agar kakak bisa belajar lebih giat lagi" ucap Reinzie dengan suara lembut
Berselang beberapa saat Kenzie pun kalah, dan ia kini duduk sambil menundukkan kepalanya, bukan karena malu tapi ia merasa belum pantas berdiri di sebelah adiknya, perasaannya membawa keraguan pada dirinya sendiri, ia merasa tidak akan perna pantas menjadi seorang Kaka yang dapat diandalkan oleh sang adik.
____..___
singkat cerita, angin musim gugur pun berembus lembut menyapu taman istana. Daun-daun sakura perlahan gugur, menari di udara sebelum menyentuh tanah. Kenzie duduk diam di samping Reinzie, pedang kayu masih dalam genggaman tangannya yang sedikit bergetar. Jemarinya mengencang, lalu melonggar… seolah mencoba melepaskan rasa tak mampu dari hatinya.
Permaisuri Arcelia, ibu kandung Reinzie, memandangi mereka dari gazebo dengan tatapan hangat. Di sisi lain duduk Permaisuri Yelena, ibu Kenzie, yang meneguk teh sambil menatap anak sulungnya dengan mata yang menyimpan rasa khawatir.
“Kenzie terlihat terlalu keras pada dirinya sendiri,” bisik Yelena pelan, matanya tak lepas dari sosok putra sulungnya. “Padahal… dia memiliki tekad membara di dalam dirinya yang tidak dimiliki siapa pun.”
Arcelia mengangguk pelan. “Dia tak ingin menjadi beban bagi reinzie suatu hari nanti. Bahkan dia ingin melindungi adiknya dan bukan sebagai yang dilindungi sang adik.”
Sementara itu, Reinzie menoleh ke arah Kenzie. Matanya yang merah menatap lembut.
“Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, kak,” ucapnya sambil merapikan helai rambut Kenzie yang terjatuh ke dahi. “Jurus bukan segalanya. Aku pernah membaca sebuah buku yang isi di dalamnya bertuliskan catatan.... keberanian untuk bangkit, meski berkali-kali kalah adalah inti dari kekuatan seorang pemimpin.”
Kenzie tak membalas, hanya memejamkan mata. Rasa perih di dadanya lebih dalam dari luka di tubuhnya saat berlatih. Ia menghela napas, lalu membuka matanya perlahan.
“Aku hanya… takut menjadi beban,” gumamnya pelan. “Semua orang melihatmu sebagai seorang jenius dan bakat muda paling kuat diantara generasi kita. Sementara aku… hanya seorang pangeran yang tak punya bakat sama sekali dalam berlatih bela diri.”
Reinzie terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Tapi kau punya sesuatu yang lebih penting dari semua bakat di dunia ini.”
Kenzie menoleh, bingung.
“Hatimu, kak. memiliki tekad yang kuat untuk ingin melindungi orang yang penting dalam hidupmu... Dan Itu lebih kuat daripada seribu jurus, atau teknik langit sekalipun.”
Tak lama, pelayan datang membawa mantel tipis dan memakainya pada kedua pangeran yang sedang duduk di atas rumput taman. lalu pelayan itu mengarahkan pandangannya kearah gazebo lalu berkata “Tuanku, kedua Permaisuri memanggil kalian ke gazebo.”ucap pelayan tersebut.
Mereka pun berjalan bersama ke arah gazebo. Di sana, kedua permaisuri telah menunggu. Begitu mereka berdua duduk di samping ibunda mereka masing-masing, suasana menjadi hangat dan damai.
Yelena menyambut Kenzie dengan senyum lembut dan mengelus rambutnya. “Kau belajar dari adikmu dengan sangat baik hari ini,” ucapnya lembut. “Meski kau kalah, tapi hatimu tidak pernah menyerah. Itu yang membuatmu berbeda.”
Arcelia lalu memegang tangan Reinzie. Dan berkata “Dan kau, anakku… kelak saat dunia menaruh harapan besar di pundakmu, ingatlah bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kekuatan yang kamu pelajari, melainkan dari belas kasih yang ada didalam dirimu dan juga pengertian yang kau miliki.”
Kembali pada Kenzie yang menempelkan tubuhnya pada ibunya, lalu ia memejamkan mata sejenak. Dalam dekapan ibunya, beban di dadanya sedikit mengendur. Namun jauh di dalam hati, ia tahu... suatu saat nanti, beban yang harus ia pikul akan jauh lebih berat dari sekadar kekalahan kecil di taman istana.
Dan entah kenapa, saat ia menoleh pada Reinzie yang sedang tertawa kecil bersama ibunya… ada sesuatu yang menyelinap ke dalam hatinya—sebuah rasa asing. Bukan iri, bukan cemburu, tapi seperti bayangan yang perlahan tumbuh dalam kesunyian...
Bersambung.
Apakah dunia akan tetap adil saat mereka tumbuh dewasa?
Sementara angin musim gugur terus bertiup, dan langit perlahan berubah menjadi gelap. Tak ada yang menyadari, bahwa kehangatan hari itu akan menjadi kenangan manis terakhir sebelum musim berganti dan takdir mulai menunjukkan taringnya.