DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: MAAF YANG TIDAK PERNAH ADIL**
**
Malam itu, jam sudah lewat tengah malam ketika pintu depan terbuka kasar, suara langkah sempoyongan terdengar dari lorong utama, dan bau alkohol menyengat memenuhi ruangan begitu Reza melangkah masuk dengan baju kusut dan rambut acak-acakan.
Junaedi, yang ternyata belum tidur, masih duduk di ruang tengah sambil membaca laporan kerja, langsung berdiri begitu melihat kondisi anaknya itu.
"Reza! Lo dari mana? Jam segini baru pulang, mabuk pula!"
"Bukan urusan Papa," Reza menjawab dengan suara yang berat dan kacau, kakinya masih goyah berusaha menyeimbangkan badan.
"BUKAN URUSAN GUE?!" Junaedi melangkah cepat, mencengkeram kerah baju Reza, "lo anak gue! Semua yang lo lakuin itu urusan gue!"
Untuk pertama kalinya, Junaedi benar-benar marah pada Reza, bukan kemarahan setengah hati seperti biasanya yang selalu berakhir dengan teguran ringan. Kali ini suaranya menggelegar, penuh kekecewaan yang sudah menumpuk lama tanpa Reza sendiri sadari, karena di mata Junaedi, proyek David yang gagal total minggu ini berarti satu hal yang sangat berat, anaknya, pewaris yang dia harapkan, akan jadi tersangka korupsi dalam waktu kurang dari seminggu, dan itu akan menghancurkan nama besar keluarga Wijayakusuma di mata seluruh dunia bisnis.
"Lo pikir gue gak tau lo udah bikin masalah apa aja selama ini?!" Junaedi berteriak, mendorong Reza hingga terhuyung ke dinding, "David bakal jadi tersangka minggu depan, dan gue tau ini bukan cuma soal dia yang gak kompeten!"
Reza, dengan kesadaran yang sudah separuh hilang karena alkohol, malah balas mendorong ayahnya, "Salah siapa Papa terlalu sayang sama anak haram itu?! Salah siapa Papa lebih milih dia dibanding gue, anak kandung Papa sendiri?!"
"DIEM LO!"
"GUE GAK MAU DIEM!" Reza berteriak lebih keras, badannya bergoyang tidak stabil tapi suaranya tetap menggelegar, "Papa kira gue gak tau Papa lebih sayang sama David cuma karena dia anaknya Mama Melati yang Papa cintai dulu! Gue sama Albert, sama Surya, kita cuma anak tiri buat Papa, kan?!"
"REZA!"
Kedua tangan mereka mulai saling dorong, hampir berakhir jadi perkelahian fisik, sampai Bunda Melati dan Serlina yang terbangun mendengar keributan, berlari ke ruang tengah, masing-masing menarik suami dan anak mereka, mencoba memisahkan dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
"Pa, udah, udah!" Bunda Melati menahan lengan Junaedi.
"Reza, sudah, Nak, jangan begini sama Papa," Serlina ikut menarik Reza dengan kekuatan yang dia kumpulkan dari rasa panik.
Reza, sambil masih meronta lepas dari pegangan ibunya, sempat berbalik sekali lagi sebelum melangkah ke kamarnya, menatap Junaedi dengan mata penuh dendam yang dibakar alkohol, "Awas lo, Papa sialan."
Dia membanting pintu kamarnya keras-keras, meninggalkan ruang tengah yang masih dipenuhi napas berat dan ketegangan yang belum sepenuhnya luruh.
***
Tiga hari berikutnya, kabar yang sama sekali tidak terduga mulai menyebar cepat di dunia bisnis Jakarta. Proyek mal Bekasi, yang sebelumnya sempat viral karena ambruk dan dianggap sarat korupsi, ternyata berhasil diselesaikan seratus persen dalam waktu sepuluh hari, jauh lebih cepat dari target awal yang bahkan terbilang mustahil oleh standar industri konstruksi mana pun.
"PEWARIS MUDA WIJAYAKUSUMA SELESAIKAN PROYEK MUSTAHIL DALAM SEPULUH HARI", judul-judul berita itu kini berbalik seratus delapan puluh derajat, dipenuhi nada kekaguman yang menggantikan tuduhan korupsi minggu lalu.
Kantor pusat dipenuhi wartawan, mikrofon berjejer lagi seperti minggu sebelumnya, tapi kali ini dengan tujuan yang sama sekali berbeda. Junaedi berdiri di depan kamera, kali ini dengan David di sampingnya, dan untuk pertama kalinya sejak kepulangan David dari koma, Junaedi mengucapkan kata-kata yang tidak pernah David bayangkan akan keluar dari mulut ayahnya.
"Saya bangga sama anak saya, David," Junaedi berkata di depan kamera, suaranya penuh kewajaran yang dipaksa terdengar tulus, "dia membuktikan kemampuan yang luar biasa di proyek ini."
Banyak klien besar yang sebelumnya ragu, sekarang justru berebut ingin bekerja sama, mengantre meminta jadwal pertemuan dengan David secara langsung, melihat potensi besar dalam sosok muda yang berhasil membalikkan kegagalan jadi pencapaian yang dibicarakan seluruh kota.
Di belakang kerumunan wartawan dan tepuk tangan staf yang menyambut keberhasilan itu, Reza berdiri sendirian, wajahnya keras menahan amarah yang membara, menyaksikan David yang sekarang justru jadi pusat perhatian, jauh dari rencana kehancuran yang dia susun rapi selama berminggu-minggu.
***
Sore harinya, setelah seluruh wartawan dan media pulang, suasana kantor mulai sepi. David, dengan dada penuh harapan, membawa setumpuk dokumen yang sudah dia kumpulkan, bukti-bukti sabotase, nama-nama pegawai yang terbukti dibayar, transfer dana yang mengarah ke jejak Reza, semuanya tersusun rapi, lengkap dengan kesaksian tertulis dari beberapa pekerja yang akhirnya berani bicara setelah proyek selesai dengan baik.
Dia masuk ke ruang kerja Junaedi, meletakkan semua berkas itu di meja.
"Pa, ini bukti lengkap soal siapa yang sebenarnya nyabotase proyek saya. Saya harap kali ini Papa bisa lihat sendiri, dan kali ini, saya harap keadilan benar-benar ditegakkan."
Junaedi membaca dokumen itu lama, halaman demi halaman, wajahnya semakin keras, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang sulit dia ungkapkan. Dia melihat semuanya, bukti yang jelas, tidak terbantahkan, menunjukkan keterlibatan Reza secara menyeluruh.
David menunggu dengan napas tertahan, berharap kali ini akan ada konsekuensi yang sepadan, berharap kebenaran akan benar-benar dihargai setimpal dengan perjuangan yang dia lalui.
Tapi setelah diam yang terasa begitu panjang, Junaedi menutup dokumen itu, menghela napas berat, dan mengucapkan kalimat yang membuat dada David seketika terasa diremas hancur.
"Reza khilaf. Kasih dia kesempatan lagi. Maafkan kakak kamu."
David berdiri mematung, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, "Pa... ini bukan khilaf. Ini direncanain. Berkali-kali. Saya hampir jadi tersangka korupsi karena ini."
"Papa tau," Junaedi menjawab pelan, matanya tidak berani benar-benar menatap David, "tapi dia tetap anak Papa. Kasih dia kesempatan, David."
"Dan saya?" David bertanya, suaranya bergetar menahan luka yang sudah terlalu sering berulang, "saya juga anak Papa. Kenapa Papa selalu lebih mudah maafin Reza dibanding percaya sama saya?"
Junaedi tidak menjawab, hanya menunduk menatap meja kerjanya, dan keheningan itu sendiri sudah jadi jawaban yang paling menyakitkan.
David berdiri sebentar lagi, menunggu kata-kata lain yang tidak pernah datang, lalu akhirnya berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu dengan dada sesak luar biasa, untuk pertama kalinya benar-benar bertanya-tanya dalam hati, kenapa ayah ini begitu mudah memaafkan satu anak, tapi begitu keras dan penuh syarat terhadap yang lain.
***
Setelah pintu tertutup dan ruangan itu kembali sunyi, Junaedi duduk sendirian di kursinya, membuka laci meja kerja, mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah agak menguning di pinggirnya, foto pernikahannya dengan Bunda Melati, jauh sebelum Serlina masuk ke dalam hidupnya.
Tangannya gemetar memegang foto itu, matanya menatap lama wajah muda dalam foto yang penuh kebahagiaan yang sekarang terasa begitu jauh.
Dia ingin marah pada Reza. Dia ingin, untuk sekali saja, menjadi ayah yang benar-benar adil seperti yang seharusnya. Tapi setiap kali dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk benar-benar menghukum Reza, bayangan Serlina yang bisa marah, yang bisa mengancam pergi membawa anak-anaknya, selalu lebih dulu muncul di kepalanya, membuat lututnya terasa lemas duluan sebelum kata-kata tegas itu sempat keluar dari mulutnya.
"Maaf, David," gumamnya sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun, suaranya pecah menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dia kubur, "Papa cuma... Papa takut."
Tangannya meletakkan foto itu kembali ke dalam laci, menutupnya perlahan, seolah ingin mengunci ketakutan yang baru saja sempat dia akui sendiri, sebelum siapa pun, termasuk dirinya sendiri, benar-benar sempat memahaminya lebih jauh.
*(bersambung)*