NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PERJALANAN BISNIS KE HOTEL RESORT

Selasa pagi yang seharusnya damai langsung berubah menjadi simulasi ujian mental bagi Anaya. Di atas meja kerjanya, sebuah map kulit berwarna biru tua tergeletak manis beserta dua lembar tiket pesawat kelas bisnis tujuan Bali.

"Kunjungan kerja ke Resort & Spa Bimantara Segara?" Anaya membaca ulang lembar disposisi dari meja CEO dengan mata membelalak. Selain mengelola PT Bimantara Food Internasional dan berhasil membawa perusahannya mengekspansi gurita bisnis mie instan dan minuman kemasan itu hingga ke pasar eropa, Bima memang sedang membawa perusahannya menjadi lebih besar, dan kini sedang merambah usaha di bidang perhotelan, Resort & Spa Bimantara Segara adalah gerakan pertamanya.

"Betul, Anaya. Proyek eco-resort kita di sana sudah masuk tahap penyelesaian akhir. Saya butuh memeriksa langsung kualitas pelayanan dan fisiknya sebelum grand opening bulan depan," suara bariton Bima mendadak terdengar dari arah pintu penghubung ruangan mereka. Pria itu berdiri menyandar di kusen pintu, melipat tangan di dada dengan setelan jas hitamnya yang sialnya selalu terlihat pas.

"Tapi Pak, kenapa mendadak sekali? Biasanya jadwal luar kota seperti ini sudah masuk agenda sejak sebulan lalu," protes Anaya, mencoba bersikap seprofesional mungkin walau jantungnya mulai berulah lagi sejak insiden "bekas lipstik" di pantry kemarin.

Bima menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat dengan senyum tipis yang mematikan. "Saya CEO-nya, Anaya. Saya bebas menentukan kapan saya mau bekerja di meja, dan kapan saya mau bekerja sambil menikmati angin pantai. Dan sebagai sekretaris utama, tugas kamu adalah mendampingi saya. Jangan bilang kamu takut?"

"Takut karena apa ya, Pak?" Anaya menantang tatapan elang Bima dengan berani, meski dalam hati dia merutuki aura dominan bosnya ini.

"Takut tidak bisa menahan diri kalau melihat saya memakai kemeja pantai yang kancingnya terbuka dua buah," goda Bima, lalu terkekeh rendah saat melihat wajah Anaya yang langsung berubah masam. "Bersiaplah. Kita berangkat besok pagi pukul tujuh. Semua urusan akomodasi dan transportasi sudah diurus oleh bagian sekretariat umum."

Anaya menghela napas pasrah. "Baik, Pak. Saya akan siapkan dokumen proyeknya."

*

Penerbangan selama hampir dua jam terasa berlalu begitu cepat karena Anaya memilih untuk pura-pura tidur sepanjang jalan demi menghindari obrolan narsis Bima. Begitu mendarat di Bandara Ngurah Rai, sebuah mobil jemputan mewah langsung membawa mereka menuju kawasan eksklusif di tepi pantai Bali, tempat Bimantara Segara Resort berdiri dengan megahnya.

Desain hotel itu luar biasa indah, memadukan arsitektur modern dengan sentuhan tropis yang mewah. Angin laut yang hangat menyambut mereka begitu memasuki area lobi terbuka yang langsung menghadap ke samudra luas.

"Selamat siang, Pak Bima. Selamat datang di Bimantara Segara," sapa sang General Manager hotel yang sudah berdiri menyambut bersama jajaran stafnya dengan membungkuk hormat.

"Siang. Langsung saja ke proses check-in, saya ingin menaruh barang dulu sebelum kita keliling area proyek," jawab Bima tegas, kembali ke mode bos karismatik yang dingin.

Anaya segera melangkah menuju meja resepsionis, mengeluarkan kartu identitasnya dan milik Bima. "Atas nama Bima Bimantara dan Anaya, pemesanan dari kantor pusat Jakarta."

Petugas resepsionis dengan sigap memeriksa sistem komputer, lalu tersenyum sangat ramah. "Baik, Ibu Anaya. Reservasi atas nama Pak Bima sudah dikonfirmasi. Sesuai dengan instruksi khusus dari Ibu Ambar Bimantara dari Jakarta melalui bagian sekretariat umum, kami sudah menyiapkan kamar terbaik."

Mendengar nama 'Ibu Ambar'—ibu kandung Bima yang terkenal sangat terobsesi ingin mencarikan menantu untuk anak semata wayangnya yang terlalu narsis itu—perasaan Anaya mendadak tidak enak. Sinyal bahaya di otaknya langsung berbunyi nyaring.

"Instruksi khusus... maksudnya bagaimana ya?" tanya Anaya pelan, matanya menyipit penuh selidik.

"Betul, Ibu. Untuk kunjungan kali ini, pihak kantor pusat memesan satu unit Presidential Suite dengan pemandangan langsung ke arah matahari terbenam. Dan ini kunci kamarnya," petugas itu menyerahkan satu buah kartu akses berwarna emas murni.

Anaya mematung. Satu kartu?

"Tunggu sebentar. Satu kamar? Maksudnya, hanya ada satu kamar untuk kami berdua?" suara Anaya naik satu oktav, membuat beberapa staf di dekatnya menoleh.

"Iya, Ibu Anaya. Presidential Suite kami adalah tipe vila privat terbesar. Karena ini pesanan khusus untuk Romance Occasion di dalamnya hanya ada satu kamar tidur utama yang dilengkapi dengan satu tempat tidur berukuran King Size. Ibu Ambar berpesan agar Pak Bima mendapatkan fasilitas terbaik dan didampingi penuh oleh sekretarisnya selama dua puluh empat jam penuh untuk efisiensi kerja," jelas sang resepsionis tanpa dosa.

Anaya rasanya ingin pingsan di atas lantai marmer lobi saat itu juga. Disabotase! Ini jelas-jelas konspirasi tingkat tinggi yang direncanakan oleh Ibu Ambar dengan memanfaatkan sekretariat umum kantor dan GM Resort ini!.

"Pak Bima! Ini tidak bisa dibiarkan!" desis Anaya begitu mereka berdua berjalan di koridor privat menuju vila Presidential Suite, diikuti oleh bellboy yang membawakan koper mereka.

Bima yang berjalan santai di sampingnya hanya menaikkan sebelah alis. "Apanya yang tidak bisa dibiarkan? Desain koridor ini? Saya rasa pencahayaannya sudah cukup bagus."

"Bukan koridornya, Pak! Kamar kita! Ibu Ambar menyabotase pesanan kamar! Kita cuma dapat satu kamar dengan satu kasur besar!" Anaya berbicara setengah berbisik dengan nada penuh kepanikan yang luar biasa. Bima menaikkan satu alisnya karena sedikit terkejut, namun kembali berpura-pura tenang, "Bapak harus minta kamar tambahan sekarang juga. Saya tidak mau sekamar dengan Bapak!"

Bima menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kayu jati berukir indah khas Bali. Dia mengambil kartu akses dari tangan Anaya, menempelkannya ke sensor hingga terdengar bunyi klik yang menandakan pintu terbuka.

"Anaya, hotel ini sudah fully booked karena minggu ini ada konferensi bisnis internasional di Bali dan beberapa kamar Suite sudah di book untuk para influencer yang akan mempromosikan Resort kita. Kamu pikir saya bisa mendepak tamu lain hanya demi gengsi kamu?" Bima mendorong pintu terbuka, menampilkan ruangan super megah yang langsung menyuguhkan pemandangan kolam renang pribadi dan laut lepas.

Dan tepat di tengah ruangan yang dibatasi kelambu putih transparan, sebuah kasur berukuran King Size yang sangat empuk berhiaskan lipatan handuk berbentuk sepasang angsa menyapa pandangan mereka. Desainnya benar-benar intim, terlalu intim untuk ukuran bos dan sekretaris.

"Tapi Pak—"

"Lagipula," Bima memotong kalimat Anaya, berjalan masuk lalu melempar jas hitamnya ke atas sofa santai. Pria itu berbalik, melonggarkan dasinya dengan gerakan lambat yang membuat tenggorokan Anaya mendadak kering.

Bima mengulas senyum miring, menatap Anaya yang masih berdiri kaku di ambang pintu. "Saya ini bos yang punya integritas tinggi, Anaya. Saya tidak akan menerkam kamu di bawah selimut, kecuali kamu yang memohon karena tidak tahan dengan pesona saya saat tidur."

"Dalam mimpi Bapak!" semprot Anaya kesal, langsung melangkah masuk dan menyambar koper pakaiannya sendiri dengan kasar. "Saya tidur di sofa! Titik! Jangan berani-berani Bapak melewati batas sofa itu kalau tidak mau saya colok mata Bapak pakai pulpen!"

Bima tertawa lepas, suara tawanya yang renyah terdengar begitu menyatu dengan suara deburan ombak di luar sana. "Silakan saja dicoba, Anaya. Kita lihat seberapa tahan kamu tidur di sofa keras itu sementara kasur ini sangat empuk."

Anaya hanya bisa mendengus kencang, menatap nanar ke arah kasur besar di depannya sambil merutuki nasibnya. Perjalanan bisnis ini baru saja dimulai, dan dia sudah bisa merasakan bahwa dinding pertahanannya akan diuji habis-habis di bawah atap yang sama dengan si bos narsis.

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!