Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DAMPAK YANG BESAR DAN PERJALANAN PULANG
Setelah suasana di tempat itu sudah aman dan Hendra beserta orang-orangnya sudah diamankan, rasa lega langsung menyelimuti hati mereka semua. Tapi nggak lama kemudian, rasa capek yang luar biasa langsung datang menyerang. Mereka duduk santai bersandar di tembok batu yang agak dingin itu, membiarkan napas mereka kembali teratur dan tenaga yang habis itu perlahan pulih lagi.
Alana mendekat ke Raka, lalu menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu sambil menarik napas panjang. Matanya terlihat lelah tapi senyumnya nggak pernah hilang.
“Syukurlah ya, akhirnya beres juga semua ini. Tadi aku sempat takut banget lho, rasanya udah nggak ada jalan keluar lagi. Kirain kita bakal kalah terus terjebak di sini selamanya.”
Raka memeluk pundak Alana pelan-pelan, tangannya mengusap lengan gadis itu supaya dia merasa lebih nyaman.
“Aku juga sempat ngerasa gitu kok. Tapi inget aja, selama ada kamu di sampingku, aku selalu yakin kita pasti bisa lewatin semuanya. Tadi ide kamu itu yang bikin kita menang, lho. Kamu tuh bukan cuma pendamping aku, tapi kamu juga penyelamat aku dan kita semua. Hebat banget deh pokoknya.”
Rian yang duduk di seberang mereka tersenyum denger obrolan itu. Wajahnya yang tadinya tegang banget sekarang keliatan jauh lebih ringan dan tenang. Rasanya beban yang selama ini dipikulnya udah terangkat semuanya.
“Iya bener kata Raka. Selama ini aku kira kekuatan itu cuma soal seberapa kuat kita bertarung atau seberapa banyak senjata yang kita punya. Ternyata salah besar ya. Yang paling kuat itu justru hati yang bersih dan teman-teman yang saling jaga satu sama lain. Hendra punya segalanya, tapi dia sendirian. Makanya dia kalah gampang banget.”
Gubernur William mengangguk-angguk setuju. Dia melirik ke arah Hendra yang sekarang duduk diam terpaku di pojok ruangan, tangannya sudah diikat. Wajah orang tua itu keliatan sedih campur kecewa.
“Kasihan juga sebenernya dia. Dulu aku kenal dia sebagai orang yang pintar, berani dan punya mimpi yang besar. Sayang banget dia malah memilih jalan yang salah. Kalau aja dia nggak dikuasai rasa benci dan ingin menang sendiri, pasti dia jadi orang yang dihormati dan dicintai banyak orang. Sayang sekali kesempatannya udah lewat.”
......................
Keesokan harinya, mereka mulai membereskan semuanya. Mereka mengecek setiap sudut ruangan, mengumpulkan semua catatan, bukti kejahatan, dan barang-barang penting yang ada di situ. Semakin banyak yang mereka temukan, semakin terkejut juga mereka. Ada daftar nama orang-orang yang dipaksa kerja sama, rencana-rencana jahat yang belum sempat dijalankan, sampai tumpukan harta yang dikumpulkan dari hasil menipu dan merugikan orang lain selama puluhan tahun.
“Coba deh lihat ini,” seru Raka sambil melempar buku catatan tebal ke atas meja.
“Semua kejahatannya tertulis rapi banget di sini. Mulai dari keributan yang terjadi bertahun-tahun lalu, pencurian uang negara, sampai hal-hal lain yang bikin kita semua susah. Ini cukup buat dia dan orang-orangnya bertanggung jawab seumur hidupnya.”
“Tapi nanti pas kita kasih tahu ke masyarakat, pasti banyak yang nggak percaya ya,” sahut Alana sambil membolak-balik lembaran buku itu.
“Selama ini orang-orang anggap dia orang baik banget, orang paling jujur dan paling peduli sama rakyat. Pasti kaget berat denger kenyataannya.”
“Iya bener tuh,” tambah Gubernur William. “Kita nggak boleh sembarangan kasih tahu juga. Takutnya malah bikin rakyat jadi bingung dan takut. Kita harus jelasin semuanya pelan-pelan, kasih bukti yang jelas, supaya mereka paham dan percaya dengan sendirinya.”
“Tenang aja, kita ada bukti yang kuat kok,” tutur Rian antusias.
“Ada kita semua, ada tulisan-tulisan ini, bahkan ada orang-orangnya sendiri yang sekarang mau cerita semuanya. Kebenaran pasti bakal diterima dengan baik, nggak usah khawatir deh.”
Setelah semuanya beres, mereka pun bersiap untuk pulang ke kota. Perjalanan kali ini rasanya beda banget pas mereka berangkat dulu. Dulu jalanan terasa berat, menegangkan dan penuh kekhawatiran. Sekarang rasanya ringan banget, hati senang, dan semangat mereka nggak ada habisnya.
Mereka berjalan melewati hutan yang rindang, menyebrangi sungai yang airnya bening, dan naik turun bukit. Suasana alam juga keliatan lebih indah dari biasanya. Burung-burung bernyanyi seolah ikut merayakan kemenangan mereka, angin berhembus lembut bikin badan jadi adem, dan sinar matahari pagi menyinari jalan mereka dengan hangat.
Di sepanjang jalan pulang itu, mereka banyak banget ngobrol santai. Rian cerita banyak soal masa lalunya, soal kesalahan yang pernah dia buat, dan juga harapannya buat hidup yang lebih baik ke depannya. Gubernur William juga berbagi banyak cerita dan nasihat dengan cara yang asik, nggak menggurui sama sekali.
Sementara itu, Raka dan Alana sering jalan berdua di belakang kelompok. Mereka menikmati waktu berdua sambil ngobrol tentang banyak hal, dari yang serius sampai yang receh.
“Abis ini semua beres, kira-kira kita bakal punya waktu buat istirahat tenang nggak ya?” tanya Alana sambil menatap langit biru yang luas.
“Aku udah capek banget lho ngadepin bahaya terus. Pengennya hidup biasa aja, tenang dan bahagia aja.”
Raka menoleh, lalu tersenyum melihat wajah cantik kekasihnya itu.
“Aku juga pengen banget gitu, sayang. Kita udah berjuang keras banget, ngorbanin waktu, tenaga bahkan nyawa. Pantes banget deh kita dapetin hidup yang damai. Nanti kita bisa bangun rumah yang nyaman, berkebun, bantu-bantu warga sekitar, dan jalani hari-hari dengan bahagia. Tapi...”
Raka berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lembut.
“Aku juga sadar sih, hidup itu nggak bakal selalu mulus kan? Pasti bakal ada aja masalah atau tantangan baru yang datang. Tapi aku nggak takut lagi. Selama ada kamu di sampingku, ada teman-teman yang baik, dan kita tetep jalan di jalan yang benar, aku yakin kita pasti bisa lewatin semuanya dengan baik. Setuju nggak?”
Alana mengangguk cepat sambil tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca karena haru.
“Setuju banget! Dan aku juga bakal selalu ada buat kamu, apapun yang terjadi. Kita jalan bareng terus ya, sampai tua nanti.”
“Pasti dong,” jawab Raka sambil menggenggam tangan Alana erat-erat.
“Janji deh.”
Mereka berdua terus berjalan beriringan, tangan mereka nggak pernah lepas. Perjalanan ini memang sudah selesai, tapi perjalanan hidup mereka berdua masih sangat panjang. Dan mereka siap buat menjalaninya bersama-sama dengan hati yang penuh semangat dan cinta.