NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Tekanan Inti Emas

​Udara di sekitar menara batu itu seolah membeku. Rintik hujan yang jatuh dari langit berhenti di udara, tertahan oleh tekanan energi spiritual murni yang memancar dari Tetua Gui Ming. Berdiri di atas udara kosong adalah tanda mutlak pemahaman hukum alam tingkat menengah—sebuah ranah di mana kultivator tidak lagi meminjam energi dunia, melainkan mulai memerintahkannya.

​Di lantai tiga menara yang atapnya telah hancur, tubuh Lin Tian terasa seperti ditindih oleh gunung tak kasat mata. Lantai kayu di bawah kakinya retak-retak hanya karena ia menahan tekanan dari tatapan sang Tetua.

​"Menarik," Tetua Gui Ming memicingkan matanya, mengamati Lin Tian dari atas langit. "Tidak ada Dantian. Tidak ada sirkulasi Qi. Fisikmu seperti lubang hitam yang menelan segala hal. Pantas saja Feng Yang yang bodoh itu bisa kehilangan kapalnya. Tapi trik fisik kotor dari era barbar tidak akan berlaku di hadapanku."

​Lin Tian bernapas dengan ritme pendek dan dalam. Inti Teratai Pedang-nya berputar cepat, mencoba melahap tekanan spiritual yang meremukkan tulang-tulangnya. Namun, perbedaan kekuatan mereka saat ini terlalu besar. Gui Ming bukanlah Zhao Tiangang yang baru setengah langkah, dan bukan pula Feng Yang yang mengandalkan formasi kapal. Ini adalah monster Inti Emas sejati di puncak kekuatannya.

​Jika Lin Tian menyerang secara langsung, ia mungkin bisa mendaratkan satu tebasan mematikan menggunakan Gagang Pemutus Langit. Tapi bayarannya adalah tubuhnya sendiri akan meledak karena Tulang Pedang Sejati-nya belum disempurnakan oleh Kristal Tulang Naga. Ia tidak boleh mati di sini. Adik-adiknya menunggunya.

​"Kau membunuh Tuan Muda Chu Yun," lanjut Gui Ming, suaranya berubah menjadi geraman yang menggetarkan jiwa. "Sekte Pedang Surgawi menginginkan kepalamu, tapi aku menginginkan rahasia fisikmu terlebih dahulu. Aku akan mencabut anggota tubuhmu satu per satu dan menyimpannya di dalam toples roh!"

​Gui Ming tidak membuang waktu untuk merapal mantra panjang. Ia hanya mengangkat tangan kanannya ke depan dan mencengkeram udara.

​Sihir Inti Emas: Cengkeraman Bayangan Penjara Roh!

​Seketika, bayangan-bayangan di sekitar reruntuhan menara memanjang dan melesat ke arah Lin Tian, membentuk sebuah tangan raksasa berwarna hitam pekat yang terbuat dari Qi murni. Tangan itu meluncur dengan kecepatan yang mengunci ruang, membuat Lin Tian tidak bisa menghindar ke kiri maupun ke kanan.

​KRAAAK!

​Tangan bayangan raksasa itu menggenggam tubuh Lin Tian. Kekuatan remasannya seratus kali lipat lebih kuat dari rahang naga darat.

​Kulit Lin Tian berderit keras. Urat-urat perunggunya menonjol menahan kompresi mematikan itu. Lengan kanannya yang terbalut perban mulai memercikkan darah. Jika ia adalah kultivator Pembangunan Pondasi biasa, tubuhnya sudah menjadi pasta daging dalam sedetik.

​"Masih menolak hancur?" Gui Ming mendengus dingin melihat ketahanan tubuh mangsanya. "Mari kita lihat seberapa keras tulang fana itu!"

​Tetua itu memutar pergelangan tangannya, berniat mematahkan tulang belakang Lin Tian.

​Rasa sakit yang merobek kewarasan menghantam saraf Lin Tian. Inti Teratai Pedang di perutnya mulai retak lebih lebar. Ia tahu, waktunya telah habis.

​"Jangan sombong... pak tua," desis Lin Tian.

​Di dalam cengkeraman raksasa itu, tangan kiri Lin Tian yang masih memiliki sedikit ruang gerak merogoh sabuknya, meraih Gagang Pemutus Langit.

​Ia tidak bisa mengayunkannya secara penuh untuk membunuh Gui Ming. Tapi ia bisa menggunakannya untuk menghancurkan sangkarnya.

​Lin Tian memompa seluruh sisa esensi ketiadaan dari Inti Teratainya ke dalam gagang kuno tersebut.

​ZIIINGGG...

​Bilah bayangan ketiadaan berwarna perak gelap menyembul keluar, merobek energi bayangan yang mengekangnya. Suara jeritan gaib terdengar saat Cengkeraman Bayangan Penjara Roh milik Gui Ming terpotong dan terurai menjadi ketiadaan!

​"Artefak apa itu?!" Mata Gui Ming terbelalak melihat sihir tingkat tingginya dihancurkan dengan begitu mudah oleh bilah pedang yang tidak memancarkan cahaya spiritual. Keserakahan seketika menyala di matanya. "Harta karun dewa! Bocah, serahkan pedang itu dan aku akan mengampuni nyawamu!"

​Lin Tian terbebas dari cengkeraman, jatuh berlutut di atas lantai kayu sambil memuntahkan darah hitam. Lengan kanannya yang retak bergetar hebat.

​Ia mendongak, menatap Gui Ming dengan senyum mengejek yang mengerikan.

​"Kau ingin harta ini? Ambillah dari dasar neraka."

​Alih-alih melompat menyerang Tetua Inti Emas di langit, Lin Tian membalikkan Gagang Pemutus Langit ke bawah. Dengan seluruh sisa kekuatan fisiknya, ia menghujamkan bilah ketiadaan itu lurus menembus lantai menara!

​JLEB!

​Bilah itu menembus lantai kayu, menembus fondasi batu menara, dan terus menembus ke dalam tebing karang raksasa yang menjadi pijakan bangunan tua tersebut. Energi ketiadaan yang rakus seketika menghancurkan struktur kohesi bebatuan tebing.

​"Orang gila! Apa yang kau lakukan?!" Gui Ming menjerit panik, menyadari niat bunuh diri buruannya.

​BOOOOOOMMMMMM!!!

​Seluruh tebing karang raksasa di bawah menara hancur berantakan. Fondasi runtuh seketika. Menara batu tua itu terbelah dan miring secara drastis, sebelum akhirnya runtuh ke dalam jurang gelap tak berdasar yang menganga di bawahnya.

​Ribuan ton batu, puing-puing, dan kayu lapuk jatuh seperti air terjun kehancuran, membawa serta tubuh Lin Tian yang terjun bebas ke dalam kegelapan.

​Di udara, Gui Ming meraung marah. Ia tidak peduli dengan reruntuhan itu, ia hanya peduli pada buronannya dan artefak dewa tersebut!

​Gui Ming menukik turun dengan kecepatan kilat, menembakkan ratusan pilar cahaya pedang ke dalam jurang untuk membersihkan puing-puing yang jatuh. "Kau tidak akan bisa kabur dari pelacakanku, Iblis Cacat!"

​Namun, saat Gui Ming mencoba mengunci aura jiwa Lin Tian di tengah reruntuhan yang jatuh, ia tersentak kaget.

​Aura Lin Tian lenyap!

​Sisa-sisa energi ketiadaan dari Gagang Pemutus Langit yang meledakkan tebing tadi menciptakan medan distorsi spasial berskala kecil, mengacaukan seluruh persepsi spiritual milik sang Tetua Inti Emas. Di tambah lagi, di dasar jurang tersebut mengalir Sungai Darah Hitam—aliran arus bawah tanah beracun yang terkenal mampu meredam pelacakan spiritual apa pun.

​DDUAARRR!

​Ribuan ton batu menghantam aliran sungai deras di bawah, menciptakan ombak setinggi puluhan meter.

​Gui Ming melayang tepat di atas sungai yang bergolak. Wajahnya merah padam menahan amarah yang nyaris membuat pembuluh darahnya pecah. Ia menembakkan mantra bertubi-tubi ke dalam sungai, meledakkan air menjadi uap panas, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan, maupun mayat Lin Tian.

​"Sial! Sialaaan!" raung Gui Ming, suaranya membelah langit malam pinggiran kota.

​Seorang fana tanpa Dantian baru saja membodohinya, lolos dari genggaman seorang Inti Emas Menengah menggunakan penghancuran massal.

​"Kirim pesan ke seluruh pasukan blokade!" perintah Gui Ming kepada udara kosong, mengirimkan jimat komunikasi berapi. "Perketat penjagaan! Geledah setiap lubang tikus di kota! Jika dia selamat dari jatuhnya tebing ini, tulangnya pasti remuk! Aku ingin mayatnya sebelum matahari terbit!"

​Sepuluh mil dari lokasi menara, di hilir Sungai Darah Hitam yang bermuara di saluran pembuangan rahasia Kota Batu Darah.

​Air sungai yang berbau busuk dan beracun itu memuntahkan sebuah sosok ke tepi bebatuan yang berlumpur.

​Sosok itu merangkak dengan susah payah keluar dari air. Jubah hitamnya compang-camping, topeng kayunya telah patah separuh, memperlihatkan separuh wajah yang penuh memar dan luka sayat.

​Itu adalah Lin Tian.

​Ia terbatuk keras, memuntahkan air beracun bercampur darah segar. Tubuhnya berada dalam kondisi terburuk sejak ia memulai kultivasi fisik. Beberapa tulang rusuknya patah akibat benturan puing-puing tebing saat jatuh, dan Inti Teratai Pedang di perutnya meredup, nyaris berhenti berputar untuk melindungi sisa energinya. Lengan kanannya sama sekali tidak bisa digerakkan.

​"Belum... aku belum boleh mati..." gumam Lin Tian. Suaranya sangat pelan, bergetar menahan rasa sakit yang akan membuat manusia normal pingsan atau gila.

​Ia memaksa dirinya bangkit, menggunakan dinding saluran air yang berlumut sebagai penopang. Keinginannya untuk hidup tidak didorong oleh ketakutan, melainkan oleh amarah yang murni. Amarah atas kelemahannya sendiri.

​Hanya seorang Inti Emas Menengah sudah memaksaku mengubur diriku sendiri untuk lari, batin Lin Tian, matanya yang menyala perak meredup, namun tekadnya mengeras seperti berlian. Dunia ini terlalu besar. Tanah Suci memiliki monster tingkat Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir), bahkan tingkat Void. Jika aku berpuas diri dengan sedikit kekuatan fisik ini, Xue-er dan Chen akan mati bersamaku.

​Ia meraba kantong penyimpanan yang terikat erat di balik jubah dalamnya, memastikan kotak gaharu berisi Kristal Tinta Tulang Naga aman dari air sungai.

​Benda itu selamat. Kunci untuk menembus batas fana-nya ada di sana.

​Dengan sisa kekuatan yang ia peras dari sumsum tulangnya, Lin Tian tertatih-tatih menyusuri gorong-gorong bawah tanah yang gelap gulita. Ia harus kembali ke penginapan Tong Hitam tanpa ketahuan. Tuan Hei mengatakan bahwa Kapal Dagang Persekutuan Seratus Harta akan lewat lusa—yang berarti besok adalah hari keberangkatan mereka.

​Ia tidak punya waktu untuk istirahat. Begitu ia sampai di penginapan, ia akan langsung mengunci diri dan menelan Kristal Tulang Naga tersebut. Meskipun tubuhnya hancur lebur, ia harus menahan siksaan evolusi tulang, atau mereka semua akan mati di kota perbatasan ini.

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!