Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu tembakan
Aveline tidak langsung menghentikan langkahnya setelah pintu tertutup di belakangnya. Ia tetap berjalan masuk, seolah memang bagian dari alur ruangan itu sejak awal. Gelas kosong masih berada di tangannya, posisinya sedikit terangkat, cukup untuk memberi kesan bahwa ia datang dengan tujuan yang wajar, bukan sebagai penyusup.
Langkahnya terarah dengan tatapan yang bergerak singkat, menangkap posisi pria tanpa topeng yang duduk tidak jauh dari meja utama. Usianya tidak terlalu tua, tetapi jelas bukan anak muda. Garis wajahnya kasar, dengan kumis tipis yang tidak dirapikan sempurna. Cara duduknya tidak santai, meskipun ia berusaha terlihat biasa. Bahunya sedikit tegang, dan jemarinya bergerak pelan di atas permukaan meja, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
Aveline perlahan mulai mendekat.
Sementara itu, di sisi lain ruangan, pria bertopeng yang duduk lebih jauh dari cahaya sedikit memiringkan kepalanya. Tatapannya mengikuti langkah Aveline tanpa terputus. Ia tidak bergerak, tetapi perhatiannya jelas terfokus.
Ia mecondongkan tubuhnya sedikit ke arah pria tanpa topeng.
Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh sisa musik dari luar.
“Kau memesannya?”
Pria tanpa topeng tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat tipis, seperti seseorang yang justru menemukan sesuatu yang menarik di tengah situasi yang seharusnya tidak ia harapkan.
“Tidak,” jawabnya pelan. “Tapi sayang, bukan … kalau dilewatkan?”
Tatapannya beralih sekilas ke arah Aveline yang semakin dekat.
Pria tersebut tidak mengikuti arah pandang itu. Ia tetap menatap lurus ke depan, tetapi nada suaranya berubah sedikit lebih tegas.
“Jangan lupakan apa urusan kita di sini.”
Temannya hanya menghembuskan napas pendek, hampir terdengar seperti tawa ringan yang ditahan.
“Kalau kau berkata begitu, bukankah justru terlihat ada yang tidak beres di antara kita?” balasnya santai.
Ia bersandar sedikit ke kursinya, seolah benar-benar tidak merasa terancam.
“Sudahlah. Mungkin pihak club memberikan layanan tambahan untuk pemilik ruang VIP.”
Lalu, tanpa menunggu reaksi lebih jauh, ia mengangkat dagunya sedikit.
“Ayo, manis. Kemarilah.”
Aveline tersenyum dibalik cadarnya. Kaki rampungnya mulai melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka tinggal nyaris tidak ada. Gelas di tangannya, diletakkan begitu saja di atas meja tanpa suara. Tangannya bergerak ringan, menyentuh permukaan meja, lalu bergeser perlahan mendekati pria itu.
Ia berdiri di sampingnya, tidak langsung duduk. Tatapannya turun sejenak, seakan sedang menilai sesuatu.
“Sendirian?” tanyanya pelan, nada suaranya ringan, seolah tidak ada maksud lain di balik pertanyaan itu.
Pria itu tersenyum miring. “Sekarang tidak lagi.”
Aveline tidak langsung membalas. Ia justru menarik kursi di sampingnya dan duduk dengan gerakan yang tenang. Posisi tubuhnya sedikit condong, cukup dekat untuk masuk ke ruang pribadi pria itu tanpa terlihat memaksa.
Tangannya terangkat perlahan.
Bukan untuk menyentuh, tetapi cukup dekat untuk memberi tekanan tanpa benar-benar melakukannya.
“Kalau begitu ... aku datang di waktu yang tepat.”
Pria itu menoleh ke arahnya. Jarak di antara mereka semakin sempit. Senyum di wajahnya tidak hilang, tetapi matanya sedikit berubah—lebih tajam dan semakin memperhatikannya.
Sementara partner bertopennya tidak mengatakan apapun. Namun kini posisinya tidak lagi sama.
Bahunya sedikit maju, dan satu tangannya bergerak turun ke sisi kursi, tersembunyi dari pandangan langsung. Ia tidak menyela, tetapi jelas bahwa ia sedang berusaha untuk meningkatkan kewaspadaannya.
Aveline—gadis itu menyadarinya. Meski begitu, ia sama sekali tak berniat menoleh. Perhatiannya tetap pada pria di depannya.
“Biasanya orang yang datang ke sini, tidak terlihat setenang kau.” ucapnya pelan, jari-jarinya kini menyentuh ringan ujung meja di dekat tangan pria itu.
Lelaki tersebut mengangkat alis sedikit. “Kau mengamatiku?”
Aveline tersenyum tipis. “Aku memilih.” ada jeda singkat di ujung lidahnya.
Pria itu tertawa kecil, kali ini lebih jelas. Namun di balik tawa itu, napasnya sedikit lebih berat dari sebelumnya.
“Aku suka pilihanmu.”
Aveline tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.
Dan di saat itulah, ketegangan di ruangan itu berubah. Tetapi karena semua orang di dalamnya—baik yang berbicara, maupun yang diam—sudah menyadari bahwa pertemuan ini bukan lagi sekadar kebetulan.
Aveline tidak menarik jarak setelah duduk di samping sang pria. Ia justru bergerak lebih dekat, lalu tanpa ragu menyesuaikan posisi tubuhnya hingga duduk di pangkuannya. Gerakan tubuhnya tampak tenang, tanpa tergesa, seoerti hal yang biasa dilakukan di tempat seperti ini.
Pria itu tampak jelas terkejut sesaat, tetapi reaksinya cepat berubah. Tangannya terangkat, menahan pinggang Aveline dengan refleks yang tidak disembunyikan. Senyum miring kembali muncul di wajahnya, kali ini lebih lebar.
“Cepat sekali,” gumamnya rendah.
Aveline hanya membalas dengan tatapan singkat, lalu memalingkan wajah sedikit, seolah tidak terlalu peduli dengan komentar yang kelar dari bibirnya. Tangan gadis itu terangkat perlahan, mengambil gelas yang tadi ia letakkan. Ia tidak langsung memberikannya. Melainkan menuangkan minuman terlebih dahulu ke dalamnya—cairan berwarna gelap itu mengalir pelan, memenuhi setengah bagian gelas.
“Minum,” ucapnya pendek.
Sang empu tidak menolak. Ia menerima gelas tersebut, tetapi sebelum benar-benar meminumnya, tangannya bergerak lebih dulu menangkap jemari Aveline. Gerakannya tidak kasar, tetapi cukup jelas. Hingga membuat kepalanya sedikit menunduk.
Bibirnya menyentuh punggung tangan Aveline.
Kontak itu singkat, tetapi cukup untuk membuat Aveline berhenti sepersekian detik. Wajahnya tetap tenang, tidak berubah. Namun di balik itu, ada jeda kecil yang tidak ia tunjukkan, reaksi jijik yang sengaja ditahan.
Bajingan itu tertawa pelan, lalu akhirnya meneguk minuman di gelasnya.
Aveline menarik tangannya tanpa terburu-buru. Ia tidak menunjukkan penolakan, dan juga tidak memberi respon berlebihan. Ia hanya kembali mengambil botol di meja, menuangkan lagi ke dalam gelas yang sama begitu isinya berkurang.
“Pelan saja,” katanya ringan, seolah mengingatkan.
Alis pria itu terangkat sedikit. “Kau yang menuangkan, bukan?”
Aveline menatapnya sekilas. “Kalau begitu, habiskan.”
Nada suaranya tetap datar, tetapi tidak terdengar memaksa.
Bibirnya yang sedikit hitam kemudian tersenyum lagi. Kali ini tanpa banyak bicara, ia langsung meminumnya. Tegukan pertama diikuti yang kedua, lalu ketiga. Aveline tidak menghentikannya. Ia justru kembali menuangkan ketika gelas itu hampir kosong.
Perlahan, ritme napas pria itu mulai berubah. Bahunya tidak lagi setegak sebelumnya. Cara ia bersandar juga berbeda—lebih berat dan longgar, seperti mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Aveline tetap berada di posisinya.
Tangannya masih bergerak mengisi gelas, seolah itu satu-satunya hal yang ia lakukan sejak tadi.
Sedangkan pria yang masih memakai topeng tersebut tidak lagi hanya duduk diam.
Ia memperhatikan gadis itu dengan tajam. Mulai dari gerakan Aveline dan tindakan janggal yang dilakukannya.
Aveline tidak menoleh, tetapi ia menyadarinya. Pria di bawahnya kini menghembuskan napas berat. Kepalanya sedikit miring, dan fokus matanya tidak lagi setajam sebelumnya. Gelas digenggamannya hampir terlepas, tetapi Aveline lebih dulu menahannya.
“Sudah cukup?” tanyanya pelan.
Pria itu tertawa pendek, nadanya tidak stabil. “Belum .…”
Namun kalimatnya terputus secara tiba-tiba.
Aveline tidak melanjutkan. Ia hanya menahan gelas itu, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Posisi tubuh targetnya kini benar-benar berubah. Lebih berat dan lebih sulit menahan keseimbangan.
Di saat yang sama, gerakan dari sisi ruangan berubah. Pria di sampingnya berdiri.
Langkahnya tidak terburu-buru, tetapi langsung mendekat. Jarak di antara mereka tertutup dalam beberapa detik. Tanpa suara keras, maupun peringatan. Dengan kecepatan yang nyaris tidak bisa ditebak, tangannya terulur menarik kain yang menutupi wajahnya. Membuat Aveline sama sekali belum sempat beraksi atau mungkin dia sengaja melakukannya.
Tarikan itu tidak kasar, tetapi tegas hingga membuat kain tersebut lepas dari wajahnya dan jatuh di lantai marmer.
“Aku benar-benar penasaran denganmu. Rupanya aku memang mengenali wajahmu, Nona.” Nada bicaranya sangat pelan, tetapi cukup tajam meski sekedar menekan.
Aveline tidak menjawabnya. Ia justru bergerak lebih dulu, mendorong tubuh pria yang sejak tadi mulai kehilangan kesadaran ke samping dengan tekanan yang tidak berlebihan. Tubuh itu jatuh berat ke sandaran sofa, tidak lagi memberi reaksi berarti. Ruang di sampingnya terbuka, dan tanpa ragu Aveline memanfaatkannya. Dia ikut merebahkan tubuhnya di sofa yang sama, satu tangan menopang kepala, posisi santai seolah ia benar-benar hanya datang untuk menemani, bukan menyusup ke dalam situasi berbahaya.
Seulas senyum tipis muncul di wajahnya.
“Ouh? Aku juga merasa sangat familiar dengan suaramu,” jawabnya ringan, terlalu tenang untuk situasi seperti itu, sampai cukup untuk memancing jeda kecil dari lawan bicaranya.
“Kau tahu apa yang kau lakukan, Nona?” lanjut suara itu, kali ini lebih rendah. “Kau sama saja mengantar nyawa padaku.”
Aveline tidak merubah posisinya.
“Benarkah?”
Tangan itu bergerak ke sisi tubuhnya, lalu kembali dengan sebuah pistol di genggaman. Cara mengangkatnya rapi, stabil, dan langsung mengarah tanpa ragu, jelas bukan sekedar gerakan sembarangan. Senjata itu terarah tepat ke Aveline dalam satu garis lurus yang tidak goyah.
Aveline melihatnya. Lalu ia tertawa pelan.
Bukan tawa panjang, tetapi cukup terdengar jelas di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih sempit. Reaksi itu tidak sesuai dengan keadaan, dan justru itulah yang membuat lawannya berhenti sepersekian detik, mencoba membaca sesuatu yang tidak ia dapatkan dari wajah Aveline.
“Percaya atau tidak,” ucapnya dingin. “Aku bisa membunuhmu sekarang juga.”
Aveline tidak menghentikan senyumnya.
“Lakukan saja.” Nada suaranya tetap datar, tanpa perubahan sedikit pun.
Sang gadis menggeser posisi tubuhnya sedikit di sofa, tetap terlihat santai, seolah pistol yang mengarah padanya bukan ancaman yang perlu ditanggapi.
“Lagipula, William sedang menungguku … atau mungkin—” Aveline berhenti sejenak, memberi jeda yang disengaja. “Dia sedang bergerak ke sini.”
Suara decihan terdengar pendek, jelas meremehkan.
“Mengharapkan pertolongan dari pria yang bahkan tidak peduli padamu?” balasnya. “Nona … sebaiknya ingat siapa dirimu sebelum—”
“Jika kau terus berceloteh, tidak akan ada kesempatan bagimu untuk kabur.” Aveline memotong dengan nada yang sama tenangnya, tidak memberi ruang untuk kalimat itu selesai.
Jeda itu kembali muncul, lebih berat dari sebelumnya. Lalu lawan bicaranya terkekeh dari balik topengnya.
“Itu mudah,” katanya. “Aku hanya perlu menjadikanmu sandera.”
Gerakannya datang tanpa peringatan. Dalam satu tarikan cepat, pergelangan tangan Aveline ditangkap dan tubuhnya ditarik dari posisi rebah. Ia tidak diberi waktu untuk menyeimbangkan diri. Lengannya diputar ke belakang dengan sudut yang tepat, tekanan jatuh di sendi hingga mengunci gerak tanpa perlu tenaga berlebih. Tubuh Aveline tertahan di depannya, sementara satu tangan lainnya mengarahkan pistol lebih dekat.
Ujung laras itu menempel di pelipis Aveline. Jaraknya rapat, tidak menyisakan ruang, hingga Aveline bisa memastikan rasa dingin yang menyambar kulit kepalanya.
Dan pada detik berikutnya ....
Brak!
Pintu ruang VIP didobrak hingga terbuka paksa.
Debu dan serpihan kayu masih melayang di udara saat pintu yang hancur itu tersungkur dari engselnya. William melangkah masuk, membelah kabut tipis sisa benturan dengan otoritas yang mematikan. Tatapannya tidak memindai seluruh ruangan—matanya langsung mengunci satu titik, yaitu laras pistol yang menekan pelipis Aveline.
William tidak berhenti di ambang pintu, namun ia juga tidak menyerbu. Ia mengambil satu langkah panjang ke dalam, lalu diam. Kehadirannya saja sudah cukup membuat suhu di ruangan itu seolah anjlok beberapa derajat. Di belakangnya, Bram dan Kellan bergerak tanpa suara, menutup sudut-sudut ruangan seperti bayangan predator yang siap menerkam.
“Lepaskan dia.” Suara William datar, tanpa emosi, namun ada ancaman absolut di setiap suku katanya.
“Aku hanya butuh jalan keluar!” desis pria di balik topeng. Ia menarik Aveline lebih rapat, hingga punggung gadis itu menempel keras di dadanya. Laras pistol itu ditekan kuat ke pelipis Aveline, sampai kulitnya memucat. “Mundur, atau aku tarik pelatuknya sekarang juga!”
William tidak bergerak mundur. Ia justru menatap lurus ke dalam lubang topeng lawannya dengan mata yang tak berkedip. Satu tangannya tetap berada di samping tubuh, sementara tangan lainnya terangkat sangat pelan—bukan untuk menyerang, melainkan untuk menghentikan gerakan Bram dan Kellan.
“Kau tahu kau tidak akan sampai ke pintu depan jika menarik pelatuk itu,” ucap William tenang. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun bergema di ruangan yang sunyi itu. “Pilihannya hanya dua. Keluar hidup-hidup tanpa sandera, atau mati bersama rahasia yang kau bawa.”
Keringat mulai menetes dari balik topeng si penyandra. Ia bisa merasakan tekanan psikologis yang diberikan William—sebuah intimidasi yang tidak membutuhkan teriakan. Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit, oksigen seakan menipis saat semua mata tertuju pada jari yang gemetar di atas pelatuk.
“Buka jalannya!” teriak pria itu lagi, suaranya mulai pecah karena panik.
William memberi isyarat kecil dengan dagunya. Bram dan Kellan mundur setengah langkah secara sinkron. Sebuah celah terbuka—jalur tipis menuju pintu yang rusak.
“Ambil jalurmu,” kata William pelan.
Pria itu mulai bergerak mundur, menyeret Aveline sebagai tameng hidup. Langkah mereka terseret di atas lantai marmer yang licin. Aveline tetap pasif, namun matanya tetap terkunci pada William, seolah sedang menghitung mundur sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ketegangan mencapai titik didih saat tubuh pria tersebut hampir menyentuh garis ambang pintu yang hancur. Kegelapan koridor di belakang mereka seperti siap menelan keduanya. Di detik itulah, pria bertopeng, melakukan kesalahan. Ia melirik sekilas ke arah William untuk terakhir kalinya—sebuah celah kewaspadaan yang hanya sepersekian detik.
Dan tepat saat mereka melewati ambang pintu ....
Situasi meledak. Aveline melakukan gerakan yang mustahil diprediksi. Dengan satu sentakan teknis yang sangat cepat, ia memutar tubuhnya setengah lingkaran, memaksa lengan pria itu tertekuk di sudut yang salah. Pegangan yang menahannya terlepas dalam satu gerakan pendek yang mematikan.
Dor!
Satu tembakan di sisi kanan membelah kesunyian hampir bersamaan, menggema memekakkan telinga.
Kaki pria itu tersentak hebat. Pijakannya hancur seketika saat peluru bersarang tepat di sasarannya—pistolnya telah berpindah tangan pada gadis berambut coklat gelap.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan nyaris tersungkur di atas lantai marmer sementara darah mulai merembes cepat dari luka tersebut. Lututnya sempat menghantam lantai sebagai tumpuan, napasnya berat, tetapi ia tidak berhenti. Dengan gerakan yang dipaksakan, tubuhnya kembali terangkat, langkahnya pincang dan tidak stabil, satu tangan menahan dinding sejenak sebelum kembali bergerak maju. Tanpa menoleh sedikit pun, ia terus memaksa diri menuju pintu yang telah jebol, lalu dalam beberapa detik menghilang ke luar ruangan, meninggalkan jejak darah yang terputus tepat di ambang pintu.
.
.
.
Bersambung