Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tinta Kematian dan Rahasia Pawang Agung
Pagi turun di Lembah Marapi dengan keengganan yang nyata. Matahari masih bersembunyi di balik awan kelabu yang tebal, membiarkan kabut sisa semalam mengambang rendah menyelimuti atap-atap seng rumah warga. Di dalam rumah panggung peninggalan era kolonial itu, hawa dingin terasa lebih menggigit dari biasanya, menusuk hingga ke sumsum tulang.
Dara Kirana duduk mematung di kursi rotan dapur. Di hadapannya, secangkir teh melati yang diseduh Kakek Danu perlahan kehilangan uap panasnya. Tatapan gadis itu kosong, terpaku pada permukaan teh yang kecokelatan.
Seluruh persendiannya terasa seperti baru saja ditumbuk dengan palu godam. Rasa lelah yang mendera tubuhnya pagi ini bukanlah rasa lelah biasa akibat kurang tidur atau setelah berlari jauh; ini adalah keletihan eksistensial yang membekukan, seolah sebagian dari nyawanya sendiri baru saja disedot keluar secara paksa.
Pikirannya terus berputar pada kejadian mengerikan semalam di belakang tenda pasar malam. Cahaya biru benderang yang meledak dari telapak tangannya. Rintihan kesakitan Willem van Deventer saat daging pualam sang vampir melepuh. Dan sensasi mengerikan yang baru ia sadari pagi ini: untuk membakar mayat hidup itu, energi segelnya harus merogoh jauh ke dalam sumber kehidupannya sendiri.
Suara langkah kaki yang berat menyadarkan Dara. Kakek Danu muncul dari ambang pintu belakang, membawa keranjang anyaman berisi kayu bakar. Pria tua itu tampak jauh lebih muram dari hari-hari sebelumnya. Gurat usia di wajahnya seakan bertambah dalam hanya dalam waktu satu malam.
"Kau terlihat seperti mayat hidup pagi ini, Nduk," tegur Kakek Danu pelan. Ia meletakkan kayu bakar di dekat tungku tanah liat, lalu menarik kursi di seberang Dara. Mata cokelat gelapnya yang biasanya setenang air telaga kini memancarkan badai kekhawatiran.
Dara menelan ludah, mengusap wajahnya yang pucat pasi. "Rasanya seperti ada yang mencabut setengah dari napasku, Kek. Cahaya semalam... saat aku menggunakannya untuk menyerang Willem, rasanya sangat berbeda dibandingkan saat aku menggunakannya untuk menenangkan Indra di dalam gua."
Kakek Danu menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar seperti erangan kekalahan. "Itulah yang paling Kakek takutkan sejak awal kau membangkitkan segel itu, Dara."
Pria tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya yang kasar di atas meja kayu. "Energi Pawang Rimba adalah energi kehidupan murni (vital force). Saat kau menggunakannya sebagai penawar—seperti saat kau meredakan Nafsu Rimba kaum Cindaku atau memberikan ketenangan pada Ajag—kau hanya menjadi sebuah wadah perantara. Kau menyelaraskan frekuensi alam. Energi yang kau keluarkan akan digantikan kembali secara otomatis oleh energi alam di sekitarmu."
Kakek Danu menghentikan kalimatnya sejenak, menatap mata Dara dengan intensitas yang memilukan. "Tetapi, saat kau menggunakannya sebagai senjata... saat kau mengubah energi murni itu menjadi api untuk membakar entitas gelap seperti Opsir Darah itu... kau tidak lagi menyelaraskan alam. Kau memaksakan kehendak yang merusak. Dan sebagai bahan bakarnya, segel itu mengambil vitalitas dari tubuhmu sendiri. Ia membakar umurmu."
Dara terkesiap. Cangkir teh di tangannya bergetar pelan. Membakar umurku.
"Jadi... cahayaku semalam memakan sisa hidupku?" bisik Dara, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan dapur yang mencekam.
"Ya," jawab Kakek Danu brutal dan jujur. "Ibumu mengetahui rahasia kelam ini, Dara. Itulah alasan utama mengapa ia sangat membenci takdirnya dan memilih untuk melarikan diri dariku ke Jakarta. Ibumu menolak untuk menjadi senjata bagi perang klan di lembah ini, karena ia tahu menjadi senjata berarti ia tidak akan pernah bisa menua dengan tenang. Willem tahu hal ini. Opsir Darah itu mungkin terluka parah semalam, tapi ia kini juga tahu bahwa kau tidak bisa terus-menerus menyerangnya tanpa membunuh dirimu sendiri."
Fakta itu menghantam Dara layaknya tebing batu yang runtuh menimpanya. Ia bukanlah pahlawan super yang kebal. Ia hanyalah seorang gadis fana yang diberikan senjata mematikan dengan pelatuk yang terhubung langsung ke detak jantungnya sendiri.
"Lalu apa yang harus kulakukan, Kek?" air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk mata Dara. "Kalau aku tidak membakarnya, Willem akan merobek leherku dan mengubahku menjadi baterai hidup untuk pasukannya. Kalau aku membakarnya untuk melindungi teman-temanku, aku akan mati muda. Apakah aku benar-benar tidak punya pilihan lain?"
Kakek Danu menatap cucunya dalam diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia berdiri dengan tekad yang bulat. "Ibumu mungkin melarikan diri dari takdirnya, Nduk. Tapi sebelum ia pergi, ia meninggalkan sesuatu untuk berjaga-jaga jika suatu hari nanti bayang-bayang masa lalu kembali mengejar garis keturunannya. Ikut Kakek."
Kakek Danu melangkah menuju ruang kerjanya yang selalu terkunci rapat. Dara bangkit dengan sisa tenaganya, menyeret kakinya dan mengikuti kakeknya dari belakang.
Ruang kerja itu berbau apak, dipenuhi oleh aroma kertas lapuk dan kemenyan yang manis namun menyesakkan. Kakek Danu berjalan menuju sebuah rak buku besar yang terbuat dari kayu ulin di sudut ruangan. Alih-alih mengambil buku tebal dari sana, pria tua itu berlutut di atas karpet tenun, lalu mencongkel sebuah papan kayu longgar di lantai tepat di bawah rak tersebut.
Dari dalam celah persembunyian itu, Kakek Danu menarik keluar sebuah kotak kayu jati berukir sulur yang dikunci dengan gembok kuningan kecil. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan anak kunci perak yang melengkung, dan membuka gembok tersebut dengan bunyi klik yang renyah.
Kakek Danu meletakkan kotak itu di atas meja kerjanya, lalu membuka tutupnya perlahan. Di dalamnya, terbungkus rapi oleh kain beludru hitam, terdapat sebuah jurnal bersampul kulit gelap yang kondisinya masih sangat bagus dibandingkan buku-buku lain di ruangan itu.
"Ini adalah buku harian ibumu," ujar Kakek Danu, mengusap sampul kulit itu dengan penuh kasih sayang dan kerinduan seorang ayah. "Ibumu menolak untuk berlatih menjadi Pawang, tetapi dia adalah wanita yang sangat cerdas dan kritis. Dia menghabiskan masa remajanya membaca setiap manuskrip kuno, setiap prasasti peninggalan, dan setiap mitos yang mengakar di Gunung Marapi. Dia meneliti asal-usul darahnya sendiri."
Dara mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh jurnal itu seolah benda itu adalah ekstensi dari jiwa ibunya yang telah lama tiada. Kulit buku itu terasa dingin. Ia membuka halaman pertamanya dan melihat tulisan tangan ibunya yang rapi, bersambung, dan sangat ia rindukan.
“Untuk putriku. Jika suatu hari kau membaca catatan ini, berarti bayang-bayang hutan ini telah menemukanmu. Maafkan Ibu karena meninggalkan beban kutukan ini di pundakmu.”
Air mata Dara akhirnya jatuh menetes di atas kertas kekuningan itu. Ia menghapusnya cepat-cepat, tidak ingin merusak tinta yang ditinggalkan ibunya, lalu mulai membalik halaman dan membaca dengan saksama.
Halaman demi halaman berisi riset mendalam. Tulisan ibunya sangat analitis, membedah anatomi supranatural klan Cindaku dan Ajag bukan dari sudut pandang mistis, melainkan dari sudut pandang energi dan resonansi. Hingga pada bagian pertengahan, mata Dara terpaku pada sebuah judul bab yang digarisbawahi tebal dengan tinta merah.
“Tragedi Pawang Agung dan Rantai Kutukan Tiga Darah.”
Dara membaca bab tersebut dengan napas tertahan.
“Menjadi Pawang Rimba bukanlah sebuah anugerah kehormatan. Itu adalah rantai perbudakan,” tulis ibunya. “Darah Penengah memancarkan resonansi yang terus-menerus memanggil mereka yang liar. Kaum Cindaku, dengan kutukan Nafsu Rimba yang membakar kewarasan mereka, akan selalu memburu seorang Pawang untuk dijadikan penawar. Mereka akan mengklaim Pawang itu, mengurungnya dalam sangkar emas ego mereka agar sang Harimau tidak gila.”
“Di sisi lain, kaum Ajag, dengan Jiwa Kawanan yang buas, akan terus berusaha menarik sang Pawang untuk menjadi pusat gravitasi yang menyatukan mereka. Dan yang paling mengerikan adalah Opsir Darah. Makhluk-makhluk parasit itu memandang kita bukan sebagai manusia, melainkan sebagai ramuan abadi yang bisa membebaskan mereka dari kutukan matahari.”
“Nyai Ratih, leluhur kita, adalah Pawang Agung terakhir yang memegang kendali penuh atas lembah ini. Namun, sejarah menyembunyikan akhir hidupnya yang tragis. Nyai Ratih mati muda, bukan karena penyakit, melainkan karena ia terlalu banyak membakar vitalitasnya untuk menahan peperangan antara Harimau, Serigala, dan Vampir. Ia menjadi martir bagi monster-monster yang tidak pernah bisa berdamai. Aku menolak membiarkan putriku menjadi baterai bagi mereka. Aku akan memutus garis keturunan ini dengan membawamu pergi sejauh mungkin dari Marapi.”
Dara menutup jurnal hitam itu perlahan. Tangannya terkepal erat di atas pangkuannya.
Rasa sesak memenuhi dadanya. Ibunya tidak lari karena pengecut. Ibunya lari karena ia sangat mencintai Dara. Ibunya melihat masa depan yang mengerikan jika Dara tetap tinggal: diperebutkan oleh Indra untuk memadamkan apinya, ditarik oleh Bumi untuk melengkapi kawanannya, dan diburu oleh Willem untuk dimakan.
"Ibu benar, Kek," bisik Dara, matanya memancarkan rasa sakit yang mendalam. "Aku hanyalah sebuah pion di tengah papan catur mereka. Sutan Agung bahkan tidak pernah berniat menganggapku sekutu. Di matanya, aku hanyalah obat penenang yang kebetulan berwujud manusia agar Indra tidak berubah menjadi monster selamanya."
Kakek Danu menatap cucunya dengan sorot mata yang penuh kelembutan. "Ibumu melihat takdir ini sebagai kutukan, Dara. Tetapi, ibumu lupa satu hal penting. Nyai Ratih mati muda bukan hanya karena ia membakar vitalitasnya, tetapi karena ia bertarung sendirian tanpa persiapan. Jika kau menolak menjadi pion, maka kau harus belajar bagaimana membalikkan papan catur tersebut."
Kakek Danu berdiri, berjalan menghampiri Dara. Pria tua itu meletakkan tangannya yang hangat dan kasar di bahu cucunya.
"Kau tidak bisa mengubah fakta bahwa darahmu menarik perhatian mereka, Dara. Tarikan antara kau, pemuda Cindaku, dan Alpha muda Ajag itu adalah hukum alam yang tidak bisa diputus. Willem juga tidak akan berhenti memburumu. Tapi kau bisa mengubah bagaimana kau merespons mereka."
"Bagaimana caranya, Kek? Bagaimana aku bisa melawan tanpa membakar nyawaku sendiri?" tanya Dara putus asa.
"Dengan tidak menggunakan energimu sendiri," jawab Kakek Danu tegas. Pria tua itu memberi isyarat agar Dara mengikutinya. "Kakek bukanlah seorang Pawang Rimba. Kakek tidak memiliki segel kelopak bunga atau cahaya biru. Tapi kakek adalah keturunan dari abdi dalem Nyai Ratih. Kakek mewarisi fondasi ilmu yang selalu ditolak oleh ibumu karena ketakutannya. Hari ini, Kakek akan mengajarimu dasar dari segala kehidupan seorang Pawang."
Kakek Danu membuka pintu belakang, membawa Dara keluar menuju halaman rumput yang masih basah oleh embun, berbatasan langsung dengan deretan pohon pinus Hutan Marapi.
"Lepaskan sandalmu," perintah Kakek Danu.
Dara menurut. Ia membiarkan telapak kaki telanjangnya menyentuh tanah humus yang dingin dan basah.
"Duduk bersila. Tegakkan punggungmu," instruksi Kakek Danu, ikut duduk bersila di atas rumput di hadapan cucunya.
"Teknik ini disebut Napas Akar," Kakek Danu memulai, suaranya mengalun rendah dan berirama, menyatu dengan desau angin gunung. "Untuk menjadi senjata maupun pelindung yang absolut tanpa menguras satu hari pun dari sisa umurmu, kau harus mengubah dirimu menjadi sebuah pipa penyalur. Kau tidak boleh lagi menjadi sumber airnya; kau hanyalah selang yang mengalirkannya."
Dara mengerutkan kening, mencoba memahami metafora tersebut.
"Bayangkan tubuh manusiawi-mu adalah sebatang pohon beringin yang sangat tua," pandu Kakek Danu. "Telapak kakimu adalah jalinan akar yang menancap sangat dalam, menembus lapisan kerak bumi, jauh hingga menyentuh aliran magma yang berdenyut di bawah Gunung Marapi ini. Tutup matamu, Dara."
Dara memejamkan matanya rapat-rapat. Ia berusaha menyingkirkan bayangan senyum sinis Willem, tatapan posesif Indra, dan peringatan ibunya dari kepalanya.
"Jangan menarik napas dari dada atau tenggorokanmu. Jangan mencari udara kosong di sekelilingmu," instruksi Kakek Danu. "Tariklah napas dari telapak kakimu. Sedot energi purba yang tertidur di dalam rahim tanah ini. Biarkan ia merayap naik melalui betismu, menyusuri tulang belakangmu, dan mengalir menuju segel di tangan kananmu."
Dara mencoba melakukannya. Pada menit-menit pertama, ia hanya merasakan pegal di punggungnya dan dinginnya angin yang menerpa wajahnya.
Fokus. Jadilah akar, batin Dara menghardik dirinya sendiri.
Ia memusatkan seluruh kesadarannya pada titik di mana kulit telapak kakinya bersentuhan dengan bumi. Perlahan-lahan, ritme napasnya yang tadinya pendek mulai memanjang dan mendalam.
Lalu, sebuah sensasi yang luar biasa ganjil terjadi.
Sebuah getaran kesemutan yang amat halus mulai terasa di telapak kakinya. Getaran itu memiliki ritme, persis seperti detak jantung yang sangat lambat dan berat. Dug-dug... dug-dug... Itu adalah resonansi alam semesta.
Sensasi sejuk yang masif mulai merambat naik dari telapak kakinya. Dara merasa seolah ada aliran air murni yang disuntikkan langsung ke dalam nadinya. Energi itu tidak liar dan tidak membakar seperti miliknya sendiri semalam; energi ini terasa bijaksana, tenang, dan tak ada habisnya.
Dara membiarkan aliran itu melewati punggungnya, memompa naik hingga ke bahu, lalu berbelok deras menuju lengan kanannya.
Srekkk...
Dara membuka matanya. Segel kelopak bunga di telapak tangannya kini menyala dengan pendar biru yang luar biasa terang, namun sama sekali tidak menyilaukan dan tidak memancarkan hawa panas. Cahaya itu menerangi wajahnya dengan kelembutan yang damai.
Yang paling menakjubkan, Dara tidak merasa lelah sedikit pun. Tidak ada jantung yang berpacu liar. Tidak ada rasa pening atau lemas. Tubuhnya benar-benar hanya menjadi medium, menyalurkan energi gunung berapi ini keluar tanpa membakar satu sel pun dari tubuhnya.
"Sempurna," bisik Kakek Danu, matanya berkaca-kaca dipenuhi air mata haru. Ia melihat reinkarnasi dari leluhurnya kembali bangkit dengan kendali yang utuh. "Selama kakimu masih menapak di atas bumi Nusantara, kau tidak akan pernah lagi kehabisan peluru, Nduk."
Latihan Napas Akar mengubah Dara dalam waktu singkat. Setelah beberapa hari mempraktikkannya, ia mulai bisa memanggil energi birunya secara instan tanpa harus menutup mata atau bersila. Ia belajar menjadi reservoir alam yang pasif namun mematikan.
Namun, kedamaian yang ia capai di halaman belakang Kakek Danu berbanding terbalik dengan ketegangan yang mendidih di SMA Nusantara Lereng Marapi.
Pagi itu, hari Rabu, saat Dara baru saja memarkirkan sepeda ontelnya, ia langsung bisa merasakan pergeseran atmosfer sekolah. Udara terasa sangat padat dan mencekik. Murid-murid berjalan menepi, saling berbisik ketakutan.
Penyebab dari ketegangan massal itu sangat jelas.
Setelah pertempuran rahasia di pasar malam, interaksi antara dua kubu predator di sekolah berubah drastis.
Saat Dara berjalan menuju lokernya, ia melihat Bumi Arka berdiri di ujung lorong kanan bersama kawanan si kembar Tio dan Adi. Mata Alpha muda itu terus memancarkan pendar kewaspadaan, mengawasi setiap sudut koridor seolah mencari bayangan Willem.
Sementara itu, di ujung lorong kiri, Indra Bagaskara berdiri bersandar pada dinding beton. Pemuda Cindaku itu mengabaikan Maya dan Raka yang biasanya berjalan di dekatnya. Indra sendirian, dan aura dominasinya memancar begitu pekat hingga tidak ada satu pun murid manusia yang berani lewat di depannya. Mata hazel-emas Indra terkunci lurus ke arah Bumi, dan Bumi membalas tatapan itu dengan taring yang sesekali berkedut menahan geraman.
Keduanya tidak saling menyerang secara fisik, namun energi permusuhan yang mereka tekan secara paksa bertabrakan di udara, memperebutkan teritori di mana Dara berada tepat di tengah-tengahnya.
Dara menghela napas panjang. Ia membuka lokernya dan mengambil buku Biologi.
Tepat ketika ia akan menutup pintu lokernya, sebuah tangan perempuan yang ramping dengan kuku-kuku dicat hitam menahan pintu besi itu hingga tertutup dengan bantingan pelan.
Dara menoleh. Ia berhadapan dengan seorang gadis berkulit sawo matang yang eksotis, rambut bob sebahu, dan mata yang menatapnya dengan permusuhan murni.
Gendis. Serigala betina dari kawanan Bumi.
"Jadi ini gadis kota rapuh yang membuat dua penguasa gunung bertingkah seperti anjing penjaga," sindir Gendis terang-terangan. Suaranya pelan namun berbisa. Ia mengendus udara di sekitar leher Dara tanpa memedulikan sopan santun manusia. "Kau berbau seperti bunga melati yang dicampur dengan darah busuk lintah-lintah pucat itu."
Dara tidak mundur. Napas Akar di dalam dirinya menahan insting takutnya secara otomatis. "Apa maumu, Gendis?"
"Aku hanya ingin melihat langsung apa yang membuat Alpha kami rela mempertaruhkan nyawa kawanannya semalam," Gendis menyandarkan bahunya ke loker di sebelah Dara. Mata gadis serigala itu melirik sinis ke arah Indra yang berada di ujung lorong.
"Kau mungkin berpikir bahwa kau memegang kendali atas mereka berdua, Dara," bisik Gendis mematikan, mendekatkan wajahnya ke telinga Dara. "Tapi di alam liar, mangsa tetaplah mangsa. Kau adalah penyakit yang melemahkan fokus Bumi. Cepat atau lambat, Harimau Putih itu akan kehilangan akal sehatnya dan merobek lehermu karena cemburu, atau Opsir Darah itu akan mengubahmu menjadi mayat. Apa pun yang terjadi... aku akan memastikan Bumi dan kawanan Ajag tidak ikut hancur bersamamu."
Tanpa menunggu balasan dari Dara, Gendis berbalik dan berjalan dengan langkah luwes layaknya predator, menjauhi lorong loker.
Dara menatap punggung Gendis yang menjauh. Peringatan ibunya di dalam jurnal kembali bergema. Kutukan tiga darah ini bukan hanya soal monster dan sihir; ini adalah tentang permainan ego, kecemburuan, dan politik rimba yang mematikan. Sang Ratu Penengah kini benar-benar sendirian di atas papan catur, dan ia harus mulai memikirkan langkah serangannya sendiri sebelum bidak-bidak lain mengorbankannya.