Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Pisau di Tangan Ibu
Aku melihat dengan jelas raut wajah penuh tanya itu dari wajah Ustaz Afwan. Suasana menjadi canggung seketika saat mata kami bertamu. Kulihat, Ustaz Afwan lantas mengalihkan pandangan. Kemudian menganggukkan kepala kepadaku—segan.
“Siapa, Umi?” tanya Ustaz Afwan pada dokter Deva yang kini kuketahui ia adalah Ibu dari ustaz Afwan.
“Calon baby sitter Hamzah. Bagaimana menurutmu?” tanya Dokter Deva kembali pada buah hatinya. Ustaz Afwan mengendikkan bahunya lalu berjalan ke dalam rumah sambil melepaskan Hamzah dari gendongannya.
“Boleh saya interview dulu?” Ia menanyakan sesuatu yang justru kini membuat darahku berdesir. Aku bingung bagaimana akan menjawab pertanyaannya nanti. Sementara, aku belum memiliki pengalaman apa pun dalam mengurus anak kecil.
Kami duduk di ruang tamu yang luas. Di seberang sana, Dokter Deva dan Hamzah tengah bermain bersama. Kulihat, ustaz Afwan membaca dokumen lamaran kerjaku yang sejatinya sama sekali tak sesuai dengan pekerjaan yang saat ini akan kugeluti. Tiba-tiba … ia bertanya.
“Kamu, sudah menikah?” Mataku melotot kaget. Tak percaya dengan pertanyaannya barusan. Aku lantas menjawab walau dengan perasaan campur aduk di dada.
“Afwan. Maksudnya?”
Ustaz Afwan mengernyitkan dahi. Ekspresinya kini tak dapat dibohongi. Ia tersenyum seolah menahan tawa di sudut bibirnya.
“Maksud saya. Kamu sudah menikah? Jika sudah, bagaimana dengan anak-anakmu di rumah? Apa ada yang mengurus mereka?” Penjelasan dari Ustaz Afwan lantas membuatku kini paham ke mana arah pertanyaannya. Karena semula terasa begitu ambigu bagiku.
“Iya, Ustaz. Jujur saya belum menikah dan belum punya pengalaman dalam mengurus anak. Tapi ….” Aku menjeda kalimat—menoleh pada Hamzah yang kini melempar sebuah senyuman padaku. “Saya bersedia belajar untuk menjadi teman sekaligus pengasuh yang baik bagi Hamzah.
“Baik. Jawaban itu yang saya ingin dengar. Sebelumnya maaf, di mana kamu kenal Ibu saya?” tanya Ustaz Afwan kembali. Mata itu tetap ia alihkan dari menatapku. Aku tak mengerti mengapa ia harus bersikap demikian. Mungkin, untuk menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan.
“Beliau adalah dokter saya ustaz.” Aku menjawab singkat. Seraya ikut menundukkan pandangan. Tak bisa menatap orang yang ketika menoleh sedikit saja kepadaku lantas memejamkan mata dan menoleh ke lain pandang.
“Kamu mencintai anak saya?” Aku lantas mendongak sekaligus melotot kaget mendengar pertanyaan ambigu ustaz Afwan. Namun, sebelum aku balik bertanya, ia sudah lebih dulu meralatnya.
“Maksud saya, kamu bisa mencintai anak saya? Karena biasanya, Hamzah akan senang dengan orang yang merawatnya dari hati. Seperti rahimahallah ibunya.” Kulihat ekspresi wajahnya berubah seketika. Aku paham maksudnya. Mungkin, saat ini ia tengah menaruh sebuah kepercayaan penuh padaku dalam merawat dan mendidik anaknya.
“Hamzah. Anak Abaty suka sama Tantenya?” tanya ustaz Afwan pada Hamzah. Hamzah spontan mengangguk. Tiba-tiba … anak kecil yang manis itu memelukku erat. Sebuah kecupan mendarat di pipiku dari seorang anak kecil. Aku lantas tersipu malu seraya membelai lembut rambutnya.
“La! La! Hamzah! La!” Ustaz Afwan mengangkat telunjuknya sambil menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. Seolah ia tengah memberi peringatan pada anaknya untuk tidak melakukan hal itu.
“Nggak apa-apa, kok Ustaz. Namanya juga anak kecil,” jawabku kemudian lantas membalas pelukan dan mencium pipi Hamzah gemas.
“Baiklah. Kamu boleh bekerja. Tapi … tunggu sebentar. Ada yang mau saya berikan.” Ustaz Afwan berjalan menuju sebuah lemari yang tersimpan banyak buku yang tertata rapi di sana. Seketika aku takjub melihat banyaknya buku yang bisa kubaca kapan saja saat waktu senggang mengurus Hamzah. Kupastikan semua isi lemari itu adalah buku-buku tentang Islam.
Ustaz Afwan lantas kembali menujuku. Kakinya melangkah tegap. Matanya fokus menatap buku yang kini berada dalam genggamannya. Hingga ia sampai di ruang tamu kembali. Lalu menaruh buku tersebut di atas meja ruang tamu.
Mataku terikat pada judul buku tersebut. “Pendidikan Anak Dalam Islam.”
“Bacalah buku ini untuk kamu merawat dan mendidik anak saya sesuai tuntunan syariat Nabi,” perintahnya.
Aku lantas mengambil buku itu. Membuka halamannya sekilas. Aku mengangguk paham sambil mataku terus membaca judul-judul di bagian halaman buku tersebut.
“Makan dulu, yuk! Bibi sudah masak,” ajak Dokter Deva seraya menggendong Hamzah lalu membawanya ke duduk di kursi makannya.
“Lanjut, Umi. Aku ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan.” Ustaz Afwan terlihat memakai jaket disusul dengan mengenakan helm di kepalanya.
“Ada apa memangnya?” tanya Dokter Deva pada ustaz Afwan sembari menghentikan aktivitasnya menyiapkan makan Hamzah. Aku lantas membantu Dokter Deva dalam mengurus Hamzah.
“Omset penjualan toko agak menurun, Umi. Jadi, aku harus cek ke sana.”
“Na’am. Fii amanillah,” ucap Dokter Deva dengan bahasa Arabnya yang fasih.
“Ma’asalamah,” jawab Ustaz Afwan yang kini berlalu dari rumah.
Kami pun menyantap makan siang bersama. Makan siang yang menurutku sangat sederhana. Ada lauk dan sayur di atas meja. Serta segelas air putih pelepas dahaga.
“Silakan makan!” Dokter Deva mempersilakan aku makan.
“Sebentar lagi, Dok. Sebab saya mau suapin Hamzah dulu,” jawabku sambil memperagakan gerakan sendok pesawat terbang yang hendak masuk ke dalam mulut Hamzah. Hamzah membuka mulutnya lebar-lebar sambil tersenyum ceria.
“Ini pertama kalinya Hamzah kembali makan selahap ini. Setelah ibunya berpulang lima bulan yang lalu.”
Aku lantas menghentikan aktivitasku dalam menyuapi Hamzah. Kemudian menolehkan pandangan pada Dokter Deva. Kulihat, Dokter Deva kini meneteskan air mata dukanya. Sesekali isak tangis itu terdengar. Mengisi kesunyian di siang ini. Hamzah yang semula tengah asyik makan, lantas mengambil sebuah tisu yang ada di atas meja.
“Jaddaty nangis?” tanyanya kemudian menyeka air mata sang nenek.
Aku tak tahu bagaimana harus berekspresi saat ini. Hingga yang bisa kulakukan hanyalah diam sambil mengamati. Tanganku spontan memeluk dokter Deva. Walau sebelumnya aku merasa ragu untuk melakukannya.
Dokter Deva menyandaran kepalanya ke pundakku. Kemudian menghalau badai tangis yang menyelimuti jiwanya dengan melepas pelukanku. Lalu berkata …
“Terima kasih,” ucapnya lantas menebar senyuman walau binar matanya masih memancarkan duka.
Aku mengangguk sambil mengelus pundak beliau. Aku pun mencoba mencairkan suasana kembali dengan mengucapkan satu kalimat yang berhasil membuat dokter Deva kini menyudahi badai tangisnya.
“Dokter. Kematian itu memang sesuatu yang pahit ya, Dok. Akan tetapi, ia juga sesuatu yang pasti akan terjadi dan menimpa siapa pun.” Aku menatap nanar ke depan. Mataku terikat pada satu benda antik bernama guci yang kini terpajang di samping lemari buku.
“Sama seperti guci itu. Ia terlihat antik dan berharga. Tapi ketika ia pecah, juga akan dilupakan dan diletakkan pada tempat yang semestinya ia berada di sana.” Kalimat-kalimat itu muncul begitu saja dari lisanku. Hal yang ternyata perlahan justru menanam benih tangis di hatiku. Hingga tanpa sadar, aku ikut larut dalam kalimat yang kurangkai sendiri.
“Adakah keluargamu yang juga telah meninggal, Sayang?” tanya Dokter Deva kemudian seray menyentuh bahuku.
Aku mengangguk, lantas berucap …
“Ada, ayahku. Ayah yang sangat kucintai.” Kubiarkan badai tangis menghantam jiwa. Dokter Deva meredam semua itu dengan memelukku.
“Semua sudah takdir Allah, ya, Sayang. Kita yang hidup ini sejatinya yang patut dikasihani. Karena … mereka telah selesai dengan dunia yang hina. Sementara kita? Masih bertarung menghadapi ujian demi ujian hidup.”
“Iya, Dokter. Kita juga harus bersyukur atas napas yang masih kita miliki. Karena dengannya, kita bisa terus perbaiki diri sebelum benar-benar pulang.”
“Kamu bijak sekali, Sayang. Tante senang mendengar kalimat demi kalimat yang kamu tuaikan. Sangat berisi dan sarat akan makna.”
Aku membalas pujian itu dengan senyuman. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Hamzah yang ternyata sudah terlelap sambil duduk sempoyongan bersama makanan di hadapannya yang sepenuhnya telah licin.
“Ya Allah. Hamzah sudah tidur, Dokter,” ucapku kaget seraya menggendongnya kepelukanku.
“Bawa dia ke kamarnya, yuk!”
***
Sore kini telah hadir kembali. Menggantikan siang yang penuh makna. Aku diminta pulang lebih dulu oleh dokter Deva dan ustaz Afwan sebelum malamnya aku akan kembali dijemput. Rumah ini, tempat yang seharusnya menjadi tempat ternyamanku untuk meraup rindu, justru menjadi momok bagiku setiap pulang.
Aku menoleh pada amplop berisi uang yang diberikan ustaz Afwan padaku, sebagai uang muka gajiku. Aku tersenyum bahagia bahwa kini sepenuhnya aku bisa menghasilkan uang kembali. Semua demi Ibu. Ya, hanya untuk Ibu.
Saat aku melangkahkan kaki masuk ke rumah, tiba-tiba sosok Ridho sudah berdiri di depan pintu. Ia lantas bertanya.
"Udah pulang? Berarti kau udah bawa uang," tebaknya seraya mengambil tasku.
Aku menahan tasku dengan sigap. Tapi, kekuatanku tak sepertinya. Ia berhasil mengacak isi tasku. Hingga ia menemukan sebuah amplop yang kutaruh di dalam tas.
Aku lekas mengambilnya dari tangan jahil Ridho. Namun, ia dengan lancang menendang perutku. Aku terjatuh. Kurasakan sakit mendominasi diperutku. Kesal, aku berdiri dari dudukku. Kemudian mulai menjambak rambutnya.
Pertengkaran pun tak terelakkan lagi. Hingga tiba-tiba sebuah teriakan dari arah dapur terdengar riuh.
"Sudah! Hentikan!" teriakan Ibu sama sekali tak kami gubris. Hingga kulihat Ibu kembali ke dapur. Lalu melangkah dengan langkah terburu-buru ke hadapan kami. Kulihat dengan ujung mataku Ibu mengambil sebuah pisau. Kemudian, Ibu bersuara dengan nada tinggi.
"Kalau kalian tidak berhenti, bunuh saja Ibu!"
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?