NovelToon NovelToon
Kebangkitan Meridian Naga

Kebangkitan Meridian Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Duel Sengit Melindungi Kehormatan Wanita yang Dicintai

Kabar pertemuan kemarin di Lembah Sampah menyebar ke seluruh penjuru Akademi Bintang Utara seperti api yang membakar padang rumput. Dalam waktu sehari saja, seluruh penghuni akademi, mulai dari murid baru hingga tetua tertua, sudah mengetahui satu hal: Gadis sampah bernama Xue Ying telah menghina Pangeran Lan Feng, jenius terhebat dan kebanggaan wilayah utara.

Berbagai desas-desus bermunculan. Ada yang menyebut Xue Ying gila, ada yang bilang ia memiliki latar belakang besar, ada juga yang menertawakan kebodohannya karena berani menyinggung orang yang tidak sepatutnya disinggung. Namun sebagian besar bersorak menanti saat gadis itu dihukum berat, karena bagi mereka, menghina Pangeran sama saja dengan menghina seluruh kerajaan dan kehormatan akademi.

Pagi itu, di lapangan utama yang luas dan megah, ribuan murid berkumpul memenuhi setiap sudut. Di tengah lapangan, di atas panggung batu putih yang lebar, Lan Feng berdiri tegak dengan jubah kebesarannya berkibar ditiup angin. Wajahnya dingin, matanya memancarkan amarah yang belum padam, dan aura kekuatannya yang sudah berada di ambang tingkat Penakluk Langit menyebar menindas seluruh penjuru, membuat siapa pun yang ada di bawahnya merasa sesak napas.

Di sampingnya, Guru Meng dan para tetua berdiri dengan wajah serius namun tersenyum penuh kemenangan. Bagi mereka, ini adalah kesempatan emas untuk mempermalukan gadis yang telah menentang otoritas mereka sekaligus menyenangkan hati Pangeran.

"Bawa dia ke sini!" perintah Lan Feng dengan suara berat yang bergema ke seluruh penjuru.

Tak lama kemudian, dua pengawal kuat berjalan mengiringi Xue Ying naik ke atas panggung.

Gadis itu berjalan tenang. Pakaian abu-abunya masih sama lusuhnya, wajahnya masih sama bersihnya, namun ada perubahan besar di matanya. Tatapannya tidak lagi tertunduk malu atau takut. Ia berjalan dengan kepala tegak, langkahnya ringan namun mantap, seolah sedang berjalan di atas awan, bukan di tengah lautan pandangan menghina ribuan orang.

Di sudut lapangan, Xiao An berdiri gemetar ketakutan, matanya berkaca-kaca menatap sosok yang ia anggap sebagai satu-satunya harapannya itu.

"Lihat dia... berani-beraninya masih berjalan tegak," bisik satu murid.

"Lihat nanti, Pangeran pasti akan membuatnya berlutut dan meminta ampun sampai mulutnya berdarah!" sahut yang lain.

"Dasar gadis tidak tahu diri! Kehormatan Pangeran harus dibalas dengan darah!"

Xue Ying berhenti tepat di hadapan Lan Feng. Ia tidak menunduk, tidak memberi hormat, melainkan menatap lurus ke manik mata pemuda itu dengan tatapan setara, bahkan lebih tinggi.

Pemandangan ini semakin memicu kemarahan Lan Feng.

"Xue Ying..." suara Lan Feng rendah dan mengancam. "Kemarin kau berkata banyak hal. Kau berkata kau memiliki pria yang jauh lebih hebat dariku. Kau berkata aku tidak pantas menjadi sepatunya. Kau berkata aku akan berlutut saat dia datang. Apakah kau sadar betapa hina dan bodohnya kata-katamu itu?"

Lan Feng melangkah maju, tekanan kekuatannya menekan dada Xue Ying hingga udara di sekitar mereka bergetar.

"Siapa dia?! Di mana dia?! Kenapa dia tidak ada di sini untuk membelamu?! Dia pengecut yang membiarkan wanitanya dipermalukan sendirian?!"

Terdengar suara sorakan setuju dari kerumunan.

"Benar! Mana pria sialan itu?! Muncul kalau berani!"

"Pengecut! Hanya mulut besar saja!"

Xue Ying tersenyum tipis, senyum yang penuh kebanggaan dan keyakinan mutlak. Ia tidak marah, ia tidak tersinggung. Karena ia tahu kebenaran yang tidak diketahui siapa pun.

"Dia tidak pengecut, Yang Mulia," jawab Xue Ying lantang, suaranya jernih dan terdengar jelas hingga ke barisan paling belakang. "Dia sedang bertarung sendirian melawan ribuan musuh yang dikirim untuk membunuhnya. Dia sedang menembus bahaya maut demi melindungi aku. Dia sedang menjadi perisai agar aku bisa berdiri di sini dengan selamat dan tenang."

Xue Ying menunjuk dadanya sendiri, matanya menyala berapi-api.

"Dan meskipun dia tidak ada di sini secara fisik... dia ada di sini. Di dalam hatiku. Di dalam jiwaku. Dan kehormatanku... adalah kehormatannya. Menghina aku sama saja menghina dia. Mempermalukan aku sama saja mempermalukan dia."

Lan Feng tertawa dingin, penuh ejekan.

"Omong kosong! Kata-kata manis saja tidak ada gunanya di dunia ini! Kekuatan adalah kebenaran! Hari ini, di depan semua orang, aku akan mengajarimu satu pelajaran penting: Bahwa wanita sepertimu, tanpa kekuatan dan tanpa pelindung, hanyalah debu yang bisa diinjak-injak sesuka hati!"

Lan Feng mengangkat tangan kanannya, telapak tangannya bersinar kuning keemasan yang menyilaukan — ciri khas teknik tertinggi Akademi Bintang Utara: Teknik Telapak Matahari.

"Aku memberimu dua pilihan, Xue Ying. Pertama: Berlutut, minta maaf, akui bahwa kata-katamu kemarin salah, dan bersumpah menjadi milikku selamanya. Kedua: Terima serangan Telapak Matahari ini. Kalau kau selamat, aku akan lupakan semua ini dan biarkan kau pergi. Tapi kalau kau hancur... itu adalah akibat dari kesombonganmu."

Suasana menjadi hening total. Teknik Telapak Matahari terkenal mematikan dan menghancurkan tulang. Bagi murid biasa, satu sentuhan saja sudah cukup membuat tubuh menjadi abu. Semua orang yakin, Xue Ying pasti akan memilih menyerah dan berlutut.

Namun, jawaban Xue Ying membuat seluruh isi lapangan menahan napas kaget.

Gadis itu mengangkat kepalanya lebih tinggi lagi, rambut hitamnya berkibar ditiup angin, dan di matanya terpancar wibawa agung yang tak terlukiskan.

"Aku tidak akan berlutut pada siapa pun selamanya. Aku tidak akan menjadi milik siapa pun selain dia."

Xue Ying perlahan merentangkan kedua tangannya ke samping, seolah menyambut datangnya maut. Di balik punggungnya, samar-samar terlihat bayangan sayap besar berwarna putih bersih yang mengepak lembut — bayangan Burung Hong yang mulai menampakkan wujudnya.

"Dan satu hal lagi, Yang Mulia... Kehormatan wanita yang dicintainya... tidak akan pernah kubiarkan diinjak-injak olehmu atau siapa pun. Kalau kau ingin menghancurkannya... kau harus melewati mayatku dulu."

"Datanglah! Tunjukkan padaku seberapa hebat 'jenius' yang kau banggakan itu!"

"GILA! GADIS INI GILA!" teriak Guru Meng sambil melompat kaget. "Dia mau mati! Dia benar-benar mau mati!"

Wajah Lan Feng memerah padam karena amarah yang memuncak. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak habis-habisan oleh gadis yang dianggap sampah ini.

"KAU YANG MENCARI SENDIRI!!"

Lan Feng mengaum keras, tenaga di tubuhnya meledak dahsyat. Cahaya matahari buatan itu membesar, berputar panas, lalu ia meluncurkan serangan itu sekuat tenaga ke arah dada Xue Ying.

"TEKNIK TELAPAK MATAHARI: HANCURKAN SEGALA YANG ADA!"

Cahaya kuning menyilaukan melesat, membawa hawa panas yang membakar udara, menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Di mata semua orang, Xue Ying pasti akan hancur seketika, tidak tersisa apa pun.

Namun, di detik yang sama saat serangan itu meluncur...

Di dalam tubuh Xue Ying, lewat ikatan batin ribuan li jauhnya...

Terjadi ledakan dahsyat!

Di hutan belantara selatan, Ren yang sedang bertarung melawan puluhan pembunuh sekaligus tiba-tiba mendongak ke langit, matanya bersinar merah keemasan yang menakutkan. Saat ia merasakan bahaya maut yang mengancam nyawa kekasihnya, saat ia mendengar kata-kata Xue Ying yang berani mati demi kehormatan mereka... amarahnya meledak melebihi batas nalar.

"BERANI KAU MENYENTUHNYA?!"

Ren mengaum ke langit, dan seketika itu juga, ia menyalurkan seluruh sisa tenaganya, seluruh darahnya, seluruh kekuatan Batu Prasejarah, dan seluruh api cintanya... mengalir deras masuk ke dalam ikatan batin itu, melesat menembus jarak ribuan li dalam sekejap mata!

"TERIMA INI, KEKASIHKU! GUNAKAN KEKUATANKU! HANCURKAN SIAPA SAJA YANG BERANI MENGANCAMMU!"

Di atas panggung akademi...

Saat serangan maut Lan Feng tinggal satu jari lagi menyentuh dada Xue Ying...

WUUUSSSSHHH!!!

Cahaya putih bersih yang luar biasa terang meledak dari tubuh Xue Ying, bercampur dengan cahaya emas merah yang datang entah dari mana, membentuk dinding raksasa yang menolak segala sesuatu!

Xue Ying tidak mundur selangkah pun. Ia memusatkan teknik rahasia nenek moyangnya, mengalirkan kekuatan yang dikirimkan Ren, dan dengan tenang mengangkat telapak tangannya menghadap ke depan.

Di belakangnya, bayangan Burung Hong dan Naga Emas muncul berdampingan, megah dan mengerikan, mengaum serentak mengguncang bumi!

"KITAB SUCI PENYUCIAN LANGIT: GELOMBANG CAHAYA ABADI!"

DODODODODORRRR!!!

Suara ledakan dahsyat mengguncang seluruh gunung Akademi Bintang Utara! Gelombang angin kencang menyebar ke segala arah, membuat ribuan murid terpelanting jatuh tersungkur, menutupi wajah mereka dari cahaya yang terlalu terang itu.

Serangan Telapak Matahari yang dibanggakan Lan Feng... hancur lebur begitu saja saat menyentuh telapak tangan Xue Ying!

Dan kekuatan yang tersisa tidak berhenti di situ. Gelombang energi putih dan emas itu terus bergerak maju, mendorong Lan Feng mundur langkah demi langkah dengan wajah ketakutan, sampai akhirnya...

BRUK!!

Lan Feng, sang Pangeran, jenius nomor satu, pemegang kekuasaan tertinggi di wilayah utara... terlempar jauh, jatuh terguling di tanah di bawah panggung, berdebu dan malu, tepat di depan kaki ribuan murid yang memujanya.

Hening.

Hening mutlak menyelimuti seluruh tempat itu. Tidak ada satu pun yang bergerak, tidak ada yang berani bersuara. Mulut semua orang menganga lebar, mata mereka melotot tak percaya, seolah melihat mimpi buruk.

Di atas panggung, Xue Ying berdiri tegak. Pakaiannya masih sama, rambutnya masih sama, tapi auranya kini berubah total. Ia bersinar, agung, dan tak tersentuh. Di matanya, tidak ada kemenangan, hanya ada ketenangan dan rasa bangga yang tak tergoyahkan.

Ia menatap ke bawah, ke arah Lan Feng yang terbatuk darah, gemetar bangkit berdiri dengan wajah penuh luka dan tidak percaya.

"Kau lihat sendiri, Yang Mulia," suara Xue Ying terdengar lembut namun mengguncang hati semua orang. "Meskipun dia jauh di sana... kekuatannya selalu ada bersamaku. Meski dia tidak ada di sini secara fisik... dia membelaku dengan seluruh jiwa raganya."

Xue Ying menunjuk ke arah dada pemuda itu, lalu ke arah kerumunan yang masih terpaku kaku.

"Kalian semua menertawakanku karena aku gadis sampah. Kalian semua menghinaku karena aku tidak punya latar belakang. Kalian semua mengira kehormatan kami bisa kalian injak-injak sembarangan."

Xue Ying mengangkat kepalanya, suaranya meninggi, bergema ke seluruh penjuru gunung, penuh dengan kekuatan dan keyakinan mutlak.

"Tapi ingatlah hari ini! Hari di mana 'gadis sampah' ini mengalahkan jenius terhebat kalian! Hari di mana kalian semua sadar... bahwa cinta kami bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan terbesar yang pernah ada di dunia ini!"

"Kejayaan kami baru saja dimulai. Dan siapa pun yang berani mengganggu, menghina, atau mencoba merusak apa yang kami miliki... Akan berakhir sama seperti kalian hari ini: Berlutut dalam kekalahan dan penyesalan abadi."

Xue Ying berbalik badan, tidak lagi mempedulikan keributan yang mulai pecah, tidak mempedulikan tatapan takut dan kagum semua orang. Ia berjalan turun dari panggung dengan langkah anggun, kembali menuju jalan ke Lembah Sampah. Tapi kali ini, tidak ada yang berani menghalangi, tidak ada yang berani menertawakan.

Di dalam hatinya, suara Ren terdengar jelas, penuh kebanggaan, kekaguman, dan cinta yang meluap-luap:

"Bagus sekali, kekasihku... Kau telah membela kehormatanmu dengan sangat indah. Kau membuatku bangga melebihi apa pun. Tunggu aku sebentar lagi... Saat aku selesai membereskan sampah-sampah di sini... Aku akan datang ke sana. Aku akan datang menjemputmu. Dan saat itu tiba... kita akan membuat seluruh dunia ini bergetar melihat kebesaran cinta kita."

Duel sengit itu telah usai. Kekuatan jenius dikalahkan oleh tekad cinta. Dan di Akademi Bintang Utara, sebuah legenda baru lahir: Legenda gadis sampah yang memiliki kekuatan dewi, yang tak terkalahkan karena dilindungi oleh cinta sejati.

1
Jade Meamoure
😍😍😍
Jade Meamoure
novel yg bagus...moga kedepannya anda tetap berkarya
Jade Meamoure
kisah percintaan d balut kultivasi tp aq salut Krn tk ada adegan yg vulgar hanya d novel anda lho Thor 👍👍👍 sukses n sehat selalu
Didit Nur
terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan
Didit Nur
MC nya terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan, biasanya air beriak tanda tak dalam. harusnya seperti laut yg tenang Namum memiliki ombak yg ganas
Cahya Laela Tsaniya
kata keren kayaknya kurang pas 🙏🏾🙏🏾🙏🏾mungkin kata luar biasa sedikit cocok.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭
Cahya Laela Tsaniya
terdengar aneh kata Mbak 🙏🏾🙏🏾,mungkin kata Mbak diganti Nona ,biar enak didengar🤭
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪
Cahya Laela Tsaniya
Kayaknya ada yg terlewat / tidak terbaca ya🤔🤔🤔🤔??? Tingkatan kultivasi apa saja Thor??
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪!!!!
T28J
semangat thor✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!