Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Aturan yang Mulai Dilanggar
Elora tidak langsung menyadari kapan tepatnya semuanya mulai bergeser, karena perubahan itu tidak datang dalam bentuk besar yang mudah dikenali. Tidak ada momen dramatis yang bisa ia tunjuk sebagai titik awal. Justru sebaliknya, semuanya terasa seperti hal-hal kecil yang perlahan menumpuk tanpa ia sadari. Cara Arshaka tidak lagi hanya sekadar “datang untuk urusan kontrak”, cara dunia mulai menyebut nama mereka dalam satu kalimat, dan cara dirinya sendiri mulai terlalu sering memikirkan pria itu di waktu yang seharusnya tidak penting. Semua itu pelan-pelan mengubah sesuatu yang awalnya ia anggap sederhana menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Dan yang paling mengganggu dari semua itu adalah kenyataan bahwa Elora tidak bisa benar-benar menghentikannya.
Pagi itu, Arshaka tidak datang seperti biasanya. Tidak ada ketukan pintu yang sudah mulai menjadi kebiasaan tidak resmi di hidup Elora. Tidak ada suara langkah di depan kamar hotel, tidak ada pesan yang muncul tepat saat ia bangun, dan tidak ada mobil hitam yang menunggu di bawah seperti hari-hari sebelumnya. Ketidakhadiran itu justru terasa lebih mencolok dibanding kehadirannya sendiri, seolah ruang kosong yang biasanya diisi oleh sosok Arshaka tiba-tiba menjadi terlalu besar untuk diabaikan.
Baru beberapa menit setelah Elora selesai bersiap, barulah sebuah pesan masuk ke ponselnya. Singkat. Dingin. Tidak ada basa-basi, tidak ada tanda tanya, tidak ada penjelasan tambahan.
“Jam 10. Kita meeting di kantor.”
Elora menatap pesan itu cukup lama sampai layar ponselnya kembali redup dengan sendirinya. Harusnya ini hal yang normal. Harusnya ini hanya bagian dari kesepakatan profesional yang mereka jalani. Tapi entah kenapa, cara Arshaka menghilang sebentar dari rutinitas yang mulai terbentuk itu justru membuat Elora merasa ada sesuatu yang tidak stabil di dalam dirinya sendiri, seperti ada bagian kecil dari harinya yang tiba-tiba dicabut tanpa peringatan.
Gedung kantor Arshaka Bhumisvara Group berdiri tinggi seperti biasa, megah dan dingin di tengah hiruk pikuk kota yang tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Setiap orang yang masuk ke dalamnya terlihat seperti sudah memiliki tujuan yang jelas, langkah mereka cepat, tatapan mereka fokus, seolah dunia di dalam gedung itu tidak memberi ruang untuk keraguan sedikit pun. Elora yang berjalan di belakang Arshaka justru merasa seperti seseorang yang tidak sepenuhnya cocok berada di sana, meskipun secara teknis ia memang seharusnya ada di tempat itu.
Arshaka tidak menggandeng tangannya hari ini. Tidak ada kontak yang biasanya dilakukan di depan publik, tidak ada gestur yang mengingatkan dunia bahwa mereka sedang “bersama”. Yang ada hanya jarak yang kembali muncul di antara mereka, jarak yang sebenarnya seharusnya terasa normal, tapi justru membuat Elora sadar bahwa ia sudah mulai terbiasa dengan sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan untuk terbiasa.
Dan itu mengganggunya lebih dari yang ingin ia akui.
Lift naik perlahan dengan suara mekanis yang tenang, membawa mereka menuju lantai atas tanpa percakapan berarti. Cermin di dalam lift memantulkan bayangan mereka berdua dengan jelas, memperlihatkan dua orang yang berdiri berdampingan tapi terasa seperti berada di dunia yang berbeda. Arshaka dengan sikapnya yang selalu terkendali, dan Elora dengan pikirannya yang terlalu ramai untuk sesuatu yang seharusnya hanya urusan profesional.
Suara Arshaka akhirnya memecah keheningan itu tanpa perubahan nada yang berarti, seolah ia sedang membahas sesuatu yang sudah lama diputuskan.
“Mulai hari ini, kita ubah sedikit pola.”
Elora menoleh perlahan, mencoba menangkap maksud dari kalimat itu. “Pola apa?”
Arshaka tidak langsung menjawab. Matanya tetap lurus ke depan, tidak menunjukkan ekspresi yang bisa dibaca dengan mudah, seperti biasa. “Interaksi publik,” jawabnya akhirnya, singkat namun jelas.
Elora mengerutkan kening pelan, merasa ada sesuatu yang tidak ia sukai dari arah pembicaraan ini. “Maksud kamu?”
Arshaka akhirnya menoleh sekilas, cukup untuk membuat Elora sadar bahwa ini bukan percakapan yang akan bisa ia bantah dengan mudah. “Kita terlalu terlihat seperti dibuat-buat.”
Kata itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang berat.
Dan untuk beberapa detik, Elora tidak langsung menjawab, karena entah kenapa kata “dibuat-buat” itu terasa seperti sedang membicarakan dirinya sendiri, bukan hanya hubungan mereka.
Ruang meeting di lantai atas sudah dipenuhi beberapa orang dari tim Arshaka. Dokumen tertata rapi di atas meja, laptop terbuka, dan suasana yang terasa terlalu profesional untuk sesuatu yang awalnya hanya kesepakatan antara dua orang. Saat Elora masuk, beberapa pasang mata langsung mengarah padanya, tidak terang-terangan, tapi cukup jelas untuk membuatnya sadar bahwa posisinya di ruangan itu bukan lagi sekadar “orang luar”.
Salah satu staf kemudian mulai menjelaskan jadwal mereka dengan suara yang terlatih rapi, seolah ini adalah hal paling wajar di dunia.
“Ini jadwal untuk beberapa minggu ke depan.”
Elora melirik dokumen itu sekilas, lalu perlahan menyadari isinya. Acara publik, interview, makan malam bisnis, hingga sesi foto bersama. Semuanya tersusun seperti sebuah rencana yang tidak memberi banyak ruang untuk bernapas, apalagi untuk mundur.
“Ini terlalu banyak,” Elora akhirnya bersuara pelan, tapi cukup untuk membuat beberapa orang di ruangan itu berhenti bergerak sejenak.
Arshaka yang duduk di ujung meja tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Matanya masih membaca isi dokumen seperti semua ini adalah hal yang sudah sepenuhnya ia pahami sejak awal. “Ini perlu,” jawabnya singkat tanpa mengangkat pandangan.
Elora menatapnya lebih lama kali ini, mencoba mencari sedikit celah yang bisa ia pahami dari pria itu. “Aku bukan robot, Arshaka.”
Kalimat itu membuat ruangan sedikit berubah atmosfernya.
Untuk pertama kalinya, Arshaka berhenti membaca. Ia mengangkat kepala, dan tatapannya langsung mengarah ke Elora tanpa perantara apa pun. Tidak dingin sepenuhnya, tapi juga tidak hangat. Lebih seperti sesuatu yang netral, tapi terlalu dalam untuk diabaikan.
“Kalau kamu ingin keluar,” ucapnya akhirnya dengan suara yang tetap tenang, “sekarang masih bisa.”
Dan di titik itu, Elora terdiam cukup lama.
Karena kalimat itu tidak terdengar seperti ajakan.
Tapi seperti batas yang sedang ditunjukkan dengan sangat jelas.
Beberapa jam kemudian, mereka keluar dari gedung itu bersama. Langit sudah berubah warna menjadi lebih gelap, sore mulai bergeser ke arah malam dengan pelan. Elora berjalan sedikit di belakang Arshaka seperti kebiasaan baru yang tanpa sadar terbentuk dalam beberapa hari terakhir, meskipun kali ini rasanya lebih berat dari sebelumnya.
Di luar gedung, suasana langsung berubah.
Beberapa kamera sudah menunggu.
Dan Elora langsung berhenti.
Insting lamanya kembali tanpa diminta. Refleks yang terbentuk dari pengalaman yang tidak menyenangkan membuatnya ingin mundur, ingin menjauh, ingin menghilang dari sorotan yang terlalu tajam itu.
Arshaka tidak berhenti.
Tapi langkahnya juga tidak benar-benar terus maju.
“Jalan,” katanya tanpa menoleh.
Suara itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Elora kembali bergerak, meskipun perlahan.
Suara pertanyaan mulai terdengar dari arah kamera, panggilan nama, dan spekulasi yang dilemparkan tanpa henti. Tapi semuanya terasa seperti latar belakang yang semakin menjauh ketika Arshaka tiba-tiba kembali menggenggam tangan Elora, lebih cepat dari biasanya, lebih spontan dari yang seharusnya dalam “aturan” yang mereka buat.
Dan mereka berjalan melewati kerumunan itu seperti pasangan yang sudah terlalu sering dilihat bersama.
Di dalam mobil, keheningan kembali turun, tapi kali ini tidak lagi terasa netral. Ada sesuatu yang menggantung di udara, sesuatu yang belum diucapkan tapi sudah terlalu lama berada di antara mereka.
Elora akhirnya menoleh, setelah cukup lama hanya menatap jendela.
“Arshaka…”
“Hm.”
“Apa sebenarnya yang kamu mau dari semua ini?”
Pertanyaan itu tidak datang dengan nada menuduh, tapi juga tidak sepenuhnya lembut. Lebih seperti seseorang yang mulai lelah menebak-nebak sesuatu yang terus berubah bentuk.
Arshaka tidak langsung menjawab.
Mobil tetap melaju.
Lampu jalan mulai menyala satu per satu di luar jendela, menciptakan garis-garis cahaya yang lewat begitu saja tanpa bisa ditangkap.
Dan ketika akhirnya Arshaka berbicara, suaranya tetap sama seperti biasanya, tapi ada sesuatu yang sedikit lebih pelan di dalamnya.
“Aku sudah bilang.”
Elora menunggu.
“Stabilitas.”
Elora tersenyum kecil, tapi kali ini tidak ada kehangatan di dalamnya. Lebih seperti senyum seseorang yang baru saja menyadari bahwa jawaban yang diberikan terlalu sederhana untuk sesuatu yang terasa semakin rumit.
Dan di dalam kepalanya, untuk pertama kalinya, Elora bertanya pada dirinya sendiri—
kalau ini memang hanya soal stabilitas…
kenapa semuanya terasa seperti mulai kehilangan kendali.
———
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...