NovelToon NovelToon
Ketika Sinta Memilih Rahwana

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Perjodohan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.

Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part *28

Seketika, keduanya saling bertukar pandang satu sama lain. Rasa bingung sedang menghampiri hati masing-masing.

"Ee ... pulang ... pulang ke ... ke rumah siapa ya?" Sinta malah bertanya balik.

Pertanyaan yang langsung Wana jawab dengan cepat. "Aku punya vila. Suasana cukup tenang. Selama ini, aku tinggal di sana. Bagaimana kalau ... kamu ikut aku-- ah, maksud aku. Bagaimana kalau kita tinggal di sana saja?"

"Vila?"

Wana menatap cemas wajah Sinta. Anggukan pelan ia berikan. "Iya ... vila. Kalau kamu setuju. Tapi kalau kamu merasa keberatan, gak papa. Aku gak akan memaksa."

"Hm ... vila ya? Vila ... vila juga bagus. Gak papa. Jika kak Awan bersedia menerima aku tinggal di tempat kakak, aku bersedia ikut."

"Tentu saja. Aku tentu saja bersedia. Kamu adalah istriku sekarang. Tenang saja, keputusan mu adalah keputusan ku. Apapun yang kamu katakan, aku akan mendengar dan melakukannya selagi aku bisa," ucap Wana bersungguh-sungguh.

Manik mata itu terlihat sangat jujur. Meskipun pandangan mata masih sedikit terhalang oleh topeng yang melekat di wajah. Tapi setidaknya, sorot mata masih bisa di lihat dengan jelas.

Senyum kecil akhirnya terukir di bibir Sinta. Napas pelan terdengar. "Hm ... baiklah. Kita pulang ke kediaman kak Awan sekarang."

Dan begitulah kesepakatan mereka buat sebelum mereka meninggalkan hotel. Sekarang, pasangan pengantin baru itu hampir sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.

"Mm ... aku lupa bilang sama mama buat beres-beres pakaian ku. Apa ... rumah kak Awan masih jauh dari sini?"

"Tidak. Sudah sangat dekat. Kenapa? Kamu ingin beli sesuatu, atau apa? Jika ada yang ingin kamu butuhkan, katakan saja. Gak papa, kita bisa putar lagi atau-- "

"Nggak." Sinta memotong ucapan Wana yang dari nada yang pria itu ucapkan terdapat nada bersalah. Padahal, Sinta hanya bicara soal pakaian. Tapi Wana malah langsung memperlihatkan hal yang agak tidak wajar.

"Gak perlu, kak Awan. Udah mau sampai kan? Kita langsung saja. Entar, kalau memang mau keluar buat beli sesuatu, setelah istirahat saja."

"Ah, baiklah. Jika butuh sesuatu, kamu bisa katakan padaku. Tidak perlu repot-repot, biar aku yang menyiapkan semua yang kamu butuhkan."

Sinta tersenyum kecil sambil mengangguk. "Baik ... lah. Nanti aku akan bilang."

Benar saja. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah vila. Suasana vila itu cukup tenang, tapi tidak sunyi. Angin di sana berhembus pelan membawa hawa sejuk yang menenangkan.

Vila itu tidak terlalu megah. Tapi masih dalam kategori mewah. Bangunan dengan dua lantai bercatkan warna putih susu yang berdiri kokoh. Lengkap pula dengan taman dan kolam renang di samping vila. Tak lupa, ada pohon di sudut taman. Kolam ikan kecil juga ada di sana. Taman indah yang tertata dengan sangat rapi. Suasana yang benar-benar menenangkan hati.

"Ini ... tempat tinggal, kak Awan selama ini?"

Wana mengangguk pelan. "Iya .... Kenapa? Ada yang kamu rasa tidak cocok di sini dengan hatimu, Sinta?"

Sontak, Sinta menggeleng kepalanya dengan cepat. "Nggak. Bukan tidak cocok, kak Wana. Malahan, suasana tempat tinggal mu sangat indah. Sangat-sangat indah."

"Benarkah? Kamu suka?"

Sinta mengangguk tanpa menoleh. Karena sekarang, matanya yang penuh akan kekaguman terus saja memperhatikan suasana tempat tinggal akan sangat indah itu.

Karena suasana vila sama persis dengan hunian yang ada dalam impiannya selama ini. Iya. Benar begitu. Tempat tinggal Wana persis seperti hunian masa depan yang selama ini Sinta impi-impikan.

Rumah dengan dua lantai yang indah. Lengkap dengan taman dan kolam renang. Plus, kolam ikan dan pohon di taman. Itu sungguh sama persis dengan apa yang ada di depan mata Sinta saat ini.

"Indah sekali." Bibir Sinta berucap pelan dengan mata yang masih terus menatap vila itu dengan penuh akan kekaguman.

Pujian itu membuat Wana tersenyum kecil penuh kepuasan. Karena sebenarnya, ada hal yang tidak Sinta ketahui selama ini. Vila itu memang vila peninggalan nenek Wana. Hanya saja, semua dekorasi halaman yang saat ini Sinta lihat, semuanya diatur oleh Wana dengan sedemikian rupa.

Saat mereka masih sama-sama remaja dulu. Wana pernah mendengar apa yang Sinta bicarakan dengan Rama tentang tempat tinggal impiannya. Wana memang tidak ikut dalam pembicaraan itu. Tapi dia mendengar semuanya dengan seksama. Dia menyimpan baik-baik dalam benak apa yang Sinta ucapkan pada Rama.

Setelah itu, Wana mulai mengatur halaman vila yang neneknya tinggalkan secara perlahan. Mulai dari menanam pohon untuk pelengkap taman. Sampai membangun setiap detail taman agar sama persis dengan apa yang Sinta inginkan.

Usaha itu memang tidak mudah. Wana bahkan menghabiskan banyak tabungan untuk membeli lahan tambahan agar halaman vila nya bertambah luas lagi. Alhasil, inilah tempat tinggal impian yang Sinta inginkan sejak ia remaja dulu.

Saat itu, Wana tidak sedikitpun berani berharap bahwa usahanya akan dilihat oleh orang yang punya harapan. Tapi sekarang, ternyata bukan hanya melihat saja. Orang yang punya impian bisa ia bawa tinggal di tempat tersebut bersama dengannya.

"Kak Wana."

"Kak Wana .... "

"Kak!"

"Ah, iya. Ke-- kenapa?"

"Boleh masuk?"

"Ah, ya Tuhan. Iya. Masuk. Ayo masuk." Nada gugup terdengar sangat jelas dari ucapan yang Wana lepaskan barusan. Maklum, ia ketahuan sedang melamun. Bagaimana bisa jantungnya masih berdetak biasa saja?

Wana pun berjalan mendahului Sinta saat pintu vila hanya tinggal beberapa langkah saja lagi. Setelahnya, pintu itu ia buka. "Silahkan masuk."

"Hm."

Mata Sinta melihat dengan lincah setiap sudut dalam vila. Suasana di vila itu tertata dengan sangat rapi. Sangat cantik. Sinta takjub akan suasana di dalam vila.

"Cat dalam vila nya warna hijau? Terus, dekornya, ah ... suasananya .... "

Sungguh, Sinta sungguh sangat tak percaya. Suasana dalam vila ternyata begitu sama dengan apa yang ia sukai. Ternyata, cat di luarnya saja yang berwarna putih. Sedang di dalam, semuanya serba hijau. Mulai dari cat tembok, sampai gorden dan beberapa barang lainnya. Semuanya sama persis dengan yang Sinta harapkan.

Sinta menoleh ke arah Wana dengan tatapan yang ingin tahu. "Ini semua .... "

"Ah, nenek yang atur. Inikan vila peninggalan nenek." Tentu saja itu bohong.

Mana mungkin Wana mau mengakui kalau semuanya itu dia yang mengatur. Dia tidak akan siap untuk memperlihatkan dirinya yang menyukai Sinta secara terang-terangan.

"Oh ... ternyata, nenek juga suka warna hijau?"

"Iy-- iya ... mungkin." Gugup Wana cukup tidak bersahabat.

Namun, Sinta tidak ingin terlalu mempermasalahkan hal itu. Karena sekarang, wanita itu terlalu sibuk mengagumi tempat tinggal impian yang ada di depan matanya saat ini.

1
Soraya
dikit banget thor updet nya
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Anonim
Lama banget sih thor muter muter nya ,up nya tambahin donk thor pelit banget
Rani: hiks, terkena panah asmara aku. eh, panah ... apa yah? Aish, ya sudah lah. aku usahakan yan🤭
total 1 replies
Patrick Khan
risa itu guna nya apa sih🤔🤔🤔
Dew666
Up lagi dong 💝🍭
Anonim
Up nya yg banyakan napa thor pelit banget sih up nya ,bikin penasaran aja
Rani: hiks, maafkan aku. othor mu emang rada pelit ih. di balik kepelitan, ada perjuangan yang berjibun. wkwkwkwkwk... maklumin atuh
total 1 replies
Soraya
up lagi thor lanjut
Rani: sabar.... yah. sabar
total 1 replies
Patrick Khan
lanjut
Dew666
👄👄👄👄
perahu kertas
mampuskan lo
Anonim
Mampus kau rama,sok kepedean sih dasar pria egois
Soraya
perhatikan typonya thor lanjut
Rani: ah, iya. maaf kn aku yh.
total 1 replies
Dew666
😍😍😍😍
Soraya
lanjut
Anonim
Ayo dong thor buat sinta tau kalau wana sebenar nya udah suka dia dari dulu buat mereka benar benar bersatu,jangan biarin rama nanti ganggu sinta lagi
Anonim
Ayo dong sinta buat rahwana g merasa minder ayo buka topeng nya liat ketampanan nya
Patrick Khan
cuaca panas gerah ya wana😄😄
Patrick Khan
sah sahhhhhh
Anonim
Yah payah ni wana,sinta ngomong donk kalau kamu gapapa tidur sekasur
Anonim
Up lagi donk thor jangan kelamaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!