NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Survival Mode: MRT & Jalur Kaki

Matahari Singapura baru saja nongol di balik gedung-gedung tinggi Queenstown, tapi gue sudah merasa seperti peserta The Amazing Race yang kehilangan kompas.

Pagi ini adalah hari pertama gue menyandang status resmi sebagai "Asisten Riset Emosional"

(jabatan yang sampai sekarang gue nggak tahu deskripsi pekerjaannya apa, selain memastikan Dedik nggak lupa makan dan nggak berantem sama kabel).

Gue sudah dandan maksimal. Blus warna pastel, rok plisket, dan tas selempang kecil. Wangi parfum gue bahkan sudah mengalahkan sisa-sisa aroma terasi yang masih menempel di pori-pori koper.

"Rey, lo sudah siap?" tanya Dedik yang sudah berdiri di depan pintu. Penampilannya? Tetap. Kemeja flanel, celana kargo, dan ransel "Teknik" yang isinya sudah pasti berat karena ulekan batu kemarin belum dipindah ke dapur.

"Siap, Kapten Robot! Singapura nggak akan tahu apa yang menyerangnya!" seru gue semangat.

Dedik ngelihatin jam tangannya yang digital. "Secara estimasi, kalau kita jalan kaki ke stasiun MRT Queenstown selama 7 menit, nunggu kereta 3 menit."

"Dan transit di Outram Park selama 5 menit, kita bakal sampai di kantor riset dalam 25 menit. Akurasi ketepatan waktu di sini itu 99,9%. Jangan sampai lo ngerusak statistik itu."

"Tenang, Ded. Gue ini Sagitarius. Jiwa petualang gue sudah mendarah daging," kata gue sambil narik dia keluar.

Begitu sampai di stasiun MRT, gue langsung bengong. Orang-orang di sini jalannya cepet banget, Bro! Kayak lagi dikejar deadline akhirat.

Dedik langsung nempel ke mesin tap kartu, jalannya sat-set-sat-set kayak kursor komputer yang ditarik pake mouse gaming.

"Rey, buruan tap kartu lo!" teriak Dedik dari seberang pagar pembatas.

Gua panik. Gua buka tas, nyari kartu EZ-Link yang tadi malam dikasih Clarissa. Tapi yang ketemu malah bungkus permen karet sama struk Indomaret yang kebawa dari Indo. "DED! KARTUNYA MANA YA?!"

"Cek di saku jaket lo yang tadi malam!" Dedik mulai ngerutin dahi.

Setelah drama bongkar tas di tengah kerumunan orang yang jalannya kayak robot, akhirnya ketemu. Gua tap dan lari nyamperin Dedik. Kita naik eskalator yang jalannya juga ngebut banget.

"Ded, orang Singapura ini kakinya pake mesin ya? Kok gue berasa kayak lagi ikut lomba lari maraton?" keluh gue sambil ngos-ngosan.

"Ini namanya efisiensi mobilitas, Rey. Di sini, waktu adalah variabel yang nggak boleh terbuang percuma. Lo harus sinkron sama kecepatan lingkungan," kata Dedik sambil merhatiin layar pengumuman di atas peron.

Kereta dateng. Pintunya kebuka dengan suara ting-ting yang sopan banget. Dedik masuk dengan mantap, tapi pas gue mau masuk, tiba-tiba tali tas selempang gue nyangkut di pundak orang yang mau keluar.

"Eh, sori! Sori, Sir! Maaf, Bang!" gua narik-narik tas gue.

"Rey! Cepet!" teriak Dedik.

BEEP! BEEP! BEEP! 

Pintu kereta nutup. Dedik ada di dalem, gue ada di luar.

Gue melongo. Dedik juga melongo di balik kaca pintu kereta. Dia nempelin mukanya ke kaca, matanya melotot, tangannya nunjuk-nunjuk HP-nya.

Kereta mulai jalan, dan gue cuma bisa dadah-dadah pasrah ngelihat pacar robot gue makin lama makin jauh menuju kegelapan terowongan.

"MAMPUS GUE!" teriak gue sendirian di peron. Orang-orang nengok sebentar, terus lanjut jalan lagi kayak nggak ada kejadian apa-apa.

Gue berdiri di peron selama lima menit dengan perasaan bego yang hakiki. Oke, tenang, Rey. Lo asisten riset. Lo punya otak akuntansi. Lo harus logis.

Gue ngelihat peta MRT yang gedenya segede gaban itu. Ada garis ijo, garis merah, garis ungu. "Tadi Dedik bilang transit di... apa ya? Outran? Outing? Outram Park!"

Gue mikir, kalau Dedik ke arah timur, berarti gue harus naik kereta selanjutnya. Masalahnya, pas kereta selanjutnya dateng, gue malah salah masuk peron yang arahnya balik lagi ke Jurong East.

Bukannya makin deket ke kantor, gue malah makin jauh ke ujung Singapura yang isinya pabrik semua.

Pas gue sadar gue salah arah, gue turun di stasiun antah berantah. Pas gue mau buka Google Maps... ENG-ING-ENG... Kuota internet roaming gue habis!

"DEDIIIKKK!!! TOLONGIN GUEEE!!!" gue duduk di kursi peron sambil mau nangis.

Tiba-tiba, HP gue getar. Ada telepon masuk dari nomor luar negeri.

"Halo?" suara gue udah bergetar.

"Reyna! Lo di mana secara koordinat?!" suara Dedik kedengeran panik, tapi tetep pake bahasa teknis.

"DED! GUE NYASAR! Gue nggak tau di mana! Tulisannya Pioneer! Ada banyak kontainer di sini, Ded! Gue takut diculik jadi barang ekspor!"

"Pioneer?! Lo itu kelebihan tujuh stasiun ke arah barat, Rey! Kok bisa?!" suara Dedik kedengeran kayak dia lagi lari.

"Dengerin gua. Jangan gerak. Jangan pindah tempat. Gua udah buka fitur Find My Partner yang gua install di HP lo lewat sistem tethering tadi malam. Gua lagi balik lagi ke arah lo."

"Loh, riset lo gimana? Nanti bos Singapura marah!"

"Bodo amat sama bos Singapura! Riset gua nggak bakal jalan kalau variabel utamanya lagi ilang di pelabuhan! Diem di situ, jangan ngomong sama orang asing kecuali dia pake seragam petugas!"

Gue diem. Gue nunggu sekitar lima belas menit sambil ngelihatin orang-orang lewat. Sampai akhirnya, gue ngelihat sesosok cowok kemeja flanel lari-lari keluar dari kereta yang baru nyampe.

Dia keringetan parah, kacamatanya melorot sampai ke ujung hidung.

"DEDIK!" gue lari dan langsung meluk dia kenceng banget.

Dedik napasnya kembang kempis. Dia nggak nolak pelukan gue, malah dia meluk balik meskipun ransel batunya bikin punggung dia pegel.

"Rey... lo... lo beneran butuh di-update sistem navigasinya. Gimana bisa dari Queenstown nyampe Pioneer?"

"Tadi pintunya nutup cepet banget, Ded! Terus gue panik, gue naik kereta yang dateng duluan!" curhat gue sambil sesenggukan dikit.

"Secara logika, lo harusnya baca papan arah, bukan asal masuk kayak masuk angkot," Dedik ngelepas pelukannya, terus dia ngeluarin tisu dari saku celananya buat ngelap keringet di dahi gue.

"Ayo, kita udah telat 40 menit. Gua bakal dapet poin penalti dari Clarissa."

***

Kita akhirnya sampai di kantor riset yang namanya keren banget: Acoustic Tech Innovation Center. Gedungnya kaca semua, dalemnya dingin banget kayak kulkas daging.

Di lobi, Clarissa sudah nunggu sambil melipat tangan di dada. Dia pake blazer putih yang mahal banget, kelihatan sangat professional dan sangat... menyebalkan.

"Bagus ya," kata Clarissa sambil ngelihat jam tangannya yang merk-nya pasti seharga motor Dedik.

"Hari pertama riset internasional, dan kalian telat hampir satu jam. Dedik, aku nggak nyangka kamu bakal se-unprofesional ini gara-gara asisten kamu yang nggak becus baca peta MRT."

Gua mau bales, tapi Dedik langsung narik tangan gue ke belakang punggungnya.

"Maaf, Cla. Tadi ada gangguan sinkronisasi pada sistem mobilitas kami," jawab Dedik tenang.

"Tapi secara teknis, gua tetap bisa nyelesain input data tepat waktu dengan ningkatin kecepatan koding gua 20%. Jadi nggak ada kerugian waktu yang signifikan bagi perusahaan."

"Terserah kamu deh, Ded. Tapi bos besar, Mr. Tan, sudah nunggu di Lab 4. Dia mau denger suara 'asisten emosional' kamu yang katanya spesial itu," Clarissa ngelirik gue sinis.

"Semoga suaranya nggak nyasar kayak orangnya."

Gue narik napas panjang. Gue jalan masuk ke dalem Lab. Di sana ada seorang bapak-bapak keturunan China-Singapura yang mukanya serius banget.

Dia pake jas, rambutnya klimis, dan dia lagi ngelihatin bambu kuning kita yang ditaruh di tabung kaca khusus.

“So, this is the girl with the 'unique jitter'?” tanya Mr. Tan dengan logat Singlish yang kental.

Dedik ngangguk. “Yes, Sir. Reyna Salsabila. Her vocal frequency is the key to triggering the resonance in the yellow bamboo.” 

“Okay, show me. We have spent millions on this project. I want to see results, not excuses about MRT delays,” kata Mr. Tan.

Dedik nyiapin mikrofon. Dia ngasih kode ke gue. Gue berdiri di depan tabung bambu itu. Gue gugup banget, Bro! Masalahnya, tenggorokan gue agak kering gara-gara tadi panik nyasar.

"Ded, air... haus..." bisik gue.

Dedik dengan sigap ngambil botol minumnya, terus dia bisik balik, "Inget, Rey. Bayangin lo lagi di Desa Pinus. Jangan liat si Mr. Tan atau Clarissa. Liat gua aja."

Gue minum dikit, terus gue tutup mata. Gue mulai narik napas.

Gue nyanyiin nada tinggi yang sering kita latih. Tapi... karena gue masih sedikit deg-degan, suara gue agak gemeter dikit di ujungnya.

“Aaaaaaaa-aa-aaaa....”

Tiba-tiba, sensor di komputer Mr. Tan bunyi BIP-BIP-BIP! Grafiknya loncat-loncat kayak kodok kepanasan. Bambu di dalem tabung itu mulai bergetar pelan, ngeluarin suara dengungan halus yang bikin ruangan itu berasa tenang.

Mr. Tan langsung berdiri, nyamperin layar monitor. “Wait... look at this! The resonance is shifting! It’s not a perfect sine wave, but it’s harmonizing with the bamboo structure! How is this possible?” 

Dedik senyum tipis, senyum kemenangan. “That’s the jitter, Sir. Emosi manusia itu nggak stabil, dan ketidakstabilan itulah yang ngisi celah frekuensi pada serat alami bambu. Kalau suaranya terlalu sempurna kayak mesin, bambunya nggak bakal ngerespons.”

Mr. Tan mangut-mangut puas. “Interesting. Very interesting. You, girl... you have a weird voice, but it works!”

Clarissa yang berdiri di pojokan cuma bisa gigit bibir. Rencana dia buat bikin gue kelihatan bego di depan Mr. Tan gagal total gara-gara "suara aneh" gue.

Begitu sesi riset selesai, Mr. Tan keluar ruangan sambil nepuk bahu Dedik. “Good job, Dedik. But please, teach your assistant how to use the MRT. We can't have our key frequency getting lost in Pioneer again.” 

Gua cuma bisa nyengir kuda sambil nunduk-nunduk. “Yes, Uncle! Thank you, Uncle!” 

Begitu Mr. Tan jauh, Dedik nengok ke gue. "Lo manggil dia 'Uncle', Rey?"

"Ya habisnya mukanya mirip Uncle Mutu di Upin Ipin, Ded! Spontan!"

Dedik ngehela napas, terus dia ketawa pelan. "Logikanya, dia itu CEO perusahaan riset teknologi, bukan penjual nasi kandar. Tapi ya sudahlah. Lo sukses hari ini."

Kita jalan keluar gedung riset pas matahari udah mulai turun. Singapura sore hari ternyata cantik juga. Anginnya sepoi-sepoi, dan trotoarnya bersih banget buat jalan kaki.

"Ded, laper," kata gue sambil megangin perut.

"Gua udah cek aplikasi. Di deket sini ada kedai yang jual nasi lemak enak. Kita jalan kaki aja, 500 meter. Lo sanggup?"

"Sanggup! Asal nggak naik MRT lagi buat hari ini!"

Dedik ngerangkul bahu gue. "Tenang, besok gua bakal beliin lo kalung yang isinya pelacak GPS. Jadi kalau lo nyasar lagi, gua tinggal liat di monitor Lab."

"Dih! Emangnya gue kucing?!" gue nyubit pinggangnya.

"Bukan kucing, tapi asisten emosional paling berisik yang pernah gua temuin," bales Dedik sambil nyengir.

Kita jalan berdua di trotoar Singapura, ngelewatin Clarissa yang lagi nunggu taksi sendirian di depan lobi. Gua sengaja nempel lebih deket ke Dedik, terus gua dadah-dadah ke dia pake tangan satu.

"Dah Clarissa! Kita mau makan nasi lemak 'Uncle' dulu ya!" teriak gua penuh kemenangan.

Hari pertama di Singapura: Nyasar? Iya. Malu? Banget. Tapi pas ngelihat Dedik bangga sama suara gue di depan bos besar, rasanya semua rasa capek gue ilang.

Singapura, kayaknya kita bakal betah di sini, asal Dedik nggak bosen jadi GPS berjalan gue.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!