NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Tamu yang Datang Tanpa Diundang

Bab 31 — Tamu yang Datang Tanpa Diundang

Pagi di mansion Moretti datang dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir.

Tidak ada alarm.

Tidak ada laporan darurat.

Tidak ada pesan misterius.

Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa aneh.

Terlalu tenang.

Di ruang makan, Amelia sedang sarapan bersama Clara.

Sudah beberapa hari ini Lorenzo lebih sering keluar pagi dan kembali larut.

Entah rapat.

Entah urusan keluarga.

Entah sesuatu yang tidak dijelaskan.

Awalnya Amelia merasa lega.

Karena suasana jadi lebih santai.

Tapi lama-lama…

dia sadar sesuatu.

Mansion terasa jauh lebih sepi.

Clara menuang teh.

“Nona kelihatannya kurang tidur.”

Amelia langsung menggeleng.

“Tidak…”

Clara tersenyum kecil.

Tapi tidak membahas.

Dan tepat saat itu—

suara dari arah depan terdengar.

Bukan gaduh.

Lebih seperti…

orang sedang berdebat.

Amelia menoleh.

Clara juga.

Lalu—

suara seseorang terdengar cukup keras.

“Aku keluarga!”

Suara pria.

Santai.

Berisik.

Dan beberapa detik kemudian—

pintu ruang makan terbuka.

Seorang pria tinggi masuk begitu saja.

Rambut hitam agak berantakan.

Jas mahal.

Senyum santai.

Tatapannya langsung berkeliling.

Lalu berhenti.

Ke Amelia.

Pria itu diam.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu menunjuk.

“…oh.”

Amelia bingung.

Pria itu menoleh ke Clara.

“Ini orangnya?”

Clara terlihat bingung.

“Maaf… Anda siapa?”

Pria itu seperti baru sadar.

Dia tersenyum.

Lalu membungkuk kecil.

“Matteo.”

Dia melihat Amelia lagi.

“Sepupu jauh Lorenzo.”

Amelia berkedip.

Sepupu?

Dan sebelum siapa pun bicara—

Matteo menarik kursi dan duduk.

“Akhirnya aku lihat langsung.”

Amelia makin bingung.

Lalu bertanya pelan.

“…lihat apa?”

Matteo bersandar.

“Orang yang bikin Lorenzo berubah.”

Clara hampir tersedak.

Amelia langsung panik.

“Apa?!”

Matteo menatap beberapa detik.

Lalu tertawa.

“Lucu.”

Amelia semakin tidak paham.

Dan tepat saat itu—

suara langkah terdengar.

Lorenzo masuk.

Begitu melihat Matteo—

dia berhenti.

Sunyi.

Matteo melambaikan tangan.

“Pagi.”

Lorenzo menatap beberapa detik.

Lalu berkata datar.

“Kenapa kau di sini.”

Matteo menghela napas.

“Kenapa sambutannya dingin sekali?”

Lorenzo berjalan masuk.

Duduk.

Tidak menjawab.

Matteo melihat Amelia.

Lalu berbisik pelan—

“Lihat? Dari kecil memang begitu.”

Lorenzo langsung bicara tanpa melihat.

“Aku dengar.”

Matteo tersenyum.

Amelia diam.

Entah kenapa…

ini pertama kalinya dia melihat seseorang bicara seperti itu ke Lorenzo dan masih hidup.

Sarapan berjalan aneh.

Matteo bicara hampir sendiri.

Lorenzo menjawab seperlunya.

Amelia dan Clara hanya lihat.

Matteo akhirnya bertanya,

“Jadi?”

Lorenzo tidak menoleh.

“Apa.”

Matteo menunjuk Amelia.

“Kau mau jelasin?”

Sunyi.

Lorenzo tetap makan.

Matteo menghela napas.

“Oke.”

Dia menoleh ke Amelia.

“Kalau dia tidak mau jawab, aku jawab.”

Lorenzo langsung menatap.

Matteo senyum.

“Lorenzo itu waktu kecil—”

“Diam.”

Matteo lanjut.

“Pendiam, galak, tidak punya teman.”

Lorenzo diam.

Matteo makin semangat.

“Umur sepuluh tahun pernah marah karena aku pinjam bukunya.”

Amelia refleks menoleh.

Matteo tertawa.

“Dia bahkan lapor ke orang dewasa.”

Amelia menatap Lorenzo.

Sulit dibayangkan.

Lorenzo tetap makan.

Namun akhirnya berkata—

“…kau mencoret bukunya.”

Matteo diam.

Lalu batuk kecil.

“Itu tidak penting.”

Amelia tanpa sadar tertawa kecil.

Dan semua langsung diam.

Karena…

Lorenzo juga diam.

Matteo memperhatikan.

Lalu tersenyum kecil.

Menarik.

Siang.

Lorenzo pergi bekerja.

Dan entah bagaimana—

Matteo tetap tinggal.

Sekarang dia duduk di taman bersama Amelia.

Amelia masih agak canggung.

Matteo justru santai.

Dia melihat sekitar.

“Mansion ini berubah.”

Amelia menoleh.

“Dulu pernah sering ke sini?”

Matteo mengangguk.

“Waktu kecil.”

Dia tersenyum kecil.

“Lorenzo tidak suka main.”

Amelia tertarik.

“Terus?”

Matteo tertawa.

“Aku paksa.”

Amelia diam mendengarkan.

Dan untuk pertama kali—

dia dengar cerita tentang Lorenzo yang bukan dingin dan menakutkan.

Tapi manusia biasa.

Matteo melihat Amelia.

Lalu bertanya santai.

“Menurutmu dia seperti apa?”

Amelia langsung diam.

Beberapa detik.

Lalu pelan menjawab—

“…baik.”

Matteo berkedip.

Lalu tertawa.

“Wah.”

Amelia panik.

“Bukan maksudku—”

Matteo masih tertawa.

“Tidak apa.”

Dia bersandar.

Lalu berkata pelan.

“Kalau kau bisa bilang begitu…”

Tatapannya berubah sedikit.

“…berarti dia benar-benar berubah.”

Amelia diam.

Dan untuk pertama kali—

dia mulai sadar.

Mungkin Lorenzo yang dia lihat…

berbeda dengan Lorenzo yang orang lain kenal.

Sore.

Matteo berdiri sendirian di balkon.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk.

Sudah bertemu dia?

Matteo membaca.

Diam.

Lalu mengetik singkat.

Sudah.

Pesan berikutnya masuk.

Awasi. Jangan terlalu dekat.

Matteo melihat layar cukup lama.

Lalu menutup ponsel.

Tatapannya kembali ke taman.

Di bawah—

Amelia sedang bicara dengan Clara.

Dia terlihat biasa.

Tidak seperti pusat konflik besar.

Matteo tersenyum kecil.

Lalu bergumam—

“…jadi ini yang bikin kau berubah, Lorenzo.”

Namun di matanya…

ada sedikit rasa penasaran.

Dan mungkin…

sedikit kekhawatiran.

Karena dia tahu.

Kalau seseorang seperti Lorenzo mulai peduli…

akhirnya tidak pernah sederhana.

---

Malam itu—

untuk pertama kalinya setelah lama—

mansion terasa sedikit lebih hidup.

Dan tidak ada yang sadar…

kehadiran Matteo baru saja membuka pintu cerita yang baru.

Matteo masih berdiri di balkon lantai dua.

Tangannya masuk ke saku celana.

Tatapannya turun ke taman.

Di bawah, Amelia sedang membantu Clara memindahkan pot bunga kecil.

Dia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang diburu organisasi misterius.

Tidak terlihat seperti orang yang membuat Lorenzo berubah.

Dia cuma…

terlihat biasa.

Matteo memperhatikan cukup lama.

Lalu suara langkah terdengar dari belakang.

Lorenzo.

Matteo tidak menoleh.

“Jarang lihat kau pulang siang.”

Lorenzo berdiri di sampingnya.

Tatapannya juga turun ke taman.

Namun hanya sebentar.

Lalu kembali lurus.

“Kenapa datang.”

Matteo tertawa kecil.

“Tidak boleh?”

Lorenzo diam.

Matteo akhirnya menjawab.

“Aku bosan.”

Lorenzo melirik.

Tatapan yang jelas tidak percaya.

Matteo mengangkat bahu.

“Oke. Sedikit penasaran.”

Sunyi.

Lalu Matteo berkata lagi.

“Katanya ada perempuan tinggal di mansion.”

Lorenzo diam.

Matteo menoleh sedikit.

“Jadi aku datang.”

Beberapa detik berlalu.

Lalu Matteo tersenyum kecil.

“Dan ternyata memang aneh.”

Lorenzo menatapnya.

Matteo menunjuk ke bawah.

“Kau tahu nggak?”

Tatapannya kembali ke Amelia.

“Aku belum pernah lihat kau membiarkan orang begitu bebas di dekatmu.”

Lorenzo diam.

Matteo lanjut.

“Dulu ada orang masuk ruang kerjamu tanpa izin.”

Dia berpikir sebentar.

“…apa ya nasibnya?”

Lorenzo menjawab datar.

“Kubuang.”

Matteo langsung menoleh.

“Masih segalak itu ternyata.”

Lorenzo tidak menjawab.

Matteo diam sebentar.

Lalu berkata pelan.

“Tapi kau tidak buang dia.”

Sunyi.

Angin sore masuk pelan.

Lorenzo tetap diam.

Matteo tertawa kecil.

“Wah.”

Dia menggeleng.

“Aku cuma pergi beberapa tahun, ternyata banyak berubah.”

Lorenzo akhirnya bicara.

“…jangan ganggu dia.”

Matteo langsung menoleh.

Lalu senyum kecilnya makin lebar.

Bukan karena kata-katanya.

Tapi karena Lorenzo bahkan tidak sadar sudah bicara seperti itu.

Matteo mengangkat tangan.

“Tenang.”

Dia tertawa kecil.

“Aku tidak tertarik rebut pacarmu.”

Lorenzo menoleh perlahan.

Tatapannya dingin.

Matteo langsung batuk kecil.

“…atau apalah statusnya.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Lorenzo pergi.

Matteo berdiri sendiri.

Dia tertawa kecil.

Tapi setelah beberapa saat…

senyumnya perlahan turun.

Tatapannya kembali ke taman.

Lalu pelan bergumam—

“Kau sadar nggak sih…”

Angin membawa kalimatnya.

“…semakin kau peduli, semakin mudah orang menyerangmu.”

Di taman.

Amelia akhirnya selesai membantu Clara.

Dia mengusap tangan pelan.

Clara tersenyum.

“Nona cocok juga tinggal di mansion.”

Amelia langsung tertawa kecil.

“Mana mungkin.”

Clara ikut tertawa.

Namun beberapa detik kemudian Clara berkata pelan.

“Tapi suasananya berubah sejak Nona datang.”

Amelia bingung.

“Berubah?”

Clara mengangguk.

Dia berpikir sebentar.

Lalu berkata—

“Dulu semuanya sangat tenang.”

Amelia diam mendengarkan.

Clara tersenyum kecil.

“Sekarang lebih hidup.”

Amelia tidak tahu harus jawab apa.

Karena dia sendiri belum merasa punya tempat di sini.

Dan saat dia mengangkat kepala—

dia melihat Matteo di balkon.

Pria itu melambai santai.

Amelia refleks membalas kecil.

Matteo tertawa.

Lalu berbalik pergi.

Tapi dalam hati dia mulai berpikir—

mungkin…

dia akan tinggal sedikit lebih lama di mansion ini.

Bukan karena Lorenzo.

Tapi karena dia ingin tahu—

apa yang sebenarnya sedang berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!