Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Foto yang Mengancam Nyawa
"Injak pedal gasnya lebih dalam, Jace! Jangan sampai ada mobil preman yang membuntuti kita dari belakang!" teriak Riana sambil menoleh ke arah kaca spion luar.
Jace tertawa renyah, tangannya memutar kemudi dengan sangat lincah. Mobil sedan hitam mewah itu melesat membelah jalan raya dengan kecepatan penuh, meninggalkan pelataran parkir Hotel Grand Valerius yang perlahan mengecil di kejauhan.
"Lo tenang saja, Kara. Kemampuan menyetir gue jauh di atas rata-rata pembalap jalanan," balas Jace santai. Pria itu menginjak pedal gas hingga mesin mobil meraung keras. "Tidak ada satupun anjing Diwantara yang bisa mengejar kita pakai mobil rongsokan mereka."
Napas Jace dan Riana memburu naik turun. Ketegangan sisa pertarungan di lobi belakang tadi masih terasa mengalir deras di dalam aliran darah mereka. Riana menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil yang empuk, membuang napas panjang. Perempuan itu mengambil sepatu hak tinggi berujung baja miliknya, lalu melempar benda itu ke jok belakang dengan bunyi berdebum pelan.
Riana menunduk, mengusap telapak kakinya yang sedikit kotor. Saat itulah dia merasakan perih yang cukup tajam di lengan kanannya.
"Sialan," umpat Riana pelan.
Jace langsung menoleh sekilas. Mata elangnya menangkap sebuah garis merah memanjang di lengan putih mulus Riana. Kulit perempuan itu tergores cukup dalam, memancarkan darah segar yang mulai menetes perlahan. Itu pasti akibat sabetan ujung pisau preman pertama tadi saat Riana menangkis serangannya.
"Lengan lo berdarah," ucap Jace, nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat serius dan berat.
Pria tinggi itu langsung memutar setir, menepikan mobil mewahnya ke sebuah bahu jalan yang sepi dan jauh dari keramaian lalu lintas. Jace mematikan mesin mobil. Suasana di dalam kabin mendadak sunyi, hanya menyisakan suara embusan pendingin ruangan dan deru napas mereka berdua.
"Goresan kecil. Tidak perlu panik," tolak Riana dingin, berusaha menutupi lukanya dengan sebelah tangan. "Jalankan lagi mobilnya. Kita harus cepat sampai di apartemen."
"Jangan keras kepala," potong Jace mutlak. Pria itu menekan tombol, melepas sabuk pengamannya. "Di dunia bawah tanah, luka gores dari pisau musuh bisa berakibat fatal. Lo tidak tahu racun atau bakteri gila apa yang mereka oleskan di atas bilah besi murahan itu."
"Gue kebal racun kelas bawah. Otak lo terlalu berlebihan," balas Riana ketus, matanya menatap tajam Jace.
"Lo boleh merasa kebal, tapi gue tidak mau sekutu terbaik gue mati konyol karena infeksi jalanan," jawab Jace keras kepala.
Jace memiringkan tubuh tegapnya menghadap Riana. Jarak di antara mereka terkikis habis. Riana bisa mencium aroma parfum maskulin yang sangat pekat dari tubuh pria itu, bercampur dengan bau keringat sisa pertarungan fisik. Jace merogoh saku jas hitam Vivaldi miliknya, menarik keluar sebuah saputangan sutra berwarna putih bersih yang harganya setara dengan gaji bulanan staf kantoran.
Tanpa meminta persetujuan, jari-jari besar Jace menyentuh lengan Riana dengan sangat lembut dan berhati-hati. Sentuhan hangat itu membuat tubuh Riana sedikit menegang.
"Gue bisa obati sendiri luka ini," protes Riana, meski suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, kehilangan dominasi dinginnya.
"Diam dan biarkan gue mengurus luka lo ini," bisik Jace. Mata elangnya menatap lurus ke dalam bola mata Riana. "Lo sudah jadi perisai yang sangat hebat di acara pelelangan. Sekarang giliran gue melayani."
Suasana canggung yang luar biasa pekat sekaligus romantis langsung menyelimuti kabin mobil tersebut. Jace menempelkan saputangan sutra mahal itu ke atas goresan luka Riana, menekan perlahan untuk menghentikan aliran darah. Wajah Jace berada sangat dekat, membuat Riana bisa melihat garis rahang pria itu yang tegas dan sempurna. Tidak ada yang bersuara selama beberapa saat. Keduanya hanya saling menatap dalam diam, membiarkan insting pembunuh mereka mereda digantikan oleh debaran jantung yang memacu ritme semakin cepat.
"Saputangan mahal lo rusak kena noda darah gue," ucap Riana akhirnya memecah keheningan, berusaha mengalihkan tatapan matanya ke arah kaca jendela jalanan gelap.
Jace tertawa pelan, suaranya terdengar berat dan maskulin. Pria itu mengikat saputangan sutra tersebut melingkari lengan Riana dengan simpul yang rapi dan pas.
"Harga selembar kain sutra ini tidak ada apa-apanya dibanding tontonan luar biasa yang lo sajikan tadi," kata Jace memundurkan tubuhnya kembali ke kursi kemudi, menghidupkan mesin mobil. "Melihat wajah babi hutan seperti Gideon pucat pasi waktu kartunya ditolak mesin adalah hiburan paling memuaskan abad ini. Uang kotornya lenyap tidak tersisa."
Riana menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan. Dia menyentuh tas kecilnya yang berisi surat jalan kontainer senjata.
"Rekening pribadinya hancur, harga dirinya hancur lebur di depan ratusan bos mafia. Ditambah lagi, senjata senilai seratus miliar ini berhasil jatuh ke tangan kita," Riana menyilangkan kakinya dengan santai. "Gideon benar-benar sudah habis. Bos besar pasti akan menguliti tubuh buntalnya hidup-hidup karena dia ketahuan punya dompet rahasia."
"Kerja sama yang luar biasa tajam, Bu Direktur," Jace mengangkat tangannya, mengajak Riana melakukan tos ringan. "Sekarang, mari kita pulang dan tidur nyenyak merayakan kemenangan pertama aliansi kita."
Mobil sedan hitam itu kembali melaju membelah jalanan sepi, membawa euforia kemenangan telak yang sangat manis. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa satu kesalahan kecil di pelataran parkir tadi telah melahirkan badai besar yang siap menelan mereka hidup-hidup.
Cahaya sang surya yang menyilaukan menembus masuk melewati dinding kaca anti peluru di lantai puncak markas Aegis Corp. Hiruk-pikuk aktivitas karyawan di lantai bawah sudah mulai menggema, menandakan jam operasional kantor telah berjalan penuh.
Di dalam ruang penthouse yang luas dan mewah, CEO Bramantyo berdiri santai menghadap jendela kaca raksasa. Pria berwajah penuh bekas luka sayatan itu sedang menyesap secangkir kopi hitam pekat. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Dia baru saja mendapat telepon laporan dari pelabuhan bahwa kontainer senjata Eropa Timur incarannya sudah mendarat aman di gudang logistik rahasia perusahaan. Direktur Kepatuhan barunya benar-benar bekerja sangat efisien dan berdarah dingin.
BRAK!
Suara pintu kayu mahoni didobrak dengan sangat kasar dari luar mengejutkan Bramantyo.
Bramantyo memutar tubuhnya dengan raut wajah murka. Tidak ada satupun manusia yang berani masuk ke ruangannya tanpa izin mutlak.
Gideon menerobos masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah gontai dan napas terengah-engah. Kondisi Kepala Divisi Logistik itu luar biasa mengenaskan. Wajahnya babak belur, sudut bibirnya sobek, dan setelan jas kebesarannya kotor dipenuhi debu. Itu adalah sisa hukuman fisik dari penjaga keamanan hotel yang menyeret dan melemparnya keluar bak anjing jalanan. Sepertinya dia tidak punya tenaga lagi untuk mengurus dirinya.
"Siapa yang izinkan lo masuk ke ruangan gue dengan penampilan gembel begini, Gideon?!" bentak Bramantyo, meletakkan cangkir kopinya ke atas meja pualam dengan bunyi benturan keras. "Gue tau lo bikin malu nama perusahaan di acara pelelangan elit itu! Lo menipu mesin kasir pasar gelap dan berani menyimpan dompet rahasia dari gue!"
"Bullshit! Itu semua jebakan, Bos! Gue yakin, Riana yang meretas masuk dan mengunci uang gue dari jarak jauh!" bantah Gideon berteriak kencang membela diri, wajahnya penuh kepanikan luar biasa. "Dia sengaja bikin gue hancur biar dia bisa tampil jadi pahlawan! Dia itu musuh dalam selimut, Bos!"
"Tutup mulut lo! Lo yang bodoh karena mau memamerkan hasil korupsi lo di depan umum!" raung Bramantyo murka, berjalan mendekati Gideon dengan kepalan tangan mengeras.
Gideon tidak memedulikan amarah bos besarnya. Insting bertahannya membuat pria gempal itu terus berjalan maju menerjang rasa takut. Tangannya yang gemetar hebat merogoh saku celananya, menarik keluar selembar kertas foto berwarna resolusi tinggi yang baru saja dia cetak.
"Bos harus dengar penjelasan gue! Perempuan culun itu mengkhianati kita semua! Dan gue bawa bukti nyatanya!" jerit Gideon histeris, meludah bercampur darah ke atas karpet mahal karena bibirnya yang sobek.
Gideon membanting cetakan foto tersebut ke atas meja pualam, tepat di bawah wajah Bramantyo. Foto itu menampilkan sosok Jace dengan kerah jas yang tersingkap angin kencang di tempat parkir, menampakkan wajah aslinya dengan sangat jelas.
"Bos harus lihat ini! Laki-laki yang mengawal Direktur Kepatuhan kita semalam, ternyata adalah Jace, pewaris tunggal Diwantara Group!"
semoga aj mereka Selamat ,,
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪